
Topan POV,,,
Alhamdulillah,,,
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan sedikit menguras waktu dan tenaga, akhirnya aku dan Jeny sampai kembali ke rumah, dan tak kurang suatu apapun, aku tau Jeny pasti sangat lelah sekali, karena ini merupakan kali pertamanya melakukan perjalanan yang cukup jauh yang baru saja kami lalui, kasian juga pikirku, karena jelas sekali kalau wajahnya sangat terlihat capek dan lelah. Jeny yang nggak banyak bicara selama dalam perjalanan, membuatku sedikit heran, ada apa dengannya,,,? Hanya sesekali iya menanyakan sedang berada dimana..? Dan aku pun hanya menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan nya padaku, setelah itu iya kembali diam dan tak mengeluarkan satu katapun lagi dari mulutnya, sebenarnya aku agak sedikit bingung juga sih dengan sikapnya saat ini, padahal sebelum berangkat tadi, dia seolah baik baik saja. Aku pikir masalah diantara kami sudah selesai, yaaah paling tinggal seucrit lagi kalaupun masih tersisa, karena aku sudah menceritakan semuanya tentang permasalahan yang terjadi saat ini.
Namun aku nggak tau apa yang ada dipikirannya saat ini, hingga sampai di rumah pun, Jeny masih mendiami aku.
Apakah masih ada yang belum jelas pikirku, atau sebaliknya karena terlalu jelas hingga membuatnya semakin marah dan sakit hati padaku, ingin rasanya aku bertanya pada nya, apalagi yang masih meragukan di dalam pikirannya, hingga iya begitu dingin dan tentu saja membuatku semakin salah tingkah, aku yakin pasti Jeny masih menyimpan sesuatu hal dariku, tapi apalagi sih...? Aku benar benar bingung, mau bertanya takut kena marah, nggak di tanya malah tambah merasa bersalah, Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan.. ? batinku.
Aku lihat, Jeny seperti nya udah nggak tahan lagi ingin merebahkan tubuhnya di kasur, tapi sepertinya iya mengurungkan niatnya, lalu iya beranjak ke kamar mandi, mungkin karena iya merasa gerah makanya iya langsung ke kamar mandi, iya sama sekali tak memperdulikan aku bahkan sama sekali tak bicara padaku, tapi biarlah mungkin iya masih capek pikirku.
Aku nggak boleh berpikiran yang macam macam padanya. Jeny pasti butuh waktu untuk membuka hatinya lagi untuk memberikan maafnya padaku, dan itu adalah sesuatu hal yang wajar pikirku. Semoga saja hubungan kami akan kembali lagi baik seperti semula, hanya itu harapan aku.
Aku sengaja tak bertanya padanya, tentang menjemput anak anak dari rumah Mama, aku pikir biar Jeny sendiri nanti yang akan mengajakku tuk menjemput anak-anak, dan itu adalah salah satu cara, biar Jeny istriku mau membuka suaranya untukku, ah ternyata begini jadinya, ketika kita lebih mengutamakan cinta, ketimbang harga diri dan perasaan, jujur sebenarnya aku nggak tahan didiamkan seperti ini, mending aku dicaci maki nya saja, dan itu lebih baik dari pada didiamkan.
-------->>>>>>>
Setelah 2 minggu dari rumahnya Nela, entah kenapa akhir akhir ini, badannya Jeny terasa sangat tidak enak.
Kadang-kadang suka pusing. Padahal menurut rencana awal, setelah pulang dari rumahnya Nela, Jeny berniat untuk menceritakan semuanya pada mama mertua nya, perihal permasalahan yang terjadi antara dia Topan dan Nela, dan dia berniat akan mengajukan cerai, karena itu adalah menjadi keputusan akhirnya.
Tapi karena kondisinya yang agak kurang sehat, membuat dia mengurungkan niatnya sementara, menjelang badannya terasa sehat kembali, untung nya anak anak nggak terlalu rewel, bahkan anak anaknya sekarang lebih sering bermain di rumah Oma nya, katanya di rumah Oma banyak temennya. Iya juga nggak terlalu ambil pusing soal anak anak, toh mereka dijagain sama Oma mereka sendiri, bukan orang lain. Pikir Jeny.
-------->
__ADS_1
''Sayang, kamu kenapa... ?''
Topan kaget melihat Jeny muntah muntah dikamar mandi.
Jeny tak menjawab pertanyaan dari Topan, belum sempat menjawab perutnya kembali terasa bergulung, dan kembali lagi muntah.
Uuweeekkk.... uweeeek... uweeeek...
Jeny masih muntah muntah tampa memperdulikan keadaan sekitar.
''Ya ampun sayang, muka kamu pucet banget,,,!!" Topan mengambil air putih, dan memberikan nya pada Jeny, setelah memberikan minum pada Jeny, kemudian iya menggendong Jeny ke kamar, karena sepertinya Jeny terlihat sangat lemah dan lesu, lalu membaringkan Jeny di atas tempat tidur.
Topan menggosokkan minyak kayu putih pada kening leher dan perutnya Jeny, dan Jeny hanya diam dan membiarkan Topan melakukannya. Mungkin Jeny masuk angin pikir Topan. Lagian biar terasa hangat kalau di gosok pakai minyak kayu putih.
''Udah pan, aku baik baik saja, kamu nggak usah repot repot begitu, nanti juga enakan''. Belum sempat iya memejamkan matanya, tiba tiba Jeny merasakan perutnya kembali mual dan ingin muntah.
Nggak ada lagi yang bisa iya keluarkan, karena tadi sudah keluar semuanya. hanya saja rasa ingin muntah yang tiba tiba nyesek ke leher, sepertinya tak bisa tuk di hindari. Ya ampun, kenapa perutku mual sekali,,,? Batin Jeny.
''Sayang, kita kerumah sakit aja ya, aku takut kamu kenapa napa, wajah kamu pucet banget yank !''
Topan sangat mengkhawatirkan keadaan Jeny, tapi sepertinya Jeny nggak mau di ajak kerumah sakit.
''Nggak usah pan, aku nggak mau. ''
Jawab Jeny tampa membuka matanya.
__ADS_1
''Ta-tapi kamu lemes sekali sayang, aku nggak mau kamu sakit lagi seperti kemaren, setidaknya kamu pikirkan anak anak, jika kamu sakit kasian mereka, pasti mereka sangat mengkhawatirkan kamu, mau ya aku bawa kamu kerumah sakit...?'' lagi lagi Topan membujuk istrinya,
''Kalau aku bilang nggak ya nggak,,,! Kamu ngerti nggak sih pan,,,?'' Tiba tiba saja Jeny membentak Topan, entah apa maksudnya, Topan kaget kenapa Jeny bisa sekasar itu padanya, padahal seumur pernikahan mereka, Jeny tidak pernah bicara sampai membentak dan berkata sekasar itu padanya, tapi kenapa Jeny malam ini jadi seperti itu...?
Batin Topan.
Hampir saja Topan hilang kendali, dan untung dia cepat cepat istighfar, kalau tidak... ?'' Maka entah apa yang akan terjadi antara dia dan Jeny.
Ya Allah, berilah kesabaran padaku, agar lebih sabar menghadapi sikap istriku ini, batin Topan.
''Ya sudah, kalau kamu emang nggak mau, yaa aku nggak bisa maksa kamu juga, yang pasti aku sudah berusaha untuk bersikap apa yang menjadi kewajiban aku, terserah kamu mau menilai aku dengan cara kamu, namun sebagai suami, tentu saja aku ingin yang terbaik buat istriku. Sekarang, silahkan kamu istirahat aja, kalau kamu butuh apa apa, kamu panggil aku, kalau begitu, aku keluar dulu. ''
Topan beranjak dari kamar, dia berniat ingin membuatkan bubur untuk istrinya, karena kasian juga melihat kondisi istrinya yang lagi dalam keadaan lemah seperti itu, apalagi dia tau betul, sifat istrinya, kalau nggak terlalu parah, Jeny sama sekali nggak mau menunjukkan kalau dia lagi sakit, makanya Topan suka kesal pada Jeny, seolah dia mampu berbuat sendiri, tampa perlu bantuan dari orang lain, bahkan Jeny sama sekali nggak mau, kalau Topan memperkerjakan ART untuk sekedar memperingan pekerjaannya dalam mengurus rumah tangga. Untung nya Topan nggak terlalu mempermasalahkan soal ART, yang penting istrinya aman dan tak merasa kesulitan, bila mengurus pekerjaan rumah .
Jeny pov
Aku sebenarnya kasian melihat Topan, aku tau Topan sudah berusaha untuk memberikan perhatian yang terbaik buat aku, tapi sayangnya aku sama sekali tak menghargai niat baiknya, aku sengaja bersikap seperti itu, untuk sekedar membuatnya benci padaku, dengan begitu tak ada penyesalan jika suatu hari nanti kami berpisah.
Ku akui memang, Topan adalah laki laki yang baik, bahkan iya udah mau jujur dan mengakui kesalahannya padaku, tapi tetap saja, hati ku sudah terlanjur kecewa padanya, yang jelas kedepannya nanti, aku tetap pada pendirian aku. Maafkan aku, karena sudah membuatmu kecewa Topan.
Next....
Haayyy semuanya, segini dulu ya sambungannya, next time aku akan sambung lagi ceritanya, tentu saja dengan menambahkan rempah rempah yang sedikit menggoyang dunia khayal kalian, tapi nggak segitu juga kali... ðŸ¤
hehehehe...
__ADS_1
Tapi sebelumnya, jangan lupa dong untuk selalu memberikan like vote dan komennya disini nih... 👇👇👇
Makasih banget yang sudah mau mampir disini, tentu saja aku sangat berterima kasih yang tak terhingga pada kalian semuanya, aku menyayangi kalian semuanya...