Ku Menerimamu Apa Adanya

Ku Menerimamu Apa Adanya
Iya, dia adalah mantan bos aku....


__ADS_3

Aku hanya ingin kau tau siapa Nela sebenarnya !" Setelah itu aku serahkan semua keputusannya padamu, aku akan menerima semua keputusan itu. Jawab Topan pada istrinya, walaupun iya harus menerima kenyataan pahit sekalipun dari Jeny, karena tak ada yang bisa iya lakukan saat ini, semua memang kesalahan dari dirinya sendiri, kalau saja dirinya jujur waktu itu, semuanya tak akan menjadi seperti ini.


"Topan, apa kau yakin dengan kata katamu barusan,,,?" Tanya Jeny seakan iya merasa tak ikhlas mendengar jawaban dari Topan, karena Topan seakan memang sudah merelakannya untuk pergi.


"Sayang, aku bisa apa sekarang, satu yang harus kau tau, bahwa seberapa bencinya kamu pada aku, namun rasa sayang dan cintaku padamu, tak akan pernah berubah, hanya kamu yang aku sayang hanya kamu yang aku cinta.''


Topan bicara sambil menunduk seakan enggan menatap wajah istrinya, iya tak sanggup untuk menerima tatapan mata istrinya, tatapan yang selalu membuat dirinya merasa bersalah, atas apa yang sudah iya perbuat.


"Baiklah, aku mau menemui Nela, tapi setelah ini, aku nggak tau bagaimana hubungan pernikahan kita, aku hanya ingin tau siapa wanita yang sudah membuatmu tega mengkhianati aku dan anak anak, wanita yang sudah membuatmu dengan gampangnya berpaling dariku." Jawab Jeny dengan hembusan nafas yang panjang, seakan seperti orang yang sudah mengikhlaskan untuk melepaskan orang yang sudah membuat warna dalam kehidupannya.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Keesokan harinya, Jeny dan Topan sudah bersiap siap untuk berangkat menuju rumah kediamannya Nela. Kedua anak anaknya sudah di titipkan sama mamanya, mama Asih sangat senang dengan kedatangan kedua cucunya, karena memang iya selalu merasa kesepian, karena iya hanya tinggal sendirian di rumah, tampa ada seorang pun yang menemaninya, kalau dulu memang rame ada Suaminya, Topan dan Jeny, tapi setelah Jeny dan Topan Menikah, mereka tinggal terpisah, dan suaminya masih setia mendekam dipenjara, itu karena memang ulahnya sendiri, jadi harus terima keadaan mau ataupun tak mau.


Dalam perjalanan, Tak banyak yang mereka bicarakan, mereka lebih banyak diam, seakan kepergian kali ini, merupakan kepergian bersama untuk yang terakhir kalinya, karena Topan yakin setelah ini, Jeny pasti akan meninggalkannya, karena mana ada wanita yang rela di Madu, sebaik apapun wanita itu, pasti tak ada rasa ikhlas dalam hatinya ketika harus dimadu, walaupun bibir berkata iya, tapi hati belum tentu iya, apalagi iya seakan sudah tau keputusan apa yang bakal di ambil oleh Jeny, karena sudah terlihat dari cara bicaranya Jeny, namun apapun keputusan Jeny, iya harus menerimanya, karena iya sudah berjanji pada Jeny.


------------------------>>>


Keheningan itu tiba tiba terpecahkan oleh kecelakaan yang terjadi di depan mobil mereka, tapi bukan bertabrakan dengan mobil mereka, melainkan mobil sport yang dengan kecepatan tinggi, menghantam mobil box dari belakang, entah apa permasalahannya, disitu terlihat ada mobil patroli dan 1 mobil Ambulance yang mungkin nanti akan membawa korban kecelakaan itu kerumah sakit. Tidak tau siapa yang kecelakaan itu, tapi rasa penasaran Jeny membuatnya ingin melihat lebih Jelas, siapa orang yang mengalami kecelakaan itu. Tiba tiba sepintas iya teringat mobil itu adalah mobil yang pernah iya tumpangi sewaktu iya bekerja dulu, tapi pikiran itu cepat cepat di tepisnya, karena tak mungkin itu Mobilnya Pak Gibran Bosnya dulu, karena sempat terlintas dipikiran nya, bukan cuma Gibran yang memiliki Mobil seperti itu, mungkin ada banyak orang lain yang juga memakai jenis Mobil yang sama, jadi dia sedikit tenang.

__ADS_1


Namun Ketika mereka melewati Mobil itu, tiba tiba ada beberapa petugas membawa korban kecelakaan itu dengan tandu untuk di masukkan kedalam ambulan, dan ,,,?


Astaga, itu memang Pak Gibran, Jeny melihat wajah orang yang dibawa itu, dari jendela mobil dan ternyata memang Wajahnya Pak Gibran, dan terlihat sangat jelas.


"Pelan pelan Pan, sepertinya aku mengenali orang yang kecelakaan ini. Jeny menyuruh Topan untuk memperlambat laju Mobilnya.


"Kamu yakin mengenal orang yang kecelakaan ini,,,?" Tanya Topan seakan tak percaya.


"Iya, sepertinya iya adalah mantan Bos aku dulu, tempat aku bekerja waktu dulu, sebelum menikah sama kamu."


Jawab Jeny dengan yakin, tapi Jeny kaget, ketika petugas memasukkan Gibran kedalam kantong orange, alias kantong Jenazah.


"Kenapa sayang,,,? Tanya Topan pada Jeny istrinya, karena iya heran kenapa Jeny terlihat agak aneh, tiba tiba diam dan termenung tampa kata.


"Sepertinya pak Gibran meninggal, aku melihat iya dimasukkan kedalam kantung Orange, kasian sekali dia, kenapa harus meninggal dengan sangat tragis seperti itu, padahal kanĀ  dia adalah orang baik. Jawab Jeny sedih.


"Mau gimana lagi sayang, semua sudah janjinya seperti itu, nggak ada yang tau bagaimana hidup dan mati seseorang, semua sudah diatur sama yang di atas, apa kita perlu melayat kerumah beliau, Topan mencoba untuk menawarkan pada Jeny, barang kali Jeny mau melayat kerumah beliau.


"Nggak Usah Pan, lagian aku juga nggak tau rumahnya dimana, kita doakan saja semoga beliau khusnul khotimah. Jawab Jeny, singkat.

__ADS_1


"Yah sudah, berarti kita melanjutkan perjalanan kita aja''. Topan mulai melajukan jalan mobilnya dengan kecepatan standar, karena area kecelakaan itu sudah mereka lewati, sebenarnya iya ingin mengajak Jeny melayat, itupun kalau Jeny mau, tapi karena Jeny nggak mau, yah sudah akhirnya iya melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah seharian berkendara, sekarang sudah mulai masuk waktu magrib, mereka mampir di sebuah masjid untuk melaksanakan Sholat magrib berjamaah, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan lagi, ternyata rumah kediaman Nela sangat jauh dari perkiraan Jeny, karena sudah seharian perjalanan bahkan sekarang sudah masuk waktu isya, tapi belum juga sampai.


"Masih Jauh rumahnya,,,?" Tanya Jeny pada Topan.


"Masih 5 kilo meter lagi dari sini, kamu yang sabar ya, sebentar lagi kita nyampe. Jawab Topan pada istrinya.


Jeny hanya diam saja setelah mendengar jawaban dari Topan, tak lama kemudian mereka berdua pun sampai pada sebuah rumah yang sangat megah, rumah yang sama sekali belum pernah dilihat Jeny sebelumnya, benar benar rumah yang sangat bagus, dalam hati Jeny.


"Apa ini rumahnya,,? Tanya Jeny pada Topan.


"Iya sayang, ini rumahnya, tapi aku harap kamu jangan gegabah ya, kamu tenang kan hatimu dulu, sebentar lagi kau akan tau siapa wanita yang sudah membuatmu benci padaku, kau akan tau siapa dia sebenarnya, tapi aku ulangi lagi, semua keputusan ada padamu, dan aku akan menerima semua keputusan yang kau buat, tak ada yang bisa aku lakukan selain pasrah pada yang di atas.


Jeny diam mendengar perkataan dari Topan, apa maksudnya itu, tentu saja aku akan membuat keputusan padanya, karena aku nggak mungkin mau menerima pengkhianatan darinya. Dasar laki laki memang nggak punya perasaan, maunya menang sendiri, tampa memikirkan perasaan istri. dalam hatinya Jeny.


Next,,,,


Hehehe, ngegantung lagi,,,,!" udah lama nunggu ya ?" Maafin ya, soalnya aku tuh sedih tau nggak sih, perasaan nggak ada semangatnya kalian buat memberikan like vote dan komennya buat aku, "Apa karya ku ini kurang bagus ya,,,?" bagi jawaban dong, biar aku tau dimana letak kekurangannya, jujur sih emang ini adalah karya pertama yang ku buat, baru belajarlah intinya, makanya banyak sekali salah dan kekurangannya, maka dari itu aku butuh banget saran dari kalian, biar tau bagaimana caranya membuat kata dan bahasa yang baik, tapi aku juga sangat berterima kasih untuk yang selalu setia memberikan like dan komennya disini, semoga kalian sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2