
Jujur, iya juga merasakan apa yang Topan rasakan, walaupun iya merutuki kebodohannya, iya tak menyangka, kenapa dirinya.? Ah, sudahlah toh aku memang masih berstatus istrinya yang sah, bukan salahnya jika iya menginginkan itu dariku.
Namun bukan berarti iya akan membatalkan niatnya yang sudah bulat untuk berpisah dari Topan, iya sudah sangat yakin bahwa keputusan yang iya ambil untuk kebaikannya, Topan dan juga Nela.
Iya nggak perduli, mau bagaimana nanti jadinya jika Topan dan dirinya berpisah, yang penting hatinya akan merasa lega, karena tak ada wanita yang mau suaminya selingkuh.
Topan bangkit dari tempat tidurnya dan duduk sejenak, sambil melihat istrinya yang masih berada dalam selimut dengan membelakanginya, dan itu sudah tak mengherankan dirinya, karena membelakangi dirinya setelah berhubungan intim, itu sudah menjadi kebiasaan istrinya, katanya malu kalau sudah berhubungan saling tatap muka, Topan tersenyum ketika mengingat kata kata malu yang pernah diucapkan istrinya waktu itu, saat dirinya dan Jeny belum mendapatkan masalah pelik ini.
Entah apa yang istrinya pikirkan saat ini, Topan tak perduli, yang paling penting baginya Jeny masih mau menjalankan kewajibannya sebagai istri, walaupun iya tau kalau istrinya sudah sangat membencinya, tapi istrinya tak pernah menolak apa yang Topan inginkan.
Itulah yang membuat Topan sangat mencintai istrinya, tak ada wanita yang sebaik dan se mengerti istrinya itu, walaupun sudah seringkali Topan menyakitinya, tetap saja iya tak pernah membantah setiap ucapan Topan, Jeny selalu bersikap baik, penurut, dan selalu mengerti dirinya, tapi mungkin kali ini, kesalahan yang Topan lakukan sudah melewati batas kesabaran istrinya, makanya sekarang Jeny terlihat lebih diam, cuek dan tak terlalu memperhatikannya, wajar saja jika itu Jeny lakukan, toh emang iya yang salah, pikir Topan.
Topan merasa sangat lelah, setelah bergelumak beberapa saat dengan istri yang sangat dirindukannya, wajar saja jika seorang suami begitu menginginkan apa yang sudah lama menjadi keinginannya, makanya malam ini Topan dengan semangat menggebu gebu, iya meluapkan rasa yang sudah lama sekali terpendam.
Namun panggilan alam tak bisa iya hindarkan, rasa ingin buang air kecil membuatnya cepat cepat bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan sedikit tergesa gesa menuju kamar mandi.
Jeny merasakan kalau suaminya sudah tidak ada lagi di belakangnya, iya heran kenapa suaminya buru buru ke kamar mandi, padahal nggak biasanya Topan setelah berhubungan, langsung ke kamar mandi, ada sedikit kecewa dalam hatinya, karena biasanya Topan selalu memeluknya dari belakang, ketika selesai berhubungan dan itu membuat Jeny merasa sangat bahagia, tapi kali ini tidak, kenapa Topan melupakan kebiasaannya, apa memang Topan sudah tak menginginkannya lagi, ? Ya ampun, kenapa sih aku masih berharap itu darinya, dan selalu saja berpikiran yang nggak nggak, bukankah aku sudah tak menginginkannya lagi berada disisi ku,? Kenapa aku masih saja mengharapkan kehangatan darinya,? Kenapa sih aku jadi ke'gini,? Aku ini memang wanita bodoh, sampai kapanpun aku selalu saja jadi orang bodoh. Jeny menepok nepok keningnya, karena masih kepikiran dengan kebiasaan Topan padanya., dasar wanita Bodoh, pikirnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Topan keluar dari kamar mandi, iya melihat istrinya masih berada pada posisi semula, seperti mengerti isi pikiran istrinya, Topan pun langsung berbaring di belakang Jeny, lalu memeluk Jeny dari belakang, lalu mencium leher jenjang istrinya, dan itu membuat Jeny sedikit geli.
"Sayang, jangan marah ya sama aku, aku nggak bisa menahan rinduku padamu, maafkan aku ya sayang,?"
Topan mulai merayu istrinya.
"Kamu kenapa selalu meminta maaf padaku, bukannya itu sudah sangat sering kamu ucapkan, hingga telinga ku tak kuat lagi menampung kata maaf darimu.!" Jawab Jeny pada suaminya, sedikit ketus karena iya sengaja menyindir Topan.
Tapi dibalik itu, iya tak memungkiri kalau saat ini iya sangat bahagia, iya nggak menyangka, ternyata apa yang iya pikirkan tadi ternyata salah, Topan tak melupakan apa yang selalu menjadi kebiasaannya setelah berhubungan, hatinya sedikit meleleh kala itu, tadinya iya pikir Topan hanya membutuhkan tubuhnya, namun pikiran itu ternyata tak benar adanya, Topan masih seperti yang dulu.
Jelas Topan pada istrinya.
"Hhmm,,,,Aku mau tanya sama kamu Pan !! Jeny merasa kalau saat ini adalah waktu yang tepat untuknya bertanya, kenapa Nela jadi seperti itu.
"Tanya apa sayang ? Silahkan kamu tanya apa saja yang sudah mengganggu pikiranmu, dan aku akan menjawab apapun itu, tapi sebelum itu, aku ingin kamu harus mendengar semua penjelasan ku, dan aku minta kamu jangan memotong setiap penjelasan aku, karena aku ingin kamu tau apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Nela. Topan sudah yakin, Jeny pasti nanya seputar Nela, dan iya sangat dan sangat yakin sekali. Dan benar saja, Jeny bertanya tentang dirinya dan Nela.
Jeny menarik nafas panjang mendengar apa yang Topan katakan, iya setuju saja apa yang Topan inginkan, dan iya juga ingin meminta Topan menjelaskan yang sejelas jelasnya tentang Nela.
__ADS_1
"Pan, sejak kapan kamu kenal sama Nela, dan kenapa Nela jadi seperti itu, emmm maaf Nela seperti orang gila. Bukannya setiap orang yang berselingkuh itu, pasti ingin selingkuhannya jauh lebih baik dari istrinya, kalau bukan karena itu, mana ada orang mau berselingkuh ?"
Pertanyaan Jeny membuat Topan terdiam beberapa saat, iya tau Jeny pasti akan heran, kenapa aku selingkuh maaf bukan selingkuh tapi lebih tepatnya mendekati dan menjadikan orang gila sebagai salah satu orang terdekatnya.
Topan sudah yakin kalau saat ini adalah waktu yang tepat untuk iya akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Nela, dan kenapa iya bisa sedekat ini pada Nela.
"S_ sayang, sebenarnya sebelum kita menikah, a_aku sudah terlebih dulu menikah dengan Nela.!"
Cetaaaaaarrrr,,,,,,,serasa petir menyambar telinga Jeny, tadinya Jeny membelakangi Topan, namun sekarang iya langsung menghadap dan menatap mata Topan, dan bulir bening pun tak dapat di tahan lagi, hatinya sangat sakit mendengar apa yang Topan katakan barusan, iya merasa sama sekali tak percaya dengan apa yang Topan katakan, kalau memang demikian, berarti sebenarnya bukan Nela yang menjadi perusak rumah tangganya, tapi iya sendirilah yang sudah merusak rumah tangga Nela dan Topan, berarti iya lah yang sudah menjadi orang ketiga diantara Nela dan Topan. Nggak mungkin, ini nggak mungkin benar.
Mana mungkin iya menjadi pelakor, bahkan rasanya sangat tidak mungkin untuknya jadi pelakor, bukan baru ini saja iya bersama Topan, tapi sudah beberapa tahun iya menjalani pernikahan dengan Topan, kenapa baru sekarang Topan mengatakannya nya, ini sulit tuk di percaya.
Next,,,,
Ojo lali, LIke Vote dan Komennya,,,,hehehe
Makasih yang sudah setia disini...aku menyayangi kalian.
__ADS_1