
Bayangan batu raksasa menutupi satu tempat tersebut lalu dalam sekejap mata kehancuran meretakkan tanah puluhan meter disertai kepulan debu tebal di tengah derasnya hujan, lebih mirip seperti butiran bebatuan tajam yang beterbangan untuk sesaat. Puluhan siluman mati tanpa pandang bulu, bercak-bercak merah darah terciprat di seluruh dinding batu dan tanah.
Xue Zhan berlindung di dalam sebuah celah dinding yang hanya muat untuk manusia seukuran tubuhnya, tubuhnya terciprat oleh darah siluman itu. Menyebabkan rasa gatal membakar yang menjalar hingga ke tulang-tulangnya, nasib sial masih belum puas mengerjainya. Saat Xue Zhan keluar dari celah dinding dia malah terpeleset oleh lendir dan tergelepar di atas genangan darah.
Karena begitu kesal pemuda itu mengeja nama kebun binatang.
"Siluman-siluman sialan! Maju kalian sini, membuatku naik darah saja!!" Dia menendang batu, tapi itu malah membuatnya melompat kesakitan.
"Sial terus, sial terus. Sialan!" teriaknya sekali lagi, menoleh ke belakang ke arah para siluman yang telah mati dengan muka kesal. Baru beberapa ratus meter ditinggalkan Xiang Yi Bai dia sudah menemui banyak kesulitan, bagaimana untuk ke depannya nanti?
Pemuda itu mau tak mau maju ke depan mencari tempat berlindung yang aman, tapi bukannya selamat Xue Zhan justru kembali terjun ke dalam lubang para pemangsa. Kali ini ular betulan, mereka sejenis ular piton tapi memiliki corak aneh dan warna yang tidak wajar. Bukan hanya warna kuning, hijau, atau merah, bahkan ada yang memiliki corak ungu. Makhluk-makhluk ganjil itu membuatnya semakin takut.
Sepertinya ular-ular itu sedang memasuki masa musim kawin, di samping jalan yang harus dilaluinya terdapat sebuah lubang lumayan besar yang dipenuhi oleh siluman ular yang sangat besar. Mau dipikir bagaimana pun dia tidak akan bisa melewati gelimpangan ular piton itu tanpa tergigit, kecuali jika Xue Zhan memiliki sayap untuk terbang.
Musim hujan sekarang ini adalah musim kawinnya para ular, setahunya di masa-masa seperti ini ular akan jauh lebih agresif dan sensitif sehingga bau apa pun akan cepat dibauinya. Xue Zhan mundur perlahan, salah satu ular mengendus curiga dan mengarahkan hidungnya ke arah Xue Zhan dari kejauhan.
Sontak Xue Zhan mencari tempat bersembunyi dan sialnya tidak ada satu pun tempat aman di sekitar. Jika salah satu ular itu berjalan ke arahnya sudah dipastikan dia akan langsung dikejar-kejar seperti dikejar setan. Xue Zhan cukup beruntung karena darah milik siluman sebelumnya sedikit menutupi bau tubuhnya. Siluman itu menghiraukan bau tadi.
Kandang ular itu terlihat mengerikan kalau dilihat lama-lama, tubuh panjang besar di dalamnya menggeliat dan saling melilit. Diam-diam dia mengintip dan matanya langsung bertemu dengan mata siluman yang menghadap ke arahnya.
__ADS_1
Xue Zhan menarik kepalanya dan merapatkan tubuh ke dinding jurang, jantungnya berdetak cepat, pelipisnya mengeluarkan keringat dingin.
Yang tadi itu berbeda dari siluman ular lain, dia memiliki semacam mahkota di kepalanya. Kemungkinan adalah Ratu Ular di tempat tersebut, instingnya tajam dan indera penciumannya jauh lebih kuat.
Kaki Xue Zhan mulai membeku ketika suara merayap mulai terdengar disertai desisan samar, aura yang begitu hebat dari siluman itu terasa menekan, tak salah lagi, Ratu Ular menyadari kehadirannya dan langsung mencarinya.
Xue Zhan memejamkan mata, melihat sekitar dan tak menemukan sedikit pun celah untuk dimasukinya. Lagipula itu adalah ide yang buruk, bersembunyi di dalam lubang hanya akan membuatnya mati bukannya selamat. Jika siluman itu melihatnya terperangkap dalam celah kecil Xue Zhan tak memiliki kesempatan untuk lari menyelamatkan diri. Mereka bisa langsung menghancurkan dinding jika mau.
Selain bersembunyi Xue Zhan tak memikirkan ide lain untuk selamat, bertarung satu lawan tiga puluh siluman sekaligus mana mungkin, dia bukan sejenis pendekar tak terkalahkan dengan kekuatan yang menggetarkan inti bumi. Satu-satunya harapan adalah memutar otaknya yang katanya hanya sebesar biji padi itu.
Desis berbisa terdengar kian tajam, hanya beberapa jengkal lagi Ratu Ular mencapainya.
Di sisi lain para siluman ular melihat ratu mereka bergerak ke sisi lain dan mulai berhenti dengan acara mereka. Satu ular mengikuti dan terus disusul yang lainnya, bau manusia tercium ketika angin hujan datang ke arah mereka membawa rasa bau daging yang menggiurkan. Tubuh-tubuh ular itu mulai beringas, insting binatang mereka membuat ular tersebut saling menyerang satu sama lain untuk memperebutkan mangsa.
Dia langsung memajukan moncongnya menyerang sesuatu di depannya.
Segerombolan ular di belakangnya menyalip dan mulai mengikuti ratu mereka hingga puluhan siluman itu terdiam.
Bau manusia itu berasal dari tubuh ular kecil yang sudah mati dan ditancapkan di dinding menggunakan sebuah pisau.
__ADS_1
Xue Zhan menahan napas tegang, di bawahnya para siluman itu berdesis dan saling melukai karena amarah. Ratu Ular masih tetap di tempatnya dan terlihat akan melihat ke atas. Xue Zhan tidak mau keberadaannya diketahui untuk kedua kali dan langsung kembali bersandar ke dinding.
Mata Ratu Ular menatap lekat-lekat pada daun menjalar di dinding jurang, ada seberkas bercak darah di sana. Tapi dia mengacuhkan dan langsung kembali ke tempatnya semula.
Saat itu baru Xue Zhan bisa menarik napas lega, dia hampir saja ketahuan. Xue Zhan mengakali para siluman itu dengan mengecohkan mereka. Dia menemukan satu ular yang hampir menyatoknya saat bersembunyi dan langsung membunuh siluman tersebut. Dengan menyayat telapak tangannya, Xue Zhan membuat ular kecil itu seakan-akan sumber bau yang mereka cari.
Sebaliknya Xue Zhan menyembunyikan bau tubuhnya dengan membaluri tubuhnya menggunakan darah ular muda walaupun yakin dia akan mendapatkan masalah di kulitnya habis ini. Tidak ada pilihan lain. Setidaknya sekarang Xue Zhan aman.
Xue Zhan tak bisa mengatakan dirinya aman sekarang ini, perutnya mulai kelaparan meskipun Xue Zhan bisa menahan lapar tapi dia tak menjamin staminanya cukup untuk bertahan hidup di rimba ini. Setelah racun dari siluman ular jadi-jadian sebelumnya, Xue Zhan harus menggunakan kekuatannya untuk memulihkan tubuh dan menetralisir racun. Itu memakan cukup banyak tenaga dalam.
Xue Zhan harus mencari makan untuk membantu tenaganya kembali. Dia mengintip ke jalan setelah kandang para ular itu dan menemukan beberapa pohon buah-buahan. Ada juga beberapa batang pohon yang bisa diciptakannya menjadi tombak, sebagai gagang kapak, dan untuk peralatan tajam lainnya untuk bertahan hidup.
Pertama-tama Xue Zhan harus menghadapi para siluman ini, tentunya tanpa berurusan secara fisik dengan mereka. Bisa-bisa langsung menjadi manusia gepeng dia.
"Bagaimana cara mengalahkan para ular ini, aku tidak punya perlengkapan lagi. Sial, gara-gara serangga kecil pencuri itu. Guru sudah menyiapkan senjata peledak dan perlengkapan tajam lainnya untuk menghadapi mereka tapi aku malah menyia-nyiakannya."
Menyesal pun percuma. Xiang Yi Bai sudah mengatakan padanya untuk jangan kembali Sebelum menguasai tiga gerakan yang dia ajari. Xue Zhan tidak punya pilihan lain.
"Serangga sialan itu ... Aku belum memberinya pelajaran, menyebalkan sekali."
__ADS_1
Saat sedang menggumam kesal mukanya tiba-tiba berubah cerah, dia menjentikkan jari dengan kedua sudut bibir terangkat.
"Benar juga!"