
Tiga hari sebelum kedatangan kelompok Serigala Pembunuh yang haus darah dan kekayaan, suasana tegang menyelimuti desa. Penduduk desa cemas dan takut akan nasib mereka yang kembali tergantung pada kekejaman para penjarah itu.
Di tengah persiapan Xue Zhan dan kelompok perlawanan untuk menghadapi Serigala Pembunuh, desa tersebut dilanda oleh pertengkaran yang tak terduga. Penduduk yang belum mengenal Xue Zhan menuduhnya sebagai salah satu bawahan dari kelompok yang mereka lawan.
Di saat ketiganya keluar dari kedai arak, beberapa lelaki berumur sekitar 40 tahunan mencegat jalan mereka dan berkata ingin hartanya dikembalikan karena itu haknya.
Beberapa di antaranya merasa curiga dan tidak percaya terhadap kehadiran Xue Zhan, menganggapnya sebagai mata-mata atau pengkhianat yang bekerja untuk Serigala Pembunuh. Ketakutan dan rasa tidak aman membuat penduduk desa saling menduga dan menyebabkan ketegangan yang memuncak dalam perselisihan. Beberapa orang mulai berkumpul di jalan untuk melihat perselisihan tersebut.
"Aku tidak mau tahu, mungkin dengan kawan-kawan mu kau bisa berbuat seenaknya tapi sekarang kau sendiri. Jika kau mau bertarung denganku akan kuladeni. Kembalikan semua uangku jika tidak ingin kau mati hari ini."
Salah seorang menimpali karena ikut tersulut. "Aku juga tak akan segan membunuhmu jika kau tidak segera mengembalikan hak-hak kami."
Tang Tim memotong di antara Xue Zhan dan beberapa penduduk yang emosi.
"Apa-apaan kalian, dia datang ke sini untuk membantu kita. Kenapa kalian menyudutkannya?"
"Mana mungkin! Pemerintah tidak akan repot-repot mengurusi urusan tikus got sepertimu! Minggir."
Tang yin di dorong begitu saja hingga terjerembab.
Konflik mulai di antara penduduk desa. Argumen dan tuduhan saling terjadi di setiap sudut desa, Ada yang meyakini bahwa Xue Zhan benar-benar anak buah Serigala Pembunuh, sedangkan yang lain bersikeras untuk memberinya kesempatan membuktikan niat baiknya.
Xue Zhan tahu bukan hal mudah untuk percaya pada orang asing terlebih mereka selalu mendapatkan ancaman serta teror, penting untuk mendapatkan kepercayaan penduduk desa untuk melawan Serigala Pembunuh karena mereka juga bisa membantunya menjalankan rencananya untuk menyingkirkan Serigala Pembunuh.
Dia berusaha menjelaskan maksud dan rencananya kepada mereka.
Namun beberapa penduduk tetap bersikeras pada pandangan mereka yang skeptis. Mereka menuntut bukti bahwa dia benar-benar tidak terlibat dengan Serigala Pembunuh dan merasa bahwa Xue Zhan harus membuktikan dirinya sebelum mereka bersedia mendukungnya.
Percakapan yang sengit dan penuh emosi terjadi, dan sulit mencapai kata sepakat. Tang Yin dan saudaranya ikut geram melihat hal itu.
Di tengah perselisihan dan ketidakpercayaan penduduk desa terhadap Xue Zhan, seorang lelaki sepuh yang dihormati muncul sebagai suara yang bijaksana. Dia adalah orang yang paling dipercaya di desa tersebut, dikenal karena kebijaksanaan dan pengalaman hidupnya yang panjang.
Dengan bijaksananya, dia berbicara kepada penduduk desa untuk memberikan kesempatan pada Xue Zhan, memandangnya sebagai peluang mereka untuk akhirnya terlepas dari cengkeraman kejam Serigala Pembunuh yang telah menyiksa mereka bertahun-tahun lamanya.
Lelaki sepuh itu berdiri di tengah kerumunan penduduk desa yang tegang dan dengan suara yang ketegasan.
"Kita sudah lama hidup dalam ketakutan. Apakah kalian akan selamanya hidup dalam keadaan yang sama, hingga anak cucu kalian?"
Semua orang saling menatap. Bahkan penduduk yang mengintip dari balik jendela ikut terdiam.
__ADS_1
Lelaki itu menekankan bahwa mereka telah hidup dalam ketakutan dan ketidakadilan selama bertahun-tahun, dan bahwa saat ini ada seseorang yang menawarkan harapan dan kesempatan untuk perubahan.
Terkadang mereka harus mengambil risiko untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Dia mengatakan bahwa jika mereka tetap dalam ketidakpercayaan dan membiarkan kesalahpahaman menguasai, mereka mungkin melewatkan kesempatan langka untuk mengakhiri penderitaan mereka.
Lelaki sepuh itu memohon agar mereka memberikan kesempatan pada Xue Zhan, karena mungkin itulah jalan terbaik yang mereka punya untuk membebaskan diri dari siksaan yang terus-menerus.
Perlahan tapi pasti, kata-kata bijaksana lelaki sepuh tersebut meresap ke dalam hati dan pikiran penduduk desa. Mereka mulai mempertimbangkan dan merenungkan tentang apa yang telah dikatakan. Mereka menyadari bahwa dalam hidup ini, tidak ada keberanian dan perubahan yang bisa datang tanpa risiko. Dalam keputusasaan mereka yang mendalam, mereka merasa bahwa mungkin saja Xue Zhan adalah harapan terakhir mereka untuk mengakhiri siksaan yang mereka alami.
Akhirnya, dengan dorongan dan nasihat dari lelaki sepuh yang dihormati itu, penduduk desa sepakat memberikan kesempatan pada Xue Zhan.
Dengan bantuan lelaki itu akhirnya Xue Zhan berhasil memenangkan kepercayaan mayoritas penduduk desa. Mereka menyadari bahwa mereka semua memiliki musuh yang sama dan bahwa Xue Zhan bertindak untuk kebaikan. Bersama-sama, mereka mengesampingkan perbedaan dan perselisihan mereka, bersatu untuk melawan Serigala Pembunuh.
Tiga hari kemudian, seperti yang sudah dikatakan oleh Xue Zhan, Serigala Pembunuh dan pasukannya kembali datang ke desa. Penduduk desa terlihat ketakutan.
Di jalanan yang biasanya ramai, kini hanya terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa dan bisik-bisik ketakutan. Wajah-wajah penduduk desa penuh dengan kecemasan dan gelisah.
Desa yang sebelumnya damai dan tenteram tiba-tiba merasakan ketakutan yang melanda ketika kabar kehadiran pasukan Serigala Pembunuh menyebar seperti api yang melahap hutan kering. Suasana desa berubah drastis menjadi tegang dan mencekam.
Di jalanan, penduduk desa berbisik-bisik dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Mereka berkerumun di pasar, melihat-lihat barang dagangan dengan pandangan cemas. Suara langkah kaki cepat dan tergesa-gesa terdengar di setiap sudut. Beberapa toko dan rumah telah ditutup rapat, menunjukkan ketakutan akan ancaman yang nyata.
Di antara kerumunan, terdapat kelompok penduduk yang berkumpul secara diam-diam. Mereka berbicara dengan nada seram dan berbisik-bisik tentang tindakan kejam yang dilakukan oleh pasukan Serigala Pembunuh. Rasa takut menggelayut erat di hati mereka, bagaimana tidak, sudah berapa orang menjadi korban kekejaman kelompok tersebut.
Penduduk desa menahan napas. Beberapa orang yang berani mendekati para pasukan dengan hati yang berdebar kencang.
Mereka memohon kemurahan hati Serigala Pembunuh namun tatapan dingin dan acuh tak acuh dari para Serigala Pembunuh menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak peduli atas penderitaan mereka semua.
Hukuman mati bagi siapa pun yang berani melawan menyebabkan ketakutan semakin meluas. Desa yang dulunya penuh dengan keramaian dan kehidupan sekarang dipenuhi dengan rasa takut dan keputusasaan. Penduduk desa merasa terjebak dalam ancaman yang membunuh perlahan, dengan harapan sedikit punah di tengah kegelapan yang mengancam mereka.
Setelah mengetahui tentang perilaku Serigala Pembunuh dari orang-orang desa, Xue Zhan mulai memikirkan rencana yang lebih cerdas untuk mengusirnya dari desa tersebut.
Pemilik kedai arak mengatakan bahwa di desa ini mereka memiliki pandai besi yang hebat, Xue Zhan segera pergi ke rumah pengrajin senjata di desa itu dan meminta mereka membuatkan beberapa peralatan yang nantinya akan dia gunakan untuk menyempurnakan rencananya untuk menyingkirkan Serigala Pembunuh dan pasukannya.
Beruntungnya pengrajin itu memiliki kemampuan yang sama seperti rumornya dan mampu membuat hal-hal aneh yang terpikirkan olehnya.
Dia juga meminta agar pandai besi tersebut membuatkan beberapa senjata dan baju pelindung untuk digunakan penduduk desa itu. Namun bukan berarti mereka harus turun ke dalam pertarungan. Setelah melihat sendiri kondisi laki-laki di desa yang kurus tak berdaya, Xue Zhan enggan meminta mereka untuk ikut bertarung sungguhan. Itu terdengar sangat berbahaya baginya. Tiga hari itu dia manfaatkan sebaik mungkin untuk menyelesaikan semua rencananya.
Saat matahari terbenam, desa itu terdiam, seakan menyerah pada ketakutan yang membelenggu. Suasana mencekam berlanjut dan menghantui penduduk desa, membuat mereka terjaga di malam yang penuh dengan kegelapan dan ketidakpastian.
Setelah semua senjata dan peralatannya siap, Xue Zhan memberikan pengumuman ke seluruh desa. Saat Serigala Bayangan kembali muncul mereka akan bersama-sama menghabisi kelompok itu dan membuat mereka lari pontang-panting.
__ADS_1
Xue Zhan dan pengrajin senjata mengatur strategi. Tang Bersaudara pun turut andil dalam perencanaan pemberontakan yang seumur hidup tak pernah mereka pikirkan.
Xue Zhan memang sedikit lebih gila dari mereka.
Sore menjelang namun udara sejuk tidak memberi ketenangan sama sekali. Puluhan warga desa berkumpul setelah berhari-hari bahkan berbulan-bulan mengurung diri di dalam rumah.
Mereka tahu esok Serigala Bayangan akan kembali datang. Namun Xue Zhan memastikan mereka tidak perlu membayar 15 koin emas lagi.
Jalan desa yang sepi dan sunyi menjadi lebih ramai ketika pasukan Serigala Pembunuh datang. Terlihat beberapa pengawal berjaga di sisi jalan, sedangkan para penduduk desa hanya bersembunyi di balik pintu dan jendela rumah mereka yang terbuat dari kayu. Suara langkah kaki dan pergerakan armor besi terdengar nyaring di udara, menimbulkan rasa ketakutan bagi para penduduk desa.
Mereka mulai bergerak maju dengan langkah berat, mengintimidasi penduduk desa dengan setiap gerakannya. Mereka sudah pasti akan merampas harta benda penduduk dengan paksa, mencuri makanan dan barang berharga. Dari balik jendela, mata penduduk menatap penuh dengan ketakutan dan keputusasaan.
Di tengah-tengah pasukan tersebut, terdapat seorang laki-laki Besar dan gemuk yang memimpin mereka.
Laki-laki tersebut memiliki wajah yang tajam dan tenggelam di antara kulitnya yang gendut, membuatnya terlihat seperti gumpalan daging dibandingkan Serigala Pembunuh sebenarnya. Mata tajamnya menatap setiap rumah dengan tatapan penuh ancaman, dan senyum sadisnya membuat para penduduk desa merinding.
Sementara itu, beberapa warga yang mengintip dari jendela, berusaha untuk tidak menarik perhatian pasukan Serigala Pembunuh.
Ketika Serigala Pembunuh dan pasukannya sampai di depan desa, Xue Zhan dan para pengrajin senjata memulai aksinya.
Saat pasukan Serigala Pembunuh sampai di tengah jalan kota, dari rumah-rumah yang berada di sisi jalan muncul puluhan senjata yang sekilas mirip seperti meriam namun dibuat seadanya dengan logam dan kayu. Meskipun demikian benda itu dibuat melebihi sepuluh. Lalu dari setiap sisi jalan puluhan pemuda yang dilapisi armor tebal dan senjata mulai berdatangan menghalau jalan masuk dan keluar.
Serigala Pembunuh dan pasukannya terlihat terkejut melihat hal itu. "Apa-apaan dengan sapi perah ini? Mengapa mereka begitu berani menentangku? Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi jika melakukan hal ini?!"
Segera naik pitamnya.
Sejenak para penduduk mulai ketakutan oleh suara penuh amarah itu.
Serigala Pembunuh langsung memerintah untuk menyerang dengan senjata penuh.
"Kau berusaha menipuku?! Mana mungkin ada yang mampu menciptakan sebuah senjata api dalam satu malam hanya bermodal besi rongsokan?! Kalian tak akan sanggup membelinya, bahkan membeli rasa takut ku pun tidak akan sanggup! Berani-beraninya bertingkah sombong di hadapanku, kalian semua akan mendapatkan akibatnya!" murka berat laki-laki itu sampai kulit pipinya memerah padam. Senjata semahal itu sangat tidak masuk akal jika dimiliki oleh desa melarat seperti ini. Dia sendiri saja belum tentu bisa mengoleksinya.
Serigala Pembunuh dan pasukannya akhirnya langsung menyadari bahwa mereka telah ditipu, mereka marah dan mencari-cari dalam pemberontakan ini. Namun mereka tidak dapat menemukannya di mana pun.
Beberapa orang mulai bertanya-tanya akan apa yang terjadi selanjutnya dan di mana Xue Zhan. Para pemuda dengan baju pelindung lengkap mulai mundur ketika pasukan Serigala Pembunuh mulai mendesak maju dengan senjata.
"Memang tidak bisa beli yang asli, tapi ledakannya bisa membuatmu menyengir sampai liang lahat."
Suara itu muncul tiba-tiba, Serigala Pembunuh menyusuri seisi tempat dengan ekor matanya dan napasnya langsung tercekat. Seseorang berada di belakangnya.
__ADS_1