Ku Menerimamu Apa Adanya

Ku Menerimamu Apa Adanya
Keadaan yang tak di inginkan


__ADS_3

Setelah mendengar semua penjelasan dari Dokter, Jeny merasa agak sedikit lega karena kekhawatiran yang iya rasakan tadi, telah berangsur sedikit berkurang, bukan hanya itu, iya juga merasa senang karena melihat wajah dari tantenya tidak secemas tadi, cuma saat ini jeny agak sedikit bingung, kenapa air mata Topan mengalir dipipinya, apa Topan sudah mulai sadar  ?"


Pertanyaan itu muncul di benaknya Jeny, dia berharap sekali agar Topan segera sadar, ingin rasanya Jeny memanggil Dokter, untuk menanyakan, apakah Topan udah mulai sadar, apa belum ?" Tapi iya ragu, walaupun iya sangat penasaran, tapi iya nggak enak, karena Dokter baru saja keluar dari ruangan ini, lama Jeny memperhatikan Topan, sambil berbicara pada Topan, seakan Topan Bisa mendengar setiap ucapan darinya, tapi apa iya orang yang lagi koma dapat mendengar orang berbicara,,,?" Ah, mudah mudahan iya, kata orang, bila ada orang yang sedang koma, banyak banyak di ajak bicara, karena iya mendengar apa yang kita bicarakan, bukan cuma kata orang, tapi dokter juga mengatakan demikian.


Jeny terus saja mengatakan, apa yang hendak iya katakan pada Topan, Jeny nggak perduli, apa Topan mendengar apa Tidak, yang pasti iya sudah mengatakan apa yang ingin iya katakan.


sebagai seorang wanita yang sedang hamil muda, tentu banyak sekali sesuatu yang di inginkan, tapi apalah daya, semua hanyalah keinginan belaka, tampa ada yang terpenuhi, cuma iya tak terlalu memikirkan apa yang ingin iya mau, yang paling penting baginya adalah, iya harus sabar untuk menunggu kesembuhan Topan dari sakitnya.


Tak lama kemudian, Tantenya datang dari luar, dan membawakan beberapa makanan, untuk Jeny karena iya tau mungkin Jeny juga belum makan.


Jeny sangat senang ketika Tantenya membawakan makanan untuknya, apalagi iya memang sekarang sudah mulai lapar, tapi iya merasa aneh dengan aroma makanannya, sepertinya ada aroma bawang goreng, Jeny memang merasa, semenjak iya hamil ini, iya merasa sangat tidak suka dengan yang namanya aroma bawang goreng, entah bawaan hamil kali, makanya iya nggak suka, padahal biasanya Jeny kalau masak, Jeny selalu menggunakan bawang Goreng sebagai pelengkap masakannya, tapi kali ini beda, iya sangat tidak suka dengan aroma bawang goreng, dan satu lagi, Jeny juga nggak suka sam yang namanya Telor rebus, enatah apa yang iya rasakan, sehingga iya juga tidak menyukai aroma telor rebus.


perasaannya kalau mencium aroma telur rebus sama bawang goreng, iya seperti mau mengeluarkan semua yang ada di perutnya.


Tadinya iya sangat semangat melihat tantenya membawa makanan untuknya, tapi ketika iya membuka bungkusan itu, iya merasa ingin muntah, karena yang ada di dalam bungkusan itu, adalah nasi goreng, pakai telor rebus, makanya aromanya sangat tidak iya sukai.


"Tante, aku nggak jadi makan ya, soalnya aku rasanya udah kenyang, buat tante aja deh,,,!

__ADS_1


Jeny memberikan bungkusan yang diberikan tantenya tadi, iya kembalikan lagi, karena iya nggak tahan lagi dengan aromanya, iya rasanya mau muntah.


"Loh, kenapa,,?" biasanya kamu paling suka nasi goreng pake telor rebus, makanya tante belikan ini, tante takut nanti kamu kelaparan, maklum sekarang kan udah waktunya jam makan siang, kalau kamu nggak makan nanti kamu sakit lo, tante Asih agak sedikit memaksa...!"


"Serius aku tante, aku beneran udah merasa sangat kenyang sekarang, tante aja deh yang makan. pinta Jeny pada tantenya.


Tante Asih kali ini, nggak memaksa lagi, karena iya tau betul sifat Jeny, kalau nggak ya nggak, dan  nggak mugkin mau. makanya iya nggak lagi memaksa Jeny untuk memakan makanan yang iya bawakan,


"ya udah deh, terserah kamu aja, yang pnting nati, kalau kamu lapar mau makan, nih tante letakkan di atas meja ini ya..?


"kalau begitu, aku mau keluar dulu ya tante, mau Solat Zuhur di musholah, karena ini udah waktunya, malahan udah hampi lewat lagi.


"Iya deh, tante tadi juga udah solatnya, jangan lupa ya Jen, Doain Topan ya...?


"Iya pasti,,!" Tante usah khawatir ya, tenang aja, aku pasti doa in Topan kok Tante.


Sebenarnya yang paling utama, tujuan Jeny keluar saat ini, iya merasa mau muntah, makanya iya berniat mau keluar, mau cari kamar mandi umum, untuk mengeluarkan keinginannya, karena iya merasa sudah tidak tahan lagi, padahal tadi diruangannya Topan ada kamar mandinya, cuma iya nggak enak, nanti sama tante nya, dikira nggak menghargai pembeliannya, padahal emang iya nggak mau tuk makan makanan  yang mengandung bawang goreng sama telor rebus, makanya iya langsung saja mengembalikannya pada tante Asih.

__ADS_1


Jeny langsung buru buru keluar ruangan untuk menuju kekamar mandi, sesampainya di kamar mandi, iya langsung saja mengeluarkan apa yang sejak tadi mengganjal di kerongkongannya, rasanya iya sudah tak sabar lagi tuk mengeluarkan apa yang ada di perutnya, baunya benar benar aneh dan sangat tidak nyaman di hidung, apalagi kalau masuk keperut, setelah semuanya keluar, Jeny merasa lega dan nyaman, iya tak lagi merasa mual, apalagi setelah iya menggosokkan minyak angin di leher dan perutnya, jadi semakin nyaman, yah walaupun iya merasa agak sedikit lemah, namun lebih mendingan dari yang iya rasakan tadi.


"Sayaaang, kamu kenapa sih, selalu aja kayak gini,,,?" padahal mama sangat tidak menginginkan keadaan yang seperti ini, karena mama merasa sangat tersiksa akan hal ini, Jeny berbicara sendiri sama perutnya yang lagi datar, supaya anak yang ada di dalam kandungannya, seolah mendengar apa yang iya ucapkan.


"Sayang, andai saja papa kamu nggak mengalami kecelakaan dan koma, pasti iya senang banget berada di dekat kamu sekarang, tapi semua ini, tak bisa di hindarkan, kenyataan yang di alami papa kamu sekarang, memuat kamu belum bisa tuk bersama papa kamu sekarang, maafkan papa kamu ya nak, mama harap kamu ikut berdoa ya, semoga saja papa kamu cepat sadar, dan kamu bisa bersama papa kamu.


Jeny merasa bahwa nasibnya memang sedang tidak beruntung, disaat iya baru saja mulai merasa sedikit lega, tapi Allah berkehendak lain, hingga iya sekarang harus bisa menerima kenyataan yng sebenarnya iya tak sanggup tuk menjalani, hanya saja iya menginginkan agar anak yang iya kandung ini lahir dengan selamat, makanya iya akan berusaha sekuat hati, tuk bisa menerima kenyataan yang ada, iya nggak perduli apa yang akan terjadi di masa mendatang, namun iya merasa yakin, pasti ada jalan yang terbaik untuk setiap permasalahan yang ada, tak ada yang bisa tau, bagaimana kehidupan di masa mendatang, kadang apa yang kita rencanakan tak sesuai dengan kenyataan yang diterima.


Begitulah yang ada di pikiran Jeny saat ini, makanya sebesar apapun masalah yang di hadapi Jeny, iya tak pernah merasa berputus asa, sekalipun kenyataan itu begitu sulit baginya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2