Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 216 - Gurun Cahaya


__ADS_3

Xue Zhan awalnya ingin mencari Xiang Yi Bai, namun dia mengurungkan niatnya dan langsung mengejar sosok tudung hitam itu. Qi Zhang berkata bahwa mereka adalah petunjuk yang akan mengantarkannya pada Taring Merah. Jelas dia tidak mau kehilangan kesempatan dan langsung mengejar langkah musuh setelah berurusan dengan pemilik penginapan.


Di atas atap rumah warga, Xue Zhan berhasil menemukan sosok hitam itu sedang berlari cepat menuju arah selatan. Dia mengikutinya secepat mungkin, berusaha untuk mengikutinya diam-diam tanpa ketahuan.


Cukup lama mengikutinya hingga melewati hutan dan beberapa pusat kota, Xue Zhan mulai merasakan keganjilan terhadap tempat di mana dia berada sekarang.


Sosok bertudung itu berhenti di sana, di sebuah tanah luas bekas perang berada di perbatasan antara Kekaisaran Guang dan Kekaisaran Feng. Xue Zhan terlalu jauh berlari hingga dia tidak sadar bahwa Kekaisaran Guang adalah salah satu kekaisaran yang berbahaya.


Kakinya berayun pelan menginjak pasir kering gurun.


Atmosfer di sekitar terasa mencekik. Dia membalikkan badan dan melirik ke setiap arah mata angin namun tak melihat satu pun tanda kehidupan.


Xue Zhan menggunakan kemampuan matanya untuk melihat energi kekuatan di sekitar dan tiba-tiba saja pandangannya tertuju ke bawah kakinya.


Dalam tiba-tiba sesuatu keluar dari bawah kakinya, Xue Zhan melompat mundur dalam keterkejutan. Dalam beberapa detik setelahnya terdengar suara erangan yang menggema hingga ke atas langit, makhluk raksasa besar keluar dari dalam tanah membuat pasir-pasir berjatuhan seperti air terjun. Xue Zhan mendongak demi dapat melihat apa yang baru saja hampir menyerangnya.


Pandangannya terkunci pada makhluk raksasa itu, dia menyerupai tikus tanah tapi kedua matanya berwarna putih bercahaya dan dibaluti oleh kertas-kertas mantra yang berjumlah lebih dari ribuan. Mahkluk itu terlihat aneh jika dilihat sekilas, yang dia tahu saat ini adalah dia harus berhati-hati dengan kertas-kertas mantra di tubuh mahluk itu.


Kelihatan seperti bisa meledak jika disentuh.


Ketika pasir berhenti turun dari tubuh mahkluk itu, baru terlihat ada orang lain yang berada di sana selain Xue Zhan. Dia berdiri di atas kepala Tikus Pasir dan mengendalikan pasir di sekitarnya seperti air.


Bukan kekuatannya saja yang membuat Xue Zhan terdiam. Namun Topeng yang dikenakan sosok itu sangat tidak asing.


Xue Zhan bisa menjamin orang itu adalah salah seorang petinggi Taring Merah. Dia mengenakan topeng silang putih dan memiliki kekuatan yang bisa setara atau bahkan lebih besar dari Chao Mi.


Xue Zhan pernah mendengar dari Kang Jian tentang sosok pengendali kekuatan pasir dan mantra dan sekarang bisa melihatnya langsung di depan matanya.


"Kau tampak pucat, iblis. Kulihat kau begitu leluasa berlarian ke sana kemari dan menggagalkan rencana kami."


Suara itu sedikit menggeram, seperti dia sudah lama menunggu Xue Zhan di sana untuk mencekiknya.


Xue Zhan berpikir cepat, dia mungkin telah jatuh dalam perangkap musuh. Jika itu benar, maka ini gawat. Lawannya lebih kuat dari dirinya sendiri, Xue Zhan tak perlu membuktikannya karena dia sudah tahu akan hal itu. Kemungkinan terbesarnya sosok itu memancingnya ke sini dan membuatnya terjebak di sebuah tempat asing yang aneh.


"Jika kau berpikir kau sedang terjebak, maka kau benar sekali. Mayat-mayat itu hanya umpan, kau membawa dirimu ke sini dengan sukarela."


Dia merentangkan kedua tangannya sembari menatap seluruh tempat itu.


"Selamat datang di Gurun Cahaya, kau sedikit lagi hampir sampai ke markas baru kami. Tapi sayangnya hanya sampai di sini kau bisa berpijak."


Dia melompat turun dari ketinggian ratusan meter dan mendarat di atas pasir bersama gulungan badai pasir yang mulai terlihat dari kejauhan.


"Tenang saja, kau tak akan mati sia-sia, iblis muda. Setiap bagian tubuhmu-darahmu, kedua matamu, kulitmu dan organ dalammu akan sangat berguna untuk kami. Berterima kasih lah karena aku tak membiarkanmu membusuk seperti iblis idiot di kuburan. Pasti leluhurmu akan memakimu sebagai keturunan paling tidak berguna."


**


Hempasan angin tajam beterbangan dari langit-langit aula Kekaisaran Feng. Ratusan prajurit bersatu membentuk formasi untuk melindungi sang pemimpin yang berdiri di singgasananya, mata wanita itu memperhatikan tajam wanita dalam jubah merah di depannya.


"Jadi kau ... Fenghuang?"


Ucapnya di sela-sela kekacauan yang terjadi di sekitarnya. Wanita itu sedikit menyipitkan matanya demi memastikan sosok yang tiba-tiba datang menggemparkan istananya pagi itu.


Tidak terdengar sahutan apa pun dari gadis itu selain erangan emosi dan susulan serangan angin yang mematikan. Gadis itu menciptakan gelombang udara yang menggetarkan istana, lampu-lampu dan hiasan di langit istana bergetar.

__ADS_1


Fenghuang mengepalkan tangannya, mengangkat ratusan prajurit ke atas udara dan menghantamnya ke tanah. Lalu dalam beberapa saat kemudian, sebuah angin kencang berpencar di tengah-tengah pasukan prajurit dan membuat mereka terpental sejauh sepuluh meter ke dinding.


Hanya Li Jia Xing yang tersisa di tengah-tengah istana, sama sekali tidak terlihat panik atau pun gentar. Matanya masih menatap lurus pada Fenghuang, sepasang mata merah itu lebih pekat daripada darah.


Dia yakin kebencian telah menyatu dalam diri Phoenix itu dan menantikan hari ini untuk membalaskan semuanya.


Selagi tidak ada siapa pun yang menjaga Li Jia Xing, itu menjadi kesempatan Fenghuang untuk mendekatinya.


Seperti dugaan, tidak ada yang menjaga Li Jia Xing dan kini Fenghuang sudah berada tepat di depan kursi singgasana wanita itu. Mata hijau Li Jia Xing terangkat menatap gadis di depannya.


Sekilas terlihat bayangan putih menyerupai sayap di punggung Fenghuang, gadis itu tiba-tiba berubah menjadi burung Phoenix merah emas yang begitu anggun dan cantik. Beberapa pelayan dan bangsawan yang melihat kejadian tersebut menutup mulut dengan terkejut.


Baru pertama kali di hidup mereka melihat seekor burung phoenix yang begitu terkenal dan tak lebih dari sekedar mitos.


Fenghuang berusaha mengeluarkan suara.


"Aku ingin memberitahu kepada kalian semua, siapa sebenarnya wanita ini-"


Leher Fenghuang tiba-tiba dicekik dari belakang oleh sesosok pendekar yang tak lain adalah pengawal Kaisar Li sendiri-Xiao Rong. Fenghuang berusaha untuk melepaskan diri namun usahanya gagal.


Dia sudah terkunci dan berakhir disegel dalam sebuah kandang besi yang dikelilingi mantra pelindung kuat. Fenghuang mengepakkan sayapnya beberapa kali, menghantam tubuhnya ke besi pemgungkung dan berteriak namun tidak satu pun dari manusia itu yang mau mendengarkannya.


Tenaga Fenghuang sudah lebih dulu habis setelah melihat bagaimana semua orang masih membela wanita keji itu. Mereka menyebut dirinya sebagai burung yang gila yang sedang berkicau tidak jelas dan mengabaikannya.


Dua prajurit membawa kandangnya untuk diamankan di tempat terpisah, Fenghuang melihat Li Jia Xing berdiri tanpa terusik di kursinya. Mata hijau itu sekilas melirik ke arahnya sambil tersenyum sepintas.


"Perempuan sialan!" Sumpah serapahnya.


**


Yan Shumei, seorang alkemis berpengalaman, tengah sibuk dengan penelitiannya. Dia berdiri di depan meja kerjanya yang penuh dengan peralatan alkimia.


Dengan cermat, dia memegang sebotol kecil dan dengan hati-hati meneteskan tetesan darah ke dalamnya. Setiap tetes darah yang jatuh membentuk coretan merah di dalam botol, menciptakan pola-pola yang rumit.


Ruangan itu dipenuhi dengan aroma khas ramuan dan bahan kimia yang bercampur, di sekitar Yan Shumei, berbagai buku tebal dan catatan penelitian tersebar di sepanjang rak-rak. Dia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun hingga rambutnya memutih dan tubuhnya membungkuk namun ambisi di matanya tak pernah pudar.


Dalam keheningan ruangan, Yan Shumei tenggelam dalam penelitian yang mendalam. Dia mengamati tetesan darah yang terus diteteskan ke dalam botol dengan penuh perhatian. Mata dan pikirannya terfokus pada penelitian yang sedang dilakukannya.


Tetesan darah yang dimasukkan ke dalam botol itu menjadi bagian dari eksperimen atau penelitian yang kompleks yang ditekuninya selama ini, dan dia akan mendapatkan hasilnya sebentar lagi. Sebuah kekuatan yang tak kan pernah terpikirkan oleh siapa pun.


Yan Shumei dengan hati-hati meneteskan tetesan darah iblis ke dalam botol yang telah dia persiapkan. Saat tetesan darah itu bersentuhan dengan zat-zat lain yang ada di dalam botol, terjadi perubahan yang mencengangkan. Semula, darah itu tampak seperti cairan hitam pekat, namun seiring reaksi yang terjadi, warnanya berubah menjadi merah menyala dengan sorotan yang terang.


Suatu energi misterius terpancar dari botol, mengisi ruangan dengan kilatan cahaya mempesona. Di sekitar botol, terlihat gelembung-gelembung kecil terbentuk dan bergerak dengan cepat.


Yan Shumei memperhatikan perubahan yang terjadi. Dia tahu bahwa reaksi ini adalah hasil dari penelitiannya yang berkelanjutan dan eksperimen yang teliti. Setelah berbagai uji coba dan perhitungan matang, akhirnya dia berhasil menemukan kombinasi bahan yang tepat untuk menghasilkan reaksi yang diharapkan.


Senyumnya mengembang sangat lebar dengan mata terbuka lebar, memperlihatkan ekspresi yang mengerikan. Separuh hidupnya dia gunakan untuk penelitian ini dan tidak ada lagi yang bisa membuatnya lebih bahagia dari ini semua.


"Bagaimana dengan penelitian mu? Ketua sangat menantikan kabar baik darimu."


Tiba-tiba Yan Shumei terkejut mendengar suara itu di tengah kegelapan. Dia menoleh ke arah suara dan melihat sosok yang misterius dan berwibawa muncul dari bayangan.


Dengan hati-hati Yan Shumei menjawab, "Penelitianku berhasil, aku telah berhasil menciptakannya. Kekuatan dalam tetesan darah iblis ini bereaksi dengan sempurna seperti yang ketua inginkan."

__ADS_1


Suara itu menggumamkan kata-kata yang penuh ambisi, "Ketua akan sangat gembira mendengarnya. Penemuanmu akan menjadi kekuatan baru bagi kita."


"Kau hanya rencana B, jangan terlalu berbangga hati."


Ucapan sinis itu tak menyurutkan rasa senangnya sama sekali.


Yan Shumei tetap merasa bangga dan puas di dalam hatinya. Dia merasa pengorbanannya bertahun-tahun sebagai seorang alkemis tidaklah sia-sia, dan penelitiannya memberikan kontribusi penting bagi kelompok mereka.


"Aku akan memberikan temuan ini langsung kepada Ketua dengan segera .."


Sosok misterius itu menjawab ketus. " Tugasmu telah selesai. Pergilah dan beritahu Ketua tentang hasil penelitianmu. Kita tidak punya waktu banyak lagi."


Yan Shumei memberikan salam hormat kepada sosok itu sebelum meninggalkan ruangan penelitian dengan perasaan bahagia. Dia berjalan menuju ruang di mana ketua sering berada yang terletak di dalam istana kekuasaannya. Tempat itu terhias dengan hiasan-hiasan mewah dan lampu kristal yang memancarkan cahaya lembut. Orang-orang yang berada di dalam ruangan, mengenakan topeng rubah yang menutupi wajah mereka, saling berpandangan saat Yan Shumei memasuki ruangan.


"Ketua, aku berhasil membuatnya! Aku yakin kau sangat senang dengan ini!"


Lelaki topeng rubah itu berdiri sambil bertepuk tangan dengan antusias. "Benarkah? Akhirnya penantian ku selama belasan tahun tidak sia-sia. Kau pantas mendapatkan pujian, temanku."


Mendengar pujian itu Yan Shumei semakin berbangga hati. Ketua kelompok menerima botol berisi darah di tangan laki-laki itu.


Namun, ketika Yan Shumei menyerahkan botol berisi penemuan alkemisnya kepada lelaki dengan topeng rubah, tiba-tiba tangannya tergerak dengan cepat dan kuat. Seperti kilatan cahaya yang membelah udara, tangannya mengarahkan serangan yang tajam dan mengenai leher Yan Shumei yang masih berdiri di hadapannya.


Tulangnya seperti bergeser dan terjadi pendarahan serius di dalamnya, Yan Shumei yakin serangan itu tidak meleset. Lelaki topeng rubah itu ingin membunuhnya perlahan dan memberikannya waktu sebelum kematiannya.


Terdengar suara desisan tajam darinya, Yan Shumei terkejut oleh tindakan yang tiba-tiba tersebut. Dia merasakan rasa sakit yang menusuk dan pendarahan mulai menjalar di tubuhnya.


Orang-orang di ruangan itu terperangah, mata mereka terbuka lebar karena kejadian yang tak terduga ini. Mereka tidak bisa memahami mengapa lelaki dengan topeng rubah tiba-tiba menyerang Yan Shumei setelah mendengar kabar baik dari alkemis terbaiknya meskipun mereka telah berteman lebih dari sepuluh tahun.


Yan Shumei, meski terkejut dan merasakan rasa sakit yang mengganggu pernapasan, masih mencoba mempertahankan kesadarannya. Dia melihat ke arah lelaki dengan topeng rubah, mencoba mencari jawaban atas serangan yang tak terduga ini.


Dalam keadaan yang semakin lemah, Yan Shumei mencoba untuk berbicara, suaranya serak dan lemah. "Mengapa...? Mengapa... kau... melakukan ini? Kau lupa tentang persahabatan kita?"


Tidak percaya namun itulah yang terjadi. Seharusnya dia tidak mempercayai orang yang bisa mengkhianati seribu orang tanpa pandang bulu. Kekecewaan muncul di wajahnya yang mulai memucat akibat rasa sakit dari dalam tubuhnya. Patahnya tulang leher yang merupakan bagian vital membuat dia mati perlahan-lahan, Yan Shumei tertawa miris.


Lelaki dengan topeng rubah itu menatapnya dengan tatapan dingin yang tak terbaca, "karena kau tidak lagi dibutuhkan."


Ketika kata-kata itu terucap, Yan Shumei merasa semakin terguncang. Dia tidak bisa mempercayai apa yang terjadi. Kepercayaan dan harapan yang telah dia berikan pada kelompoknya tercabik-cabik oleh pengkhianatan.


Sementara itu, kegelapan mulai meliputi pandangan Yan Shumei. Tubuhnya semakin lemah, dan dia merasa napasnya mulai terengah-engah.


Dalam keadaan yang semakin memudar, Yan Shumei mencoba berbicara.


"Setelah semua ini? Kau lupa siapa yang berada di sebelahmu saat kau sedang berada di titik terbawah sebelum seperti sekarang? Siapa yang memberikan makanan saat kau kelaparan atau tempat berteduh saat kau kedinginan? Aku membantumu dalam segala hal namun semua itu kini tidak ada artinya."


Jawaban dingin terdengar darinya.


"Antara dua, aku mengkhianati mu atau kau mengkhianati ku. Setelah berhasil menciptakan penemuan ini kau akan menggunakannya untuk hal lain. Dan kau akan berpaling dariku atau justru menghalangi ku."


Yan Shumei tertawa terbata-bata, kesadarannya semakin menipis dan tanda kehidupannya meredup.


Di ruangan itu, ketegangan menyelimuti udara. Orang-orang dengan topeng rubah saling berpandangan dalam diam tak berani bersuara.


"Selamat tinggal, temanku."

__ADS_1


__ADS_2