
Jeny Pov
Andai saja, aku tau dari awal kalau Topan sudah menikah, aku takkan mau menerima Topan menjadi suamiku, bahkan aku rela jika harus membesarkan anak anakku sendirian, walaupun tampa suami.
Aku nggak perduli apa kata orang, mau bilang aku wanita hina atau apalah, aku nggak perduli, yang penting hatiku tak sesakit yang aku rasakan saat ini, apalagi melihat keadaannya Nela saat ini, pasti Nela sangat membutuhkan kehadirannya Topan, melihat keadaannya Nela dan mendengar kisah Nela, membuatku tersadar, lebih baik aku mengalah, perpisahan adalah salah satu cara, untuk mendapatkan kebahagiaan, antara Topan dan Nela.
Semoga saja, nanti Nela akan sembuh dan bisa menjadi istri seutuhnya untuk Topan. Tekad Jeny sudah bulat sekali, kalau iya akan pergi jauh dan takkan pernah kembali lagi pada Topan.
----------->>>>>
Pagi sekali sebelum jam 5 subuh, Jeny sudah bangun dari tidurnya, dia sudah bersiap siap dan mengemasi pakaiannya, kalau hari ini iya akan kembali pulang kerumah nya, apalagi iya sangat merindukan anak anaknya.
Dengan menggunakan pakaian sederhana, sama sekali tak mengurangi kecantikannya, dan itu membuat Topan semakin mencintai nya.
''Pan, hari ini kita pulang ya, kasian anak anak, mereka pasti sangat gelisah sekarang, karena semalam kita nggak jadi pulang. '' Jeny mengajak Topan pulang, karena iya memikirkan anak anaknya yang tinggal bersama mama mertuanya.
Jeny sudah merasa lebih tenang sekarang, karena rasa penasaran nya tentang Nela kini sudah terjawab, ternyata apa yang iya pikirkan selama ini, bukanlah hal yang sebenarnya, melainkan kebalikannya, bukan Nela yang merampas Topan darinya, tapi malah dia sendiri yang mengambil Topan dari Nela.
Sekarang Jeny tak mau ambil pusing lagi, iya sudah siap dan merelakan Topan untuk Nela, walau bagaimana pun, Nela lah yang lebih berhak atas Topan ketimbang dirinya, karena Nela adalah istri pertamanya Topan, sementara dia sama halnya duri didalam daging, dan Jeny tak pernah berniat sedikit pun untuk menyakiti hati Nela, walaupun iya tau kalau Nela sama sekali tak pernah berpikir sampai kesitu, dan itu hanya perasaan Jeny saja, kenyataannya adalah tidak, mana mungkin orang gila bisa berfikir.
Lebih baik dia mundur, dan itu adalah cara terbaik, demi menebus kesalahannya karena sudah mengambil Topan dari Nela dalam beberapa tahun ini. Jeny membayangkan bagaimana menderita nya Nela tampa kehadiran dan didampingi oleh Topan.
Ia berniat sepulang dari sini nanti, iya akan menceritakan semuanya pada mama Asih, dan mengungkapkan semua yang terjadi antara dia, Topan dan Nela.
Dan Jeny juga berniat, untuk mengurus segera perceraian nya dengan Topan, walaupun iya sangat mencintai Topan, namun bukan berarti iya tega menyakiti hati wanita lain, lebih baik iya mengalah, toh semuanya pasti akan baik baik saja, pikirnya.
Topan senang, karena Jeny sudah mulai mau bicara padanya, karena memang sudah lama sekali Jeny mendiamkan nya, tampa menegurnya sekalipun, makanya ketika Jeny mulai berbicara padanya, iya merasa sangat senang sekali.
Topan tidak sadar, jika Jeny mulai berubah dan kembali menegurnya, bukan karena untuk memperbaiki hubungan mereka yang sudah lama retak, melainkan Jeny sudah mengikhlaskan hatinya, untuk merelakan Nela memiliki Topan seutuhnya, tampa harus berbagi dengannya.
__ADS_1
Topan juga tidak sadar kalau sepulang dari rumah Nela, Jeny akan mengajukan gugatan cerai, dan akan pergi dari kehidupan Topan dan Nela.
Maafkan aku Topan, bukan aku tak menyayangi mu, tapi ini aku lakukan karena aku terlalu mencintaimu, hingga aku tak kuasa jika hatimu harus berbagi dengan wanita lain. Aku mengalahkan ego ku demi memenangkan perasaannya.
''Ya sudah, berarti hari ini juga kita akan kembali, tapi sebelumnya kita pamitan dulu sama Nela, karena walau bagaimanapun Nela adalah istri ku juga. ''
Saran Topan pada Jeny, sebenarnya tampa diberi tau pun, Tentu saja Jeny akan berpamitan pada Nela.
Jeny nggak tahan mendengar ucapan Topan barusan, walaupun iya sudah memutuskan akan bercerai dari Topan, tapi tetap saja rasa itu tak bisa hilang dari hatinya secara instan, semua memang butuh proses, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
''I _iya, ayo kita bertemu dengan Nela. ''
Jeny mengajak Topan untuk segera, tapi belum sempat melangkah, tangan Jeny ditarik oleh Topan.
''Nanti dulu sayang, mending kita sarapan aja dulu, kan kita mau melakukan perjalanan jauh, takutnya nanti magh kamu kumat, kalau perut kamu kosong. ''
Topan mengajak Jeny untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan, Topan mengajak Jeny ke kamar nya Nela, untuk berpamitan, lagi lagi Jeny hanya mengikuti keinginannya Topan.
Setelah berjalan beberapa waktu, mereka pun sampai ke kamar nya Nela, rupanya Nela baru selesai dimandikan oleh suster yang merawat nya.
Tapi, belum sempat mendekati Nela, tiba tiba Jeny merasa sedikit takut, karena iya melihat muka Nela terlihat sangat tak bersahabat.
Membuat Topan berinisiatif untuk merangkul pundaknya Nela agar tidak berbuat yang aneh aneh, pikir Topan.
''Je_ny,,,, kamu kah itu... ? Rupanya Nela masih ingat nama nya Jeny, mungkin karena baru selesai mandi, jadi pikirannya agak sedikit lebih tenang.
__ADS_1
''I_iya Nela, ini aku Jeny.'' Jawab Jeny pada Nela yang barusan menyebut namanya. Ketika melihat wajah Nela yang sangat menyedihkan, tak terasa air mata pun jatuh dari kelopak mata indahnya Jeny.
Jeny merasa sangat iba pada Nela, rasanya sungguh tak disangka, kalau wanita ini adalah korban dari kebiadaban laki laki yang tidak bertanggung jawab.
"J_Jeny... A_Anak...
Entah apa maksudnya, Nela menyebut anak pada Jeny, apa dia juga tau kalau Jeny punya anak, dengan sedikit keberanian, Jeny datang mendekati Nela dan memeluk tubuh wanita itu, Nela menyambut pelukan dari Jeny, wajahnya terlihat senang, ketika Jeny memeluk nya, dan itu yang terlihat oleh Topan.
Tenang aja Nela, aku akan mengembalikan apa yang sudah menjadi milikmu, aku harap kamu bahagia, batin Jeny sambil menangis memeluk tubuh Nela.
''Nela, aku sama Jeny mau pulang dulu, kapan kapan Jeny akan kesini lagi dan membawa anak anak. ''
Topan mengerti maksud anak yang diucapkan oleh Nela, karena Topan sudah pernah menceritakan pada Nela, kalau iya dan Jeny punya anak, Jeny sama sekali tak mengerti, begitu banyak yang sudah diceritakan Topan pada Nela, hingga tentang anak anak nya pun Nela tau.
Jeny melepaskan pelukan nya dari Nela. dan menangkup kedua pipi Nela lalu mengatakan pada Nela.
''Iya, InsyaAllah aku akan kesini menjenguk mu, serta membawa anak anakku kesini, kamu yang tenang ya. ''
Terlihat senyum manis dari bibir Nela, setelah mendengar kata kata Jeny barusan. Jeny memang wanita yang sangat baik, harusnya iya benci pada Nela, tapi malah sebaliknya, iya begitu kasian sama Nela.
Setelah berpamitan pada Nela, Topan dan Jeny pun keluar dari kamarnya Nela, dan mereka akan bersiap siap berangkat, tapi sebelum berangkat, tak lupa Topan meninggal kan pesan pada orang orang seisi rumah, agar menjaga Nela dengan baik, sepeninggal nya dari rumah ini.
''Baik Tuan, kami akan selalu ingat pesan Tuan, Tuan nggak usah khawatir. ''
Jawab salah satu kepala asisten rumah tangga yang sudah sejak lama mengabdi di rumahnya Nela.
Next...
Up lagi nih, hehehe...
__ADS_1
Jangan lupa dong tentunya, untuk selalu memberikan like vote dan komennya...
makasih....