
Xue Zhan membuka pintu gubuk kayu, merasakan hembusan angin segar di pagi hari yang masih sepi. Matahari masih belum terbit dan hanya terlihat biru gelap di atas langit tapi sudah saatnya dia berangkat.
Wen Zhiqiang berdiri di dekatnya ikut memandang ke arah langit yang gelap. "Kau harus hati-hati di hutan ini, ingat, jangan terlibat apa pun dengan orang-orang bertudung hitam," peringatnya, Xue Zhan mengerutkan keningnya.
"Orang-orang bertudung hitam?"
"Mereka adalah sebuah kelompok buronan Kekaisaran Feng, biasanya terlihat di jalan-jalan kota dan suka mencari masalah. Jika bertemu sebaiknya abaikan saja."
Xue Zhan mengangguk, memasukkan pedang di pinggangnya sambil berjalan ke pintu pagar kayu.
"Sudah waktunya pergi," kata Xue Zhan kemudian.
Wen Zhiqiang mengangguk. Xue Zhan mengikuti jejak Wen Zhiqiang. Mereka berjalan di antara pepohonan, mencapai batas hutan.
Wen Zhiqiang menghentikan langkahnya, memandang ke arah Xue Zhan seraya mengangguk. "Semoga kau berhasil menemukan apa yang kau cari,"
Xue Zhan mengangguk sebagai tanda terima kasih. Dia melambaikan tangannya ke arah Wen Zhiqiang sebelum akhirnya menghilang di tengah hutan gelap.
Xue Zhan melanjutkan perjalanannya mencari Taring Merah. Menempuh jalur hutan dan beberapa jalan penghubung dikelilingi pepohonan tinggi dengan kecepatan tinggi sampai tiba di pelabuhan terbesar Kekaisaran Feng saat matahari masih tinggi di langit. Saat itu suasana di pelabuhan begitu ramai dan berisik dengan suara kapal dan pekerja yang bergegas membawa barang.
Di sekelilingnya terdapat bangunan tinggi seperti gudang, toko, dan perusahaan dagang yang menjual berbagai macam barang dari berbagai daerah.
Para nelayan dan pedagang berseliweran di sekitar pelabuhan, berdagang dan berbicara saling tawar menawar. Kesibukan di pelabuhan tidak pernah berhenti, dengan kapal-kapal besar pengangkut barang yang berjejer di tempat senderan. Bau asin dan ikan yang khas tercium di udara, sementara angin bertiup kencang dari laut membawa debu dan bau bensin.
__ADS_1
Sepertinya baru kali ini Xue Zhan melihat sebuah pelabuhan yang begitu besar. Melihat orang-orang Kekaisaran Feng yang kelihatannya tidak peduli sama sekali akan kehadirannya.
Beberapa kali Xue Zhan terdorong oleh pedagang yang mengangkut keranjang besar sayuran dan orang-orang yang berjalan cepat menuju tujuan mereka. Terlihat dari kejauhan seekor kuda yang menarik kereta gerobak. Semakin mempersempit jalan yang dilaluinya, Xue Zhan berniat mencari kapal untuk menyeberang ke kota sebelah.
Untuk menuju Teluk Ying Xue Zhan harus menumpang kapal di pelabuhan ini, hanya saja setelah mencari informasi dari orang di sekitar, terjadi masalah yang membuat kapal-kapal itu tidak berlayar hari ini. Dikabarkan terjadi serangan terhadap satu awak kapal, cukup fatal hingga beberapa tewas.
Kelihatannya beberapa perompak mulai bermunculan tapi anehnya mereka tidak mengambil barang yang diangkut kapal. Hanya menyerang saja tanpa alasan jelas. Karena itu beberapa kapal menunda pelayaran sampai situasi benar-benar aman.
Xue Zhan memutuskan untuk duduk di salah satu kursi, memperhatikan keramaian di setiap ruas jalan dan orang yang saling berdesakan.
Awalnya semua begitu tenang sampai dalam tiba-tiba suasana di sekitar berubah menegangkan ketika sebuah kapal perang berbahan besi raksasa muncul dari kejauhan. Semua orang terdiam dan menggigil, tidak pernah melihat sebelumnya kapal sebesar itu. Tidak jelas siapa yang berada di kapal tersebut namun Xue Zhan dapat melihat berbagai senjata api di setiap sisi kapal.
Dia membaca bahaya dan sontak berdiri.
"Tunggu apa lagi?! Kapal itu akan meledakkan tempat ini!"
Xue Zhan memutar pandangan ke sekitar sambil mengibaskan tangan, menyuruh semua orang untuk bergegas pergi.
Mana mungkin, pikirnya. Dia pikir dirinya dan Xiang Yi Bai telah menghabisi semua musuh di malam itu.
Malam di mana dia mengakhiri nyawa Hantu Penggerogot beserta dua ratus lebih pendekar topeng silang hitam. Namun mereka salah. Topeng Silang Hitam ternyata lebih banyak dari yang pernah mereka lihat dan mereka menyebar di seluruh penjuru dunia.
Semua orang mulai berlarian, beberapa anak kecil terseret karena tidak tahu apa-apa dan bahkan ada yang terinjak di tanah. Xue Zhan berusaha menyelamatkan sambil terus memantau pergerakan musuh di depan. Dia melihat sebuah benda mematikan terpasang di bagian depan kapal.
__ADS_1
Senjata perang seperti itu hampir tidak bisa ditemui, membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membuatnya apalagi dipersenjatai dengan meriam. Hanya satu Kekaisaran yang mampu memproduksi senjata itu dan setiap satu unitnya dijual dengan harga selangit.
Taring Merah memang tidak pernah main-main dalam mengejar tujuannya. Terdengar bunyi asap dari kejauhan dan Xue Zhan menyadari bagaimana pun hari ini akan tetap ada korban jiwa yang jatuh.
Di sisi lain ratusan penduduk di pelabuhan besar itu menjerit, masih ada beberapa orang di dalam kapal penumpang yang belum terselamatkan. Juga beberapa kapal nelayan yang masih berusaha mengayuh ke tepi pelabuhan.
Suara tembakan meriam memenuhi pelabuhan. Orang-orang semakin panik dan berlarian ke sana kemari, mencari tempat perlindungan yang aman.
Peluru meriam dari kapal perang yang menyerang meluncur dengan kencang dan menghantam pelabuhan Kekaisaran Feng. Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu dan merusak bangunan di sekitarnya. Beberapa orang terkena serpihan peluru dan terluka parah, sementara yang lain tercebur ke dalam air karena beberapa sisi jembatan di pelabuhan hancur.
Teriakan dan tangisan dari orang-orang yang terpisah dari keluarga mereka memenuhi udara, menciptakan suasana yang kacau.
Sementara itu, asap dan debu mengepul ke udara, membuat pandangan menjadi kabur. Suara meriam dan ledakan terus menerus menciptakan ketakutan di pelabuhan.
Suasana di pelabuhan semakin kacau ketika serangan kapal perang semakin intens. Kapal-kapal besar yang sedang bersandar di pelabuhan seketika terbakar dan hancur berkeping-keping akibat serangan meriam dari kapal musuh.
Sementara itu, pasukan prajurit kota segera diturunkan demi melindungi masyarakat yang berada di pelabuhan. Mereka bergegas mengevakuasi orang-orang yang terjebak dan membawa mereka ke tempat yang lebih aman.
Namun, situasi semakin tak terkendali ketika kapal perang musuh semakin mendekat ke daratan. Prajurit kota berjuang mati-matian untuk menahan serangan musuh dan mempertahankan pelabuhan dari serangan lebih lanjut.
Beberapa menit berlangsung pasukan prajurit kota terus berjuang dan berusaha menghentikan serangan musuh, meski mereka sadar bahwa situasi semakin sulit dan tidak memungkinkan untuk menghentikan serangan musuh yang semakin dahsyat.
Lalu di tepi jembatan yang telah hancur berdiri seorang pemuda dengan topeng putih dengan memegang pedang di tangan kirinya. Prajurit kota berteriak, "Apa yang kau lakukan di sana?! Segera menepi, selamatkan dirimu! Jangan bertindak gegabah!" serunya.
__ADS_1
Xue Zhan bergeming. Melihat lima bola meriam keluar dan menuju ke tempatnya berdiri. Dia menggenggam erat pedangnya. Jika tidak menghentikannya, peluru peledak itu akan menyasar ke pemukiman warga dan merenggut nyawa. Dia menatap lurus ke depan sambil mulai mengumpulkan kekuatannya.