Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 105 - Bersekongkol dengan Iblis


__ADS_3

"Apakah semuanya sudah siap?"


Seorang pemuda mengeratkan tali ikat pinggangnya lalu menyalipkan gagang pedang sembari menatap diri pada pantulan cermin, terlihat sedikit ketakutan di kedua bola mata tersebut namun dia sudah bertekad untuk tetap melakukannya.


Kediaman keluarga besar bangsawan Xian begitu sunyi malam hari, udara dingin menyelusup lewat celah-celah dan menggoyangkan api lilin yang menjadi penerangan di kamar Xian Shen. Pengikut setia Klan Xian mengangguk, tapi sesaat terlihat kecemasan di rona wajahnya.


"Apakah Tuan Muda Xian yakin dengan ini? Saya takut terjadi apa-apa pada Tuan ..."


Wanita itu memperhatikan lamat-lamat wajah tampan Xian Shen dari samping, dia telah menjaga Xian Shen sejak kecil dan tak pernah sekalipun melihat pemuda itu sengaja mencari masalah.


Beberapa minggu terakhir sempat terjadi cek-cok antara Xian Shen dan Tuan Xian-majikannya, hal itu membuat hubungan antara anak ayah itu semakin renggang. Ayah Xian Shen mengatakan bahwa iblis itu sudah sepatutnya mati. Namun putranya yang tidak terima berusaha membela membuat Xian Shen harus menerima hukuman selama tiga hari tidak makan dan dikurung di ruang bawah tanah rumahnya.


Siapa sangka, sekarang Xian Shen mengatakan dia akan pergi menelusuri jejak kelompok misterius yang mungkin adalah petunjuk kematian Xue Zhan.


Meski tanpa bantuan Ayahnya Xian Shen tetap bersikeras, dia menyewa ahli mata-mata dengan menggunakan uang pribadi dan menemukan satu kejanggalan.


Saat hari di mana Xue Zhan dicambuk oleh orang-orang Lembah Abadi, terdapat satu murid asing tak dikenal masuk ke dalam perguruan tersebut.


Pengakuan dari pemberi informasi itu adalah informasi berharga yang mungkin hanya dia yang memilikinya. Karena itu Xian Shen tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini setelah tahu ke mana perginya orang tersebut.


"Ini sudah keputusanku. Jika ayah bertanya ke mana aku pergi, katakan saja aku sedang bermeditasi di gunung. Aku pergi dulu."


Xian Shen pergi lewat jendela diam-diam, meninggalkan wanita tersebut. Tirai putih berkibar saat angin masuk ke dalam kamar, pelayan wanita menarik napas gelisah. Ketika dia hendak menutup jendela tiba-tiba saja angin datang begitu kencang.


Api lilin mati tertiup angin. Seketika kamar gelap gulita, wanita itu merinding saat menyadari seseorang telah berada di balik punggungnya.


"Tolong-"


**

__ADS_1


Xian Shen datang ke sebuah penginapan kelas atas yang hanya bisa disewa oleh orang-orang kaya, sesuai dengan informasi yang dia dapat target incarannya sedang berada di tempat ini. Ciri-cirinya memakai topeng rubah dan jubah merah bercorak bunga. Xian Shen masuk ke ruang pelayanan tamu berniat memesan kamar.


Semuanya berjalan biasa saja, di ujung pembicaraan Xian Shen mendekatkan wajah sambil menyeret lima keping emas pada laki-laki di depannya.


"Katakan padaku, apa kau melihat seorang laki-laki berumur sekitar 34 tahun datang ke sini, dia memakai topeng bulu rubah dan jubah merah bunga."


Melihat lima keping emas itu lelaki tersebut sangsi, sampai akhirnya Xian Shen mengeluarkan lima keping lagi untuk membuka mulut pelayan itu.


Benar saja cara itu berhasil untuk membuat pelayan tersebut bicara, dia mengambil sepuluh keping emas sambil berucap kecil. "Jika Anda mencarinya, anda sudah telat. Dia meninggalkan tempat ini dua jam yang lalu secara tiba-tiba."


Xian Shen tertinggal satu langkah, dia mengepalkan tangan di atas meja sembari merutuk.


"Apa kau tahu ke mana dia pergi?" tanyanya lagi. Sejurus pelayan itu berpikir cukup lama hingga akhirnya dia buru-buru bicara sebelum tamu lain masuk ke dalam penginapan.


"Mungkin ke alun-alun kota, Tuanku. Maaf tidak bisa membantu banyak."


Pemuda itu keluar dari penginapan, langkah kakinya bergerak cepat menyusuri jalan yang ramai oleh penduduk kota. Lampion dan karangan buka di pajang di dinding rumah tingkat dua, tampaknya sedang ada acara festival di tempat ini.


Lelaki tersebut mengenakan topeng rubah berbulu dan jubah merah bunga, Xian Shen menerobos keramaian untuk mengejarnya dan langsung menarik pergelangan tangan laki-laki itu.


Ditarik secara tiba-tiba jelas saja membuat laki-laki itu kaget dan mengumpat tidak terima, dia menepis kasar tangan Xian Shen.


"Apa-apaan ini?!"


Puluhan pasang mata menatap ke sumber kegaduhan yang dimulai oleh Xian Shen, tak sedikit yang langsung menghindar ketika melihat dua laki-laki itu sama-sama membawa pedang dan mungkin akan mengundang pertarungan.


"Siapa kau sebenarnya? Dan apa yang kau lakukan saat berada di Lembah Abadi?" Xian Shen masih menahan amarahnya, mempertahankan kehormatan klan Xian yang terkenal lemah lembut.


"Aku? Seharusnya aku yang bertanya hal itu!"

__ADS_1


Seorang murid lainnya menyalip di antara Xian Shen dan laki-laki bertopeng, dia menjelaskan. "Mengapa kau menyerangnya?"


Tangan Xian Shen terkepal, desas-desus mulai terdengar di sekitarnya. Banyak yang mempertanyakan sikap Xian Shen saat itu, dia segera angkat bicara tanpa memedulikan keributan di sekitarnya.


"Orang ini mungkin memiliki kaitan tentang kematian sahabatku, Xue Zhan! Aku harus bertanya padanya, apakah dia berada di Lembah Abadi di hari di mana Xue Zhan dihukum cambuk?"


Pemuda itu mengerutkan kedua alisnya dan membalikkan badan, si lelaki bertopeng juga sama herannya dengan dia dan mencoba mencerna apa yang terjadi.


"Tuan Muda Xian, anda salah orang," akhirnya murid itu bersuara. "Kami tidak pernah mengunjungi Lembah Abadi dalam lima tahun ini, lagipula untuk datang ke sana membutuhkan plakat khusus yang sulit didapatkan oleh murid perguruan biasa seperti kami. Dan dia," ujarnya menunjuk pemuda bertopeng tadi.


"Dia adalah Kakak Perguruan kami, Wei Lu. Ada bekas luka bakar di wajahnya dan membuatnya malu untuk memperlihatkan wajah aslinya sehingga menggunakan topeng tersebut. Jika kau masih tidak percaya silakan lihat di ruangan tertutup. Atau tanya dengan orang-orang di sini untuk memastikan bahwa kami dari perguruan Bukit Empat Musim."


Setelah memastikannya sendiri, ternyata orang itu masih berumur di bawah 20 tahun dan berasal dari salah satu perguruan menengah Kekaisaran Diqiu. Xian Shen tidak bisa berkata selain meminta maaf pada dua murid dari Bukit Empat Musim sambil menahan malu.


Kedua murid tersebut hendak pergi namun tak lama salah satunya berbalik badan seraya berucap, "Berhati-hatilah dengan pemberi informasi palsu. Mereka hanya menginginkan uangmu. Daripada mengkhawatirkan kematian orang yang sudah mati lebih baik Anda mengkhawatirkan diri sendiri. Saat ini pemburu sedang berkeliaran, orang seperti anda mungkin sedang diincar oleh mereka."


Lalu keduanya pergi begitu saja. Xian Shen tak lagi mendapatkan jejak, sampai malam turun dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Langkah kakinya mengantarkan pemuda itu kembali ke rumahnya.


Tepat di halaman kediamannya, Xian Shen membeku, jantungnya seperti berhenti berdetak, wajahnya pucat pasi. Pemburu itu sudah mengetuk pintu rumahnya, dia buru-buru berlari melihat pelayannya tergantung diikat dengan seutas tali dari jendela dalam keadaan tak bernyawa dan penuh luka.


"Apa .. ."


Dia berlari membuka kamar, ketika cahaya dari bulan purnama masuk ke dalam ruangan yang lilinnya telah mati, Xian Shen melihat dua pasang kaki tergeletak di atas lantai yang digenangi darah. Dia ketakutan mengangkat wajahnya, untuk melihat muka sepasang suami istri itu.


Teriakannya memecahkan kesunyian di malam itu. Keluarganya dibantai bersama pelayan mereka. Hanya menyisakan Xian Shen sendiri yang masih selamat.


Xian Shen menangis pilu, tangannya berusaha menggoyangkan jasad ibunya, "Ibu! Kau mendengarku? Tidak ...! Mengapa jadi begini? Aku lah yang mungkin mati hari tapi mengapa kalian ... Kenapa harus keluargaku? Apa salah mereka sebenarnya?!"


Matanya buram tapi masih dapat melihat secarik kertas, dia merenggutnya dan membaca tulisan tersebut dengan tangan gemetaran hebat.

__ADS_1


"Bersekongkol dengan Iblis ..."


__ADS_2