Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 174 - Jiwa yang Tak Terkalahkan


__ADS_3

Xiang Yi Bai tanpa diduga langsung menggeleng. "Aku tidak bisa menjamin dia selamat atau tidak. Kami ingin memburu seorang penjahat bukan menjadi pengawal pribadi bocah ini. Jika tidak keberatan, kenapa tidak suruh dia tinggal di sini? Cukup beritahu lokasinya, kami akan ke sana segera," balas Xiang Yi Bai ketus dan langsung ke intinya. Hua Du terdiam dan menatap pelan cucunya.


Hua Lian terlihat kesal dan langsung naik darah. "Apa katamu?!" Tanpa segan laki-laki itu melupakan sopan santunnya dan menarik kerah baju Xiang Yi Bai. Xue Zhan menghentakkan tangannya ke pergelangan tangan Hua Lian sehingga cengkraman itu terlepas.


"Perhatikan sikap Anda," peringat Xue Zhan tajam.


Seketika suasana berubah mencekam. Hua Du memejamkan mata kehabisan kata-kata. "Dia benar. Tenangkan dirimu, Hua Lian."


"Aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun untuk membalaskan kematian kedua orang tuaku. Aku ikut dalam perjalanan ini. Hidup atau mati bukanlah urusan kalian!" tegasnya lantang.


Usai percakapan itu, Hua Du terpaksa mengizinkan cucunya ikut dengan hati gelisah. Xue Zhan dan Xiang Yi Bai sepakat membawa Hua Lian untuk mencari Yue Linghe. Mereka dipersilahkan menginap semalam di perguruan Bukit Emas.


Malam semakin larut di perguruan Bukit Emas. Xue Zhan menikmati angin malam yang sejuk sambil melihat-lihat ke sekeliling. Langit malam itu begitu terang. Bintang-bintang berkelip di atas kepala mereka, seperti pasir yang bertaburan.


Suara angin kencang yang bertiup di atas atap perguruan, menerpa daun-daun pepohonan yang bergoyang perlahan. Mungkin hujan akan mengguyur besok pagi, Xue Zhan terbiasa memprediksi cuaca dengan merasakan suhu dan udara di sekitarnya semenjak tinggal di Jurang Penyesalan.


Terdengar suara kerikil halus di bawah kaki Hua Lian yang berlatih di tengah halaman. Dalam kegelapan, cahaya lentera yang bergantung di atas kolam terlihat seperti bintang-bintang yang tercermin di air. Patung burung di sekitar kolam pun terlihat jelas, dipadu dengan bayangan pohon di sampingnya, menciptakan suasana malam yang indah.


Xue Zhan masih duduk di atas memandangi langit malam yang berkelip-kelip sambil membunuh rasa bosannya. Dia tidak bisa tidur sama sekali karena mengkhawatirkan banyak hal.


Lentera dan lilin yang dipajang di sekitar perguruan membuat suasana semakin indah dan hangat. Namun, Xue Zhan masih terusik dengan apa yang akan mereka hadapi kedepannya, ini pertama kalinya dia menghadapi musuh yang sangat berbahaya lebih dari pendiri Menara Giok Hantu. Jika dikatakan, Menara Giok Hantu hanyalah kerikil dan Kelabang Ungu adalah batu besar yang telah ada sejak puluhan tahun lalu dengan kekuatan yang lebih kuat dibandingkan kelompok aliran hitam lainnya.

__ADS_1


Xue Zhan menajamkan penglihatannya demi melihat Hua Lian yang sedang mengasah pedang dari sebuah jendela ruangan yang terbuka, dia terlihat begitu ambisius untuk membunuh Yue Linghe.


Tak lama laki-laki itu keluar menuju halaman dan berlatih di sebuah lapangan yang cukup jauh dari tempatnya.


Langkah kaki Xue Zhan perlahan mulai turun dari atap dan menuju tempat itu. Saat mendekat, dia bisa merasakan aura membunuh yang sangat kuat dan menggebu-gebu. Membuatnya semakin tidak bisa bernapas tenang.


"Apa kau yakin bisa mengalahkannya?" tanya Xue Zhan berbasa-basi, tanpa menunggu lama Hua Lian menjawab.


"Pasti. Aku akan membuatnya mati menyedihkan, aku sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin, dan bersumpah pada kedua orang tuaku dan pada langit bahwa ini tidak akan sia-sia," jawab Hua Lian tanpa menoleh ke arahnya.


Xue Zhan bisa merasakan tekad dan semangat yang kuat dari Hua Lian. Namun, dia juga khawatir. Apa yang akan terjadi jika Hua Lian gagal dalam misinya? Dia takut perguruan Bukit Emas akan menjadi korban atas tindakan Kelabang Ungu. Namun, dia juga tak bisa menolak paksaan Hua Lian untuk mengikuti mereka mencari Cawan Es Bunga dan Yue Linghe.


Sebenarnya dia juga sedang dalam perjalanan mencari tahu penyebab kematiannya sendiri. Tapi Xue Zhan tak mau mengatakannya, Hua Lian pasti akan kebingungan dan bertanya bagaimana dia bisa bangkit dari kubur dan mencari tahu pelaku pembunuhnya sendiri.


Hua Lian lalu mengangguk dan memahami maksud mereka. Dia kemudian memberitahukan bahwa Yue Linghe terakhir kali terlihat berada di daerah terpencil di hutan Bambu Kuning. Dia juga mengingatkan Xue Zhan dan Xiang Yi Bai tentang bahaya yang akan mereka hadapi saat menghadapi anggota Kelabang Ungu.


Hua Lian mengibaskan pedangnya dengan penuh tenaga. Xue Zhan melihat bahwa ada sebuah ukiran nama di sana dan sempat bertanya kepada Hua Lian tentang arti ukiran tersebut. Ternyata nama yang terukir di pedang itu adalah nama ibunya, yang juga seorang pendekar pedang terkenal di perguruan Bukit Emas.


Malam itu Hua Lian mulai menceritakan kisah ibunya yang begitu hebat dalam dunia pedang. Ayahnya memberikan pedang itu sebagai hadiah kepada ibunya, dan dia sangat bangga melihat ibunya menggunakan pedang tersebut. Sehingga bagi Hua Lian, pedang itu amat berarti. Namun, saat Kelabang Ungu menyerang perguruan Bukit Emas, ibunya bersama dengan ayahnya tewas di malam itu.


Sudah jelas, tujuan Hua Lian adalah mendapatkan kembali Cawan Es Bunga yang merupakan warisan leluhur keluarganya dan membalas kematian kedua orang tuanya, sedangkan Xue Zhan dan Xiang Yi Bai ingin mencari informasi tentang Kelabang Ungu dan Yue Linghe. Mereka dalam kesepakatan yang menguntungkan tapi Xue Zhan tidak bisa tenang malam ini.

__ADS_1


Hua Lian terus menatapnya membuat Xue Zhan heran.


"Apa ada yang ingin kau katakan, Hua Lian?" tanyanya akhirnya.


Hua Lian terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Omong-omong maaf atas sikapku tadi kepada Gurumu. Kadang aku tidak bisa mengontrol emosiku dan suka bertindak seenaknya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih," katanya.


"Sebenarnya tadi aku sedikit takut dengan Gurumu, dia memiliki hawa yang mengerikan dan aku yakin dia bisa sebanding dengan Yue Linghe. Gurumu itu sama sekali tidak takut saat Kakekku menceritakan seberapa hebatnya orang itu. Karena takut dengannya aku memutuskan untuk berbicara denganmu walaupun caraku juga salah. Kukira kau akan marah seperti orang kebanyakan. Ternyata kau orang yang cukup baik," pujinya.


Xue Zhan tersenyum. "Tidak perlu mengucapkan terima kasih Saudara Lian."


Hua Lian menyela. "Tapi aku sangat berterima kasih. Ini pertama kali dalam hidupku bisa mendapatkan kesempatan untuk membalas dendam ini. Kau bukan hanya kuanggap sebagai seorang teman, tapi juga seorang pendekar yang sangat kuat. Aku terkesima dengan tenagamu yang begitu besar." Dia mulai mengungkit kembali saat mereka beradu tinju di kota dengan antusias.


Xue Zhan tersenyum, "kau juga sangat kuat, aku yakin latihanmu sangat berat hingga bisa sampai ke titik ini." Pujinya balik.


Hua Lian terlihat sedikit lelah.


"Kau tidak mengantuk? Tidurlah, kau terlihat sangat kelelahan," kata Xue Zhan.


"Sebenarnya aku ingin berlatih lagi, tapi perjalanan besok membutuhkan banyak tenaga. Aku harus beristirahat. Kau juga, masuklah ke dalam."


"Aku akan menyusul."

__ADS_1


__ADS_2