
Jeny bersyukur sekarang, setelah begitu banyak masalah yang sudah iya lalui, berbagai macam cobaan yang Allah berikan padanya, namun Alhamdulillah iya bisa melalui semuanya dengan hati yang ikhlas. Sekarang iya baru menyadari bahwa, sabar adalah kunci dari kebahagiaan, yakin dan percaya bahwa, Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya.
Artinya, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Jeny POV.
Setelah Topan berangkat keluar kota, aku merasa agak sedikit lega, bukannya aku nggak suka iya berada di dekat ku, tapi karena memang situasinya yang berbeda.
Tapi jujur aku pikir tadinya aku akan mendapat kan masalah lagi, jika seandainya Topan ketemu dengan Jony, bagaimana tidak muncul masalah, karena setau aku, Topan sangat membenci Jony, ntah apa alasannya, kenapa iya sangat membenci Jony, bagiku Jony adalah bagian dari masa laluku, lagi pula aku sama sekali tak punya hubungan khusus sama Jony, karena memang selama yang ku ingat, aku dan Jony hanyalah sebatas teman, teman baik dan tidak Lebih dari itu, dan aku sama sekali tak pernah menganggap Jony sebagai bagian dalam hidupku, karena aku punya alasan tersendiri kenapa aku nggak ingin mencintai siapapun, walaupun ada sedikit rasa dalam hatiku.
Aku tau Jony memang mencintaiku, berulang kali iya mengatakan itu dan mengungkapkan tentang perasaannya pada diriku, tapi aku sama sekali tak pernah menanggapinya, makanya antara aku dan dia tidak pernah terjalin Hubungan khusus seperti kebanyakan pasangan lain pada umumnya.
Namun berbeda halnya dengan anggapan suamiku, dia tidak pernah suka dengan Jony, bahkan dulu pernah Topan dan Jony adu jotos, karena salah faham, Topan menganggap Jony mencoba menggodaku, dan mulai lagi mendekati diriku, dan pada akhirnya adu Jotos pun tak bisa di hindari, hingga menyebabkan Jony masuk rumah sakit, untungnya tidak dibawa ke ranah hukum, kalau sempat itu terjadi, mungkin suamiku akan mendekam lama di penjara.
Untung saja itu tak dilakukan oleh Jony, mungkin iya masih memikirkan ku, bagaimana dengan nasib diriku dan anak anakku, jika suamiku berada dalam penjara, dan saat itu aku sangat bersyukur, karena masalah itu tak di perpanjang, itu karena kebaikan hati Jony, kalau menurut aku.
Aku masih penasaran bagaimana bisa Jony menikah dengan Deril, setelah sekian lama aku nggak bertemu dengan Deril, ternyata iya sudah menikah, jujur sih aku agak kecewa dengan Deril, bukan karena iya menikah dengan Jony, tapi karena iya menikah tampa mengundangku, dan tak mengabari aku, karena aku merasa sangat berhutang budi padanya, dia selalu membantuku, selalu mensupport aku, selalu ada di saat aku sedang membutuhkannya, tapi aku nggak ada disaat dia sedang, ah sudahlah ku pikir itu bukan salah aku, karena memang iya sendiri yang sepertinya tak menginginkan kehadiranku dalam acara pernikahannya, mungkin karena iya merasa nggak enak atau apalah karena menikah dengan Jony.
Padahal Deril tau, kalau aku nggak pernah ada hubungan khusus dengan Jony, kenapa iya harus menyembunyikan pernikahannya dengan Jony dariku. entah apa yang ada dipikirannya, aku nggak menyangka kenapa Deril bisa berpikiran seperti itu, kalau memang benar dipikirannya sama seperti apa yang aku pikirkan tentangnya saat ini, sekali lagi jujur aku benar benar kecewa dengan Deril.
__ADS_1
Seorang sahabat sekaligus sudah seperti saudari bagi diriku, bagaimana bisa dengan mudahnya melupakan keberadaan ku, aku harus meminta penjelasan padanya, kenapa iya bisa bersikap demikian, pokoknya besok aku akan menjenguknya sekaligus nengokin bayinya yang baru lahir, aku akan mengajak mama buat ke sana, semoga saja Deril dan bayinya sehat sehat saja.
Duh rasanya tak sabaran aku ingin bertemu dengan Deril, walaupun aku kesal dan kecewa padanya, tapi aku sangat merindukannya.
Deril Deril,,,, segitunya kamu padaku...
>>>>>>>>>>>>>>
Keesokan harinya.
"Assalamualaikum Mah, mama lagi ngapain,,,?" Jeny menelpon mama mertuanya, iya berniat ingin mengajak mama mertuanya kerumah sakit, buat nengokin Deril.
"Waalaikum salam sayang, ada apa sayang,,,,? Mama nggak lagi ngapa ngapin kok, barusan habis bikin kopi papa kamu, emangnya kenapa sayang,,,,?" Mama Asih heran, nggak biasanya Jeny menantunya menelpon dirinya sepagi ini, ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya, jangan jangan terjadi sesuatu dengan menantunya, ataupun dengan cucu cucunya.
"Emangnya kamu mau kemana sayang,,,? Apa Topan nggak ada di rumah,,,?" Lagi lagi mama Asih heran, kok Jeny minta di temani, biasanya kan kalau mau pergi kemana mana, selalu di temenin dan diantar sama Topan, kok kali ini minta di temani olehnya.
"Mas Topan, lagi nggak ada di rumah mah, dia lagi keluar kota, karena ada pekerjaan mendesak, dan nggak bisa di tunda, rencana Jeny mau ngajakin mama buat nengokin Deril yang baru lahiran di rumah sakit, gimana mah, mama mau kan,,,? Jeny udah minta izin kok mah, sama mas Topan, katanya boleh tapi kalau di temenin sama mamah." Terang Jeny pada mama mertuanya.
"Apaaaaa, Deril udah melahirkan,,,,?" Asih kaget mendengar Deril udah lahiran, kapan nikahnya,,,,?
__ADS_1
"Iya Mah, Deril udah lahiran, Jeny aja sempat kaget ketemu Deril di rumah sakit, dengan tampilan perut buncitnya, lama nggak ketemu, sekali ketemu iya udah mau melahirkan, dan Alhamdulillah iya udah lahiran.
"Ya ampun sayang, kok bisa gitu sih, tapi ya udahlah, toh itu bukan urusan kita nak, biarin aja."
"H-mmm,,,iya sih mah, cuma sebagai sahabat jujur Jeny agak kecewa sama Deril, kenapa iya nggak ngabarin Jeny waktu nikah, cuma mau gimana lagi toh itu urusan dia, benar kata mamah sih. Eh iya nih mah, jadi gimana nih mah, mama mau kan nemanin Jeny,,,,?" Tanya Jeny.
"Tentu saja mama mau sayang, kamu gimana sih, bagaimana mungkin mama ngebiarin kamu sendirian ke sana, ntar bisa bisa mama habis di omelin sama suami kamu tuh, laki laki kok Pandey ngomel." Gerutu mama Asih, pada anaknya Topan, karena dia ingat, sudah berapa kali iya di omelin sama Topan, gara gara hal sepele, walaupun demikian Topan sangat menyayanginya, apalagi Topan yang sekarang, bukan Topan yang dulu.
"Hehehe,,,,iya sih, tapi jangan ngedumel gitu dong mah, kan Topan anak mamah..." Jawab Jeny sambil ketawa mendengar gerutu mama mertua pada suaminya.
"Iya anak mamah." Jawab Mama Asih.
"Ya udah ya mah, jadi kita ke sana jam Delapan ya mah, pas anak anak udah berangkat sekolah, sekalian bilang sama papa, minta tolong temani anak anak sementara waktu, menjelang Jeny pulang, nggak apa apa kan mah, Jeny khawatir aja, kalau anak anak nggak ada yang jagain." Terang Jeny
"Ya nggak apa apa sayang, justru papa kamu senang banget kalau menemani cucu cucunya, nanti mama bilangin sama papa." Jawab Mama Asih.
"Oke deh mah kalau begitu, sampai ketemu ya mah, Assalamualaikum." Jeny mematikan teleponnya, lalu beranjak ke kamar anak anaknya untuk membangunkan mereka, karena jam sudah menunjukkan jam 6 pagi, untungnya sekolah mereka nggak terlalu jauh dari rumah, sehingga nggak sempat ketemu sama jalanan macet, namun tetap saja iya tetap membangunkan anaknya pagi pagi.
Next....
__ADS_1
Haiiiiii semuanya, maaf ya udah lama nggak Up nih, aku lagi banyak kerjaan di dunia nyata, jadi waktu dan pikiran tersita abis oleh kesibukan di dunia nyata, tapi aku masih sayang kok sama kalian semuanya, sayaaaaang banget....hehehe
muach muach muach. love you All, jangan lupa untuk selalu memberikan like, vote dan komennya...ma acih ...