
Dan, yang lebih kagetnya Jeny saat ini, ketika melihat wanita yang jatuh meringis kesakitan di depannya sambil memanggil suaminya, ternyata dia adalah orang yang sudah sangat lama iya cari dan iya rindukan selama ini.
"DERIIIILLLL,,,,''
''JENYYYY,,,,"
Deril, tak kalah kagetnya ketika melihat Jeny berada di hadapannya, iya benar benar tak mengira kalau orang yang menabraknya adalah Jeny sahabatnya, sahabat yang juga sangat dirindukannya. Ada rasa senang menyelimuti hatinya saat ini, ketika bertemu dengan sahabat yang sangat disayanginya, namun ada rasa ketidak nyamanan juga dihatinya, karena suaminya adalah orang yang sudah pernah singgah di hati sahabatnya, dan juga bagian dari masa lalu sahabatnya.
"Deril, apakah aku tak salah melihatmu saat ini,,,?" Jeny merasa masih tak percaya, kalau sahabatnya sekarang sudah jauh berubah, tidak seperti yang iya kenal waktu dulu. Deril terlihat sangat gendut dan apalagi bagian perutnya sudah terlihat sangat membuncit.
Ya Tuhan apakah sahabatnya ini sudah menikah, tapi kapan dan kenapa Deril tak mengabarinya, apakah Deril masih menganggapnya sebagai sahabat, atau Deril sudah tak menganggapnya sahabat lagi, hingga menikah pun Deril sama sekali tak memberi tahunya.
Jeny benar benar tak habis pikir, kenapa Deril seperti itu, apa salahnya, kenapa Deril seolah melupakan persahabatan mereka. Tak terasa air matanya menetes, iya merasa sudah tak dianggap lagi oleh sahabatnya saat ini, sementara dulu Deril begitu peduli padanya, bahkan iya menikah dengan Topan pun itu karena saran dari Deril sahabatnya, dimana Deril yang iya kenal dulu, sahabat terbaiknya. batin Jeny.
Deril menunduk malu, ketika berhadapan dengan Jeny, iya benar benar merasa sangat tak enak hati, iya malu pada Jeny karena ketika iya menikah iya sama sekali tak memberi tahukannya pada Jeny, padahal Jeny adalah sahabat yang sangat iya sayangi, dan hanya Jeny sahabat yang paling bisa mengerti akan dirinya, namun apalah artinya saat ini, ketika Jeny melihatnya kalau dia sudah menikah, dan yang lebih parahnya dia menikah dengan Jony seseorang yang pernah Jeny cintai. Deril tak sanggup menatap mata Jeny.
"Deril, kamu sudah menikah,,,?" Jeny mendekati Deril dan bertanya, apakah yang dilihatnya saat ini adalah benar.
"M-maafkan aku Jen. I- iya a-aku sudah menikah sama Jony, sekali lagi maafkan aku Jen..." Deril tak sanggup menatap mata Jeny, Deril berusaha tuk berdiri, namun tak bisa karena perutnya terasa sangat sakit, hingga Jeny mencoba tuk membantunya, karena melihat Deril kesusahan tuk berdiri, namun sayangnya tenaganya tak cukup kuat tuk membantu Deril, hingga lagi lagi mereka berdua terduduk lemas.
__ADS_1
Untungnya Jony dengan cepat mendekati mereka, dan langsung membantu mereka tuk berdiri, namun diluar akal pikirannya, tiba tiba orang yang pertama di bantu Jony bukanlah Deril istrinya, melainkan Jeny wanita yang dulu sangat iya cintai, dan itu membuat Deril merasa sangat kecewa.
''Jeny, kamu tidak apa apakan,,,?" Tanya Jony pada Jeny..
"Yah, aku tak apa, maafkan aku sudah merepotkan mu." Sebenarnya Jeny merasa tak percaya, bukannya menolong istrinya Jony malah menolong dirinya, iya sangat tak enak hati pada sahabatnya itu, karena terlihat sekali kalau Deril benar benar terlihat sangat kecewa atas sikap suaminya, Jony seolah tak ingat kalau selain Jeny ada wanita yang membutuhkan pertolongannya saat ini, bahkan kewajiban suami membatu istri disaat istrinya membutuhkan pertolongan.
"Jony, perutku sakit sekali,,," Deril memanggil suaminya, karena iya merasa perutnya sakit sekali. Sontak saja, membuat Jony seketika sadar, kalau istrinya lagi membutuhkannya.
"Ya Ampun sayang maafkan aku,,," Dengan sigap Jony mengangkat Deril dari tempatnya, dan menggendong Deril menuju kursi roda, lalu mendudukkannya di atas kursi roda tersebut, sementara Jeny hanya terpana melihat apa yang dilihatnya saat ini, iya masih tak habis pikir, kok bisa Deril menikah dengan Jony, gimana ceritanya....? Batin Jeny.
"Sayang, kamu kenapa masih di sini, bukannya kita harus pulang sekarang,,,? Tiba tiba Jeny di kaget kan dengan kehadiran Topan di belakangnya.
"I-iya pan, eh tapi ada yang mau aku kasih tau ke kamu,,,!" Jeny berniat untuk memberi tahu Topan, kalau iya barusan melihat Deril, namun seketika iya teringat kalau suaminya sangat tak suka dengan suami dari sahabatnya itu, bahkan dulu mereka pernah baku hantam, sampai Jony dirawat di rumah sakit beberapa hari, karena dipukuli Topan sampai babak belur, jadi bagaimana mungkin iya akan mengatakan pada Topan kalau iya ketemu Deril dan suaminya Deril yang tak lain adalah Jony, orang yang sangat dibenci oleh Topan.
"Loh, kok nggak jadi, emangnya kamu mau ngomong apa,,,?" Tanya Topan yang sedikit penasaran.
"Nggak jadi pan, kita pulang yuk,,,?" Jeny menarik tangan Topan, untuk segera pulang. Dan akhirnya Topan mengikuti ajakan istrinya. namun belum sempat iya melangkah, tiba tiba matanya melihat Deril yang lagi didorong perawat di atas kursi roda menuju ruang persalinan.
"Sayang, bukannya itu Deril sahabat kamu, tuh lihat dia lagi di dorong suster menuju ruang persalinan, kenapa iya di bawa ke sana, apa dia mau melahirkan, lalu kapan iya menikah,,,? ayo kita melihatnya." Topan mengajak istrinya, untuk melihat Deril.
__ADS_1
"Kamu salah lihat kali pan, mana mungkin Deril ada disini, apalagi mau melahirkan, udahlah yok kita pulang,,,?"
Lagi lagi Jeny menarik tangan suaminya, agar tak melihat Deril sahabatnya, bukannya iya tak mau mengajak suaminya untuk melihat sahabatnya, tapi,,,,iya takut Topan salah faham, karena disitu ada Jony yang mendampingi Deril.
"Beneran sayang aku nggak salah liat, tapi ya udah deh, terserah kamu aja." Topan mengikuti ajakan istrinya, iya nggak mau melihat istrinya kecewa.
Tapi ketika mereka hendak melangkah menuju ke mobil, mereka malah berpapasan dengan mamanya Deril, dan tentu saja Topan sangat mengenal mamanya Deril, dulu waktu iya menikah, mama Deril ada, lagi pula mama Deril juga sahabat mamanya.
"Jeny sayang, kamu ngapain disini, kamu hamil lagi ya sayang,,,? Mamanya Deril menarik tangan Jeny, lalu memeluknya.
"Eh iya tante, Jeny hamil lagi, tante apa kabar sekarang,,,?" Akhirnya Jeny hanya bisa pasrah dengan keadaan, padahal tadinya dia berniat untuk tak membawa Topan melihat sahabatnya, namun niatnya itu seolah harus dimusnahkan, karena kehadiran mamanya Deril, membuatnya tak bisa mengelak lagi.
"Tante baik aja sayang, ini tante mau melihat Deril, tadi suaminya Nelpon kalau Deril mau melahirkan." Jelas mama Deril.
"Tu kan sayang, apa aku bilang, tadi itu emang beneran Deril kan, kamu nggak percaya, yah udah tante kalau gitu ayo sekalian kita mau nengok Deril juga." Topan mengajak istrinya untuk melihat Deril sahabat dari istrinya itu.
"Ya udah, ayo kalau gitu, ayo sayang,,," Mamanya Deril menggandeng tangan Jeny, mau tak mau Jeny harus mengikuti ajakan mamanya Deril, apalagi suaminya yang juga ingin mengajaknya untuk melihat Deril sahabatnya.
Next,,,,,,,,
__ADS_1
Salam hangat tuk kalian semuanya, aku mencintai kalian,,,,
Muuuaaaach 1000x.......hehehe