
Bunyi keretekan ranting membuat seorang pemuda terbangun dari pingsannya saat dini hari datang, dia membuka mata dan melihat bayangan seseorang dari cahaya api unggun sedang duduk diam sambil berlatih tenaga dalam menggunakan Kitab Phoenix Surgawi.
Meditasi yang dilakukannya telah berlangsung lama, terhitung sudah dua hari ujian berlangsung tapi Xue Zhan tidak banyak melihat peserta lain, ada beberapa yang ditemuinya kebanyakan telah tewas dengan cara yang misterius. Ada yang hanya menyisakan pakaian, terbakar sampai ke tulang, terkena racun, terjebak perangkap dan masih banyak lagi.
Kota ini sangatlah luas, tapi beruntungnya dari beberapa peserta yang Xue Zhan temui dia sempat berhadapan dengan satu peserta yang telah sekarat dan bertarung dengannya memperebutkan gulungan. Dia menatap singkat gulungan itu sebelum matanya tertuju ke seseorang yang baru saja terbangun.
"Sialan, apa yang terjadi?" Dia memegang kepalanya yang berdenyut perih.
"Kau bertarung dengan salah seorang pengguna jurus ilusi dan dipukul sampai pingsan. Sudah begitu saja."
"Cih." Dia mendecakkan lidah lalu mencari-cari sesuatu di dadanya dengan sedikit gurat kepanikan, lantas Xue Zhan melemparkan sesuatu yang membuatnya lebih lega.
"Kalungmu. Itu pasti berharga untukmu."
Seperti biasa setan itu bahkan tidak tahu cara mengucapkan kata terima kasih, Xue Zhan mengabaikannya dan lanjut dengan latihannya karena sudah larut malam untuk melanjutkan perjalanan. Pergi ke depan pun belum tentu mereka aman, akan ada bahaya lain yang mengintai keduanya.
Terjadi hening sesaat sampai tiba-tiba sesuatu mendekat, Xue Zhan bangun dari duduknya, Jiazhen Yan bangkit segera mengambil posisi walaupun tubuhnya belum begitu membaik. Dua pasang mata itu mengintai ke sesosok pemuda tampan yang datang pontang-panting mendekat ke cahaya api unggun, dan di sanalah dia menemukan manusia lain setelah dua hari dikejar mahluk menakutkan.
"Akhirnya!" teriaknya seperti orang yang terperangkap di pulau asing bertahun-tahun. "A-aku tidak berniat mengganggu, tapi izinkan aku bersama kalian malam ini, boleh?"
Xian Shen, pemuda itu tampak takut jika dilihat dari wajahnya sekarang. Bukan tanpa alasan, dia memiliki rasa takut besar dengan tempat gelap dan makhluk gaib. Menemukan dua manusia-walau tidak yakin manusia atau bukan adalah keajaiban untuknya sekarang. Paling tidak dia tidak setakut tadi.
"Kau sedang berusaha menipu kami? Sudah tahu hukum rimba berlaku di sini? Cari mati?" Jiazhen Yan menyatukan alisnya, garang persis seperti singa kelaparan.
"Aku tidak akan mengganggu kalian, malam ini saja aku tidur di sini-"
"Aku bantu kau tidur selama-lamanya."
Xian Shen mulai putus asa mendebat dengan Jiazhen Yan yang tidak punya hati, dia menoleh ke arah Xue Zhan meminta belas kasih.
"Aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam ..."
Jiazhen Yan mulai angkat senjata, Xian Shen mundur, lalu Xue Zhan menahan tangan temannya.
__ADS_1
"Hei, jangan main hakim sendiri!"
Xian Shen menarik napas lega.
"Kalau main hakim ramai-ramai boleh," timpalnya membuat Xian Shen lemas, sama saja akalnya setan dan iblis itu. Xue Zhan tergelak melihat rona wajah Xian Shen saat ini, kuyu dan pucat pasi seperti ayam sedang bertelur. Karena kasihan dia mengizinkannya bergabung.
Ketiganya mengelilingi api unggun.
"Panitia tidak bilang ujian kali ini individu atau kelompok, jadi kurasa tak masalah kita bergabung," cetus Xue Zhan yang mendapatkan anggukan dari Xian Shen. "Jika kita sendirian aku yakin akan mudah dibunuh oleh musuh-musuh dadakan di kota ini. Kau tahu? Mereka menaruh banyak jebakan dan orang jahat. Ini jauh mengerikan dari yang kita duga. Aku sudah mengelilingi seluruh tempat di kota ini dan melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana peserta lain mati. Yang selamat mungkin tak lebih dari dua ratus orang ..."
Penjelasan panjang lebar dari Xian Shen sesaat membuat ekspresi wajah Jiazhen Yan berubah, "Itu artinya kau sudah memiliki gulungan itu?"
"Aku sudah." Xian Shen menyahut. Jiazhen Yan menatap Xue Zhan setelahnya dan pemuda itu mengeluarkan gulungannya.
"Saat kau pingsan aku bertemu musuh dan merebutnya. Kurasa kau harus berusaha lebih keras, Raja," ledeknya.
Xian Shen seperti ingin menertawakan Jiazhen Yan, hal itu membuatnya ingin menggaruk wajah Xue Zhan.
Xue Zhan sedikit tergertak, "Sesekali dengarlah suara rakyat jelata ini, tanpa gulungan kau mungkin bisa gagal. Kau pikir sendiri, bagaimana caranya kau mendapatkan gulungan sementara menemukan peserta lain saja begitu sulit? Belum lagi yang mempunyai gulungannya. Mereka yang sudah punya pasti bersembunyi sampai babak selesai. Kita hanya punya waktu satu hari lagi."
Jiazhen Yan sudah tahu tanpa Xue Zhan mengingatkannya. Dia hanya mendengkus. Tapi sesaat terlihat dia menyeringai mengerikan.
"Tinggal rebut gulungan punya kalian."
Xian Shen dan Xue Zhan saling menatap ngeri.
"Xian Shen, kau suka pelihara binatang tidak?"
"Ha?" Pemuda itu kaget, "Lumayan suka. Kenapa?"
Dia menunjuk Jiazhen Yan. "Mau adopsi binatang satu ini? Agak garang dan suka menggigit, tapi dia bisa berbicara bahasa manusia."
Xian Shen membayangkan Jiazhen Yan menjadi seekor anjing, dia sudah berusaha tidak tertawa tapi melihat wajah Jiazhen Yan saat itu tawanya meledak.
__ADS_1
Keduanya kabur ketika Jiazhen Yan tiba-tiba kerasukan sesama bangsa setannya sendiri. Dia mengamuk dan membakar pepohonan, menciptakan kegaduhan.
*
Tiga orang dalam jubah hitam berjalan beriringan ke dalam hutan tanpa ada satu pun dari mereka yang angkat bicara sejak sejam yang lalu-lebih tepatnya setelah perdebatan dan tak ada yang mengalah akhirnya mereka saling diam.
Satu-satunya laki-laki di antara ketiganya kembali mengusik karena merasa belum puas dengan hasil rundingan mereka sebelumnya.
"Ketua bilang kita harus memantau sedetail mungkin, kita belum mendapatkan banyak informasi dan langsung pulang?"
"Apa lagi yang kau cari?" Wanita yang paling dewasa membalikkan badan dengan jutek.
"Aku sudah selesai di sini. Tidak ada alasan untuk berlama-lama." Kini yang paling muda menanggapi sama ketusnya, membuat pria itu mulai tersudutkan. Dia mengangkat kedua tangan sambil menghela napas berat.
"Ayolah ..." pasrahnya.
"Kau ingin muridku mengamuk dan membunuh iblis itu? Selagi pikirannya jernih sebaiknya kau ikut saja. Penyamaran kita bisa diendus oleh anjinganjing Kekaisaran."
"Kalau itu mau kalian, terserah. Kembalilah aku mungkin akan sedikit lebih lama di sini."
Wanita berambut panjang menyipitkan mata, menggendikan bahu tak mau peduli.
"Sampai penyamaran ini terbongkar aku akan mengeluarkan isi perutmu dan kuumpankan ke ikan hias peliharaanku."
Keduanya berlalu. Laki-laki itu berbalik badan, melihat ke sebuah cahaya api yang semakin terang selama beberapa detik dan mengintip dari balik semak-semak.
Pupil matanya terbuka lebar di balik topeng silang putih, seolah-olah sedang melihat sebuah berlian dalam tumpukan jerami. Dia menekankan hawa kehadirannya sampai titik penghabisan. Namun mata pemuda masih menatap ke arahnya penuh curiga.
"Aku menyukai itu ..."
Matanya makin liar menatap sosok tersebut, seringai iblis terpampang di balik topengnya.
"Mata yang sangat tajam dan indah ... Begitu indah, sampai ingin kujadikan makan malamku sekarang ..."
__ADS_1