Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 90 - Sisi Ruang Kehampaan


__ADS_3

Dingin dan sunyi.


Bunyi langkah kakinya terdengar sangat jelas, menapaki genangan air tipis di sebuah ruangan yang disebut dengan kehampaan. Tidak ada jalan masuk ataupun jalan keluar karena pada nyatanya tempat itu benar-benar kosong. Tanpa dinding, tanpa langit-langit, tanpa pembatas. Lalu di depan sana terlihat sebuah cahaya yang begitu terang sampai pemuda itu kesusahan menghalanginya dengan telapak tangan.


"Jadi ini yang dinamakan gerbang kematian?" gumamnya, tersenyum pasrah. "Pasti Mei'er dan Kakek sudah melewatinya lebih dulu dari aku. Hanya saja, apakah aku akan berakhir di tempat yang sama seperti mereka?"


Terdengar tawa pedih, anehnya dia masih mengingat betul bagaimana manusia itu mencabiknya seperti burung pemakan bangkai. Dia melihat ke bawah dan menyadari tubuhnya sekarang tak beda jauh seperti yang terakhir kali sebelum jatuh ke dalam jurang.


Sayatan dan tikaman menampakkan daging dan darah, bahkan hingga mati pun Xue Zhan masih dapat mendengar suara-suara yang sedang memakinya. Sesaat dia memuntahkan darah, sangat banyak tanpa henti. Rasa sakit yang dideranya semasa hidup kembali menggerogoti dan perlahan-lahan terasa semakin jelas.


Xue Zhan meraung, antara kesakitan oleh luka fisik dan penyesalan yang menusuk dadanya. Kakinya berlutut, menutup telinga sambil berharap suara-suara manusia yang masih mengumpatinya segera berhenti.


Namun suara itu semakin keras seiring bertambah sakitnya luka yang dia rasakan. Teriakan pemuda itu ikut meninggi dan lebih seperti seseorang yang sedang ditikam besi panas berkali-kali.


Sebuah suara terdengar menggema di kepalanya.


"Bukankah itu menyakitkan? Mati dengan cara yang mengenaskan Jika kau ingin penderitaan ini berakhir kau harus masuk ke dalam Gerbang Kematian."


Suara itu hanya terdengar sekali. Kedua pundak Xue Zhan gemetar tak karuan, dia mencoba menjangkau sumber cahaya itu dengan sebelah tangan. Jika dia berhasil masuk ke Gerbang Kematian semua penderitaan ini akan berakhir. Bibirnya terus mengerang kesakitan. Padahal sebelumnya saat di kehidupan nyata Xue Zhan tak merasakan sakit ini, baru berjalan beberapa meter kedua kakinya jatuh berlutut.


"Arghhh!!"


Sekarang berganti sekujur badannya diserang oleh sesuatu yang tidak terlihat, Xue Zhan mencoba melihat apa yang sedang menyiksanya itu dan berujung kedua matanya tersayat sampai tak bisa melihat apa pun lagi. Kedua matanya berdarah-darah, mulutnya mengerang kesakitan meminta pertolongan siapa pun.


Tidak ada yang bisa menyelamatkannya dari neraka ini, tidak satu pun. Bahkan seandainya dia benar-benar tersadar dari ruang hampa ini, Xue Zhan tahu dia lebih tersiksa dengan tubuh aslinya sebelum benar-benar mati. Yang bisa dipikirkannya sekarang adalah tubuhnya masih terjatuh ke kedalaman jurang dan tengah disayat-sayat oleh angin Jurang Penyesalan.

__ADS_1


Hantaman kuat mengenai punggungnya, Xue Zhan jatuh bersujud memuntahkan darah kembali. Tubuh aslinya menghantam ujung batu tinggi besar tepat di punggung, membuat tulang belakangnya hancur seketika.


Angin kencang dari berbagai arah terus menyerbu, dengan mata buta Xue Zhan berusaha mencari di mana Gerbang Kematian itu. Hanya mengandalkan instingnya saja, Xue Zhan mencapai sebuah tempat dan menyentuh pintu. Dia masuk ke dalamnya tanpa mengkhawatirkan apakah pintu cahaya atau pintu kegelapan yang dimasukinya.


*


"Ada apa denganmu? Kau tampak begitu ketakutan."


Di sebuah ruangan tertutup dihiasi tengkorak manusia asli dengan hanya diterangi oleh lilin dan obor api keempat hantu berkumpul, salah satu yang baru saja mengeluarkan suara, Hantu dari Utara duduk di kursi miliknya. Menghadap sebuah meja besar dan panjang tempat di mana mereka sering berkumpul.


Lawan bicaranya tak kunjung menjawab, Hantu dari Utara menoleh ke sisi lain di mana hantu wanita sepertinya juga sama cemas seperti Hantu Penggerogot.


Hantu Mawar Duri, hantu yang terbilang cukup cantik semasa hidupnya dan memiliki julukan Mawar Duri yang berarti bahwa kecantikannya menyimpan marabahaya bagi siapa pun laki-laki yang mendekati atau didekatinya. Wanita itu tak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi. Namun terlihat jelas gurat kecemasan di garis wajah cantik khas seorang bangsawan itu.


"Kalian berdua tiba-tiba menjadi pemurung, hahahha. Apakah rumor itu membuat kalian ketakutan?"


"Apakah kau yang membunuh iblis itu?"


Hantu Penggerogot menatap dengan ekor mata, menggeram dan langsung menyerak satu meja. Seluruh cangkir dan lilin berhamburan. Hantu Sebelas Jari menangkap cawan yang melambung ke wajahnya.


"Kalau benar mengapa?! Dia telah membunuh saudariku, tapi membunuhnya pun sekarang hidupku bukan bertambah tenang, malah dibayang-bayangi hantunya ..."


Gumam lelaki itu sambil berjalan kembali ke kursinya, Hantu Mawar Duri menurunkan alis dengan penasaran.


"Hantunya ...? Apa maksudmu? Iblis itu masih hidup?"

__ADS_1


"Siapa yang tahu," ujar Hantu Penggerogot menatap wanita tersebut, "Jika bukan dia lalu siapa yang membuat kekacauan ini?"


"Pertama-tama aku akan bertanya padamu, Hantu Penggerogot," ucap Hantu Sebelas Jari sambil menyatukan kedua tangan di atas meja, sepasang mata melihat lurus ke depan di mana Hantu Penggerogot duduk.


"Apakah kau yang membunuh murid-murid dari Pondok Kabut Putih? Rumor menyebar sangat cepat, kudengar mereka mengaku mendengar suara ketukan pintu dan mayat yang mati habis dimakan hanya menyisakan tengkorak dan isi perut."


Hantu Penggerogot sejenak tertawa, "Kau percaya itu aku?"


Mata merah itu penuh oleh kebencian, Hantu Sebelas Jari memilih mengalihkan perhatiannya ke satu hal lagi yang mengganggu pikirannya.


"Hantu Mawar Duri," panggilnya yang langsung membuat wanita hantu cantik itu menoleh tajam.


"Salah satu perguruan menjadi korban pembantaian malam kemarin. Semua orang menyebut-nyebut nama Hantu Mawar Duri, dan sebuah kertas berisi syair aneh diletakkan di atas mayat tetua terakhir."


Lelaki itu belum sepenuhnya bertanya dan Hantu Mawar Duri lebih dulu menyela, "Aku tak akan bertindak segegabah itu. Lagipula mangsanya hanyalah kakek tua dan anak-anak, sejak kapan aku memburu laki-laki seperti itu?!"


Naik pitam hantu cantik itu, kuku-kuku tajamnya bergerak anggun. Dia akan memberi perhitungan kepada siapa pun yang melakukan pembohongan ini.


"Ini aneh." Hantu dari Utara kembali duduk ke kursinya dan menyilangkan pahanya. "Sebelum kematiannya iblis itu juga dituduh, melibatkan nama Menara Giok Hantu. Jika benar ini adalah perbuatan licik iblis itu, dia sudah gila. Dia kehilangan muka di hadapan semua orang, membunuh gurunya dan mencelakai banyak orang. Tak ada keuntungan yang dia dapatkan."


"Lalu ini ulah siapa?" Hantu Penggerogot tak sabar mendengar nama selanjutnya yang akan dia bunuh.


"Tidak ada yang tahu pasti. Namun organisasi ini mungkin sama berbahayanya dengan Taring Merah ..."


Hantu Sebelas Jari bangun dari kursinya dan berjalan ke depan ruangan panggung. Ketiga hantu lain menyaksikannya dalam keseriusan.

__ADS_1


"Aku pernah mendengar tentang sebuah organisasi penjahat yang tak pernah tersentuh di daerah Gunung Qin. Dan syair itu juga mengarah ke sana. Dewa Kematian yang dikabarkan mungkin telah beranjak dari singgasananya untuk memberantas musuh-musuhnya."


Dia tersenyum licik, "Iblis itu sudah menjadi sasarannya. Lalu ... Apakah nama Menara Giok Hantu masuk ke dalam daftar nama buruan sang Dewa Kematian?"


__ADS_2