
Seorang gadis duduk dengan anggun di atas batu putih, angin yang mengalir melalui goa es memainkan jubah putihnya. Rambut panjangnya tergerai dan bergerak seiring dengan tiupan angin yang lembut. Sementara wajahnya yang indah tercermin dalam sinar mentari yang tembus melalui ceruk-ceruk es. aroma bunga liar yang tumbuh di dekat goa es tercium samar. Cahaya matahari memancar melalui celah-celah es, menciptakan sinar yang mempesona di sekitar gadis itu.
Dia memainkan sebuah batu indah yang memiliki kekuatan begitu dahsyat di dalamnya, berkilap indah di depan matanya yang berbinar-binar.
Gadis itu tersenyum periang, wajahnya berseri-seri saat dia memegang erat batu Pusaka yang baru saja dia dapatkan. Tubuhnya masih terasa lelah setelah pertempuran yang hebat melawan ratusan pendekar Kekaisaran Bing. Pakaian putihnya terlihat lusuh dan kotor, tapi dia tidak memedulikannya. Keberhasilannya dalam memperoleh batu Pusaka itu membuatnya begitu bersemangat dan bangga.
Di sekelilingnya, reruntuhan para pendekar Kekaisaran Bing terlihat berserakan. Pedang-pedang patah dan baju besi berlumuran darah menjadi saksi bisu dari pertempuran sengit yang telah berlangsung.
Kesabarannya tidak akan cukup jika harus menunggu beberapa hari agar bisa bertemu gurunya dan memberikan Batu Es yang kini telah menjadi miliknya.
"Guru, kau pasti tak akan berhenti-henti memujiku. Aku memang murid yang nakal, payah, berisik dan sangat suka membuatmu malu di hadapan para Cahaya. Tapi kali ini! Aku berjanji akan membuatmu tersenyum lebar sampai kau lupa cara memarahiku."
Dia memeluk batu itu dengan amat gembira sambil membayangkan ekspresi wanita tersebut. Tidak ada yang bisa dipikirkannya lagi.
Batu Esyang merupakan salah satu Batu Elemen Penguasa Bumi dari Kekaisaran Bing, adalah pusaka menakjubkan dengan kekuatan yang luar biasa. Batu tersebut memiliki kemampuan untuk membekukan segala yang disentuhnya dengan cepat dan menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya. Keberadaan Batu Es telah menciptakan ketegangan di seluruh dunia persilatan, membuatnya menjadi incaran berbagai kelompok yang haus akan kekuasaan. Saat batu itu aktif, suhu sekitarnya turun drastis dan udara terasa kaku dan dingin. Dia memiliki kemampuan yang setara dengan tiga batu elemen lainnya.
Kekuatan Batu Es juga dapat mempengaruhi iklim dan alam sekitarnya. Hanya dengan mengayunkan batu tersebut, bahkan satu tetes kecil dari kekuatannya dapat membekukan lautan, membuat gunung-gunung runtuh, dan mengubah tanah menjadi ladang es yang tak dapat ditembus.
Ancaman yang terkait dengan kepemilikan Batu Es tidak dapat diabaikan. Jika batu ini berada di tangan yang salah, konsekuensinya akan mengancam kehidupan di seluruh dunia persilatan. Keberadaan batu ini menciptakan ketegangan yang melampaui perbatasan dan menyebabkan pertempuran sengit di antara kelompok-kelompok yang berusaha memilikinya di masa lalu saat perebutan pusaka masih berlangsung.
"Kau pernah bilang Batu Es adalah perhiasan yang paling indah di muka bumi dan ingin melihatnya walau hanya sekali. Baiklah. Aku membawanya padamu. Hahaha."
Gadis itu tidak mempedulikan jeritan sekarat dari ratusan pendekar Kekaisaran Bing yang tergeletak di seluruh sudut goa. Es yang putih telah bercampur dengan genangan darah yang membanjiri tempat tersebut.
Mata lentiknya masih mengamati intens batu tersebut, cahaya remang-remang menerobos masuk melalui celah-celah batu, menciptakan kilauan mempesona di permukaan kristalnya. Batu es memiliki bentuk yang halus dengan lekukan-lekukan elegan yang mengalir dengan indah. Permukaannya terasa dingin ketika disentuh, senyumnya merekah kian lebar saat kekuatan dari Batu Elemen tersebut mengeluarkan debu-debu es berkilau yang tampak indah.
Namun tiba-tiba saja Batu Elemen tersebut jatuh tanpa sebab, kilauannya yang indah terbenam dalam genangan darah kental. Gadis itu terkejut, tidak ada siapa pun yang menyerangnya. Dia berusaha mengambil kembali batu yang telah bercampur dengan merah darah itu dalam kebingungan.
Firasatnya tidak pernah seburuk ini. "Sialan. Darah membuat kotor saja!" Matanya melotot lebar menatap ratusan pria yang tak berdaya.
Di dalam goa es yang gelap, suasana mencekam terasa di udara setiap detiknya. Para pendekar yang berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup terlihat kelelahan dan terluka. Mereka terperangkap dalam kekuatan es yang membatasi gerakan mereka. Suara nafas terengah-engah dan raungan sakit memenuhi goa itu.
Batu Es di tangan gadis itu memancarkan cahaya yang menyilaukan, menciptakan lingkaran aura terang di sekitarnya. Pandangan mata yang tajam dan ekspresi tanpa kompromi, membuat semua orang di sana bergidik ketakutan.
Sebagian dari mereka lumpuh dengan beberapa bagian tubuh terpotong seperti kaki, tangan, atau badan. Gadis itu sengaja tidak langsung menghabisi nyawa mereka karena ingin memberikan kematian yang lebih menyakitkan. Namun nampaknya dia mulai menyesali keputusannya dan memilih mengakhiri hidup semua musuhnya yang masih bernapas.
__ADS_1
"Biar ku selesaikan ini lebih cepat agar bisa bertemu kembali dengan Guru."
Dia menyerang tanpa berpikir dua kali.
Para pendekar yang sekarat berusaha melawan, tetapi kekuatan cahaya gadis itu terlalu kuat. Dengan gerakan tangan yang lincah, dia mengarahkan serangan cahaya yang memotong udara dengan kecepatan kilat. Serangan itu menghantam pendekar-pendekar dengan kekuatan yang mematikan, mengubah mereka menjadi puing-puing yang bercampur dengan es dan darah.
Suara hentakan dan jeritan kesakitan terus bergema di dalam goa, dalam goa yang dipenuhi dengan mayat-mayat pendekar yang sekarat, gadis itu berdiri di tengahnya. Dia melihat ke sekeliling dengan dingin, tanpa ada sedikit pun keraguan di matanya. Kemenangan tampak jelas, dan takdir para pendekar itu sudah tertulis oleh kekuatan cahaya yang dimilikinya.
Pikirannya tertuju pada satu orang yang menjadi sumber kebenciannya selama ini.
Dengan wajah yang dipenuhi kebencian dia tertawa hebat. Dendam yang terpendam dalam hatinya memberinya kekuatan yang membara. Bayangan ekspresi kesakitan orang itu menyulut api amarah yang membakar di dalam dirinya.
Membayangkan saat dia bisa melepaskan senyum mengejek kepada orang tersebut. "Dengan senjata ini, aku akan membuatmu merasakan penderitaan yang tak terlupakan. Kau akan mengemis dan menyesali setiap tindakanmu yang meninggalkanku sendirian dalam kobaran api itu," serunya dengan suara yang penuh kebencian.
Dalam kegelapan pikirannya, dia mengingat kembali rencana jahat yang akan dijalankan bersama tuan mereka. Mereka akan menciptakan senjata mematikan yang akan menghancurkan dunia dan membawa penderitaan yang tak terbayangkan kepada siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka. Semua orang merasakan penderitaan yang dia alami, kehilangan keluarga, orang terdekat dan sebuah rumah.
Senyumnya berubah menjadi seringai iblis. Namun begitu cepat setelahnya bayangan kesepian dan rasa sakit yang tak terucapkan di masa lalu menghantuinya. Dalam diam, ada keraguan yang muncul di dalam hatinya, tetapi kebencian dan keinginan akan balas dendam menutupi keraguan itu dengan kuat.
"Aku sudah melalui semua penderitaan ini selama bertahun-tahun, tidak akan kubiarkan kau hidup dengan tenang, Kakak Zhan."
Chao Mi melemparkan serangan kipas jarak jauh, senjata andalannya berputar di atas udara menuju Xue Zhan yang segera menghilang dari tempatnya semula. Wanita itu menggerakkan jarinya, kipas itu berputar kembali ke tempatnya.
Dia menarik senyum ketika menyadari seseorang mulai bergerak dari belakangnya dan diam-diam menyerbunya. Lantas Chao Mi membalikkan badan dan melepaskan hempasan angin kuat yang menyapu tajam tempat yang dilaluinya.
Seperti dugaan Xue Zhan tidak serta merta menyerang dengan sebegitu mudahnya. Dia pasti sedang memainkan trik. Chao Mi sudah dua kali bertarung dengannya dan seharusnya yang ketiga kali dia benar-benar paham cara bertarung lawannya. Akan menjadi hal berbahaya jika dia tidak segera menyadari rencana apa yang dia buat.
"Kau masih belum menyerah soal menghapuskan Taring Merah, heh?"
"Bukan hanya keroco-keroco seperti kalian, ada hal yang lebih besar yang harus kumusnahkan."
"Hahahha. Kedengaran seperti kau mulai membaca semua rencana kami." Dia tertawa sepintas, sambil terus menyerang ke tempat di mana Xue Zhan muncul walau akhirnya pemuda itu kembali menghilang sangat cepat.
"Siapa sebenarnya pencipta kehancuran ini?"
Bukan Xue Zhan yang berbicara, melainkan Chao Mi. "Kau pasti bertanya-tanya soal itu bukan?" tanyanya disertai nada mengejek yang terdengar menjengkelkan. Wanita itu semakin bersemangat mengoloknya karena tahu apa tujuan pemuda itu datang ke sana.
__ADS_1
Sementara Xue Zhan tahu dia tak akan mendapatkan jawabannya dari Chao Mi. Wanita terus mengoceh sambil mulai melayang di atas udara. Dalam posisi di atas Chao Mi lebih mudah menemukan tempat Xue Zhan bersembunyi dan langsung melepaskan tembakan kekuatan cahaya yang mulai menggetarkan tanah.
"Aku memang mencari jawabannya. Tapi tidak berharap jawaban penting itu keluar dari mulut pecundang seperti kau."
"Hahahha!" Chao Mi tergelak hebat sampai mendongak ke langit, dia kembali melayangkan tatapan memburu ke arah Xue Zhan.
"Sudah tahu aku tak akan memberikan jawabannya ya? Setidaknya pasang wajah kecewa. Kau semakin dewasa menjadi lebih membosankan."
"Biar kutebak. Hari di saat aku bertarung dengan muridmu, kau juga ada di sana kan? Di arena Ujian Pendekar Menengah."
Terdengar jawaban ketus, "Memangnya kenapa? Aku melihat kekalahanmu hari itu dan tertawa keras sepanjang malam. Benar-benar lucu."
"Habis ini kau akan ketawa keras di dalam makammu." Xue Zhan yang datang entah dari mana menyabetkan pedangnya tepat di hadapan Chao Mi, wanita itu menangkis dengan kipas. Bunga api muncul beberapa detik, Xue Zhan tidak mundur kali ini. Dia melanjutkan serangan dengan gerakan bertubi-tubi.
Keduanya berputar di atas udara masih saling memasukkan serangan, Xue Zhan mendarat lebih cepat dan memutar kakinya di bawah kaki Chao Mi yang baru ingin menapakkan kakinya. Sialnya dia terkena serangan tersebut dan membuatnya hampir terpelanting. Chao Mi menggunakan kekuatan angin dari kipas untuk membuat Xue Zhan mundur sebelum dirinya terkena serangan lainnya.
Dia menyeimbangkan diri, menarik napas berat dan memerhatikan Xue Zhan lekat-lekat.
Kecepatan pemuda itu menyaingi kecepatan tertingginya. Chao Mi masih sedikit percaya diri karena dia memiliki keunggulan dalam hal teknik. Tapi pemuda itu memiliki kekuatan yang jauh lebih besar darinya dan bisa keluar kapan saja seperti yang terjadi pada penjaga markas sebelumnya.
"Lima tahun ini menghilang rupanya kau bersiap untuk pembalasan dendam. Kau masih membenci Taring Merah karena telah merenggut keluarga 'palsumu'?" tanya Chao Mi dengan begitu entengnya yang membuat Xue Zhan mulai kesal.
Pemuda itu menautkan kedua alisnya dalam. "Keluarga palsu katamu?"
"Mereka menerimamu karena kasihan. Kau yatim piatu tidak punya tempat tinggal dan membawa sial di mana-mana. Tidak akan pernah ada yang mau menerima orang menyedihkan sepertimu."
Hinaan itu begitu menusuk hatinya. Xue Zhan menggeram. Perkataan itu telah lama tidak pernah didengarnya dan kini semua ingatan kembali terulang. Di saat di mana dia dipojokkan, diasingkan dan dimaki. Semua orang membencinya. Anak kecil sebayanya ketakutan melihat dirinya sendirian bermain di taman.
Giginya menyatu, sebelah tangannya mencengkram erat pedang berharap benda itu menjadi leher Chao Mi yang ingin sekali dia remukkan.
"Sudah selesai mengejekku?"
Detik itu Chao Mi melihat kilat merah membara yang tersimpan di dalam hati pemuda itu. Kebencian besar mengamuk di dalam dirinya-dan bahkan dalam aliran darahnya. Guncangan besar terjadi setelahnya dan membuat Chao Mi tersadar dia telah membangkitkan Sang Kebencian di dalam tubuh pemuda itu. Xue Zhan menapak satu langkah, tanah di bawahnya retak dalam. Dia menghilang dari pandangan Chao Mi, lalu sesaat setelahnya cahaya merah terang muncul dari belakang Chao Mi.
Wanita itu membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Iblis benar-benar telah kembali."