Ku Menerimamu Apa Adanya

Ku Menerimamu Apa Adanya
Hanya peringatan awal


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Jeny langsung berangkat untuk kembali kekantor, kali ini iya benar benar merasa sangat tidak enak sama atasannya, karena iya udah beberapa kali mangkir dari pekerjaannya, makanya iya sangat khawatir kalau nantinya iya akan di berikan SP sama atasannya, dan benar saja baru beberapa menit iya sampai dan duduk di meja nya, tiba tiba panggilan dari ruangan bos nya pun datang.


"Iya pak,,,? "Jawab Jeny.


"Ada yang bisa saya bantu,,,?


"Sekarang, segera kamu keruangan saya...!!!


Perintah Gibran pada Jeny, untuk segera datang ke ruangannya.


"Baik Pak, saya akan segera keruangan bapak...!"


Jawab Jeny, agak sedikit khawatir, iya sangat yakin Bosnya akan marah besar padanya, karena memang iya menyadari, akhir akhir ini, semenjak Topan dirawat di rumah sakit iya, lebih banyak mangkir dan tidak masuk kerja, karena memang iya begitu sibuk dengan urusan nya Topan, apalagi sekarang kondisi kehamilannya yang sudah mulai semakin membesar, membuatnya harus ekstra hati hati untuk melindungi kandungannya dari segala bahaya, dan juga dari pandangan orang banyak, tapi mau gimana lagi, iya harus pandai pandai menyisipkan waktu, untuk bekerja, menemani tantenya, dan juga menjaga kandungannya agar selalu sehat.


Sesampainya di ruangan Bosnya, kakinya agak sedikit gemetaran karena iya merasa sangat khawatir, jika nanti bosnya akan mengetahui apa yang di alaminya saat ini, makanya iya sangat takut.


"Silahkan duduk...!" Gibran menyuruh Jeny duduk di kursi yang ada di depan mejanya.


"Hmm,,, i i iya pak...!" Jawab Jeny agak sedikit gugup.


"Kamu tau kenapa saya memanggil kamu keruangan saya,,,?" Tanya Gibran.


Jeny menggeleng geleng kan kepalanya sambil menundukkan kepalanya, iya sangat tidak berani menatap wajah bosnya, iya benar benar nggak berani apalagi kelihatan banget kalau wajah bosnya itu seperti orang yang lagi sangat kesal dan marah.


"Ng ng nggak pak...!" Jawab Jeny.


"Saya perhatikan, akhir akhir ini, kamu sangat tidak profesional sekali dalam bekerja, saya sangat sangat sangat kecewa sekali dengan cara kamu...


"Jangan kira saya perhatian dan memberikan kelonggaran pada kamu, membuat saya mengabaikan perasaan karyawan karyawan saya yang lain,,,!"


"Saya tidak butuh karyawan yang bekerja sesuka hati dan tidak menghargai waktu, apalagi merasa diri paling pintar dalam bekerja,,,!"


"Saya tahu, selama ini, kamu memang karyawan terbaik di kantor saya, tapi itu dulu, sekarang tidak, saya akui itu semua.


"Yang paling saya tidak suka, adalah kamu sama sekali tidak menghargai waktu dalam bekerja.


"Maafkan saya Pak, saya akui itu, saya janji saya nggak akan mengulanginya lagi...!"


Jawab Jeny.

__ADS_1


''Saya nggak butuh janji Jeny, yang saya butuhkan bukti bukan cuma janji.


"Baik pak, saya nggak akan mengulanginya.


Jawab Jeny.


"Untuk kali ini, saya masih ada toleransi sama kamu, tapi untuk kedepannya, saya tidak jamin, kalau kamu masih bisa kerja lagi di sini...!"


"Faham kmu...!"


Gibran sangat marah sama Jeny, baru kali ini, iya merasa sangat kesal pada Jeny, biasanya iya nggak pernah sampai berkata kasar sama Jeny, sebenarnya iya juga nggak tega melihat Jeny yang sangat merasa ketakutan sama dia, tapi mau gimana lagi, iya nggak mungkin mengabaikan perasaan karyawan karyawannya yang lain, hanya karena iya memikirkan satu karyawan saja, yang memang benar iya menyimpan perasaan sama Jeny, tapi itu bukan berarti iya membiarkan saja Jeny bekerja sesuka hatinya, memang iya tau Jeny sekarang lagi sibuk mengurus saudaranya yang lagi koma di rumah sakit, tapi Jeny juga harus tau juga tanggung jawabnya dalam bekerja.


"Sekarang silahkan kamu bekerja lagi, dan ingat satu hal ya Jeny, saya butuh karyawan yang memang benar benar menghargai waktu.


Tegas Gibran pada Jeny.


"Baik Pak...!" Jawab Jeny.


"Kalau begitu saya balik keruangan saya pak.


Jeny pamit dari hadapan Gibran untuk kembali ke ruangannya, dan gibran hanya mengangguk tampa mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Jeny langsung berdiri dan meninggalkan Gibran.


"Jen, Kenapa Lo di Panggil Bos,,,?" Tanya Deril pada sahabatnya itu.


"Bos marah sama Gue, jawab Jeny singkat.


"Tadi dia nanyain Lo, pada gue kenapa lo lama banget perginya, karena tadi emang iya menunggu lo, soalnya mau meeting sama klien, tapi lo nya nggak datang datang, berkasnya kan ada sama lo, jadi karena Lo nggak datang, batal deh meeting nya, dan asal lo tau, klien itu membatalkan kerja samanya sama perusahaan kita, karena mereka bilang, perusahaan kita tidak profesional dalam bekerja, makanya bos sangat kesal.


"Iya Ril, gue akui itu emang kesalahan gue, tapi itu nggak gue sengaja Ril, ada  sesuatu hal yang emang benar benar mendesak saat itu, dan itu nggak bisa gue tinggalin...


"Gue rasa, Lo pasti faham lah maksud gue..?


"Iya iya iya, gue faham, lain kali kalau emang ada keperluan mendadak, Lo bilang sama gue, biar gue bisa bantu pekerjaan Lo...


"Gue tau kok, dengan keadaan Lo sekarang, nggak mungkin lah gue biarin Lo menderita sendiri, mana tega gue...


Jawab Deril.


Setelah bekerja, waktu jam pulang pun tiba, mereka pulang bersama naik mobil deri, dan Jeny minta dianterin langsung kerumah sakit, untuk melihat keadaan Topan.

__ADS_1


Deril ikut masuk keruangan tempat Topan dirawat, dan di dalam ruangan itu, tampak tante Asih yang lagi duduk termenung sendiri.


'Assalamualaikum tante, Deril menyalami tante Asih,,,


"Tante apa Kabar,,?" Tanya Deril pada Tantenya.


"Alhamdulillah Deril, Tante Baik baik aja,,,!" Jawab Tante Asih


"Topan Gimana Kabarnya Tante,,,?


Tanya Deil lagi.


"Yaaah,,, "seperti yang kamu lihat saat ini, Topan masih dalam keadaan Koma, tante nggak tau Ril, sampai kapan Topan harus terbaring seperti ini, karena sampai saat ini, Topan belum memberikan tanda tanda untuk sembuh, entah sampai kapan dia seperti ini.


Jawab tante Asih, yang terlihat sangat tidak bersemangat, namun Jeny hanya diam dan tampa bersuara sedikitpun.


"Sabar ya Tante, mudah mudahan saja Topan segera sembuh, dan sadar dari komanya, karena Deril juga nggak tega melihatnya terbaring lemah seperti ini.


"Makasih ya Ril, semoga aja Topan cepat sadar.


''Oh ya, gimana kalau kita keluar aja, kita ngobrol di depan sana, biarkan Jeny yang menjaga Topan sementara.


''Oh baik tante, ayo...?


Jawab Deril.


"Jeny, Tante sama Deril mau ke depan sana dulu ya, kamu nggak apa kan, kalau menjaga Topan sementara...?"


"Iya tante, silahkan,,,


"Topan biar Jeny yang jagain. Jawab Jeny


Tante Asih dan Deril pun pergi dan meninggalkan Jeny dan Topan di ruangan, mereka berdua berjalan menuju taman depan rumah sakit, mereka sepertinya ingin mengobrol serius, dan itu terlihat dari jendela, ketika  iya menoleh kearah luar.


Jeny nggak nyadar, kalau Topan di belakang nya yang lagi terbaring, ternyata membuka mata......


Next,,,,,


Maaf ya, udah lama nggak up, jangan lupa kasih like, vote, and Komennya...

__ADS_1


Soalnya akhir akhir ini, aku agak sukar tuk mendapatkan ide cerita, jadi agak bantu aku dong, tuk mendapatkan saran yang membantu. makasih..


__ADS_2