
Waktu terus berjalan, Jeny merenung dalam ke sendirian nya, iya mengingat sesuatu yang telah terjadi
pada dirinya tadi sore, benar benar sudah membuatnya merasa sangat sedih dan kecewa, tak ada harapan tuk bahagia, dan tak ada niat tuk menapak masa depan yang cerah, dia seolah hilang semangat tuk menuju masa depan nya, dan sedikitpun tak ada keinginan lagi untuk menggapai mimpi mimpinya, tadinya dia berharap, bahwa iya akan mengejar mimipinya, dengan melupakan kenangan yang pernah tergores luka yang sangat dalam dan sudah membekas, namun itu takkan mungkin lagi iya kejar, karena Jeny merasa sudah patah semangat.
Tak ada yang dapat membuatnya bahagia, karena Topan sudah menghancurkan hidupnya, dan menghancurkan mimpi mimpinya, sudah membunuh semangatnya yang baru saja mulai tumbuh, tinggal satu keinginannya yaitu mengakhiri hidupnya, cuma itu yang bisa mengakhiri penderitaannya, tapi apakah lagkah itu sudah tepat ? Jeny sangat bingung memikirkannya, apa yang harus iya lakukan ?
Semalaman Jeny nggak bisa tidur, Mata nya terasa perih, akibat dari menangis yang berkepanjangan.
keesokan harinya, pagi pagi sekali, Deril sudah datang ke rumah Jeny, ternyata Jeny sudah bangun, tapi iya enggan bangkit dari tempat tidur nya, dia merasa tak ingin pergi kemana mana.
Tapi karena iya mendengar suara Deril yang memanggilnya, Jeny lalu bangun dan membukakan pintu rumah nya, dia sudah tau kalau yang datang adalah Deril sahabatnya, apa lagi suara Deril itu memiliki suara yang sangat khas di telinganya Jeny, makanya walaupun Deril dari jauh memanggilnya, dia akan tau kalau itu adalah suaranya Deril, apalagi terdengar Deril udah mengetuk pintunya beberapa kali, dan memanggil namanya, makanya Jeny langsung bangun.
"Pagi Jen, "pa kabar lo ?
Sapa Deril pada sahabatnya itu, Deril senyum menyapa sahabatnya itu, tapi iya nggak melihat senyum manis dari wajah sahabatnya itu, yang ada cuma wajah Jeny yang kelihatan kusam, dengan tampilan rambut yang terlihat kusut, berantakan dan tidak teratur, kelihatan sekali kalau Jeny sedang tidak baik baik saja.
"Pagi juga, "masuk Ril...
Jeny mengajak sahabatnya itu masuk, dan Deril mengikuti Jeny dari belakang.
Semakin Deril melihat keadaan dan tampilan wajah Jeny, ada yang beda dari sahabatnya itu, dia perhatikan, Jeny sepertinya kurang sehat dan tak ber semangat, padahal perasaan, kemaren sore Jeny baik baik saja, bahkan Jeny semangat sekali untuk pergi liburan bersama Deril, tapi kenapa sampe sekarang Jeny kok, belum siap ?
Deril bertanya tanya dalam hatinya, "apa yang sedang terjadi pada Jeny ?
"Ril, "Lo jangan kecewa ya ? "Sepertinya kita nggak jadi pergi Ril, rasanya gue nggak enak badan...!
Jawab jeny pada sahabatnya itu.
Sebenarnya Jeny nggak tega sekali melihat sahabatnya itu, Deril pasti kecewa banget, karena liburan akhir pekan ini nggak jadi, tapi apa mau di kata, apa yang terjadi, bukanlah kehendaknya, melainkan kehendak si jah*********am Topan yang Bre********k itu, makanya seluruh badan Jeny terasa sakit sakit semua, terutama pada bagian intinya, bukan cuma itu, hatinya juga apalagi, teramat sakit sekali.
Kalau bukan karena dia, Si brengsek itu, pasti Jeny seneng banget, karena bisa liburan bersama sahabat terbaiknya itu.
" Loh, "Kenapa Jen ?
Deril heran dengan sikapnya Jeny pagi ini, nggak seperti biasanya.
" Aku lagi nggak enak badan Ril, "badanku terasa sakit, lemas banget, rasa nya nggak kuat tuk pergi hari ini,
kita liburan nya kapan kapan aja ya!
"Jeny membuat alasan yang tak ingin di ketahui Deril kenyataannya, dia hanya ingin cukup iya saja yang memikirkannya, dia nggak ingin sahabatnya itu ikut memikirkannya, karena sudah terlalu banyak yang harus dipikirkan oleh Deril.
Tiba tiba tampa diketahui Jeny, Deril memegang keningnya Jeny, tapi kok nggak panas.
__ADS_1
" Tapi ini, nggak panas kok badan lo ?
Lo nggak lagi ada masalahkan ?
Deril bertanya serius pada Jeny, karena iya perhatikan, sepertinya Jeny lagi nyembunyiin sesuatu dari nya,
Karena terlihat dari sikap Jeny, yang agak sedikit aneh, dantidak seperti biasanya.
"Emang ada apa sih Jen... ?
gue tau! ''Pasti lo lagi nyembunyiin sesuatu dari gue ? "Ayo cerita sama gue, Lo nggak boleh mikir sendiri, lo ada gue, kenapa lo harus mikir sendiri ?
Tanya Deril pada Jeny agak sedikit memaksa, karena Deril tau betul siapa sahabatnya itu.
"Topan kemarin, kesini Ril.
jawab Jeny singkat.
"Terus lo nggak diapa apain kan sama dia?
Deril berharap tak terjadi sesuatu apapun pada sahabatnya itu.
" Dia melakukan itu lagi Ril... !
"Terus lo nya, mau aja gitu ?
tanya Deril lagi.
"Gue bisa apa Ril?
"gimana gue mau melawannya ?
nggak ada yang bisa gue lakukan saat itu, selain pasrah.
jawab Jeny dan mulai mengeluarkan air mata nya.
" Lo kenapa sih Jen? ''Mau aja di perlakukan kayak gitu, lo lawan dong, masak diam aja !
"Gimana gue bisa lawan,,, ? ''dia punya video,
yang lagi """""****'xxx dengan gue, "Kalau gue ngelawan dan menolak keinginan nya, dia mau nyebarin video itu, "Gimana coba... ?
" Lo tau sendiri kan, Topan ?"dia tidak pernah main main dengan ucapan nya.
__ADS_1
" Ya ampun Jeny, "Atau gini aja, kalau menurut gua, "mending lo bilang jujur sama tante lo, lo bilangin apa apa saja yang sudah di lakukan anaknya pada lo... !
saran Deril pada sahabatnya itu.
"Itu nggak mungkin Ril, mana berani gue melakukan itu, gue nggak sanggup !
" Tapi lo sanggup digituin terus sama Topan.. ?
nggak kan.. ? ''buktinya, lo liat tu diri lo, keadaan lo sekarang? ''gue tau lo tu sakit Jen, bukan cuman badannya lo yang sakit, tapi hati dan perasaan nya lo?
"gue aja yang cuma ngeliatin lo, merasa kan hal itu.
Jeny diam, mendengarkan ucapan sahabatnya itu, memang benar apa yang di katakan Deril, iya sakit, bukan badannya aja yang sakit, tapi hatinya, jiwanya dan juga perasaannya.
Tapi apa yang harus iya lakukan, iya nggak sanggup untuk melakukan apa yang di katakan Deril, bagaimana mungkin iya bisa.
"Jeny,,, " lo denger nggak sih ucapan gue?
atau, gue aja yang bilangin ke Tante lo, gua bilangin, kalau Topan udah ngancurin hidup lo... !
Jeny diam, menatap kebawah, tampa arti, dan membuat Deril semakin iba dan kasian melihat nasib, sahabatnya itu.
Deril nggak tega, melihat keadaan Jeny seperti itu.
"Jeny, gue tau apa yang lo pikirkan, tapi jangan lo korbanin perasaan dan diri lo, demi kebahagiaan orang lain.
gua rasa lo faham maksud dari omongan gue.
"Gue nggak tau lagi Ril, harus ngejalanin hidup gue seperti apa, hidup gue udah hancur Ril, masa depan gue juga udah hancur, rasa nya gue nggak sanggup lagi menahan diri untuk bertahan hidup seperti ini,
gue pengen mati aja deh Ril.
gue pengen nyusul orang tua gue.
biar semua beban hidup gue hilang.
''Stop Jeny... !
jangan katakan itu ! ''jalan hidup lo masih panjang, nggak ada permasalahan yang tak bisa di selesaikan.
Mati,,,? "bukan lah cara yang tepat, buat nyelesaikan permasalahan.
" Ingat Jeny, Allah tak akan memberikan cobaan pada makhluknya, di luar batas Kemampuannya.
__ADS_1