
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menderu di langit. Matahari terhalang oleh awan yang menggumpal. Di tengah awan itu, cahaya yang begitu terang yang melebihi matahari tiba-tiba muncul dari dalam.
Sebuah ledakan kekuatan cahaya yang dahsyat meluncur ke atas melalui lapisan langit. Cahaya tersebut menembus awan, membelah mereka dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
Beberapa detik setelahnya seperti kilat yang melintas, Ming Dao meluncur maju dengan kecepatan yang luar biasa. Dia memanfaatkan kekuatan cahaya yang dimilikinya untuk mengelilingi lawannya dengan serangan kilat yang cepat. Dalam sekejap serangan-serangannya menyerbu pendekar topeng rubah dengan kekuatan yang tak terbendung.
Namun, pendekar topeng rubah dengan cekatan mampu menghindari beberapa serangan tersebut melontarkan serangan balasan yang tajam.
Pedang keduanya bertubrukan dengan keras, menghasilkan dentingan logam yang memenuhi udara. Suara tersebut menggema di medan pertempuran, kekuatan keduanya saling bersaing satu sama lain. Ming Dao menarik pedangnya, mereka saling adu tangkis dan serang. Setiap gerakan musuh direspons cepat tanpa celah.
Serangan-serangan pedang itu saling bertabrakan dengan kekuatan yang menggetarkan permukaan pasir. Dentingan pedang mereka menghasilkan percikan bunga api di udara.
Saat keduanya kembali bertahan dengan pedang yang bertubrukan, tiba-tiba Ming Dao membuka telapak tangannya tepat di depan wajah si topeng rubah dan dari tangannya keluar kekuatan cahaya yang menembak kuat ke tubuh lawan.
Dalam sekejap dari telapak tangan Ming Dao terpancar kekuatan cahaya yang begitu kuat memancar dengan kecepatan tinggi. Cahaya yang dipancarkannya langsung mengenai ke tubuh lawan dengan kekuatan yang dahsyat.
Pendekar topeng rubah terkejut dan terpukul oleh serangan tiba-tiba ini. Tubuhnya terlempar ke belakang, terkena dampak besar dari serangan cahaya yang begitu kuat itu. Ming Dao tak menyia-nyiakan waktunya untuk berdiam dan langsung menarik pedang untuk mengakhiri pertarungan tersebut.
Namun ketika Ming Dao melancarkan serangan terakhirnya dengan kekuatan cahaya, pendekar topeng rubah menghindar dan dengan cepat membalas dengan serangan api yang membara membuat tangannya terbakar dan terdorong mundur.
Dia melancarkan serangan-serangan beruntun, menggunakan kemampuan api murni yang dimilikinya untuk menciptakan serangan-senjata seperti panah api yang menghujani Ming Dao. Setiap serangan itu menghasilkan ledakan panas dan membawa kemalangan yang nyaris tak terhindarkan bagi Ming Dao.
Ming Dao berusaha dengan sekuat tenaga untuk melawan serangan tersebut. Dia menggunakan kekuatan cahaya yang tersisa untuk membentuk perisai pelindung, mencoba untuk mengurangi dampak serangan api tersebut. Namun, api itu terus menyerangnya, mendorongnya semakin terpojok.
Serangan api yang membara terus menghantamnya, menyebabkan Ming Dao terus mundur dan semakin terdesak.
Pendekar topeng rubah mampu mengendalikan medan pertempuran dengan kekuatan api murni yang dimilikinya. Kekuatan tersebut membuatnya memiliki keunggulan yang signifikan dan menghimpit Ming Dao ke sudut yang sulit untuk melarikan diri.
Dalam upaya terakhirnya untuk melepaskan diri dari serangan pendekar topeng rubah, Ming Dao memusatkan seluruh energinya dan melompat ke belakang. Namun, serangan api itu terus mengejar dan menghantamnya dengan kekuatan yang mengerikan.
Meskipun berhasil menghindari beberapa serangan, Ming Dao tidak bisa menghindar dari serangan terakhir pendekar topeng rubah yang menyebabkan luka-luka serius. Dia merasakan nyeri yang menusuk dan kehilangan kekuatan dalam serangan yang mematikan ini. Ming Dao terjatuh ke tanah, terengah-engah, dan menghadapi kekalahan yang nyaris tak terelakkan.
Dalam pertarungan yang terus berlanjut, Ming Dao memanfaatkan waktu yang ia miliki untuk memulihkan diri. Dia mengumpulkan sisa kekuatannya dan memanggil energi cahaya yang dalam, memancarkannya dari tubuhnya.
Topeng rubah terkejut melihat kekuatan cahaya yang tak terkendali yang melingkupi Ming Dao. Ia menyadari bahwa pertarungan tidak akan mudah, bahkan lebih sulit dari sebelumnya.
"Hanya kau yang bisa membuatku terdesak hingga seperti ini. Jika ini adalah pertarungan terakhirku, aku tak akan membiarkan kau menang dengan mudah," geramnya. Kedua pendekar saling berhadapan dengan Ming Dao yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Mereka saling mengukur satu sama lain, menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangan. Kedua pedang mereka bertemu dalam detik-detik menegangkan.
Pukulan dan tendangan saling bergantian, dengan kekuatan dan kecepatan yang mengagumkan. Ming Dao menggabungkan keahlian pedangnya dengan kekuatan cahaya, menciptakan serangan yang mematikan dan sulit untuk dihindari. Topeng rubah menjawab dengan kekuatan api murni yang dimilikinya, menciptakan pertarungan yang membara dan intens.
Kobaran api muncul dari serangan-serangan mereka, menyala dan membara dengan intensitas yang memukau. Setiap serangan yang bertabrakan menciptakan ledakan api yang melingkupi medan pertempuran.
Debu-debu cahaya melayang di udara, menciptakan semburat warna yang indah dan mempesona. Debu-debu tersebut berasal dari energi cahaya yang dilepaskan oleh Ming Dao dan kekuatan api murni yang dimiliki oleh topeng rubah.
Kilatan cahaya yang cepat dan memukau menyertai setiap gerakan dan serangan mereka.
__ADS_1
Ming Dao bertarung bersungguh-sungguh kali ini dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Sementara itu di sisi lain lawannya terlihat tak mau membiarkan Ming Dao mendapat sedikit pun kesempatan untuk mengungguli.
Teknik Pedang Api Murni itu adalah salah satu jurus pedang di Kekaisaran Diqiu yang telah diakui dan dikagumi banyak orang. Tak mengherankan jika saat ini Xue Zhan terkagum melihat teknik yang telah terasah dengan baik dari Jiazhen Yan.
Dia tidak tahu selama ini Jiazhen Yan berguru dengan siapa setelah meninggalkan Kekaisaran Diqiu. Dari semua hal yang dilupakannya, sahabatnya itu masih mengingat semua gerakan yang diturunkan oleh Ayahnya, Jiazhen Wu.
Tikungan tajam mematikan berbentuk bundaran api mengepung Ming Dao, Xue Zhan yang memperhatikan jalannya pertarungan sengit di antara keduanya bahkan tidak bisa mengikuti kecepatan Jiazhen Yan yang melebihi kecepatan kilat.
Lelaki dengan topeng putih terhenyak, pantulan sinar api terlihat jelas di matanya sebelum jurus mematikan klan Jiazhen mengenainya telak.
"Sebenarnya apa yang Tuanmu pikirkan? Kita sudah sejauh ini dan dia berkhianat?" terdengar suara kesal yang sedikit ditekan. Ming Dao memegang dadanya yang kesakitan. Mengawasi pemuda pemilik pedang dengan nyala api berkobar di depannya.
"Aku hanya menerima perintah."
"Kau lupa hari itu aku, kau dan Tuanmu berbincang selayaknya sahabat lama. Sebegitu mudahnya kita menjadi musuh? Kepala Tuanmu tidak membentur batu besar? Atau mungkin kau yang salah menangkap perintahnya." Dia menoleh ke arah Xue Zhan
"Orang itu juga memiliki Topeng Putih. Dia mungkin adalah musuh yang kau cari."
Jiazhen Yan bergeming seolah tidak terpengaruh dengan perkataan Ming Dao. Tidak lama terdengar bantahan darinya.
"Aku tidak melihat dia memiliki topeng. Tapi dia juga akan mati. Kalaupun aku salah melaksanakan perintah kita hanya kehilangan satu Cahaya."
"Brengsek kau. Persetan dengan Tuanmu. Aku akan memastikan kalian semua hancur, Taring Merah akan menghabisi kalian sampai ke akar-akarnya." Kilat tajam di matanya berubah ganas. Tidak ada lagi cengiran atau pun tawa di wajahnya saat bertarung dengan Xue Zhan.
Dia tersentak kecil ketika angin tipis tiba di hadapannya dan seseorang dengan mudahnya berdiri di depan Ming Dao.
Hawa pekat dan tajam itu sudah tidak manusiawi lagi bagi Ming Dao, dia bergumam. "Sebenarnya sudah berapa banyak nyawa yang kau bunuh?"
Dalam keadaan yang hampir terjepit, Ming Dao menatap tajam ke arah pendekar topeng rubah yang berdiri di depannya, yang dijuluki Pengganti Hukum Langit. Bayangan misterius itu telah menjadi cerita dan desas-desus yang menyebar di seluruh dunia persilatan.
Rumor tentang Pengganti Hukum Langit telah melintasi perbukitan dan lembah, menjadi topik pembicaraan di antara pendekar-pendekar yang takut dan terkejut. Kekuatan dan kekejaman yang dimilikinya menjadi cerita yang menakutkan dan membuat gemetar para penguasa kegelapan. Perguruan yang berani melawannya telah dihancurkan dan para muridnya tak terkecuali. Tubuh-tubuh yang terkapar menjadi bukti kebrutalan dan kekuatan yang dimiliki oleh Pengganti Hukum Langit.
Kasus-kasus mengerikan mengiringi jejaknya di sepanjang perjalanannya. Dikabarkan bahwa dia telah membantai puluhan perguruan, memusnahkan mereka satu per satu tanpa ampun. Darah mengalir seperti sungai di jejak langkahnya, dan nyawa-nyawa tak berdosa telah dicabut dengan dingin oleh pedangnya yang mematikan.
Masyarakat diliputi ketakutan akan kehadirannya. Mereka yang hidup dalam bayang-bayang Pengganti Hukum Langit merasakan ancaman dan tak terhindarkan.
Hati-hati dan kewaspadaan menjadi keharusan bagi siapa pun yang menjadi sasaran berikutnya sosok itu. Tak ada tempat yang aman atau terlindung dari kekejaman dan kehancuran yang dia bawa.
eskipun menyadari reputasi mengerikan Pengganti Hukum Langit, dia tetap akan menghadapi ancaman terbesar yang ada di depannya, terlepas dari segala kasus kekejaman dan pembantaian yang terkait dengan Pengganti Hukum Langit.
Ming Dao tahu bahwa saat ini adalah pertarungan yang tak bisa dihindari. Dia mempersiapkan diri untuk bertarung melawan musuh yang begitu ditakuti itu. Keputusannya sudah bulat, dan dia tidak akan mundur satu langkah pun dalam menghadapi orang itu, biar pun kabar-kabar mengerikan dan kisah-kisah kekejamannya telah membukit.
Putaran kilat putih terlihat saat mata pedang yang mengincar kepala Ming Dao bergerak. Laki-laki itu melompat berputar ke belakang menghindari Jiazhen Yan yang terus-menerus memojokkannya. Serangan dari pemuda itu seolah tak ada hentinya, dia tidak memiliki kesempatan untuk sekedar mengambil napas atau pun melepaskan diri.
Ming Dao akui, dia memang memiliki lebih banyak kekuatan dibandingkan pemuda itu, itu juga karena 'anugerah' yang diberikan oleh Cahaya Pertama kepada Keenam Cahaya termasuk dirinya sehingga membuatnya lebih kuat dari manusia biasa.
Di dalam kelompok yang dipimpin oleh seorang ketua misterius, sekelompok individu yang dipilih secara khusus telah dianugerahi kekuatan yang luar biasa. Anugerah ini berupa kekuatan cahaya yang membuat mereka memiliki kekuatan setara dengan kekuatan langit sendiri.
__ADS_1
Kekuatan yang dimiliki oleh anggota kelompok ini bisa dikatakan melampaui batas wajar. Mereka mampu membelah gunung dengan satu pukulan, menghancurkan lautan dengan mudah, dan menciptakan kekacauan yang dahsyat dengan hanya menggerakkan tangan mereka. Kekuatan mereka tidak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga meliputi elemen dan energi yang tak terkendali.
Salah satu ciri khas dari anggota kelompok ini adalah tato putih yang bersinar. Setiap anggota memiliki tato putih yang terpahat dengan sempurna di beberapa bagian tubuh mereka.
Tato ini memancarkan cahaya suci, menjadi tanda identitas mereka sebagai pemilik kekuatan langit. Tato tersebut adalah lambang dari pengabdian mereka kepada kelompok inti dan ketua mereka.
Namun, kekuatan ini datang dengan konsekuensi yang sangat serius. Ada perjanjian yang tak dapat dilanggar bagi mereka yang telah menerima anugerah ini. Mereka harus tetap berada dalam kelompok dan tidak boleh meninggalkannya. Jika ada yang melanggar perjanjian ini, konsekuensinya sangat mengerikan.
Mereka akan kehilangan enam indera mereka, kekuatan yang mereka peroleh, dan pada akhirnya, mereka akan mengalami kematian yang tragis.
Ketua misterius menjaga keutuhan dan kesetiaan anggota kelompok sehingga kerahasiaan kelompok utama tetap aman. Syarat ini diberlakukan untuk melindungi rahasia dan kekuatan yang mereka miliki. Melalui pengorbanan dan kesetiaan, anggota kelompok menjadi bagian yang kuat dan tak tergoyahkan.
Inilah alasan mengapa anggota kelompok ini bekerja sama dengan begitu erat. Mereka saling melengkapi dan mendukung satu sama lain, tahu bahwa kekuatan dan nasib mereka terikat bersama. Dalam pertempuran dan perjalanan mereka, mereka bergantung pada kekuatan langit yang mereka miliki dan kesetiaan yang ditanamkan oleh ketua mereka.
Hanya saja meskipun telah memiliki kekuatan anugerah, sejak awal lawannya ini sudah memiliki semua aspek yang dimiliki pendekar dan setiap sisinya unggul. Caranya bertarung, insting, gerakan, teknik, kekuatan dan tenaga dalamnya.
Pemuda itu adalah manusia yang telah membunuh ratusan ribu manusia, melihat dia masih hidup saja seharusnya sudah hal yang mengejutkan. Banyak orang yang mengincar kepalanya namun tak satupun berhasil mengalahkannya. Dan itu sudah menjelaskan mengapa Ming Dao kewalahan menghadapi monster api tersebut.
Dengan gerakan tangan yang gesit, musuh menciptakan semburan api besar yang muncul tepat di depan Ming Dao.
Ming Dao mempersiapkan diri dan melindungi dirinya dengan perisai cahaya yang dia ciptakan. Perisai tersebut mampu memblokir sebagian besar serangan, namun tekanan dan kekuatan semburan api yang kuat membuat perisai tersebut terguncang. Ming Dao berusaha bertahan dengan sekuat tenaga, menghadapi serangan-serangan yang terus berdatangan.
Suasana menjadi tegang, terikat dalam ketegangan yang diciptakan oleh serangan dan pertahanan yang berkejaran. Kedua belah pihak saling berhadapan dengan sengit, mencari celah dan kelemahan lawan. Di tengah kekacauan tersebut, Ming Dao berjuang untuk mempertahankan dirinya dan mencari peluang untuk melawan balik.
Ming Dao mencoba menggunakan setiap keahliannya dan memanfaatkan perisai cahaya yang tersisa sebaik mungkin, berusaha mengimbangi kekuatan dan serangan pendekar topeng rubah. Momentum bergulir dari satu serangan ke serangan berikutnya.
Dalam sekejap, Ming Dao berhasil memperlebar jarak antara dirinya dan serangan susulan pendekar topeng rubah. Dia dengan cepat mengambil langkah mundur sambil mengumpulkan energi dalam dirinya. Cahaya yang terang memancar dari telapak tangannya, berputar dan berpadu menjadi sepuluh bola cahaya yang mengelilingi dirinya, membentuk lingkaran yang seukuran tubuhnya.
Dalam seketika, suasana di sekitar mereka berubah. Pasir di Gurun Pasir bergelombang akibat angin yang bertiup kencang. Cakrawala memerah dengan sinar matahari terbenam.
Ming Dao melangkah maju dengan mantap, bola-bola cahaya yang mengelilinginya berputar semakin cepat. Dalam gerakan yang dengan indah, dia melepaskan bola cahaya satu per satu, menuju pendekar topeng rubah. Ledakan terdengar memecah keheningan gurun, pasir terhempas dan terangkat di udara oleh kekuatan peledakan yang dahsyat.
Pendekar topeng rubah menyadari serangan itu. Dia berusaha menghindar dan melindungi dirinya, namun ledakan bola cahaya mengikutinya tanpa ampun. Cahaya menyilaukan memenuhi langit, menciptakan bayangan yang tajam di tengah deburan pasir dan angin yang berputar.
Ming Dao memanfaatkan kekacauan ini. Dengan cepat, dia meluncur maju, mengayunkan pedangnya.
Serangan-serangannya tajam, mengarahkan setiap gerakan dengan tujuan untuk menghabisi pendekar topeng rubah.
Pasir berterbangan mengikuti arus angin bersama api yang terus membara, dan ledakan bola cahaya terus menggetarkan bumi.
Di tengah kekacauan, pendekar topeng rubah berusaha bertahan. Namun, tekanan dari serangan-serangan yang terus menerus dan serangan balasan yang mematikan membuatnya semakin terdesak. Lawannya tak mau membiarkannya maju sedikit saja.
Ming Dao melihat kesempatan, dia melancarkan serangan pamungkas yang ditujukan langsung ke titik lemah pendekar topeng rubah.
Dalam sekejap, serangan itu menghantam sasaran. Tubuh pendekar topeng rubah terhempas ke belakang, terdampar di pasir panas gurun.
Namun saat laki-laki itu menyadari ternyata dia hanya mengenai gagang pedang pendekar itu. Dia mengumpat berulang kali, lawannya tak mendapatkan luka yang berarti.
__ADS_1