Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 181 - Penghuni Bambu Kuning


__ADS_3

Xue Zhan menajamkan penglihatannya saat tiga perampok menyerangnya secara bersamaan. Dia melangkah mundur sebelum mengeluarkan pedangnya. Mengeluarkan gerakan pedang yang cepat untuk membabat lawan pertamanya diiringi langkah kaki yang gesit dan lincah saat menghindarkan diri dari serangan lawan dari sisi kanan dan kirinya.


Perampok itu menyerang lagi dengan memutar-mutar pedangnya dan melancarkan serangan dari samping. Xue Zhan merespon dengan memutar tubuhnya di atas udara dan menghindari serangan itu. Dia kemudian menyerang kembali dengan pedangnya, mengirimkan serangan balik yang menyebabkan perampok itu berteriak kesakitan.


"Kitab Phoenix Surgawi - Seni Kekacauan Dewi Angin!"


Mereka terpental ke belakang dan saling menabrak satu sama lain. Namun satu dari tiga perampok itu tiba-tiba melompat ke udara dan menyerang Xue Zhan dari atas. Xue Zhan memutar pedangnya dan menghantamnya tepat mengenai lutut. Lelaki itu terhuyung-huyung dan jatuh ke tanah bersimbah darah.


Lawan terdesak. Xue Zhan melihat kesempatan untuk menyelesaikan pertarungan. Dia melangkah maju dan dengan cepat menggorok leher satu dari mereka. Dua lainnya melarikan diri, meninggalkan temannya yang sudah terkapar di tanah. Namun ajal tetap memanggil nama mereka, tepat di saat jurus Tarian Pedang Angin mengejar langkah mereka dari belakang dan tubuh mereka terpotong menjadi dua bagian.


Setelah Xue Zhan berhasil mengalahkan tiga perampok, sisa perampok lainnya menantang Hua Lian untuk bertarung. Hua Lian yang terlatih sebagai seorang pendekar dari klan Hua dengan tenang mengeluarkan pedangnya dan siap untuk menghadapi lawannya itu.


Perampok itu bergerak dengan cepat, menyerang Hua Lian dengan tusukan pedang yang mematikan. Namun dengan cepat Hua Lian menghindari serangan itu dan melawan dengan pukulan mengenai lengan. Pedang perampok itu berhasil dihantam dan terlempar jauh.


Perampok itu terkejut melihat kemampuan bertarung Hua Lian dan mencoba menghindari serangan balik. Namun sayangnya Hua Lian mengambil kesempatan untuk menyerangnya tanpa ampun. Serangan itu begitu cepat sehingga perampok itu tidak bisa menghindar. Pedang Hua Lian berhasil menembus jantungnya, membuatnya terjatuh dan tewas di tempat.


Hua Lian menarik pedangnya dari tubuh lelaki itu, melihat Xue Zhan telah menghabisi satu dari dua perampok yang tersisa dan memutuskan untuk menghabisi semua lawan di depan mata.


Hingga akhirnya pertarungan berakhir dengan penuh darah, Hua Lian melihat ke arah Xue Zhan dan Xiang Yi Bai. Dia memberikan tanda untuk melanjutkan perjalanan, mereka harus segera beranjak sebelum matahari terbenam karena akan lebih banyak bahaya menunggu saat malam tiba. Ketiganya melanjutkan perjalanan mereka ke Hutan Bambu Kuning untuk menemukan Yue Linghe.


Namun tiba-tiba aura mencekam muncul ketika kepulan asap berwarna ungu keluar dari jasad para perampok yang tewas dalam pertarungan sebelumnya. Xiang Yi Bai, Xue Zhan, dan Hua Lian membalikkan badan lalu saling berpandangan dengan ekspresi kebingungan. Mereka tidak pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya.


"Tunggu sebentar, apa itu?" ucap Xue Zhan sambil mewaspadai pergerakan musuh dengan penglihatannya yang tajam.


Xiang Yi Bai mengerutkan keningnya dan menjawab, "Itu adalah siluman Kelabang Ungu, makhluk itu biasanya hidup di hutan terpencil. Tapi aku tidak pernah mendengar kalau mereka bisa muncul dari mayat manusia."

__ADS_1


Wujud siluman kelabang mulai terlihat dari kepulan asap tersebut, dia memiliki ciri-ciri fisik hitam mencolok dan membuatnya terlihat nyaris tidak terlihat saat malam hari. Mulai dari gigi tajam yang menonjol keluar dari mulutnya, mata berwarna kuning terang, hingga jari-jarinya yang panjang dan berduri. Tubuhnya berukuran lebih besar dari manusia dan dilapisi oleh sisik-sisik ungu gelap yang berkilau seperti permata. Sisik ungu itu mengkilap dan sangat keras seperti baja. Sisik-sisik tersebut juga mampu menyerap energi spiritual, sehingga membuat siluman kelabang ungu menjadi sangat tahan dan sulit dikalahkan.


Hua Lian mengamati dengan cermat dan tiba-tiba berbicara, "Mereka menghisap energi spiritual dari orang yang mati dan menciptakan wujud mereka dari asap yang keluar dari jasad korban. Mereka memiliki kekuatan besar, bisa berbahaya jika tidak diatasi dengan benar."


Tiga orang itu terus mengamati dengan hati-hati, sementara siluman kelabang ungu semakin mendekat. Tanpa ragu, Xiang Yi Bai mengambil pedangnya dan bergerak maju, Hua Lian mengikuti dengan mengambil senjata. Sampai Xue Zhan berkata yakin, "Biar aku yang mengatasi mereka."


"Kau yakin?" sambut Hua Lian.


"Yakin."


Xiang Yi Bai memasukkan kembali pedangnya sambil berpesan. "Hati-hati terutama dengan racunnya. Hua Lian, sebaiknya kita mundur. Siluman ini bisa berbahaya jika dia mengeluarkan racun dari tubuhnya."


Kepulan asap berwarna ungu itu semakin menipis menampakkan dengan jelas lawan selanjutnya yang akan dihadapi, Xue Zhan maju ke depan mengantisipasi serangan dari depan dan memulai serangan pertamanya dengan angin yang kuat.


"Kitab Phoenix Surgawi - Cakar Phoenix Petir."


Dia menyerang lagi tapi siluman kelabang ungu bisa menghindar dan membaca gerakannya.


Xue Zhan menatap keenam kelabang dengan tatapan mata yang tajam. Dia menyadari bahwa ini akan menjadi pertarungan yang sulit karena dia harus melawan enam musuh sekaligus. Tapi ini saatnya untuk melihat seberapa besar dia berkembang selama di Jurang Penyesalan.


Ketika enam kelabang itu mulai maju ke arahnya, Xue Zhan tidak membuang waktu dan segera menarik pedang dari sarungnya. Dia memulai pertarungan dengan menyerang kelabang yang berada di tengah-tengah mereka. Dalam satu gerakan, tebasan pedang mengarah ke kepala siluman tersebut, meski tidak begitu fatal namun serangan itu berhasil memecah mereka.


Xue Zhan mengambil nafas dalam-dalam dan memusatkan pikirannya pada gerakan lawan-lawannya. Dia memperhatikan setiap gerakan kelabang ungu, menangkap setiap celah dan kesempatan yang ada. Dalam sekejap, dia melompat ke udara dan menghindari gigitan dari salah satu kelabang ungu yang menyerangnya dari bawah. Xue Zhan berbalik dengan satu gerakan berputar yang tajam, membelah kepala kelabang ungu itu menjadi dua.


Pedang putih terus bergerak dan membalas serangan tanpa jeda. Dia menghindar dari serangan kelabang dan maju dengan tebasan kilat, membuat kelabang kesulitan untuk mengikuti gerakannya yang luar biasa cepat.

__ADS_1


Sementara itu, Xiang Yi Bai dan Hua Lian berdiri di belakang, menyaksikan pertarungan Xue Zhan sedikit was-was melihat dalam satu detik saja lebih dari tiga serangan menyerbu tubuh pemuda itu tapi dia bisa mengatasinya dengan sempurna.


Dalam pertarungan yang semakin intens, Xue Zhan menghindari setiap serangan dan memanfaatkan celah untuk menyerang kembali. Dia melompat dan berputar, melemparkan cakram dengan presisi tinggi ke arah mata kelabang. Salah satu dari kelabang berhasil dihantam dan jatuh terkapar. Xue Zhan memenggal kepalanya hingga terputus.


Meski tiga Kelabang telah mati, sisanya tidak kehilangan nyali dan terus menyerang Xue Zhan. Xue Zhan melompat dan memutar pedangnya di udara, memotong kepala satu kelabang di dekatnya. Namun, dua kelabang yang lain mengelilinginya dan mulai menyerang dengan cepat. Xue Zhan melompat dan menghindar dari setiap serangan, tetapi mereka terus mengejarnya.


Terdesak, Xue Zhan mengambil risiko dan menebas dengan kuat ke arah kelabang yang lebih besar. Serangannya berhasil dan kepala kelabang tersebut terputus. Satu-satunya kelabang yang tersisa terkejut dan mundur beberapa langkah. Namun, Xue Zhan tidak membuang kesempatan dan dengan cepat mengakhiri hidupnya dengan satu gerakan Tarian Pedang Angin yang seketika memotong kepalanya seperti daun.


Hua Lian terkejut melihat Xue Zhan mampu menghadapi enam siluman kelabang ungu sekaligus. Dia tidak percaya melihat akhir pertarungan dan semakin yakin bahwa pemuda itu menyembunyikan sesuatu tentang identitasnya. Dia pasti adalah pendekar besar yang sedang menutup-nutupi identitasnya selama ini.


Usai itu mereka kembali berkumpul.


Xue Zhan menyadari bahwa kelabang ungu yang mereka hadapi merupakan siluman yang memang memiliki kemampuan bangkit dari kematian. Dia mengingat kembali pengalamannya bertarung melawan seorang mayat hidup di Jurang Penyesalan, yang juga memiliki kemampuan serupa.


"Sepertinya ini bukan pertama kalinya kita bertarung melawan makhluk seperti ini," ucap Xue Zhan sedikit kelelahan. "Aku pernah menghadapi seorang mayat hidup yang bangkit dari kematian di Jurang Penyesalan dan aura yang mereka pancarkan hampir sama."


"Mayat hidup?" tanya Xiang Yi Bai dengan heran.


"Benar Guru, mereka adalah makhluk yang mati namun bangkit kembali dari kematian. Sama seperti kelabang ungu ini," jelas Xue Zhan.


"Hmm, aku belum pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya," timbrung Hua Lian.


"Mungkin ini adalah bagian dari rahasia di balik Kota Mati ini," Xue Zhan mewaspadai sekitarnya, tidak ada tempat yang aman di kota itu. "Kita harus berhati-hati dan tetap waspada."


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju Hutan Bambu Kuning untuk menemui Yue Linghe, sambil tetap berusaha menghindari pertarungan dengan makhluk-makhluk yang mungkin akan menghalangi mereka.

__ADS_1


Semakin dalam mereka masuk, semakin banyak pula Kelabang Ungu yang ditemukan dengan kekuatan spiritual yang lebih dahsyat. Xue Zhan tidak bisa membiarkan Hua Lian bertarung melawan siluman ini karena mereka memiliki racun mematikan dan laki-laki itu tidak terbiasa bertarung dengan siluman. Xue Zhan sendiri sudah cukup terbiasa selama tinggal di Jurang Penyesalan jadi hal ini bukan masalah besar baginya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa Kelabang itu semakin kuat setiap waktunya, Xue Zhan khawatir dia akan kehabisan tenaga sebelum bertemu dengan Yue Linghe.


__ADS_2