Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 70 - Manusia Mati yang Dibangkitkan


__ADS_3

Bunyi hantaman terdengar cukup nyaring di halaman luas Menara Giok Hantu disambut oleh kedatangan lima belas orang bawahan kelompok tersebut, mereka mengenakan penutup kain hitam di wajah dan jubah senada serta menggenggam pedang siap bertarung.


Habis sudah. Xue Zhan tak pernah menyangka akan berada di situasi tersulit seperti ini. Selama menjalankan misi sebagai pendekar menengah semua misi yang diterimanya masih dalam batas kemampuannya, tapi kali ini dia tidak yakin apakah mampu mengatasi Jiazhen Yan, Hantu Penyair dan lima belas musuh bersamaan.


Langkahnya sedikit mundur.


'Jika hari ini aku masih ketakutan menghadapi musuh yang tidak ada tandingannya dengan Taring Merah, lalu apa gunanya aku berlatih?'


Hatinya tidak bisa terima. Tapi keadaan ini begitu sulit baginya. Dengan posisi setengah berjongkok memegang pedang di pinggangnya Xue Zhan memusatkan perhatian ke depan di mana lima belas bawahan Menara Giok Hantu serta Jiazhen Yan menyerang kompak ke arahnya.


'Tenanglah, jangan pikir apa pun dan selesaikan ini secepatnya. Xiao Rong dan Xian Shen mungkin sedang ada dalam bahaya sekarang,' batinnya lagi, dia sudah merasakan ada hawa pembunuh yang begitu besar berasal dari dalam bangunan Menara Giok Hantu.


"Majulah dan hadapi aku. Sogok malaikat pencabut nyawa jika mau membunuhku!" teriaknya lantang, dalam seketika pertarungan terjadi begitu sengit.


Dengan sebilah pedang di tangannya Xue Zhan menebaskan miring namun musuh lebih cepat menghindar dari serangannya, hunusan pedang masuk dari belakang leher tempat titik butanya. Pemuda itu memutar langkah dan menendang dada orang tersebut hingga dia terdorong menumbangkan tiga pendekar lain.


Masih dalam keadaan dikeroyok, Jiazhen Yan datang dan membuat tanah tempat mereka berdiri dipenuhi oleh api. Dalam sekejap mata tempat itu terbakar bersama pohon-pohonnya.


Jiazhen Yan menelaah teliti, tak melihat lawannya masuk ke dalam perangkap api tersebut dan justru menyadari seseorang melompat tinggi di udara dan naik di antara dahan-dahan pepohonan.


Xue Zhan melompat lalu memutar tubuhnya menghindari tebasan yang nyaris mengenai kakinya, musuh mengikuti hingga ke atas pohon. Itu tentu sangat merepotkan. Namun selama ini Xue Zhan telah menghabiskan banyak waktu latihan di hutan belantara dan menguasai situasi bertarung di dalamnya.


Pedang putih di tangan Xue Zhan memotong dahan pohon yang cukup tebal, dia turun dari pohon tersebut dan menendang dahan tadi ke arah musuh. Menumbangkan dua orang telak, tanpa disangka dari belakang Jiazhen Yan muncul bersiap menggunakan jurus yang masih disempurnakan olehnya selama dua tahun ini.

__ADS_1


Xue Zhan begitu ingat dengan jurus itu, Pedang Membelah Matahari. Jurus yang membuat bilah pedang miliknya akan melebihi suhu terpanas api mana pun.


Jiazhen Yan tak pernah memperlihatkan jurus itu secara langsung dan saat melihatnya kini Xue Zhan semakin yakin bahwa kawannya itu memiliki beribu jurus berbahaya yang dapat membinasakan siapa pun kalau dia marah.


Besi mendidih itu memintas di depan dada Xue Zhan, sedikit lengan jubahnya terpotong kemudian jatuh terbakar di tanah. Xue Zhan berhenti melihat potongan bajunya dan kembali pada pertarungan. Jiazhen Yan tak mau memberikannya ruang untuk menarik napas dan masih menyerang.


"Hei sadarlah!" bentaknya.


Percuma saja, dari jarak lumayan jauh Hantu Penyair masih memainkan kecapinya dan mengendalikan temannya itu. Xue Zhan tak bisa berbuat banyak, pedang Jiazhen Yan bergerak di atas kepalanya untuk memenggal.


Tangannya seketika terangkat, menahan pedang Jiazhen Yan dengan menyilangkan pedangnya sendiri di atas kepala. Xue Zhan mundur melepaskan pedangnya dari pedang musuh cepat. Sesaat membuat Jiazhen Yan goyah.


Xue Zhan kembali menghantam pedang dari bawah lebih keras lagi, kali ini Jiazhen Yan termundur beberapa langkah.


"Teman kita ada dalam bahaya! Kita harus menyelamatkan mereka!"


Hantu Penyair muncul, dia melayang dari atas pepohonan dan turun perlahan menapakkan kakinya. Langkah anggun itu diiringi suara petikan yang begitu lembut. Xue Zhan menatap ke arah Hantu Penyair, menggemerutukkan giginya.


"Kau tidak akan pernah bisa mengalahkannya sebelum bisa mengenaiku. Tapi untuk mengenaiku kau harus menyingkirkan sahabatmu terlebih dahulu. Bukankah itu sia-sia?"


Dia memiringkan kepalanya dengan tatapan prihatin. "Kau hanya akan berakhir menjadi mayat seperti mereka semua."


Xue Zhan menatap ke para pendekar dengan wajah serba tertutup itu, satu yang sudah tertikam hingga mati pun masih sanggup berdiri dan bertarung seperti semula. Dari awal Xue Zhan menyadari ada yang salah dari mereka semua tapi tak menyangka manusia-manusia itu adalah orang mati yang dibangkitkan.

__ADS_1


Dia sempat mendengar berita tentang salah satu buku yang berisi tentang cara membangkitkan manusia yang telah mati, buku terlarang itu seharusnya telah dilenyapkan tapi beberapa rumor beredar mengatakan bahwa buku itu tak sepenuhnya dilenyapkan.


Menyadari situasinya sekarang, Xue Zhan tahu bahwa semua ini tak akan ada ujungnya. Xue Zhan mengeratkan pegangannya pada pedang, menelan ludah dan merasa buntu. Napasnya terengah-engah dan sisa tenaga dalamnya tak banyak lagi. Tidak akan cukup untuk menghadapi mereka semua sendirian.


Senyum penuh kemenangan di wajah Hantu Penyair adalah pukulan kekalahan baginya. Xue Zhan tak mau menerima kekalahan ini, dia maju ingin bertarung lagi tapi pada akhirnya langkahnya tertahan.


Tubuhnya sendiri mendapatkan luka yang lumayan banyak, tetesan darah masih membasahi telapak tangannya yang tadi dia paksakan untuk memegang benang tajam kecapi milik Hantu Penyair. Akan semakin parah jika tidak segera disembuhkan.


Wanita itu memainkan jari lentiknya di rambut, mencari jawaban dengan menatap Xue Zhan yang mulai putus asa. "Aku sudah cukup bermain-main denganmu."


"Penawaran terakhir, mati atau menjadi pelayanku?"


Suara itu melembut, kedua alis Xue Zhan turun tak tahu harus memilih apa. Sama-sama tidak menguntungkan, dia mengeluarkan suara bergetar.


"Jika aku menyerahkan diri apa teman-temanku selamat?"


Putus asa menyelimuti diri pemuda itu sampai Hantu Penyair tergelak kecil.


"Kau bocah tampan yang malang, masih ingin menolong teman-temanmu? Baiklah jika itu permintaanmu, karena kau anak yang baik aku akan melepaskan mereka. Tapi gadis bermarga Wen itu tetap bersama kami."


"Tidak-" Suaranya tertahan, "Kami harus menyelesaikan misi ini. Lebih baik aku mati di dalam perjalanan misi daripada pulang membawa kekalahan."


Xue Zhan hanya punya satu-satunya pilihannya; menyelamatkan teman-temannya. Pengorbanan ini pasti akan membuat Jiazhen Yan mengamuk ketika dia sadarkan diri. Hantu Penyair berpikir sejenak menimbang penawaran dari Xue Zhan.

__ADS_1


"Selamat atau tidaknya gadis itu bergantung padamu. Setelah kami selesai dengannya kami berniat akan membunuhnya. Tapi jika kau ingin menyelamatkan gadis itu, mungkin aku akan sedikit mengasihaninya."


Xue Zhan menunduk. Tidak ada pilihan lagi. Di sisi lain Hantu Penyair tahu bahwa bagaimana pun, jika dia menjadi Xue Zhan dirinya akan mengambil satu-satunya pilihan yang tersisa.


__ADS_2