Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 184 - Kehormatan dan Pengorbanan


__ADS_3

Tubuh Yue Linghe tergeletak tak berdaya di atas puing-puing tanah, luka-luka di sekujur tubuhnya mengeluarkan darah segar yang membentuk genangan di sekelilingnya. Xue Zhan, Xiang Yi Bai, dan Hua Lian berdiri tak jauh darinya dengan sikap penuh waspada.


Xiang Yi Bai mendekati tubuh wanita itu dengan langkah pelan. Dia menatap wajah Yue Linghe dengan tatapan yang dingin, "Kau kalah," ucapnya, terdengar tenang namun tegas.


Yue Linghe menatap Xiang Yi Bai dengan pandangan ingin membunuhnya meskipun dalam kondisi yang terpojokkan. "Aku mungkin kalah dalam pertempuran ini," katanya dengan suara yang penuh dengan kebencian. "Tapi kau belum menang dalam perang ini, Yi Bai."


Xue Zhan menatap Yue Linghe dengan tatapan penasaran, "Apa yang dimaksud oleh Yue Linghe?" tanyanya, setengah berbisik.


Yue Linghe melirik ke tempat Xue Zhan berdiri, "Jangan berpikir ini hanya tentangku dan Xiang Yi Bai. Kami semua hanyalah bagian dari sebuah pertempuran yang lebih besar. Dan aku berjanji setelah kematian ku Kelabang Ungu tidak akan berhenti sampai kami memenangkan perang ini."


Sementara Xue Zhan masih terpaku pada tubuh Yue Linghe yang tergeletak di tanah. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, sedikit kecurigaan karena mungkin pertempuran ini hanya akan menjadi permulaan dari masalah yang lebih besar di masa depan.


"Yi Bai," panggil Yue Linghe yang menatap matahari dengan sekarat.


"Katakan dengan sejujurnya ..." Bulir air mata jatuh ke sebelah tempatnya terbaring. "Saat kematiannya ... Apakah Wu Guang masih mengingatku?"


Xue Zhan lantas terkejut mendengar nama itu.


Wu Guang adalah sahabat Xiang Yi Bai, Paman Gurunya yang dimakamkan di sebuah goa es di Jurang Penyesalan.


Lalu apa hubungannya dengan wanita itu?


"Guru ..."


Xue Zhan benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Dia menoleh pada Yu Linghe lalu bertanya, "Anda memiliki hubungan apa dengan Paman Wu?"


Yu Linghe tertawa kecil sambil menangis, kelopak matanya mengecil disertai geraman seolah-olah sedang berusaha menghentikan penyesalan bertubi di dalam dadanya. Tetesan air hujan mulai berjatuhan membasahi pipinya. Wanita itu berkata dengan bibir gemetar, "Dia adalah Adik kandungku. Aku terpisah dengannya saat dia berumur 16 tahun, dia kehilangan ingatan dan setelahnya diasuh oleh Guru besar Perguruan Gunung Pohon Seribu."

__ADS_1


"Dia tidak akan menerimamu meskipun masih hidup di dunia ini. Wu Guang selalu berpegang teguh pada kebajikan sedangkan kau berjalan di jalan sebaliknya. Kau yang ingin menariknya ke jalan kegelapan. Guru memintaku untuk menjauhkannya darimu."


Mata ungu itu menatap langit mendung, awan hitam menutupi terik matahari yang sebelumnya begitu hangat pada dirinya.


"Apa yang kuinginkan selama ini adalah memeluk tubuhnya, sekali saja." Dia memejamkan mata, membayangkan Wu Guang berada dalam dekapannya erat. "Meskipun aku hanyalah seorang pendosa, tapi dia tetap adikku."


Xiang Yi Bai tidak bergeming. Hua Lian menatap sekitarnya dipenuhi tanda tanya.


"Kau menghalangiku dan berkata bahwa rumah Wu Guang hanyalah di Gunung Pohon Seribu ..." Tangisnya mulai terdengar walau samar. "Tapi pada akhirnya rumah yang kau sebut itu adalah peristirahatan terakhirnya. Kau membuatnya terbunuh meskipun aku percaya padamu untuk menjaga adikku. Tapi apa yang kau balas begtu pedih, Yi Bai." Dada wanita itu naik turun menahan sesak yang memaksa untuk ditumpahkan.


"Maaf." Kata singkat itu keluar dari mulut Xiang Yi Bai.


"Sudah terlambat," gumam Yue Linghe.


"Kau memburuku untuk menyelesaikan tugasmu, bukan?"


Xiang Yi Bai menurunkan pedangnya. Kehormatan dan pengorbanan adalah dua pilihan yang berbeda. Xiang Yi Bai bertarung untuk menyelesaikan tugasnya. Maka Yue Linghe bertarung untuk pengorbanannya atas kematian Wu Guang.


"Hantu-hantu dari para pejuang yang tewas akan kembali untuk menyelesaikan apa yang mereka mulai. Kuharap kau tidak menyesali apa yang terjadi di depanmu."


Terdengar jawaban Xiang Yi Bai, disertai senyum pahit darinya.


"Hidup tanpa penyesalan adalah hak istimewa yang diperuntukkan bagi orang yang sudah meninggal."


Mendadak Yue Linghe tertawa-tawa sebelum ajal menjemputnya, ketiganya sedikit tertegun menyadari ada yang salah dengan wanita itu. "Hahaha! Kau kira kita sudah selesai?!"


Perlahan-lahan semuanya terjadi seperti sebelumnya yang mereka lihat. Yue Linghe yang telah tewas berubah menjadi Kelabang Ungu dan dia mungkin adalah ratu dari semua Kelabang di hutan bambu ini. Tubuhnya yang panjang dan raksasa dua kali lebih tinggi dibandingkan bambu itu sendiri.

__ADS_1


Yue Linghe, yang sebelumnya merupakan seorang wanita yang cantik dan anggun, kini telah berubah menjadi kelabang ungu yang menyeramkan. Tubuhnya yang panjang dan besar telah melebihi ukuran pohon bambu di sekitarnya. Sisik-sisik ungu dan kuku-kukunya yang tajam dan panjang menjadi senjata yang mematikan.


Angin dingin bertiup kencang di hutan bambu, menciptakan sensasi dingin yang menusuk tulang. Pada saat itu, Hutan Bambu Kuning seakan dipenuhi oleh kekuatan hitam pekat yang begitu besar.


Xue Zhan dengan susah payah bangkit setelah melihat kematian Yue Linghe. Namun sebelum dia bisa sepenuhnya bangkit, kejadian buruk lainnya terjadi. Tiba-tiba Yue Linghe kehilangan kendali dan berubah menjadi siluman beringas yang ganas. Hua Lian mencoba menengadah ke langit dan melihat kepala siluman itu nyaris menyentuh awan hitam di atasnya.


Kepalanya yang besar dilengkapi dengan rahang yang keras dengan gigi-gigi yang tajam dan lidah yang bercabang. Bagaimana pun melihatnya wanita itu sangat mengerikan.


Xiang Yi Bai mengangkat pedangnya tanpa ragu, sekilas tatapannya menyimpan penyesalan, ada rasa kepedihan yang amat dalam yang dirasakan oleh Xiang Yi Bai. Terutama akan kematian sahabatnya, Wu Guang.


Xiang Yi Bai terbang tinggi di atas udara sejajar dengan kepala Kelabang Ungu Yue Linghe. Sesaat melihat Yue Linghe yang telah berubah menjadi siluman beringas dan mencoba mengenainya dengan mulut dan ekor.


Pedang Ye Bai memantulkan pantulan wujud kelabang itu. Kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya berkumpul di pedang itu, begitu dahsyat. Hua Lian dan Xue Zhan menengadah, tidak habis-habisnya terpaku akan seberapa besar kekuatan yang dimiliki laki-laki itu.


Xiang Yi Bai mulai mengayunkan pedangnya Gerakan tebasan melingkar yang cepat dan mematikan terjadi dalam sekejap.


Suara jeritan kencang terdengar ketika pedang itu menebas ke leher Yue Linghe. Kepala raksasa kelabang itu langsung terpotong dan terlempar jauh dari tubuhnya. Puing-puing bambu terbang ke udara, menghiasi langit dengan gumpalan debu dan serpihan bambu.


Tanah bergetar hebat ketika kepala raksasa kelabang itu jatuh ke tanah, menciptakan suara dentuman yang mengguncangkan seluruh hutan bambu. Darah segar dan lendir mengalir keluar dari leher besar kelabang yang terputus.


Hanya satu tebasan, tidak lebih. Namun Xiang Yi Bai membunuh siluman raksasa itu dengan begitu mudahnya hingga Hua Lian tercengang beberapa menit. Hatinya bergetar begitu pula kedua pundaknya. Mungkin dia cukup beruntung bisa melihat pemandangan ini sekali seumur hidup.


"Apa ini semua sudah berakhir ...? Secepat itu?" gumam laki-laki itu sambil menatap pedangnya, merasa latihan selama belasan tahun untuk membunuh Yue Linghe sia-sia. Namun dia sadar, setelah melihatnya sendiri kekuatannya tak akan pernah cukup untuk menandingi pendekar sekelas Yue Linghe.


Hingga keadaan di sekitar mulai terkendali, Xiang Yi Bai segera kembali ke tempat Xue Zhan dan Hua Lian berada, mengambil napas dalam-dalam dan berbicara, "Sarangnya mungkin berada di sekitar sini. Aku merasakan aura jahat yang sangat kuat di sekitar hutan bambu ini. Hua Lian, kau harus segera mencari Cawan Es Bunga. Sebelum Kelabang Ungu lainnya mengamuk dan menghancurkan tempat ini.


Hua Lian dengan sigap mengangguk, "Baik, aku akan segera pergi mencari Cawan Es Bunga. Kalian berdua harus berhati-hati dan tetap waspada."

__ADS_1


__ADS_2