
Kedua belah pihak terus berdiri dengan tubuh yang mulai kehabisan tenaga dan penuh luka, saling menatap dengan tatapan yang penuh kebencian dan pertentangan.
"Lumayan juga kekuatanmu," puji Chao Mi, dia memiringkan kepalanya dengan mata yang mulai membelalak, diam-diam menahan emosi luar biasa di dalam hatinya. Baru kali ini seseorang berhasil mengenainya dengan begitu fatal, langsung membuat tulang rusuknya hancur beberapa dan bukan hanya itu, pemuda itu memiliki teknik khusus dan mematikan meridiannya sehingga sekarang dia tidak dapat mengeluarkan sebanyak dua puluh persen kekuatannya.
Teknik itu hanya diajarkan di beberapa perguruan ternama. Jurus Tapak Dewa Penghancur sendiri dikatakan telah lama menghilang dari dunia persilatan. Tapi kini Chao Mi tak menyangka akan melihatnya kembali.
Pemuda itu tidak menyahut. Dia mengangkat pedang sejajar di atas kepalanya dan hendak mengakhiri pertarungan.
Bola mata itu menatap Chao Mi dengan tatapan penuh amarah dan tekad untuk mengakhiri hidupnya. Chao Mi tidak mengerti mengapa pemuda itu begitu ingin membunuhnya. Sejak awal dia tidak menginginkan pusaka, melainkan nyawanya.
Lawan mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menyerang. Namun, tiba-tiba, sebuah siluet bercahaya muncul di hadapannya. Laki-laki dengan jubah serba putih muncul dan membawa lari Chao Mi bersamanya.
Sebelum dia pergi, laki-laki tak dikenal itu mengayunkan pedangnya dengan kekuatan yang cukup besar, hingga pemuda misterius itu terdorong mundur beberapa langkah. Tubuhnya berguncang, dan topeng putih yang menutupi wajahnya pun mulai retak dan berjatuhan ke tanah, memperlihatkan wajah aslinya.
Pemuda itu melangkah maju hendak mengejar langkah laki-laki yang membawa Chao Mi, dia mengeratkan tangan kanannya yang masih memegang pedang. Matanya terus menatap tajam ke arah Chao Mi, seakan ingin menghancurkannya dengan tatapannya saja. Chao Mi tersentak, ada kekuatan yang ganas dan tak terkendali dari pemuda itu, membuatnya merinding dan tidak bisa menggerakkan dirinya.
Suara napasnya tersengal-sengal dan jantungnya berdetak kencang.
"Mata itu ... Wajah itu ...Dia adalah Sang Iblis yang kembali dari neraka. Jika dia benar adalah bocah waktu itu ...." Chao Mi membelalak terkejut karena baru tahu siapa musuh yang sejak tadi dihadapinya, tangannya gemetar menatap wajah sosok pemuda itu yang semakin menghilang dari kejauhan.
Dingin malam itu membekuk tubuhnya, angin berbisik pelan ke telinganya.
Wajah pemuda itu tertekuk dalam dengan beribu penyesalan, dia memungut sisa retakan topeng yang berjatuhan di atas daun kuning berguguran. Lalu berjalan ke pintu perguruan yang telah hancur. Mendapati pemandangan di depan matanya yang terasa suram dan menyedihkan, dengan reruntuhan perguruan dan para murid yang tewas tergeletak di sana-sini. Perguruan Naga Emas bertemu dengan kehancurannya malam itu.
Xue Zhan menyesali mengapa dia datang terlambat. Semua orang meregang nyawa.
__ADS_1
Beberapa jam sebelum penyerangan dia sempat mencium bau pertumpahan darah tak jauh dari penginapan dan benar saja seperti kata Zhou Shan, para penjahat sedang berkeliaran untuk mencari barang yang mereka inginkan. Tujuan mereka adalah Perguruan Naga Emas dan mengambil pusaka Permata Giok Putih dari mereka.
Hanya untuk satu pusaka itu, mereka menghabisi ratusan orang tak bersalah. Xue Zhan mencengkram erat serpihan topeng hingga hancur.
"Tidak bisa dibiarkan. Manusia-manusia binatang." Xue Zhan masih mengingat betul wajah Chao Mi, dia adalah Cahaya Kelima dari Taring Merah yang sempat menyerang beberapa tahun lalu di Istana Kekaisaran Diqiu. Cukup sulit mengalahkannya dan Xue Zhan berkali-kali hampir terkena serangan fatal. Dia beruntung Chao Mi sempat lengah dan bisa mengurangi sedikit kekuatannya.
Namun tetap saja di pertarungan itu Xue Zhan belum mampu mengalahkan wanita itu. Dia berbisik geram, "Lain kali kita akan bertarung lagi. Akan kupastikan kau tak akan melihat matahari esok pagi."
Dia berjalan ke dalam perguruan Naga Emas yang telah hancur.
Di waktu yang sama asap putih mulai keluar dari luka di dadanya yang menganga dan menutupinya seperti kabut tipis. Asap tersebut berubah menjadi merah darah dan membara seperti api. Perlahan namun pasti, darah segar yang sebelumnya mengucur keluar dari lukanya mulai berhenti, dan luka besar di dada Xue Zhan mulai menyusut. Setelah beberapa saat luka itu mengecil dan menutup sepenuhnya, hingga tak ada bekas lukanya sama sekali. Tubuhnya menyembuhkan diri dengan begitu cepat karena memang itu adalah kelebihan yang Xue Zhan miliki.
Xue Zhan berjalan dengan langkah pelan menuju mayat pemimpin perguruan Naga Emas. Di sekelilingnya, mayat-mayat tergeletak di tanah dengan darah yang mengalir bebas dari luka-luka di tubuh mereka. Suasana yang miris dan menyedihkan meliputi sekitar tempat itu.
Xue Zhan berjalan perlahan menuju mayat wanita itu dan melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Di dalam gendongan mayat itu terdapat seorang bayi yang masih tertidur.
Dengan hati-hati, Xue Zhan mengambil bayi itu dari gendongan mayat wanita yang tak bernyawa itu. Bayi tenang berada di pelukannya, tertidur pulas tanpa menangis seperti bayi kebanyakan. Xue Zhan tersenyum sedih, dia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya dan mengalungkannya ke leher bayi tersebut, "Ini adalah milik kalian, aku kembalikan padamu. Maaf aku terlambat datang ... Aku tidak bisa menyelamatkan keluargamu,"
Matanya menyimpan kesedihan mendalam, Xue Zhan paham rasanya hidup sebatang kara. Kehilangan keluarga, teman, dan hidup sebagai seorang iblis yang terus dikejar oleh pemburu, semuanya terasa begitu berat baginya.
Xue Zhan lalu memandangi sekitar, melihat mayat-mayat yang bergelimpangan dan reruntuhan perguruan. Menyadari tidak ada satu pun yang selamat selain bayi itu, Tiba-tiba dia mendengar suara derap kaki yang semakin dekat, dan dia tahu harus segera pergi.
Xue Zhan tidak bisa membawa anak itu bersamanya. Dia meletakkannya kembali ke mayat wanita itu agar prajurit kota merawatnya dengan baik sambil mengucapkan perpisahan.
"Hiduplah dengan baik. Aku yakin kedua orang tuamu sangat menyayangimu," suaranya menggantung sejenak. Xue Zhan bertanya di dalam hati.
__ADS_1
Apakah kata-kata juga diucapkan ibunya saat dia dibiarkan hidup sebatang kara?
Xue Zhan tidak mengerti mengapa. Dia begitu mengasihani bayi itu seperti mengasihani dirinya sendiri.
Benda yang diikatkan di leher bayi itu adalah pusaka Batu Giok Putih, pusaka peninggalan perguruan Naga Emas yang sempat di rebut Chao Mi. Hanya saja Xue Zhan sempat mengecoh mereka dan merebutnya kembali tanpa diketahui.
Tepatnya saat gadis itu pergi meninggalkannya dengan Chao Mi, Xue Zhan melepaskan serangan Tarian Pedang Angin yang tidak berwujud. Serangan itu mengenai gadis itu diam-diam dan membuat pusaka terjatuh dari jubahnya.
Saat Xue Zhan terpental oleh serangan Chao Mi, dia sempat mengambil pusaka itu dan menyimpannya di balik bajunya. Dalam artian lain, pusaka tersebut tidak jatuh ke tangan musuh.
Niatnya Xue Zhan ingin memberikan pusaka itu pada bayi tersebut karena itu adalah haknya.
Namun Xue Zhan terdiam membisu ketika mengingat kembali nasib buruk yang menimpanya dan perkataan Ziran Zhao.
"Semakin besar kekuatan yang kau bawa, semakin malang pula nasibmu."
Sejenak Xue Zhan tidak bisa membayangkan seberapa banyak masalah yang akan anak kecil itu dapatkan jika membawa satu dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia bersamanya, dia mungkin saja tewas seperti semua murid perguruan dan orang tuanya. Saat ini semua orang menginginkan kekuatan dan pusaka, bahkan tidak segan-segan mengambil nyawa orang lain.
Beberapa detik dia terdiam, membiarkan angin dini hari menyapa dirinya. Xue Zhan memejamkan mata, berkata dengan sangat berat.
"Aku tidak bisa membiarkanmu mengalami kesialan seperti yang kurasakan. Ini sangat menyakitkan, asal kau tahu." Dia tersenyum lemah.
"Aku akan menjaga peninggalan keluargamu dengan baik dan tak akan menggunakannya untuk kejahatan. Semoga kau bertemu orang baik yang bisa menjagamu dan menerima keberadaanmu."
Dia menepuk pelan kepala bayi itu dan mengambil kembali Pusaka Permata Giok Putih sebelum akhirnya menghilang dalam kegelapan malam.
__ADS_1