Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 118 - Segel Langit


__ADS_3

Rintik air jatuh membasahi pipi Xue Zhan yang masih terlelap dalam tidur, pagi buta di Jurang Penyesalan telah datang bersama badai yang cukup kencang menggoyangkan pepohonan tinggi. Ketika Xue Zhan bangun, arus sungai di bawah sana begitu deras seperti sedang banjir bandang.


Dia berencana meneruskan perjalanan beberapa jam lagi tapi cuaca buruk ini mungkin akan menambahkan masalah, belajar dari pengalaman sebelumnya Xue Zhan tak mau mengambil keputusan ceroboh lagi. Dia merapat ke dinding jurang, mengamankan beberapa barang agar tidak ikut basah oleh air hujan lalu menadahkan tangan untuk menampung air hujan dan meminumnya.


Beberapa saat pemuda itu teralihkan tatkala matanya tak sengaja menoleh ke atas, cukup jauh di atas sana tapi mata Xue Zhan dapat melihat samar. Seekor burung naik ke atas langit Jurang Penyesalan, gejolak petir menggelegar sesekali menggentarkan bumi, muncul selubung segel yang tak biasa. Xue Zhan tak bisa mengabaikannya. Peristiwa itu masih berlangsung, Xue Zhan berniat mendekat untuk bisa melihat lebih jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Jika dipikir-pikir berjalan di bawah sana sangat berbahaya. Xue Zhan tak tahu hewan melata jenis apa lagi yang keluar di cuaca dingin seperti ini, karena itu dia memutuskan mencari jalan lain yang lebih aman.


Xue Zhan mengeluarkan sebuah benda yang didapatkannya dari ruangan rahasia di dalam goa. Merasa benda itu akan membantunya di situasi seperti.


Di tangannya terdapat gulungan tali yang memiliki ujung berupa besi layaknya jangkar kecil dengan empat bagian besi yang mencekung ke atas. Xue Zhan langsung tahu kegunaan benda itu saat pertama kali melihatnya. Kemungkinan besar orang yang memilikinya menggunakan tali itu untuk memanjat dinding jurang.


Xue Zhan langsung mencoba tanpa banyak pikir, dia memutar-mutar ujung tali dan melemparkan besi tali itu ke sebuah dahan pohon kering di dinding jurang.


Besi tersebut memutar dahan hingga tali terlilit sepenuhnya dengan dahan pohon. Fungsi besi empat cekungan itu sendiri adalah sebagai penahan bobot tubuh. Xue Zhan menarik tali beberapa kali untuk memastikannya apakah itu cukup kuat untuk menahan berat badannya.


Dia mundur beberapa langkah, berlari dan melompat saat tiba di tepian batu.


Sambil berpegangan pada tali itu Xue Zhan mengayunkan kaki ke depan, mencapai pijakan lainnya yang tak begitu jauh, di waktu bersamaan besi penahan tersebut lepas. Xue Zhan mendarat tepat waktu.

__ADS_1


Darahnya berdesir cepat, jantung Xue Zhan hampir copot ketika melihat ketinggian di bawah kakinya. Kalau dia jatuh paling selamat tulangnya hanya retak. Dia menarik napas dan bergumam kecil, "Seperti ini jauh lebih efektif dan aman, tapi sekali jatuh saja ..." ucapnya sembari mengintip ke bawah.


"Jadi santapan siluman kalajengking."


Xue Zhan merinding.


Hujan turun, kalajengking juga turun dari sarang. Xue Zhan telah memasuki wilayah lain yang dikuasai oleh penguasa wilayah Kalajengking. Beberapa dari mereka bertarung dan saling membunuh menggunakan capit yang nampaknya lebih keras dari armor prajurit. Xue Zhan harap-harap cemas. Selanjutnya dia harus melempar tali tersebut ke titik yang lumayan jauh.


Dia bersiap kembali untuk melakukan hal yang sama, memperhitungkan gerakan dan melambungkan ujung besi ke dahan pohon berukuran sedang di dinding jurang yang terbuat dari tanah. Memang terdapat beberapa tanaman yang bisa hidup di dinding ini dengan cara yang ekstrem. Mereka sering longsor saat hujan atau gempa terjadi.


Xue Zhan berhasil melemparkan besi hingga tali tersebut melilit batang pohon. Dia mundur lima langkah sampai ke ujung pijakan bersiap melompat tinggi.


Dengan jarak dan ketinggian yang terbilang jauh, Xue Zhan tak yakin bisa sampai ke tempat tujuan hanya dengan berayun. Dia melompat, lalu sambil berpegangan pada tali kedua kakinya berlari di dinding jurang sangat cepat. Tindakan nekad itu tak pernah dilakukannya seumur hidup. Alam rimba menyuruhnya menantang mautnya sendiri, Xue Zhan akan melakukannya dengan patuh kalau tidak mau mati.


Xue Zhan otomatis terjatuh dari ketinggian. Dia memegang tali erat-erat agar tidak terjatuh ke kandang siluman kalajengking. Napasnya berhenti sesaat dan jantungnya hampir lepas. Xue Zhan melihat-lihat sekitar, berusaha untuk tetap berpikir jernih di situasi ini.


Sudah tak seberapa jauh lagi dengan lokasi di mana burung dan segel di udara tadi terlihat. Xue Zhan beruntung menemukan sebuah lubang di dinding jurang yang hanya berkisar sepuluh meter ke atas dari tempatnya sedang bergelantungan, kemungkinan merupakan sarang burung. Dia memastikannya kosong dan langsung masuk ke sana.


Xue Zhan melihat tempatnya berada sebelumnya, dengan menggunakan perjalanan seperti ini dia bisa bergerak lebih cepat tanpa berhadapan dengan para siluman. Seperti ketika menghadapi sarang siluman ular sebelumnya, Xue Zhan sampai rela bolak-balik demi mengumpulkan tiga mayat siluman demi mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


Kelihatannya barang yang diambilnya akan sangat berguna dalam perjalanan ini. Xue Zhan kini dapat memerhatikan lebih luas dari ketinggian bagaimana keadaan Jurang Penyesalan.


Kabut putih di atas jurang mengaburkan penglihatan, tempat ini begitu sejuk karena masih begitu pagi. Langit biru gelap dan awan hitam berarakan di atasnya, telah lama sejak Xue Zhan tak melihat langit sejelas ini. Dia menarik napas dan memejamkan mata, menikmati sesaat pemandangan menenangkan itu.


Selama hidup di keluarga Lin Yu Shan, Xue Zhan tak pernah mensyukuri hal sekecil ini. Di mana dia hidup damai dan menjalani kesehariannya, tak sekalipun berurusan dengan marabahaya atau berpikir keras bagaimana cara mencari makan di sarang para siluman kelaparan.


Setiap pagi dia hanya perlu pergi ke hutan mengumpulkan kayu, menikmati hangat matahari pagi dan dinginnya es salju musim dingin. Kini hal-hal sederhana itu mulai dirindukannya saat keadaan tak lagi sama.


Apa yang Xue Zhan pikirkan sekarang adalah segera mencapai tempat tujuannya, Sungai Air Panas di mana Cicak Loreng hidup dan mengembangkan kekuatannya sebelum kembali ke dunia atas. Lambat laun Xue Zhan sadar dia tak boleh berlama-lama, Xue Zhan meneruskan perjalanannya dengan susah payah dan berkali-kali hampir terjatuh.


Dia masih bisa melihat segel di langit menyala terang, terpana bukan main dengan sesuatu seperti sihir dengan huruf cahaya dan bentuk yang tak bisa dipahami bangsa manusia, ukurannya sendiri bisa menutupi satu langit.


Suara lengkingan burung menggema di dalam jurang, seekor burung terbang melesat. Kedua sayapnya tajam menukik seperti pedang, berusaha menembus Segel Langit yang mengungkungnya di dalam penjara raksasa bernama Jurang Penyesalan.


Dugaan Xue Zhan tak salah, dia datang ke sini untuk memastikan dugaannya dan ternyata benar. Burung itu adalah Burung Phoenix yang ditemuinya beberapa waktu lalu.


Tapi apa yang sebenarnya terjadi dengan burung itu? Mengapa dia tidak bisa meninggalkan Jurang Penyesalan? Apakah segel itu menguncinya agar tidak bisa terbang ke atas?


Semakin melihat Xue Zhan semakin penasaran. Kini dia berdiri di sebuah pohon mati yang tersangkut di dinding jurang. Phoenix tersebut mencoba sekali lagi menghancurkan segel langit, guntur dahysat mengenai burung itu, dia memekik dan jatuh ke bawah jurang. Bulu-bulu perak berkilau rontok, salah satunya diterpa angin dan melintas di hadapan Xue Zhan yang segera menangkapnya.

__ADS_1


Phoenix tersebut tergeletak tak berdaya di tepi sungai, kekuatannya habis, dia tak dapat bergerak akibat terluka di sayap dan kaki.


Siluman-siluman buas di bawah jurang ingin mengambil kesempatan saat Phoenix itu lemah dan membunuhnya. Xue Zhan menggenggam erat bulu Burung Phoenix di tangannya. Phoenix itu pernah menyelamatkan nyawa Xue Zhan sekali, kali ini Xue Zhan yang akan menyelamatkannya.


__ADS_2