
Jeny, sedikit lebih tenang saat ini, namun kesedihan dimatanya, tak pernah bisa di hilangkan, karena sudah membekas dari semenjak kejadian yang dialami semalam, namun iya berusaha untuk mencoba meredam kesedihannya sa'at ini, untuk itu iya perlu teman untuk mencurahkan isi hatinya yang gelisah sa'at ini, dan teman yang paling cocok dan tepat, untuk dijadikan sebagai penerima curhatannya saat ini, yang tak lain adalah Deril sahabat terbaik nya itu.
"Jeny, gue tau lo sekarang sedang nyembunyiin sesuatu dari gue, gue tau betul siapa lo, dan itu yang membuat gue yakin kalau lo nyembunyiin sesuatu dari gue, dan itu nggak baik buat kesehatan Lo !"
Dan yang perlu lo tau, kita nggak bisa hidup dalam kebohongan, sepandai pandai lo nyimpen rahasia sekecil kecilnya dari gue, gue yakin suatu sa'at pasti kebuka, dan gue nggak mau nanti di saat lo ada masalah, baru lo cerita sama gue, dan gue sudah nggak bisa lagi bantu elo !" dan itu membuat gue merasa sangat bersalah.
Deril, mencoba menasehati Jeny, agar Jeny bisa jujur dengan apa yang telah terjadi, karena iya nggak mau membuat sahabatnya itu, merasa sedih dengan kesendiriannya, makanya iya ingin Jeny jujur padanya, agar Jeny nggak merasa sendiri. Deril menggenggam tangan Jeny, sambil menatap Jeny dengan penuh rasa iba.
Dia sangat kasihan pada Jeny, karena Jeny hidup sendirian dan sebatang kara.
Deril tau betul kesedihan yang Jeny rasakan selama ini, makanya Deril, tidak pernah bisa berbuat kasar sama Jeny, apalagi menyakiti hati sahabatnya itu, itu nggak akan pernah iya lakukan, walaupun jtu tak sesuai dengan prinsipnya, palingan iya cuma bisa menyadarkan sahabatnya itu, agar tidak mudah untuk di sakiti.
Dan akhirnya, Jeny mulai sadar kalau apa yang telah dikatakan oleh sahabatnya itu, ada benarnya, karena dia nggak sanggup lagi untuk merahasiakan musibah yang telah Iya alami semalam.
"Deril, "tiba tiba tiba Jeny mulai membuka suaranya, walaupun kelihatan agak sedikit berat untuk menggerakkan bibirnya.
"Iya, "jawab Deril..
"Sebenarnya, gue malu tuk menceritakan tentang apa yang telah terjadi pada gue semalam Ril, karena ini merupakan aib bagi gue, Tapi gue mohon pada lo, janji sama gue ?"
Jeny mengulurkan kelingking nya pada Deril, agar Deril bisa merahasiakan ceritanya dari siapapun.
"Lo janji ya, "pinta Jeny pada sahabatnya itu.
" Iya Jeny, gue janji, mirip Lo nggak kenal sama gue aja, "ayo cerita kan sama gue ?
Jeny menarik nafas sangat dalam, tapi air matanya sudah mengalir duluan, dia membuka suara sambil menangis,
Dan belum sempat bercerita, Jeny menangis duluan, dan itu yang menambah kebingungan diotak Deril.
"RiiiiL, "Suara Jeny serak serak basah, memanggil nama sahabatnya itu.
"semalam gue, "gue di perkosa !"
Jeny berbicara terbata bata, dan dia pun menangis lagi sejadi jadinya, karena sekita itu iya teringat lagi semua perbuatan Topan padanya, yang secara membabi buta, menyakiti tubuh dan hatinya.
"Apa, ?" Deril sangat syok mendengar ucapan sahabatnya itu, seluruh tubuh nya gemetaran, dan tarikan nafasnya sangat tak beraturan, dia kaget bercampur sedih, kesal, marah, dan semuanya jadi satu, yang iya rasakan saat itu, nggak bisa diungkapkan dengan kata kata, dia sangat kecewa mendengar kata kata yang di ucapkan sahabatnya itu, bagaimana mungkin ?
__ADS_1
"Gue diperkosa Ril, gue diperkosa, tangisan Jeny pun pecah, dan tidak bisa di bendung lagi.
Deril ikut menangis, dan ikut meratapi kesedihan dan nasib sahabatnya itu,
iya nggak menyangka, kalau sahabatnya ini, begitu menderita, bahkan sangat terpukul atas apa yang sudah terjadi pada sahabatnya semalam.
"Maafin gue ya Jen,
gue nggak bisa bantu elo semalam, kenapa sih, lo nggak ngabarin gue ?"
"Deril menyesali diri sendiri, karena disaat sahabatnya lagi mendapatkan musibah, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ril, gue diperkosa berkali kali, sampai gue hampir saja pingsan, dan asal lo tau Ril, tangan dan kaki gue semuanya terikat, bahkan gue nggak bisa berbuat apa-apa, jangan kan mau melawan, menjerit pun, gue nggak bisa, karena mulut gue dibekap menggunakan lem isolasi, orang itu sangat kejam ril, ternyata iya sudah merencanakannya terlebih dahulu, makanya gue nggak bisa berbuat apa apa, dan gue hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada.
Jeny menceritakan semua yang telah terjadi pada nya semalam, sambil menangis terisak isak.
"Ya ampun Jeny, "kejam sekali orang itu, dasar laki laki brengsek, brengsek.
Deril kesal sekali, mendengar apa yang dikatakan oleh Jeny sahabat nya itu.
"Dan lo tau siapa pelakunya ?"
"Iya, Jeny menganggukkan kepala nya.
"Siapa dia ? "Tanya Deril.
"Topan !!" jawab Jeny, sambil menangis, iya tak kuasa untuk menahan air matanya.
"Apa ?" Deril kaget bukan kepalang, mendengar nama yang barusan di katakan Jeny.
"Topan sepupu lo itu ?"
Tanya Deril dengan wajahnya yang sangat heran.
"Iya, "awab Jeny.
"Kurang ajar, beraninya iya melakukan itu padamu, ini nggak bisa di diemin Jeny, tante Asih harus tau ini,
__ADS_1
Topan harus tanggung jawab atas apa yang sudah iya perbuat, kita harus lapor ke polisi Jen, biar dia dihukum,
atas tindakan biadab nya itu.
Deril sangat marah pada topan, dia nggak nyangka, Topan bisa setega itu pada saudaranya sendiri, harusnya Topan melindungi Jeny, bukan malah sebaliknya, kok Tega ya, Topan melakukan itu pada Jeny.
gerutunya deril dalam hati.
"Jeny menutup mulut Deril, dengan menggunakan telapak tangan nya, agar Deril menghentikan ucapannya, Jeny tau betul Deril sahabatnya itu, kalau bicara nggak bisa berhenti, apalagi kalau dalam keadaan marah.
"Nggak perlu Ril, gua nggak tega sama tante Asih, "Jawab Jeny.
"Gua nggak mau Tante Asih sedih dan kecewa.
"Tapi Jeny, "Anaknya tega menyakiti dan melukaimu !" Sebagai sahabatnya elo, gue nggak Terima,
sahabat gue disakiti !" Deril masih saja marah.
"Gue nggak bisa berbuat apa-apa Ril, satu sisi gue menderita, disisi lain ?" Gue nggak mau melihat tante gue,
ikutan menderita, biar lah gue tanggung sendiri, atas apa yang sudah terjadi pada gue, mungkin ini sudah jadi takdir gue, dari Allah SWT, "dan gue minta pada lo, tolong rahasiakan apa yang sudah terjadi pada gue.
Jeny menatap sahabatnya itu dengan penuh tanda harap, agar sahabatnya itu, bisa merahasiakan apa yang sudah terjadi pada dirinya, karena jika banyak orang yang tau, maka ini akan menjadi aib besar di keluarganya.
Deril heran, atas apa yang sudah dikatakan oleh sahabatnya ini, jelas jelas iya sudah jadi korban perkosaan,
tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa, hanya karena, memikirkan perasaan ibu, dari orang yang memperkosa nya,
yang tak lain adalah tantenya sendiri, dan yang lebih parah nya lagi, dia membiarkan orang yang memperkosa nya, berkeliaran diluar sana.
"apakah jeny nggak bisa mikir, kalau suatu saat, orang itu bakalan berbuat seperti itu lagi ?"
gua aja yang hanya sebatas sahabat, nggak bisa terima atas apa yang sudah di lakukan Topan pada Jeny.
"Jeny jeny, "kenapa sih lo, jadi orang kok, baik banget ? "Deril menggerutuk kesal sekali dalam hati nya, Deril menatap Jeny dengan penuh rasa iba, tapi iya pun tak bisa berbuat apa-apa, karena itu merupakan permintaan sahabatnya sendiri, Deril semakin sedih, ketika melihat Jeny melamun, dengan tatapan kosong, Jeny sepertinya kehilangan semangat hidup, dengan wajah yang tak ada semangat tuk menjalani kehidupan , membuat nya seperti orang yang telah berputus asa,
"Ya Allah, berilah ketabahan dan kesabaran untuk sahabatku ini, agar iya kuat dalam menjalani kehidupannya yang penuh lika iku ini, sebagai sahabatnya, aku juga ikut merasakan kesedihan yang iya rasakan, bagaimana bisa iya menjadi sosok orang yang sangat menderita, sementara aku tau betul, dengan apa yang iya rasakan saat ini.
__ADS_1
Deril berdoa dalam hati untuk sahabatnya itu, agar lebih kuat dan tabah.