
Situasi di pusat kota Kekaisaran Diqiu sangat ramai dan riuh. Orang-orang berdesakan di sekitar seorang laki-laki yang sedang berbicara dengan suara yang lantang. Dia mengatakan bahwa Kaisar Ziran telah melakukan penipuan dan memanipulasi kematian pendekar bernama Kang Jian.
Para masyarakat tampak terkejut dan bingung, beberapa dari mereka berteriak dan memprotes tuduhan tersebut, sedangkan yang lain meragukan omongannya karena mereka percaya Ziran Zhao tak mungkin berbuat seperti itu.
Bahkan beberapa di antara mereka mulai memegang senjata dan meminta bukti yang lebih kuat. Namun, laki-laki itu tenang, tampak yakin dengan pernyataannya dan terus berbicara dengan suara yang semakin lantang. Suasana semakin memanas seiring berjalannya waktu, terdengar suara-suara yang mencemooh dan menentang dari beberapa orang yang tidak sepakat dengan Jiazhen Wu.
Ketika situasi semakin memanas dan tidak terkendali, prajurit kota yang bertugas tiba di lokasi untuk membantu mengendalikan kerumunan. Mereka membentuk barisan dan mencoba untuk memisahkan orang-orang yang terlibat dalam perdebatan tersebut.
Jiazhen Wu masih menyampaikan semua dugaan dan bukti yang dimilikinya, tidak jelas apa maksudnya. Di sisi lain Xue Zhan berusaha memahami apa yang dilakukan laki-laki itu.
Mengapa dia mengumumkannya di depan orang-orang dan tidak langsung ke Kaisar Ziran saja? Xue Zhan mengernyit. Mungkinkah jika dia menyampaikan langsung, laki-laki itu akan dibungkam dan dihukum mati?
Dengan berbicara di hadapan orang-orang setidaknya semua informasi yang telah dikumpulkannya diketahui semua orang. Meskipun dia harus menanggung hukuman berat. Xue Zhan tidak mengerti mengapa Jiazhen Wu mengambil tindakan nekad seperti ini. Karena terlalu panik, Xue Zhan sampai melupakan Xiang Yi Bai dan Fenghuang yang tertinggal di belakang dan mereka terpisah satu sama lainnya.
Sementara itu, kerumunan orang terus bertambah dan situasi semakin tidak terkendali.
Prajurit kota yang bertugas mencoba untuk mengendalikan kerumunan dan menjaga ketertiban, tetapi tampaknya sulit untuk menenangkan semua orang yang terlibat dalam insiden ini.
Beberapa orang yang tidak sepakat dengan klaim yang diungkapkan terus mencoba mendekati Jiazhen Wu dan menyerangnya dengan kata-kata kasar. Prajurit kota yang berusaha menghalangi mereka akhirnya terpaksa menggunakan kekerasan untuk menjaga ketertiban dan membubarkan kerumunan.
Jiazhen Wu nampaknya sudah tahu ke mana ujung semua ini dan tidak peduli atas konsekuensinya.
Xue Zhan tahu bahwa Jiazhen Wu adalah seorang pendekar terkenal yang dihormati oleh banyak orang, namun dia tidak bisa membayangkan bahwa Jiazhen Wu akan mengambil keputusan besar seperti ini.
__ADS_1
Apa yang terjadi hingga Jiazhen Wu berubah, dia sama sekali tidak mengenal siapa orang yang ada di hadapannya sekarang.
Xue Zhan melihat bagaimana kerumunan orang bereaksi terhadap tuduhan Jiazhen Wu. Beberapa orang terlihat sangat marah dan menganggap tuduhan tersebut sebagai penghinaan terhadap Kaisar, sedangkan yang lain mulai mempertimbangkan bukti-bukti yang diberikan oleh Jiazhen Wu dan mempercayai dugaannya.
Ketika situasi semakin memanas, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang tampak sangat marah dan murka. Dia adalah Kepala Prajurit Tertinggi Kekaisaran Diqiu yang diangkat oleh Kaisar Ziran sendiri. Dia membantah tuduhan Jiazhen Wu dan meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mempercayai kabar burung yang belum pasti kebenarannya.
"Tak kusangka, setelah semua kebaikan yang diberikan Kaisar terhadap dirimu dan klanmu, dengan mudahnya kau berkhianat dan menusuk Yang Mulia dari belakang. Sungguh tidak tahu malu!"
gertaknya, kedua alis tebalnya saling bertaut kencang. Nampaknya laki-laki itu tak akan segan menarik pedangnya untuk membunuh Jiazhen Wu meskipun mereka adalah teman.
Namu Jiazhen Wu tetap kukuh pada pendiriannya dan membalas dengan kata-kata yang lebih sinis, menyatakan bahwa merekalah yang sebenarnya diperdaya oleh Kaisar Ziran.
Perdebatan semakin memanas. Hingga pada akhirnya Jiazhen Wu ditangkap dan dibawa ke istana untuk diadili oleh Dewan Sembilan. Dia dituduh mencemarkan nama baik Kaisar Ziran dan dianggap telah melakukan pengkhianatan terhadap negara.
Dewan Sembilan terkenal dengan kekejamannya. Mereka tidak memiliki belas kasih dan sering mengambil keputusan yang kejam, bahkan hingga menghukum mati seseorang yang merupakan orang penting kekaisaran sendiri.
Terdengar gumaman kecil saat Jiazhen Wu diseret oleh petugas kota.
"Bahkan hukuman mati pun tak akan membuatku takut. Aku telah kehilangan segalanya. Aku kehilangan istri dan anakku tanpa tahu siapa yang membunuh mereka." Dia menatap jauh ke istana Kaisar. "Jika benar kau adalah pembunuhnya, aku tak akan pernah memaafkanmu, Ziran Zhao."
Xue Zhan lekas menyusul rombongan tersebut.
Dia menyusuri jalanan yang ramai menuju istana, menyamar di antara kerumunan orang yang sibuk mencari tahu apa yang terjadi. Dia menghindari tatapan para prajurit dan menjaga agar tidak terlalu mencolok. Setelah beberapa saat, Xue Zhan tiba di depan gerbang istana dan masuk dengan cepat sebelum para prajurit mencurigainya.
__ADS_1
Dia berusaha mencari tahu di mana Kepala Prajurit tadi membawa Jiazhen Wu dengan mengelilingi lorong-lorong yang luas dan mencoba menghindari pelayan istana dengan berpura-pura bergabung dengan sekumpulan bangsawan agar tidak dicurigai.
Hingga akhirnya Xue Zhan menemukan Jiazhen Wu dibawa ke Aula Istana di mana Kaisar Ziran telah menunggu bersama Sembilan Dewan dan yang lainnya.
Wajah laki-laki itu murka berat. Namun masih ditahan-tahannya agar bisa menyampaikan dengan jelas ucapannya.
"Kau membuat tuduhan yang sangat serius, Tuan Jiazhen," kata Kaisar Ziran dengan nada tegas. "Aku tidak pernah membunuh Kang Jian. Aku adalah Seorang Kaisar, aku tidak membutuhkan kekuatan seorang pendekar untuk mempertahankan tahtaku. Apalagi hanya untuk kekuatan, menutupi aib, mengubur informasi atau semua jenis tuduhan yang kau layangkan padaku."
Jiazhen Wu menatap Kaisar dengan penuh pertentangan. "Kau mengkhianati kepercayaan kami. Sebelumnya juga kau mengatakan bahwa kau akan mengerahkan pasukan untuk mencari tahu siapa pembunuh istriku namun hingga saat ini tak pernah ada kabar tentang semua omong kosong itu."
Siapa pun yang melihat Jiazhen Wu mungkin akan mengerti apa yang dialaminya. Puluhan tahun lalu, dia kehilangan istrinya dalam perang. Banyak hal ganjil yang tak menemukan jawabannya meskipun waktu telah berlalu. Semua emosi yang dipendamnya selama bertahun-tahun tanpa suara akhirnya pecah. Jiazhen Wu terpukul berat setelah kematian istrinya dan kini dia juga kehilangan anaknya.
Namun itu bukan sebuah alasan untuk melakukan pencemaran nama baik Ziran Zhao.
"Kau manipulasi kematian Kang Jian, melepaskan para iblis membantai kekaisaran ini belasan tahun lalu, membunuh orang-orang yang memiliki informasi dan menipu semua orang di Kekaisaran ini!" tegasnya lantang. "Karenamu, aku kehilangan banyak hal. Meskipun aku mengerahkan segalanya untuk Kekaisaran ini ... Semua percuma. Kau dan Sembilan Dewan di sini bersekutu dengan musuh. Kalian juga menginginkannya, bukan? Semua pusaka langit itu?"
Semua orang terkejut mendengar penuturan Jiazhen Wu.
Semua dugaan dan bukti dikeluarkan oleh tangan kanan Jiazhen Wu di muka umum. Terdengar masuk akal dan mulai memunculkan isu buruk tentang Kaisar Ziran. Laki-laki itu berdeham meredakan keributan.
"Bukti dan dugaanmu sama sekali tidak benar, ini adalah tuduhan bukan kebenarannya," jawab Kaisar Ziran dengan tenang. "Jangan sampai kau membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, Tuan Jiazhen. Sembilan Dewan sudah mempertimbangkan hukuman mati untukmu. Apakah kau benar-benar ingin mengakhiri hidupmu seperti ini?"
Xue Zhan melihat keadaan yang semakin tegang di antara Kaisar Ziran dan Jiazhen Wu di sisi lain ruangan.
__ADS_1
"Bawa Tuan Jiazhen ke penjara bawah tanah. Hukuman mati untuknya akan diputuskan dalam 24 jam."
Benar saja, tanpa ampunan Ziran Zhao langsung memutuskan. Tidak peduli bahwa mereka dulu adalah teman karib. Tidak heran lagi, bahkan Sembilan Dewan langsung menyetujui keputusannya. Ini termasuk masalah yang fatal dan tidak bisa ditolerir sehingga Jiazhen Wu harus menanggung akibat perbuatannya sendiri.