
Sore itu, dengan semangat nya Adi bersiap siap ingin bertemu dengan cucu cucunya, iya sangat senang ketika mendengar cerita Asih tentang cucu cucunya, makanya iya begitu tak sabar, ingin segera sampai kerumah cucunya, rasa ingin memeluk dan mencium cucu cucunya, membuat jiwa kakeknya jadi meronta, bermodalkan keberaniannya dalam mengemudi, iya pun menginjak pedal gas, tampa memperdulikan spedo yang hampir mentok ke titik garis terakhir.
''Pelan saja mas, jangan ngebut ngebut bawa mobilnya, mending kalau sampai dengan selamat, takutnya sampai tampa selamat,,,!"
Asih mengingatkan suaminya, agar lebih berhati hati, karena suaminya nyetir terlalu kencang. Membuatnya agak takut, bukan takut karena mati terlalu cepat, tapi mengingat masih terlalu banyak yang harus di perbaiki, kalau mati itu urusan tuhan, tapi sebelum mati, alangkah baiknya jika menghapus semua kesalahan semasa hidup, agar matinya lebih tenang.
Adi kemudian menarik sedikit kakinya keatas, dari atas pedal gas, sambil tersenyum, ketika mendengar ucapan istrinya, hingga perjalanan terasa sedikit lebih nyantai.
Asih merasa heran dengan sikap Adi suaminya, Adi tak membantah sedikitpun atas semua sikap dan ucapannya, padahal Adi bukanlah tipe suami yang pengalah seperti suami pada umumnya, dia paling tidak suka dibantah, diperintah, apalagi dipaksa. Maunya menang sendiri, suka kasar sama istri, bahkan tak segan segan melayangkan 5 jarinya ke wajah Asih, makanya Asih suka takut kalau berhadapan dengan suaminya, tapi sikap suaminya kali ini memang di luar akal pikirannya, Adi lebih banyak mengalah dari pada membantah. Logika nya Adi malah seperti suami yang takut istri.
''Mas, pelan pelan saja...! Kamu kok masih ngebut gitu,,,?'' Asih seolah sengaja memancing reaksi suaminya, walaupun iya sudah tau, kalau sekarang mobil melaju dengan sangat santuy.
"Asih, aku sudah tak sabar lagi ingin melihat cucu cucuku, pasti mereka menggemaskan..."
"Iya, tapi nggak gini juga kali, kebut kebutan udah kayak pembalap kelas dunia..." Sindir Asih pada suaminya, dan itu membuat Adi nyengir kuda, karena malu.
''Ini juga udah pelan kok,'' jawab Adi singkat, sambil melirik kearah Asih, kemudian fokus kembali pada kemudinya.
'Aku nggak menyangka mas, kalau kamu bisa tersenyum seperti itu, rasanya seperti kembali dimasa lampau, ketika awal pernikahan dulu, ketika melihat senyum tulus dibibir kamu, batin Asih.
Asih memang sangat mencintai Adi, bahkan iya rela menerima setiap perlakuan buruk Adi terhadapnya, cinta sudah membuat dirinya terlihat bodoh dimata Adi, tampa perduli apapun yang terjadi pada dirinya.
Karena sikap Adi yang terus terusan membuatnya kecewa, akhirnya cinta itu seperti memudar dan hilang seiring berjalannya waktu, namun kini cinta itu seakan kembali lagi, disaat dia melihat senyum terukir dibibir suaminya.
*******
Senyum dibibir Jeny mengembang, disaat iya melihat dua garis merah, iya tak menyangka kalau dirinya sekarang tengah berbadan dua, rasa bahagianya ini tak ingin iya lewatkan tampa memberi tahu suaminya terlebih dahulu...
''Topaaaannn, kamu dimana...?
Jeny memanggil Topan dengan semangatnya, iya tak sabar lagi ingin memberitahu perihal kebahagiaan nya ini pada suaminya.
"Iyaaa....Aku disini di kamar nya anak anak sayang, kenapa..?"
Topan bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekat kearah istrinya berada, ketika sampai didekat istrinya, iya heran melihat air mata dan seulas senyum cerah di wajah cantik istrinya.
"Sayang, kamu kenapa...? Apa yang terjadi sama kamu, kenapa kamu menangis...?'' tanya Topan heran.
Jeny memeluk Topan, dengan tampilan wajah yang sulit tuk difahami oleh Topan.
__ADS_1
''Eh sayang,,,,Kamu kenapa sih,..?''
Topan melonggarkan pelukannya, dan menangkupkan kedua tangannya pada pipi putih cantik istrinya.
Jeny memperlihat kan benda yang ada ditangannya, dan itu membuat mata Topan terbelalak, dan merasakan sesak di dadanya.
''Sa - sa sayang, ini beneran kan...? nggak m - mimpi kan...? Suara Topan tersendat sendat, saat melihat benda yang ada ditangan istrinya, iya menepuk nepuk pipinya, untuk merasakan kalau apa yang dilihatnya ini memang nyata.
Jeny mengangguk anggukkan kepalanya, seolah menekankan kalau apa yang dilihat Topan, adalah benar.
''Iya pan, aku beneran hamil, aku hamil sekarang...'' Jawab Jeny pada suaminya, sambil menghapus air mata bahagia di pipinya...
''Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah....Terima kasih kau sudah memberikan kepercayaan lagi menitipkan anak di rahim istriku...'' Topan mencium kening pipi kiri kanan berulang ulang kali, dan terakhir dibibir istrinya, namun aksinya seketika terhenti, saat kedua bocil memergokinya.
''Papaaaaaaa.....''
kwkwkwkwk....ketahuan ya, papa lagi cium mama, katanya tadi sebentar mau nengokin mama, tapi rupanya papa lagi ciumin mama...''
kwkwkwkkwkw.....
Coko dan Ciki ketawa ketawa melihat papanya yang malu, sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal sedikitpun.
Ciki menatap papanya sambil mengarahkan Tongkat ajaibnya ke wajah papanya.
''Eh ja- jangan mengarahkan tongkat sihirnya ke papa...!
Topan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seolah takut kena sihir menjadi keledai...
Jeny ikut ketawa melihat ulah suaminya yang seperti takut sihir sungguhan, aksi lucu anak dan suaminya, seolah menghipnotis mata dan hatinya, sehingga yang ada dipikiran nya sekarang, rasa bahagia yang sangat luar biasa.
Aku mencintai kalian,,,,batin Jeny.
''Mama, kenapa menangis...?
Tiba tiba mata Coko teralihkan ke wajah mamanya.
''Siapa yang nangis sayang, mama nggak nangis kok...😀😀
Jeny jongkok, dan mencium anak lelakinya.
__ADS_1
''Ini, kenapa ada air mata mama mengalir,,,? Coko menghapus air mata di pipi mamanya.
''Sini dulu duduk sini,,,'' Topan mengajak anak anaknya duduk di sofa.
''Ada yang mau papa kasih tau sama kalian...!'' Topan mendudukkan Ciki dan Coko di atas pangkuannya.
dan iya pun ingin memberi tahu anak anaknya, kalau sebentar lagi mereka akan punya adik.
''Hmmmm....sayaaang,,,
sebentar lagi kalian akan P-pu...? Suara Topan terhenti ketika mendengar ada yang mengucapkan salam pintu depan.
''Sebentar ya, papa lihat dulu siapa yang datang, kalian tunggu di sini dulu, duduk sama mama.''
Topan berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju kearah pintu depan, iya penasaran, siapa yang datang, berkunjung diwaktu yang tidak tepat, disaat iya lagi bersenda ria dengan anak dan istrinya, tapi malah terhenti, benar benar pengganggu, batin Topan.
Diluar rumah, ada sepasang suami istri, yang sudah tidak sabar lagi menunggu pintu rumah dibuka, dan baru saja tangan Adi ingin mengetuk pintu kembali, namun seketika langsung terhenti, ketika pintu rumah sudah terbuka.
_
_
_
_
_
Next....
Aku Up lagi nih, demi kalian semua kesayangan aku....
biar bete nya hilang, nggak ngedumel lagi dihatinya, hehehe...
Aku tuh paling nggak tegaan kok orangnya, apalagi sama orang orang yang aku sayang, melihat senyum di bibir kalian, itu membuat hati aku senang banget, walaupun di dunia tak kasat mata, kwkwkkkw...
✌✌✌✌✌
Jangan lupa dong...
__ADS_1
cuuusss like and...hehehe