
"Langit biadab!" maki burung Phoenix kesal, suaranya lemah karena seluruh kekuatannya terserap saat guntur dahsyat menghantam dan membuat burung tersebut lumpuh selama beberapa menit. Kesialan itu berakibat buruk, dia menjadi buruan para siluman busuk di tempat ini. Phoenix tersebut mencoba mengepakkan sayap tapi tak ada yang terjadi, tubuhnya tak kunjung merespon.
Bayangan capit hitam besar menutupi tubuhnya, mata merah Phoenix bergulir melihat lima siluman mengepung sekaligus. Keadaan semakin diperparah oleh siluman air yang berasal dari sungai mulai naik ke daratan. Bau darah dari bekas luka sang Phoenix menarik perhatian binatang-binatang itu.
Dia dikerumuni seperti bangkai. Phoenix berusaha memberontak ketika capit kalajengking menangkap sayap membuat bulunya berjatuhan.
Sekarang bukan hanya satu capit, puluhan siluman mulai memperebutkan tubuhnya seperti makanan.
"Kitab Phoenix Surgawi - Cakar Phoenix Petir!"
Petir bercahaya berbentuk wujud burung phoenix hijau melesat tajam. Perubahan kekuatan Xue Zhan selama latihan di Jurang Penyesalan membuat jurus itu semakin bertambah kuat. Phoenix petir lainnya tercipta bersamaan. Kini kedua burung petir menghantam siluman kalajengking hingga jatuh ke dalam arus sungai yang deras.
Bunyi tapak kaki mendarat terdengar, Burung Phoenix terkesiap menyadari sayap dan kakinya terlepas dari capit kalajengking. Tapi masih ada siluman ular melilit lehernya. Dia mencoba melihat ke arah sosok tak dikenal tersebut. Bukan karena dia menyelamatkannya, tapi karena jurus Cakar Phoenix Petir yang baru saja muncul.
Kekagetan itu bahkan tak kunjung reda selama sepuluh detik, Phoenix sampai lupa dia sebenarnya masih berada dalam bahaya.
"Angin Membalikkan Awan!" Gerakan pedang dari bawah ke atas muncul.
Itu adalah jurus baru yang diajarkan Xiang Yi Bai walaupun tak begitu mulus tapi Xue Zhan berhasil membuat siluman kalajengking kecil yang menghalangi jalan terpental. Siluman ular melepaskan burung phoenix karena merasa terancam dengan keberadaan Xue Zhan dan berbalik menyerang pemuda itu.
"Tarian Pedang Angin."
Lingkaran angin tipis berputar di bawah kakinya, hembusan napas Xue Zhan berubah sangat dingin. Dia memejamkan mata merasakan kekuatan miliknya berkumpul di telapak tangan dan menyalurkan pada bilah pedang. Ketika Xue Zhan membuka mata siluman ular merayap tepat di depannya dengan membuka mulut lebar-lebar.
Xue Zhan berotasi, ujung pedang melintas di depan leher ular yang berhasil berhenti tepat waktu sebelum pedang tersebut memotong lehernya. Xue Zhan mundur, melihat ular itu mulai bereaksi dan setelahnya darah hijau menyembur deras dari lehernya yang terpotong oleh angin tajam yang muncul lima detik setelah jurus Tarian Pedang Angin.
Jurus dasar dari Kitab Phoenix Surgawi saja sebenarnya sudah terbilang kuat. Tentunya jika disempurnakan sebaik mungkin, untuk saat ini baru Tarian Pedang Angin yang Xue Zhan kuasai sepenuhnya.
Matinya siluman ular tersebut membuat beberapa siluman mundur, mereka sendiri jauh lebih lemah dari sang ular dan merasa ketakutan ketika menyadari energi merah pekat dari tubuh pemuda itu. Terasa sangat jahat dan mengintimidasi. Saat Xue Zhan bertarung, aura pembunuhnya keluar, hal itu membuat siluman lain kabur dari sana.
Xue Zhan memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya, mengamati Burung Phoenix lamat-lamat dan sedikit enggan mengingat kesan buruk dari burung itu. Dia sangat ketus dan angkuh. Tapi karena Xue Zhan berutang nyawa kali ini dia membalasnya. Sisanya terserah pada burung itu.
Xue Zhan jongkok di sisi burung tersebut, tahu dia masih bisa mendengar suaranya.
"Aku berutang nyawa padamu sebelumnya. Dengan begini kita impas."
__ADS_1
"Manusia rendahan, asal kau tahu, aku tidak butuh bantuanmu."
Dia mengatakannya dalam posisi tergelepar menyedihkan. Xue Zhan menatap dengan tatapan miris yang membuat keangkuhan siluman itu tersentil.
"Berhenti menatapku begitu! Pergi dari sini!"
"Baik, baik. Aku tak akan mengganggu waktumu yang berharga itu. Haish." Xue Zhan sempat-sempatnya mendecak. Mungkin karena tinggal lama di Jurang Penyesalan dan tak pernah berinteraksi dengan manusia dia menjadi sangat menyebalkan sama seperti Gurunya. Andai Phoenix itu sebaik yang diceritakan dongeng-dongeng, Xue Zhan tak akan segan untuk membantu menyembuhkan lukanya yang terbilang parah.
Langkah kakinya menjauh pergi membelah derasnya hujan, air sungai semakin meninggi yang mungkin sebentar lagi akan menyebabkan banjir. Phoenix tersebut menunggu tubuhnya pulih untuk dapat kembali bangun, tapi dia sadar hal itu membutuhkan waktu hampir setengah jam. Sementara para siluman kembali berdatangan saat melihat Xue Zhan menjauh.
Mereka keluar dari gorong-gorong, air sungai dan celah dinding jurang, kembali berkumpul untuk menjadikan burung tersebut makanan.
Setelah bersusah payah Burung Phoenix berhasil menggerakkan tulang sayapnya, dia hanya bisa menyeret tubuh beberapa meter karena setelahnya capit besar kembali menjepit. Ekor beracun kalajengking naik ke atas hendak menusuk perut Phoenix. Sampai tiba-tiba ekor tersebut terlempar jauh, Xue Zhan memotongnya.
Pedang putih menebas para siluman menjadi beberapa bagian. Dalam keadaan tubuh yang telah sembuh dari racun Xue Zhan sama sekali tidak ragu untuk berhadapan dengan siluman itu. Tapi tentu saja dia mempunyai batas kekuatan, jika terus-terusan menghadapi kalajengking itu kekuatannya bisa habis. Belum lagi kalau muncul Raja Kalajengking.
Xue Zhan tiba-tiba membawa Phoenix itu bersamanya menaiki dinding jurang dan mencari celah yang bisa ditempati. Phoenix itu menggerutu dan meminta turun, tapi Xue Zhan tak menggubrisnya.
Hingga mereka tiba di tempat persembunyian baru, Xue Zhan menyalakan api. Masih pagi tapi udara begitu dingin. Setelah beberapa menit burung Phoenix di depannya mulai bisa berdiri dan menggerakkan sayap. Xue Zhan yang sedang membakar ikan bergumam.
Phoenix tersebut memalingkan muka. Memang sayapnya tidak bisa dipakai untuk terbang, beberapa bulu rontok dan tulang sayapnya retak.
Tiba-tiba Xue Zhan menyodorkan sebuah pil.
"Kau mau cepat pergi dari sini? Kau boleh memakan pil ini untuk membantu proses penyembuhanmu, itu pun kalau kau percaya padaku."
Xue Zhan mencari tempat untuk beristirahat sebentar lagi sambil menunggu hujan reda. Burung itu tak menyentuh pil yang diberikannya dan malah latihan menjadi patung kolam. Xue Zhan sedikit kesal tapi dia juga tak mau ambil pusing. Bagaimana pun dia tak bisa membiarkan Phoenix itu mati.
Karena begitu heningnya Xue Zhan tertidur kembali, dua jam tidur dia terbangun oleh bunyi berisik. Xue Zhan kontan bangun dan menyadari pil yang diberikannya pada Phoenix tersebut telah menghilang. Dia tersenyum tipis sebelum berjalan ke tepi batu untuk melihat apa yang terjadi.
Phoenix itu kini berada di tepi batu, di bawah jurang siluman kalajengking mulai memanjat dinding jurang menuju ke tempat mereka berada.
Xue Zhan membelalak melihat Raja Kalajengking yang ukurannya sepuluh kali lebih besar dari tubuh kerbau. Dia merinding sesaat dan langsung mengemas barang untuk pergi segera, mahluk itu berbahaya. Xue Zhan tak mau mempertaruhkan nyawa hanya karena bertarung dengannya. Bisa saja dia mati konyol.
Namun langkahnya terhenti sesaat untuk melihat Phoenix.
__ADS_1
Mana mungkin dia meninggalkan Phoenix itu dimakan Raja Kalajengking, dia mulai dilema dan menimbang beberapa kali hingga akhirnya bersuara.
"Hei."
Phoenix itu menoleh sedikit terganggu.
"Mau ikut?"
Phoenix tak menjawab.
"Kalajengking itu akan memangsamu jika kau berlama-lama di sini."
"Tutup mulutmu. Aku sudah lebih lama tinggal di sini dibandingkan kau, manusia rendahan."
Xue Zhan tak percaya dia mendapat jawaban seperti itu setelah menyelamatkan Phoenix itu dua kali.
"Manusia rendahan? Daripada kau ayam warna-warni. Sudah pagi, pergi berkokok sana di depan kalajengking itu. Itu pun kalau kau masih selamat." Xue Zhan termakan emosi. Tanpa basa-basi dia langsung menangkap Phoenix itu dan mengikatnya bersama buntalan kain di punggungnya.
"Apa-apaan? Sialan, lepaskan aku. Kau-!" Phoenix itu tidak terima dikarungi seperti itu.
Selagi burung itu tak bisa berbuat banyak Xue Zhan bebas menyeretnya ke mana pun.
"Setidaknya setelah aku menemukan tempat yang aman aku akan melepaskanmu."
"Kau mau pergi ke mana? Di sini hanya dinding jurang, kita tidak bisa lari ke mana-mana selain menghadapi kalajengking busuk ini."
Xue Zhan menarik senyum bangga sesaat, dia mengeluarkan temuan berharganya yang membuat siluman burung itu terdiam tidak mengerti.
"Lihat saja. Kau akan terpana."
"Kau mau menggunakan itu untuk-"
"Tenang saja, aku ini aslinya monyet gunung yang sudah terlatih."
Phoenix tersebut sudah menduganya, manusia itu menggunakan kemampuan busuknya untuk memanjati dinding jurang dan itu membuatnya mulai waspada.
__ADS_1
**