Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 154 - Kebenaran dalam Tragedi


__ADS_3

Seakan-akan sebuah sekat sedang menghambat pernapasan laki-laki dengan jubah megah itu, dia menarik napas berat dan terkesan gusar tidak seperti biasanya. Mendengar nama Batara Pedang Suci saja sudah membuat oksigen di sekitarnya menipis apalagi kronologi kematiannya yang secara akurat digambarkan oleh pemuda topeng putih tersebut.


"Aku memang menghargai perbuatan baikmu dalam menolong cucuku ..." Dia menuangkan secangkir minuman untuk Xue Zhan. "Tapi yang kau usik kali ini adalah pertanyaan tabu, aku dan Sembilan Dewan sepakat untuk tidak mengungkitnya lagi."


Dia menunjukkan duka di sela penjelasannya, "Kematian sang Ketua Agung Dunia Persilatan terdahulu, Batara Pedang Suci memang sangat disayangkan. Dia adalah orang baik nan bijak serta disiplin, semua orang menghormatinya tanpa terkecuali. Namun ... Ada satu hal yang tidak kau ketahui, anak muda."


Ziran Zhao menggeser cangkir kaca kecil itu ke arah Xue Zhan, "semakin besar kekuatan yang kau bawa bersama dirimu, semakin sial juga hidupmu."


"Apa maksud Anda, Yang Mulia?" Xue Zhan menelan ludah mulai emosi.


"Batara Pedang Suci mengalami hal buruk karena dia memikul tanggung jawab besar; membawa Batu Tanah bersamanya."


"Tapi-!" Xue Zhan hampir menggebrak meja. "Batu Tanah bukanlah tanggungjawabnya, kalian meminta pertolongan padanya dan dia membantu dengan hati yang tulus. Bagaimana kalian semua meninggalkannya ketika sesuatu yang buruk terjadi padanya? Ke mana kalian semua?! Kenapa kalian juga ikut berpesta di hari kematiannya?"


Bahu Xue Zhan luruh dan dia baru tersadar dirinya mulai kurang ajar ketika Xiang Yi Bai menepuk bahu kanannya.


"Maafkan aku, aku kelepasan."


Ziran Zhao memejamkan matanya sejenak, mempertimbangkan hati-hati keputusannya. Di satu sisi dia sudah berjanji akan menuruti apa pun yang diminta Xue Zhan. Di lain sisi dia keberatan untuk mengatakannya.


Namun sejenak penyesalan di kedua bola matanya terlihat tidak berdusta. Dia menyimpan sesuatu yang masih menorehkan luka di dalam hatinya.


"Kematiannya harus disembunyikan karena banyak hal, ini sangat rumit untuk dijelaskan," gumamnya. "Ada tiga hal yang bisa kukatakan padamu. Yaitu kenyataan bahwa Batu Tanah sampai detik ini masih bersamanya, entah dia hidup atau mati, dia memiliki kitab Tujuh Metode Dewa Penyembuh dari Hutan Penyembuh Sakti dan beberapa pusaka langit lainnya yang sama hebatnya. Semua orang di dunia ini mengincar benda itu. Hanya Batara Pedang Suci yang bisa melindunginya dengan baik."


"Aku tidak tahu mengapa hatiku waktu itu tergerak untuk meminta pertolongannya. Dia terlihat sangat tangguh dan kokoh untuk menahan semua serangan yang akan datang."


Xue Zhan memotong. "Jadi Yang Mulia sudah tahu semua akan berakhir seperti ini? Dan masih mengorbankan Batara Pedang Suci?"


"Ini mungkin memang terdengar egois, tapi pada dasarnya tugas seorang Ketua Agung Dunia Persilatan adalah melindungi Dunia Persilatan dari pertumpahan darah dan kekacauan. Dia sudah menyatakannya dalam sumpah yang tidak mungkin dilanggarnya," tegas Ziran Zhao.


"Berkatnya Kekaisaran Diqiu kembali damai, pusaka-pusaka itu tidak jatuh ke tangan yang salah, dan keseimbangan kembali. Pengorbanannya mengembalikan senyuman jutaan orang," suaranya tertahan.

__ADS_1


"Namun kuakui bahwa akulah yang menyebarkan berita kematiannya." Ziran Zhao mengangkat wajah dan menatap pemuda di depannya tegas.


"Bukan tanpa alasan. Aku memprediksikan banyak hal untuk semua pilihan yang kuambil. Ketika Batara Pedang Suci jatuh ke dalam Jurang Penyesalan aku tidak bisa memastikan dia hidup atau mati. Aku sudah mengirimkan beberapa orang untuk mencari tahu dan mereka tidak pernah kembali," jelasnya.


"Pada akhirnya aku mengambil satu kesimpulan, entah dia sudah mati atau masih hidup, satu-satunya caraku untuk membantunya adalah dengan mencegah masuknya musuh ke dalam Jurang Penyesalan. Aku menyebarkan kabar kematiannya, menyebarkan berita menakutkan tentang jurang tersebut dan memaksa semua orang tutup mulut. Karena jika ada yang mencari tahu soal kematiannya, tentu mereka berpikir Batara Pedang Suci masih memiliki kesempatan hidup."


"Apa salahnya dengan itu?"


Ziran Zhao menjawab. "Jika yang mendengarnya adalah dirimu, kau pasti berpikir untuk mencarinya dan bahkan menyelamatkannya. Bagaimana jika yang mendengarnya adalah Iblis dari Gunung Qin atau bahkan Taring Merah?"


Xue Zhan diam. Ziran Zhao mengangguk singkat.


"Ini adalah kesempatan terbesar mereka. Mendapatkan puluhan 100 Pusaka Keajaiban Dunia sekaligus, Kitab yang bisa membuatmu hidup abadi dan sebuah Batu Tanah. Bahkan aku pernah mendengar Pedang miliknya juga salah satu Pusaka Langit. Ini sangat berbahaya, jika seseorang menemukan mayatnya dan mengambil semua benda itu, seluruh kekaisaran akan terguncang dahsyat."


Untuk sejenak Xue Zhan tidak menanggapi. Satu per satu pertanyaan di kepalanya mulai terjawab dan Ziran Zhao ternyata bukan orang jahat yang menyebabkan kematian Gurunya. Dia melihat Gurunya dan tampaknya Xiang Yi Bai juga baru mengetahui beberapa fakta setelah mendengar penjelasan dari sisi Ziran Zhao.


Terdengar kembali suara dari Ziran Zhao. Pandangan lelaki itu berubah sendu. "Sebelum kematiannya aku sempat mengirimkan sebuah pasukan untuk menolongnya. Namun siapa sangka, mereka berkhianat dan menggila bersama maniak pusaka itu, bukannya membantu malah ikut memperebutkan pusaka-pusaka hebat di tangan Batara Pedang Suci dan membuat laki-laki itu memutuskan untuk bunuh diri."


"Sebenarnya ada berapa banyak pusaka yang dibawanya sehingga menjadi buronan semua pendekar dari seluruh dunia?"


Xue Zhan benar-benar curiga karena Xiang Yi Bai tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya, dia menoleh pada Gurunya dengan tatapan tak percaya walaupun percuma, Xue Zhan tidak tahu bagaimana ekspresi laki-laki itu saat ini.


"Aku tidak bisa mengatakannya dengan tepat, tapi dia menyimpan setidaknya 10 dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia yang selama ini disembunyikan di Perguruan Gunung Pohon Seribu. Hanya dia satu-satunya yang tertinggal dari perguruan itu dan semua orang mengincarnya. Itu juga menjadi alasan mengapa dia diburu sedemikian hebat. Bahkan aku pun ... Aku tak sanggup menahan arus yang begitu kuat itu ... Mereka memburu Batara Pedang Suci dengan sangat beringas."


Ziran Zhao mengepalkan tangannya tanpa sadar. "Kau bisa membayangkannya? Dia seorang menjaga 10 Pusaka Keajaiban Dunia, satu Batu Tanah milik Kekaisaran Diqiu, dan Tujuh Metode Dewa Penyembuh yang sangat hebat di tangannya sendirian?"


Sesaat Xue Zhan berpikir lebih jernih dan mulai merasakan semua titik-titik yang sebelumnya saling berpencar kini mulai menyambung satu sama lain.


Yang menjadi permasalahan utamanya bukanlah Batu Tanah yang dititipkan Ziran Zhao, itu hanyalah pemicunya. Namun keseluruhannya pusaka yang Xiang Yi Bai bawa bersamanya. Benar kata Ziran Zhao, semakin besar kekuatan yang dibawa, semakin sial pula hidup orang itu. Xue Zhan melihat dirinya sendiri dan merasa itu benar. Semua orang ingin membunuhnya karena kekuatan di dalam dirinya.


"Sampai akhir hayatnya aku masih sangat menghormatinya. Batara Pedang Suci adalah orang yang sangat mengagumkan. Aku tidak punya satu pun orang yang dapat kupercayai untuk menjaga Batu itu. Pikirku lebih baik dibawa mati bersama Batara Pedang Suci dari pada harus ku serahkan pada manusia-manusia busuk. Jika pun Batara Pedang Suci masih hidup, aku yakin dia akan tetap menjaga batu itu meskipun aku tidak memintanya."

__ADS_1


Lelaki itu melanjutkan kembali. "Karena meski dia terlihat jahat, sebenarnya dia memiliki kelembutan hati yang luar biasa."


Xue Zhan mengangguk. "Akhirnya aku mengerti. Maafkan aku Yang Mulia, aku sempat salah mengartikan ini semua dan berpikir buruk terhadapmu."


Ziran Zhao menarik senyum. "Ah ... Entah mengapa ketika aku menceritakan hal ini kepada orang lain rasanya sedikit beban di pundak ku menghilang. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun. Kuharap anda menjaga rahasia ini sebaik aku menjaganya selama 20 tahun. Ini semua untuk kebaikannya."


Xue Zhan tersenyum. "Tentu saja, Yang Mulia." Dia menambahkan. "Jika seandainya Batara Pedang Suci sedang mendengarmu, apa yang akan kau katakan, Yang Mulia?"


Sejenak Ziran Zhao menoleh padanya dengan ekspresi wajah yang berbeda. Dia berpikir tiga menit lamanya dan akhirnya bersuara.


"Maafkan ketidakmampuanku untuk melindungi Anda, ini adalah penyesalan terbesar yang tidak pernah aku lupakan. Dan terima kasih sudah menjaga kedamaian selama 20 tahun ini. Tanpamu mungkin Kekaisaran Diqiu telah runtuh."


Xue Zhan terkejut bukan main ketika Ziran Zhao tiba-tiba menundukkan kepalanya.


"Yang Mulia, aku hanya bilang seandainya! Angkat kembali kepalamu."


Di sampingnya, Xiang Yi Bai tertawa-tawa dan hal itu membuat Ziran Zhao sangsi.


Laki-laki itu tampak sedikit berkaca-kaca walau dia berusaha menutupinya.


"Aku sedikit terbawa suasana." Dia kembali duduk dalam posisi tegak.


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"


Xue Zhan menggeleng. "Tidak, jawaban Anda sudah lebih dari cukup, Yang Mulia."


Xue Zhan tersenyum kembali di balik topengnya, dilihat bagaimana pun Ziran Zhao dan Xiang Yi Bai sama-sama menakjubkan. Mereka pantas menerima penghormatan yang besar.


"Guru, kita kembali?"


Ziran Zhao cukup heran sebenarnya mengapa pendekar muda itu membawa Gurunya bersamanya. Laki-laki itu pun tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat mereka serius bercerita. Dia memilih mengabaikannya. Xue Zhan pamit untuk kembali ke kediaman Fan Yuan bersama laki-laki jubah putih itu. Hingga sebelum kepergiannya, Ziran Zhao melihat sosok jubah putih itu dari belakang dan merasa tidak asing.

__ADS_1


"Jubah putih itu ... Kenapa rasanya sangat tidak asing?"


__ADS_2