
Seseorang berjalan dengan tegap di atas bukit pasir, tanpa terganggu oleh arus badai yang kencang. Badai pasir menerpa dengan ganas, menghembuskan angin yang membelok-belok dan mengangkat butiran-butiran pasir dengan kecepatan tinggi.
Tatap wajahnya lurus ke depan tanpa ekspresi, pedang yang ditentengnya berbunyi gemerincing setiap kali kakinya melangkah. Dalam kesunyian gurun pasir yang diterpa badai, langkah-langkah orang itu terdengar dengan jelas. Meninggalkan bekas jejak di atas pasir kuning yang perlahan menghilang saat angin menyapunya.
'Sesuatu' membawanya ke sana. Dia telah menerima perintah dari Tuannya, mencari sosok pendekar Topeng Putih yang telah mengganggu jalannya rencana mereka dan menghabisinya dengan kedua tangannya sendiri. Pemuda itu menyusuri tebalnya pasir di depannya. Meskipun jaraknya dengan pertarungan yang sedang berlangsung masih cukup jauh, dia dapat merasakan seolah-olah ada di tengah-tengah pertarungan itu sendiri. Terasa pertarungan dari kejauhan yang begitu intens.
Pemuda itu melihat sorotan kilat yang tajam dari serangan-serangan pedang yang bertabrakan, cahaya yang memotong debu di gurun pasir. Meskipun tidak dapat melihat secara langsung setiap gerakan di depannya, dia dapat merasakan energi yang dilepaskan dari setiap serangan dan pertahanan.
Langkahnya semakin dekat, dia mulai menegang pedang yang diselipkan di pinggangnya dengan hati-hati.
Suara angin berdesir keras di telinganya ketika hempasan kekuatan cahaya memancar dan menyerang ke arahnya, angin tajam melewati tempatnya, mengangkat butiran-butiran pasir dan menghembuskannya di sekitarnya. Namun, sosok itu tidak teralihkan oleh kekacauan badai pasir yang melanda. Dia terus melangkah maju, mata dan telinganya terfokus pada pertarungan yang sedang berlangsung.
Bunyi dentingan logam besi dan gaduh yang dibuat oleh setidaknya sepuluh siluman spiritual memenuhi pendengarannya.
Terdengar suara gumam dari mulutnya ketika akhirnya dia tiba di lokasi pertarungan, "Di sana kau rupanya."
Muncul siluet hitam di balik pasir tebal di tengah pertarungan itu. Dia mengenakan jubah hitam yang melambai-lambai. Dalam heningnya situasi yang menyeramkan, sesaat ketiganya saling memandang.
Wajahnya tertutup oleh topeng rubah yang misterius, tapi kekuatannya tak bisa diremehkan. Dia datang tanpa setitik pun keraguan.
Sepasang mata merah itu mulai menangkap bayangan siluet samar-samar, Xue Zhan mempercepat langkahnya. Namun Ming Dao tiba-tiba menyerang kembali dan pertarungan dilanjutkan seolah tidak peduli dengan orang itu.
Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mulut mereka, hanya suara pedang yang bertabrakan dan suara langkah kaki yang cepat. Mereka saling mempertaruhkan segalanya dalam pertarungan ini, tidak memberi kesempatan satu sama lain untuk bernafas.
Melihat Xue Zhan masih bisa bertahan dengan pertarungan satu lawan satu, Ming Dao tak mau kalah. Dia mengandalkan tikus-tikusnya untuk mengecoh Xue Zhan dan mencari celah.
Serentetan serangan Tikus Pasir menghujani Xue Zhan. Tikus-tikus itu menyerang dengan ekor yang panjang, melingkari tubuh Xue Zhan dan mencoba mencekiknya. Namun dengan refleks yang cepat, Xue Zhan berhasil menghindari cengkeraman mereka dengan melompat dan berputar.
Dalam gerakan yang lincah, Xue Zhan menggunakan pedangnya untuk membelah udara, mengirimkan serangan-balik yang membuat mereka mundur beberapa langkah. Hanya saja dia tidak bisa bertarung maksimal saat menghadapi Ming Dao sekaligus. Ditambah lagi matanya sesekali menoleh ke sosok misterius yang memperhatikan pertarungan tersebut. Takut sewaktu-waktu orang itu menyerangnya dan memperburuk situasi.
Ming Dao mengayunkan tangannya dengan kuat, melepaskan kekuatan cahaya yang tiba-tiba memancar dari telapak tangannya. Cahaya itu terbang dengan cepat dan menghantam Xue Zhan dengan keras, membuatnya terpental jauh ke belakang.
Xue Zhan terkejut oleh serangan yang tiba-tiba itu. Tubuhnya terangkat dari tanah dan terlempar beberapa puluh meter ke udara sebelum akhirnya jatuh dengan keras di atas pasir. Dia terbanting dan berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dengan terengah-engah. Pertarungan antara keduanya terlihat seperti kilat yang cepat dan penuh ketegangan. Serangan-serangan pedang mereka saling bertabrakan, menghasilkan percikan api yang memancar dalam kegelapan gurun pasir.
Efek kekuatan cahaya yang dikeluarkan oleh Ming Dao membuat Xue Zhan terpental dengan kekuatan yang tak terduga. Tubuhnya terangkat oleh dorongan yang kuat dan terlempar melintasi gurun pasir, tanpa kendali atas gerakan atau posisinya. Dia terjatuh dengan keras, menghadapi dorongan kuat dari angin dan gesekan pasir di sekelilingnya. Dia terlihat lebih babak belur dibandingkan lawannya.
__ADS_1
"Aku datang atas perintah untuk menghabisi orang dengan topeng putih." Suaranya yang seketika menginterupsi pertarungan di antara kedua orang itu.
Xue Zhan terbatuk-batuk memegangi dadanya yang terluka berat akibat serangan Ming Dao yang mengenai dada dan menembus organ vitalnya. Dia menggeram, berusaha menahan sakit dan memulihkan lukanya.
Matanya tertoleh pada sesosok dengan topeng rubah di tengah-tengah mereka. Pemuda itu bergantian melihat ke arah Xue Zhan dan Ming Dao, membaca situasi dan mencari siapa targetnya di antara kedua orang tersebut.
Detik itu Xue Zhan mengumpat. Belum selesai menghadapi Ming Dao yang jauh lebih kuat dibandingkan dirinya sekarang dia harus berhadapan lagi dengan satu musuh dari antah berantah. Dia seperti mengenali pemuda itu, mereka sepertinya pernah bertarung di suatu tempat dan itu membuatnya yakin saat merasakan energi kekuatan murni dari tubuhnya.
"Siapa kau?" tanya Ming Dao tersinggung.
"Pengganti Hukum Langit."
Bibir Xue Zhan membeku lima detik, dia berhenti bergerak dengan mata terkunci pada pemuda itu. Tercengang sekaligus tidak percaya. Napasnya terhenti detik itu juga tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Lantas Xue Zhan mengulanginya untuk memastikan, "Pengganti Hukum Langit?"
Xue Zhan berjalan terpincang-pincang, menyeret paksa kakinya yang mati rasa melawan kencang angin badai yang seakan membuatnya terbang. Pemuda itu berbalik badan menghadap Xue Zhan dan mengangkat pedang di sebelahnya, terlihat menentang dalam penuh waspada. Xue Zhan yakin jarak mereka sudah begitu dekat sehingga pemuda itu bisa melihat jelas wajahnya.
Topeng putihnya telah dihancurkan oleh Ming Dao, sehingga saat ini wajah Xue Zhan bisa terlihat jelas oleh sosok tersebut.
"Kau adalah musuh yang dikatakan Ketua, aku akan membunuhmu," ujar Pengganti Hukum Langit dengan datar kepada Ming Dao.
Lelaki itu terheran sesaat.
"Sejak kapan Dia memerintahmu untuk membunuhku? Bukankah kita saling bekerjasama, apa ini artinya dia mengkhianati Taring Merah-!?" Wajahnya berubah kaget. Terlalu sulit membaca situasi yang terjadi setelah mengetahui nama Pengganti Hukum Langit dan kenyataan bahwa dia dikhianati.
Sementara itu Xue Zhan yang terhenyak dia dilewati begitu saja. Matanya terbuka, dia membalikkan badan menatap Jiazhen Yan berjalan ke arah Ming Dao dan berniat membunuh laki-laki itu.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' batinnya.
Jiazhen Yan sudah pasti diutus seseorang untuk mengincarnya, entah keberuntungan atau apa topeng putihnya hancur dan hanya Ming Dao yang terlihat memiliki topeng putih meskipun milik Taring Merah. Xue Zhan selamat dari incaran Pengganti Hukum Langit.
Tapi ada yang membuatnya lebih kaget, yaitu ketika Jiazhen Yan sama sekali tidak mengenalinya.
Jiazhen Yan berjalan menjauh darinya dan bersiap menarik pedang untuk memerangi Ming Dao. Xue Zhan buru-buru berbicara, "Ada yang ingin aku tanyakan."
__ADS_1
Sosok itu berhenti, sama sekali tidak menoleh.
"Apa kau mengingat seseorang bernama Xue Zhan, Xiao Rong dan Xian Shen?"
Dia berjalan, semakin menjauh dari Xue Zhan yang menunggu jawabannya. Tidak berpikir semua akan seburuk ini.
Saat langkahnya berhenti di hadapan Ming Dao terdengar jawaban singkat darinya.
"Aku hanya mengingat daftar nama orang yang harus kubunuh."
Jiazhen Yan telah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin yang sama seperti sosok yang dilihatnya di mimpi. Apa yang ditakutkan benar-benar terjadi. Jiazhen Yan melupakan jati dirinya sendiri, membunuh ribuan orang tak bersalah dan menjadi salah satu musuh yang menciptakan kehancuran dan perang. Dia mengambil peran yang begitu banyak sehingga Xue Zhan tak menjamin apakah Jiazhen Wu tak akan membenturkan kepalanya sampai mati saat tahu apa yang di perbuat putra kesayangannya.
"Kau lupa ingatan? Hei kawan, kau lupa denganku ...? Kau melupakan temanmu yang paling waras ini? Benar-benar kejam, hahaha. Berhenti bercanda, Cumi Asin." Ada nada tidak terima dari nada bicaranya, dia berusaha untuk memastikannya namun jawaban dari Jiazhen Yan seketika menusuk jantungnya.
"Kau bicara apa, sampah sialan? Siapa yang sudi berteman denganmu?"
Dia melemparkan pandangan sinis pada Xue Zhan.
"Setelah Topeng Putih ini, kau juga akan kuhabisi."
Ming Dao dan sosok misterius dengan topeng rubah saling berhadapan di tengah gurun yang sunyi. Keduanya berdiri dengan sikap siap, memancarkan aura kekuatan yang kuat. Ming Dao mengeluarkan kekuatan cahaya yang memancar dari tubuhnya, sementara sosok misterius itu terlihat membara dengan api yang membara di sekitarnya.
Ming Dao melangkah maju dengan mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang memukau. Cahaya yang menyertai setiap gerakannya menambah kekuatan dan ketajaman serangannya. Dia menyerang dengan penuh dominasi, mencoba menembus pertahanan musuhnya.
Namun, sosok misterius dengan topeng rubah tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang lincah, ia menghindari serangan pedang Ming Dao dengan gesit. Kemampuan pergerakannya yang cepat dan gesit membuatnya sulit ditangkap oleh lawannya. Sambil mengayunkan tangannya, ia mengeluarkan api murni yang membara, menciptakan lengan-lengan api yang membelah udara.
Ming Dao dengan tangkas menghindar dari serangan api tersebut. Ia meloncat dan berguling di atas pasir, menciptakan jarak antara dirinya dan musuhnya.
Pertarungan antara Ming Dao dan sosok misterius itu semakin memanas. Ming Dao berusaha menggunakan kekuatan cahaya untuk melawan kekuatan api murni yang dipancarkan oleh musuhnya. Serangannya memancarkan cahaya yang menyilaukan, berusaha menembus pertahanan musuhnya yang terbuat dari api yang membara.
Sosok dengan topeng rubah terus melancarkan serangan api yang membara. Lengan-lengan api itu menyala dan bergelombang, mencoba menghancurkan Ming Dao, Ming Dao nyaris tak dapat menghindari serangan tersebut. Ia meluncur dengan cepat, berputar dan meloncat dengan lincah, menemukan celah di antara serangan api dan mencoba menyerang balik.
Cahaya dan api bertabrakan di tengah gurun pasir, angin kencang menggetarkan udara dan tanah. Terdengar suara dari Ming Dao yang mulai sedikit kelelahan.
"Kau memang pedang yang mematikan. Pantas saja orang itu menghilangkan ingatanmu. Kau semakin kuat saat kau melupakan masa lalumu."
__ADS_1