
Waktu berlalu begitu cepat. Musim dingin berganti musim semi, musim panas, musim gugur lalu kembali lagi ke musim dingin di penghujung tahun. Sungai di Jurang Penyesalan membeku, terlihat ikan di dalamnya berhenti bergerak akibat air yang berubah menjadi es. Pantulan seekor burung merah emas melintas di atasnya.
Di tempat tersebut hanya ada cakrawala putih sejauh mata memandang. Dinding jurang dipenuhi bongkahan es, cuaca ekstrem melanda selama dua bulan terakhir di tempat baru. Terkadang badai datang membawa hawa sejuk mematikan yang bahkan dapat membunuh seekor siluman dalam keadaan berdiri.
Di sana adalah bagian barat Jurang Penyesalan yang jarang ditinggali oleh siluman dikarenakan suhu dingin yang sulit ditoleransi. Terdapat banyak mayat siluman yang telah mati bertahun-tahun namun masih utuh membeku di dalam es. Di tempat itu tidak ada yang namanya musim gugur, semi ataupun musim panas.
Kabut putih mengepul tebal saat timbunan salju dari dinding berjatuhan. Butiran salju turun perlahan, menyelimuti batu dan pohon tak berdaun. Udara dingin terasa di seluruh tubuh, tapi bagi sesosok pemuda yang berdiri di atas batu tinggi curam suhu itu tak berarti.
Seseorang dengan pakaian seputih salju berjalan pelan sembari membawa seekor kelinci dari hutan untuk dimasak.
Jalan setapak itu kini memutih, tertutup selimut musim dingin. Sama halnya dengan udara yang menggugurkan daun pepohonan. Dia pergi bersama Fenghuang untuk berburu makanan yang hanya tersisa sangat sedikit. Nyaris tidak ada binatang hidup di tempat ini sehingga membutuhkan waktu satu hari mencari.
Xiang Yi Bai menengadah melihat seorang pemuda di atas batu tinggi.
Xue Zhan menarik kedua tangan di atas dada untuk menarik napas sedalam mungkin. Sambil memejamkan mata dia kembali mempraktekkan satu gerakan terakhir yang harus dikuasainya sebelum malam turun. Tangan kiri Xue Zhan menyentuh lantai batu sementara kakinya berputar di atas begitu cepat. Ketika mendarat dengan kedua kaki, Xue Zhan membuka mata, asap tipis keluar dari mulutnya, lalu terdengar suaranya menggema.
"Tendangan Pencakar Langit!"
Xue Zhan memusatkan kekuatan pada telapak kaki masih dalam posisi sebelumnya. Dia berusaha berkonsentrasi lebih banyak hingga terdengar omelan dari bawah.
"Kau terlalu bersemangat lagi, bocah busuk. Kalau kau terus melakukannya batu itu akan retak-"
Suara raksasa terdengar, akar-akar retakan menyebar di bawah batu setinggi lima puluh meter yang Xue Zhan naiki. Sebelum selesai menunjukkan gerakan terakhir tempatnya berpijak retak dan Xue Zhan jatuh dari ketinggian.
__ADS_1
"Lagi." Xiang Yi Bai menyambung kalimatnya tidak peduli, percuma saja memberitahu murid nakalnya itu, dia punya otak juga hanya dipakai untuk berpikir waktu makan, waktu tidur dan waktu membangkang omongannya.
Xue Zhan berteriak histeris, "Guru!"
"Heh, kita lihat. Mana lebih dulu mencium tanah, jidat atau tulang ekornya." Xiang Yi Bai bergumam seraya menyaksikan Xue Zhan tanpa rasa bersalah. Fenghuang menimbrungi, "Pasti pantatnya duluan."
Sayangnya tidak ada tebakan yang benar. Bai Ye keluar dari dalam air es yang membeku dan menyelamatkan Xue Zhan. Baik Xiang Yi Bai maupun Fenghuang terlihat kecewa.
Xiang Yi Bai mengalihkan perhatian. "Waktunya makan, cepat, cepat, cepat!" Dia memanggil Xue Zhan seperti seorang ibu memanggil anaknya. Xue Zhan memberenggut kesal. "Sudah tidak menolong, untung ada Bai Ye," gerutunya mengelus-elus kepala Bai Ye. Naga putih itu jauh seribu kali lebih baik daripada majikannya.
Xue Zhan tak habis pikir Xiang Yi Bai bisa kompak dengan Fenghuang, sama-sama suka menyakiti hati kecilnya.
"Bagaimana latihanmu?" Bukannya Xiang Yi Bai, malah Fenghuang yang bertanya tidak sabaran. Xue Zhan membuang napas sejenak.
Tentu saja ini semua juga berkat Xiang Yi Bai. Gurunya itu selalu mengajarkan dengan cara yang Xue Zhan pahami, hampir tak pernah tidur saat Xue Zhan masih berlatih. Tidak pernah jenuh menjawab pertanyaannya. Kedua sosok tersebut memang terkadang sangat menyebalkan, tapi mereka berarti baginya.
Xue Zhan tak ingin mengecewakan keduanya.
"Malam ini juga aku akan menguasai gerakan ke seratus. Jangan khawatir Fenghuang. Setelah ini Guru akan membantumu mematahkan Segel Langit dan kau bisa melihat dunia atas secepatnya," jawabnya sembari tersenyum. Entah mengapa phoenix itu selalu bersemangat ketika membahas tentang dunia manusia. Xiang Yi Bai dan Xue Zhan tak pernah mencari tahu soal itu.
Xue Zhan yang hendak memasukkan daging bakar ke dalam mulut seketika terbatuk. Dia memuntahkan darah yang sangat banyak. Sontak membuat Fenghuang kaget bukan buatan.
"Oh, oh, tidak! Sudah mau mati! Hei, bagaimana ini, kenapa dia batuk-batuk berdarah?! Aku akan segera mencari obat-"
__ADS_1
Fenghuang menjadi panik, memang dalam keadaan genting siluman itu bahkan lebih berlebihan daripada Xue Zhan. Xiang Yi Bai menenangkan. "Dia hanya kelelahan. Satu tahun berlatih mati-matian, berikan dia ruang untuk bernapas."
"Mana mungkin, kau mau membiarkannya mati? Zhan sialan, berhenti batuk!"
"Uhuk-uhuk!" Xue Zhan batuk tepat di depan wajah Fenghuang, cipratan darah membasahi bulu cantiknya. Sontak Phoenix itu mengamuk dan menyiksa Xue Zhan dengan paruhnya.
"Rasakan ini! Kau Zhan sialan!"
"Aaa Guru!" Xue Zhan menepi sambil memegangi bahunya kesakitan, dia masih terbatuk-batuk tanpa henti.
"Fenghuang," sebut Xiang Yi Bai, phoenix itu lantas berhenti, tatap matanya masih memendam amarah.
Xiang Yi Bai bergerak ke belakang Xue Zhan dan menempelkan kedua tangan di punggung anak itu. Aliran kekuatan muncul di kedua telapak tangannya, lelaki itu menyembuhkan luka dalam Xue Zhan.
Untuk sesaat udara dingin mencekik berubah menjadi udara hangat yang begitu familiar, seperti saat pagi datang dan matahari menghangatkan seluruh tubuhnya. Xue Zhan memejamkan mata, merasakan tubuhnya mulai membaik.
"Terima kasih Guru, terima kasih Fenghuang. Kalian selalu membantuku. Terkadang aku merasa senang, tapi juga kadang merasa tidak pantas. Aku takut ... Suatu saat nanti, bencana akan datang. Karena seperti sebelumnya, aku selalu membawa kesialan kepada orang yang menerima keberadaanku." Ucapan yang secara tiba-tiba diucapkannya membuat Xiang Yi Bai terdiam beberapa detik.
Fenghuang yang biasanya paling usil tak mengeluarkan respon seperti biasanya.
"Di dunia atas aku selalu dikucilkan, aku dibenci semua orang, mereka selalu mencari cara untuk membunuhku. Aku baru menyadari apa yang membuat mereka membenciku setelah hampir mati." Dia memegang dadanya, matanya menyimpan kesedihan.
"Iblis Dosa di dalam diriku ... Dia adalah alasan mengapa aku dibenci. Saat aku tahu ada orang yang menerimaku, aku selalu hampir menangis. Aku tidak pernah diperlakukan baik, karena itu aku rela melakukan apa pun untuk orang-orang yang mengakuiku. Termasuk Guru dan Fenghuang."
__ADS_1
**