
Dia membuka topengnya. "Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Aku memang Xue Zhan. Sederhana saja, aku selamat saat jatuh dari jurang dan berlindung di goa selama bertahun-tahun sebelum kembali ke sini."
"Tapi kau tidak memiliki bekas luka benturan apa pun. Malah kau jadi lebih tampan dariku waktu muda. Hahaha." Tawa Xian Shen menggelegar hingga akhirnya dia meringis kesakitan.
Xue Zhan merangkul temannya itu. "Sudah, jangan banyak bicara, kau tahu ke mana dua bajingan lagi pergi? Si setan dan si jutek itu?"
"Jiazhen Yan dan Xiao Rong?" Wajahnya yang tadi cerah tiba-tiba suram.
Xian Shen mulai bercerita satu per satu tentang Jiazhen Yan dan Xiao Rong, Xue Zhan terdiam sejenak. Penyesalan muncul, dia tidak percaya bahwa dua orang yang dulu begitu dekat dengannya sama-sama mengalami nasib yang tragis.
"Sudah lama kau tahu tentang kabar itu?" tanya Xue Zhan, mencoba menyembunyikan rasa sedihnya.
"Beberapa tahun yang lalu," jawab Xian Shen. "Aku terkejut ketika mendengarnya. Aku tidak bisa membayangkan Jiazhen Yan mati begitu saja tanpa alasan yang jelas."
Xue Zhan mengangguk. Namun juga merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kematian Jiazhen Yan. "Dan tentang kematian Xiao Rong?" tanya Xue Zhan.
Xian Shen menghela nafas. "Setelah kepergian Jiazhen Yan, Xiao Rong kembali ke Kekaisaran Feng. Dia menjadi tangan kanan Li Jia Xing."
"Itu sudah pasti, dia adalah orang kepercayaan Kaisar Li," ujar Xue Zhan dengan suara rendah. "Tapi memangnya kenapa kalau dia kembali ke Kekaisaran Feng?"
"Aku mendengarnya dari orang-orang," jawab Xian Shen terpotong. "Tapi banyak yang mengatakan bahwa tangan kanan Li Jia Xing itu sangat dingin dan tidak memiliki belas kasih. Dia jarang sekali bicara, dan paling anti untuk pergi ke Kekaisaran Diqiu."
Lagi-lagi Xue Zhan menyesali hari di mana semuanya terjadi. Empat Sekawan itu bubar dan berjalan ke jalan masing-masing seperti seorang asing yang tidak saling mengenal. Dan itu membuatnya tersenyum pahit.
"Jadi, kau tidak tahu apa-apa lagi tentang Jiazhen Yan dan Xiao Rong?"
Xian Shen menggelengkan kepala. "Aku tidak lagi terlibat dalam dunia persilatan setelah kejadian keluargaku dibantai oleh Pendekar misterius itu. Aku hanya mencoba bertahan hidup dan menjaga diri sendiri, tidak memiliki keberanian untuk terlibat dalam pertarungan lagi."
Xue Zhan melihat ke bawah, terdiam sejenak. Dia tahu bahwa Xian Shen telah mengalami banyak penderitaan selama bertahun-tahun, dan tidak mungkin memaksanya untuk terlibat dalam konflik apa pun. Namun, Xue Zhan merasa bahwa dia harus mencari tahu siapa Pendekar misterius itu dan menghentikannya sebelum terjadi lebih banyak korban.
__ADS_1
"Tidak masalah, Tuan Xian. Aku mengerti," ucap Xue Zhan kemudian. "Tapi aku harus mencari tahu siapa Pendekar misterius itu dan menghentikannya sebelum terjadi lebih banyak korban. Aku akan melakukan ini sendiri, kau tidak perlu khawatir."
Xian Shen mengangguk, menyadari betapa seriusnya situasi ini. "Aku akan membantumu sebisa mungkin," balasnya.
Xue Zhan mengangguk, tiba-tiba dia teringat dengan Xiang Yi Bai yang mungkin sedang mencarinya sampai malam larut seperti ini. Xue Zhan izin pamit, Xian Shen mengangguk memahami. Setidaknya melihat Xue Zhan masih hidup saja sudah membuat hatinya lega.
"Setelah semua yang menimpamu, aku berharap aku bisa menemukan siapa pembunuh kedua orang tuamu, Tuan Xian."
"Aku sangat berterima kasih untuk itu, Saudara Zhan." Xian Shen tersenyum lemah. Xue Zhan membalas lagi. "Jaga dirimu baik-baik, kawan. Kau telah kehilangan keluarga dan kerabatmu, tapi jangan sampai kau kehilangan dirimu sendiri."
Ucapan terakhir Xue Zhan itu membuat Xian Shen terdiam beberapa lama. Xue Zhan tak ada lagi di sana, namun Xian Shen tiba-tiba meneteskan air matanya dan menangis.
Xue Zhan cemas tak karuan ketika dia tidak dapat menemukan Xiang Yi Bai dan Fenghuang di berbagai sudut kota. Dia bertanya ke setiap orang yang dia temui, dan bahkan menyusuri jalan-jalan yang jarang dilalui untuk mencari jejak mereka. Namun, hasilnya tetap nihil.
Dia mulai khawatir, apakah ada sesuatu yang terjadi pada mereka? Apakah mereka diserang oleh sesuatu atau seseorang? Pikirannya berputar-putar saat dia terus mencari tanpa hasil yang memuaskan.
Saat Xue Zhan sedang duduk di sebuah sudut kota, tak sengaja dia melihat seorang laki-laki berjubah putih duduk di atas atap sebuah toko sambil menenggak arak. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata orang tersebut adalah Xiang Yi Bai.
"Aish, benar-benar Guru ini. Aku kira dia akan cemas kalau aku menghilang. Lihatlah, dia malah pesta arak di atas atap orang," gerutunya samar.
Xue Zhan bergerak cepat ke tempat tersebut dan duduk di samping Xiang Yi Bai, dia tak lagi terkejut melihat Gurunya menenggak arak di atas atap toko orang tanpa wajah bersalah, karena telah mengenalnya lama jadi dia paham Gurunya itu sangat tergila-gila dengan arak.
"Ke mana saja Guru? Mana Fenghuang?" tanyanya dengan nada khawatir.
Xiang Yi Bai mengangkat kepalanya, memandang ke arah Xue Zhan. "Ke mana saja? Kau yang ke mana saja, menghilang sudah seperti anak bebek. Lihat, Fenghuang merajuk dan akhirnya meninggalkan kita."
"Apa? Fenghuang pergi? Lalu di mana dia sekarang? Aku akan mencarinya," jawab Xue Zhan, terdengar panik.
Xiang Yi Bai tertawa, "Hahaha. Benar kataku. Sudah seperti anak kecil kehilangan ayam warna-warninya saja. Tenanglah, dia akan kembali," balas Xiang Yi Bai. Dia membisik sangat kecil, "Mungkin."
__ADS_1
"Ke mana?"
Xiang Yi Bai diam sejenak. "menyelesaikan apa yang belum selesai.."
Xiang Yi Bai mengambil satu tegukan arak lagi dan memandangi langit malam yang penuh bintang. "Fenghuang memiliki urusannya sendiri. Aku tidak tahu pasti ke mana dia pergi, tapi aku yakin dia akan kembali ke sini."
Xue Zhan lega mendengar itu. "Baiklah kalau begitu. Dan tunggu dulu, apa yang Guru maksud dengan 'apa yang belum selesai'?"
"Dia belum mau memberitahukannya padamu, maka aku tidak akan mengatakannya padamu. Aku menghargai keputusannya."
"Cih, giliran Guru boleh tahu."
"Aku memang sudah tahu tanpa dia ceritakan. Kami berada di sini untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan di masa lalu ..." Dia menghela napas berat sebelum bercerita.
"Sebelum terjebak ke dalam jurang, kami hanyalah pengecut yang menghindari masalah dan bersembunyi di dalam kegelapan," terlihat senyum miris di wajahnya.
"Guru juga punya masalah yang belum terselesaikan? Aku tidak pernah tahu secara pasti sebenarnya."
"Ah, lupakan saja. Malam-malam begini lebih sepi. Kau punya waktu untuk mengoceh, kenapa tidak gunakan waktumu untuk latihan, murid bodoh."
Xue Zhan menggaruk lehernya. "Oh hahaha. Guru benar. Tapi tidak adakah gerakan baru yang bisa kupelajari?"
Xiang Yi Bai memberikan Kitab Phoenix Surgawi pada Xue Zhan, pemuda itu kaget.
"Tidak perlu kaget begitu. Aku sudah menjanjikannya sebelumnya padamu. Pelajari tahap kedua Kitab itu dengan hati-hati."
Setelah mengucapkannya Xiang Yi Bai bermeditasi dan sama sekali tidak mendengar apa yang Xue Zhan katakan. Xue Zhan menerima kitab itu kembali dan memperhatikannya lama, telah lama sejak dia melemparkan kitab itu ke dalam jurang dan menertawakan seisi dunia yang mengkhianatinya.
Xue Zhan segera berlatih tanpa membutuhkan arahan dari Xiang Yi Bai, pengalaman dan latihannya selama di Jurang Penyesalan membuatnya lebih mudah menguasai gerakan.
__ADS_1