Ku Menerimamu Apa Adanya

Ku Menerimamu Apa Adanya
Mau jadi Perawan Tua kamu,,,?


__ADS_3

Jony pov


Aku nggak tau perasaan apa yang aku rasakan saat ini, katika aku dihadapkan pada dua orang wanita yang berada di ruangan yang sama, entah perasaan senang atau malah perasaan tak senang, aku sendiri sama sekali tak mengerti, tapi yang pasti, jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, ketika aku melihat Jeny datang, aku benar benar merasa senang, walaupun aku sadar kalau apa yang kurasakan bukanlah sesuatu hal yang benar, melainkan sesuatu hal yang salah.


Aku juga nggak mungkin menunjukkan rasa senangku atas kedatangan Jeny di hadapan Deril istriku, apalagi dia baru saja melahirkan putriku, bagaimana dengan perasaannya nanti, walaupun dia adalah sahabatnya Jeny, namun aku menyadari sebagai wanita, dia pasti akan merasa sangat tak nyaman dan terluka ketika suaminya lebih melirik wanita lain dari pada menatapnya, namun apa yang harus aku lakukan, antara mata dan hati, memang sulit tuk di bohongi.


Maafkan aku Deril, bukan maksudku untuk melupakan keberadaanmu di sisiku, namun antara kau dan Jeny sama sama wanita yang sangat aku sayangi, kalian berdua punya tempat yang berbeda di dalam hatiku.


Aku salah menela'ah perasaan ku terhadap Jeny, karena sesungguhnya aku pun tau, kalau Jeny sudah sama sekali tak pernah menganggap aku ada dihatinya, bahkan mungkin sudah melupakan aku selamanya, apalagi aku tau kalau dia memiliki suami yang sangat mencintainya, jadi sangat tak mungkin jika dia masih mengingatku, sesuatu yang sangat mustahil bagiku. Andaikan,,,? Ah sudahlah dia bagian dari masa laluku, dan tak mungkin iya dan aku kan bersama.


Semakin aku memperhatikannya, semakin aku tak bisa mengendalikan perasaanku, akhirnya aku putuskan untuk keluar dari ruangan itu, dengan alasan untuk membeli sesuatu, padahal tidak begitu adanya. Terserahlah apa yang ada dipikiran mereka, yang penting sekarang lebih baik aku pergi dulu, sebelum aku khilaf, dan akan ada hati yang terluka.


_______________________________


Sementara itu di dalam ruangan, sepasang sahabat yang lagi sedang di mabuk rindu, saling mencurahkan isi hati mereka, kadang mereka tertawa, kadang saling cemberut, atas kekesalan yang selama ini mereka tahan karena sudah lama tak bertemu.


"Hmmmm, tunggu tunggu Ril, kita stop becandanya, aku ingin tanya serius sama kamu. Terus terang ketika aku tahu kamu menikah dengan Jony, aku sampai sekarang sejujurnya masih penasaran, bagaimana bisa lo menikah dengan Jony, sementara seingat aku, kalian sama sekali tak pernah saling bicara, apalagi pacaran."


Jeny menatap sahabatnya dengan tatapan mata penasaran, tangannya masih menggenggam tangan Deril, sementara yang ditatap hanya bisa menarik nafas panjang dengan muka tampa ekspresi, namun tak lama kemudian Deril mengangkat wajahnya yang tertunduk malu, karena ucapan Jeny barusan.  Sebenarnya ia sudah yakin kalau Jeny sahabatnya ini, pasti akan menanyakan langsung padanya perihal pernikahannya dengan Jony, karena iya tau betul bagaimana sifat dan tabi'at sahabatnya ini, kalau belum di beri penjelasan ia akan selalu bertanya bertanya dan bertanya dan tak kan pernah berhenti, sebelum mendapat penjelasan.


"Sebenarnya gua harus memulai ceritanya dari mana ya Jen, gue sendiri bingung harus mengatakan apa sama lo,,," Deril menarik nafas panjang lagi, lalu menatap sahabatnya seolah meminta untuk bersabar menanti kejelasannya.


Jangan lama lama Ril, aku udah nggak sabaran lagi, ingin mengetahui bagaimana kau bisa menikah dengan Jony....(kata hati Jeny)


Aku tau Jen, kau pasti sangat penasaran, menarik tangan dari genggaman Jeny. (kata hati Deril)

__ADS_1


"Deriiiillll, kenapa lo sepertinya ragu untuk bercerita ke gue, apa lo udah nggak nganggap gue sahabat lo lagi,,,,?" Raut wajah Jeny, tergurat kekecewaan dan cemberut, karena terlalu lama menunggu jawaban dari Deril. Tiba tiba terdengar suara dering Hp. keduanya kaget, rupanya hp mama Asih yang berbunyi.


"Sayang, mama mau keluar dulu ya, ini ada telepon dari papa..." Asih keluar, karena suaminya telepon, padahal dia juga ingin mendengar cerita dari Deril, karena iya juga ikut penasaran, sama seperti Jeny.


"Oh, iya mah,,," Baguslah kalau mama keluar, biar Deril Lebih leluasa untuk bercerita. Huh sepertinya aku kepo banget sama Deril, ah terserahlah (pikir Jeny)


"Jen, sebenarnya antara gue dan Jony nggak sengaja bisa menikah, karena memang tak pernah gue bayangkan sebelumnya, gue tau dia sangat mencintai lo, dan gue merasa gue nggak mungkin sanggup untuk berada disampingnya, sementara hati dan perasaannya berada di tempat lain. Tapi mau gimana lagi, karena kesalahan yang terjadi malam itu. Gue nggak nyangka kalau gue menikah dengan Jony, tampa dasar cinta sedikitpun." Deril menunduk mengingat kesalahan yang pernah iya dan Jony perbuat.


"Gue nggak ngerti maksud lo apaan,,,?" Jeny masih bingung dan belum faham maksud kata yang di ucapkan Deril.


"Sebenarnya aku dan Jony sudah melakukan hubungan xxx sebelum kami menikah." Semakin merunduk karena merasa malu.


"Ya Tuhan, benarkah yang kau katakan itu Ril,,," Jeny menutup mulutnya, serasa nggak percaya, bagaimana bisa Deril bisa seceroboh itu, dan bisa melakukan kesalahan yang sebesar itu, lantas kenapa iya melakukan itu, kalau mereka tak saling mencintai.


FLASH BACK...


"Deril, papa nggak mau tau, kamu harus menikah dengan Niko titik...! Papa sudah lama menunggu keputusan dari kamu, tapi kamu sama sekali tak menganggap apa yang papa dan mama kamu katakan, coba lihat kamu sekarang, kamu udah semakin dewasa, sementara kamu sama sekali tak berniat untuk menikah, bagaimana kalau papa dan mama kamu nggak sampai umur, sebelum kami melihat kamu menikah." Bicara dengan raut wajah kesal dengan nada memaksa.


"Papa apaan sih, kenapa ngomongnya begitu, aku bukannya nggak mau menikah pah, tapi aku menunggu waktu yang tepat, bukan dengan cara di jodohkan seperti ini, pokoknya aku nggak mau dijodohkan dengan Niko, lagian aku sudah punya calon pah, nggak mungkin aku mengkhianatinya, dan aku sangat mencintainya, diapun juga begitu, kami akan segera menikah." Menatap wajah papa, tak terima dengan keputusan papanya.


"Lalu kapan,,,,? Papa sudah bosan mendengar alasan kamu, katanya punya calon, punya calon, punya calon, dan segera akan menikah, lalu sampai sekarang kenapa belum juga, dan sudah berapa banyak laki laki yang sudah papa jodohkan sama kamu, namun tetap saja kamu menolak, dengan alasan itu itu dan itu, apa kamu MAU JADI PERAWAN TUA...?" Bicara seenaknya, tampa memikirkan perasaan anaknya.


Deg, serasa pedang menusuk kuat kejantung Deril, sakit sekali ketika iya mendengar kata terakhir dari papanya, apa tadi perawan tua,,,? kenapa papa bisa setega itu berkata seolah aku perempuan yang tak laku, aku cantik pah, aku berpendidikan dan punya pekerjaan yang mapan, nggak mungkin aku nggak laku, (menjerit didalam hati) dimana papa yang kukenal, papa yang selalu mendukungku dan selalu mengerti aku, papa jahat....! Meramas tangannya tak sadar bulir bening jatuh di pangkuannya.


"Kalau memang kamu sudah punya calon, cepat bawakan kesini, papa mau lihat apa benar apa yang kamu katakan, atau kamu hanya sekedar mencari alasan, supaya kamu bisa menolak perjodohan dari papa, papa ingin kamu membawa yang katanya calon kamu itu kehadapan papa sa'at ini juga." Bicara dengan tegas dengan mimik wajah mengejek, dan Deril tau maksud dari raut wajah papanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membawakannya kesini, tapi papa janji kalau papa akan menerimanya." Menekan kata, minta kepastian dari papanya.


"Oke, papa tunggu disini, awas kalau kamu cuma asal bicara."


"Papa nggak usah khawatir, aku akan memintanya untuk kesini sekarang juga." Deril beranjak dari duduknya, iya berniat untuk mengajak pacarnya kerumah untuk menemui papanya, iya sudah sangat sedih dan kecewa dengan papanya, iya akan membuktikan pada papanya, kalau iya sudah punya calon yang tepat untuk menjadi suaminya.


Deril berjalan kekamar, mengambil hp nya dan berniat untuk menelpon pacarnya. Berulang kali iya menelpon pacarnya, namun yang ditelpon sama sekali tak mengangkat teleponnya.


Kenapa dengan Mas Aldi, kenapa iya nggak mengangkat teleponnya, bagaimana ini,,,? Bisa bisa papa akan semakin memojokkan ku, supaya menerima perjodohan yang iya inginkan, jangan sampai terjadi ya Tuhan, aku sama sekali tak menginginkan itu, karena aku yakin dengan perasaanku pada Mas Aldi.


Apa aku langsung ke Apartemennya saja ya, aku yakin mas Aldi pasti sudah pulang sekarang. Ah iya benar, lebih baik aku langsung ke apartemennya, jangan sampai papa menganggapku sekedar bicara omong kosong, papa benar benar kelewatan sekali, lalu dimana mama, kenapa dia diam saja ketika papa memojokkanku, kenapa mereka setega itu padaku, benar benar orang tua yang sangat kejam. Baiklah lebih baik aku berangkat sekarang, sebelum papa berubah pikiran.


Deril lalu mengambil tasnya, dan berangkat menuju apartemen pacarnya, iya nggak akan membuang buang waktu untuk mendengar ocehan papanya, bisa pecah genderang telinganya, kalau terlalu lama mendengar ocehan papanya.


 


Next....


Sabar sabar sabar,,,,


Aku menyayangi kalian, kita sambung besok ya, jangan lupa .......???? hehehe, nggak maksa.


 


 

__ADS_1


__ADS_2