Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 157 - Festival Pertumpahan Darah


__ADS_3

Fenghuang melihat ke kanan kiri menyadari bahwa satu mahluk telah menghilang dari peredaran, lantas wajahnya berubah panik. Gadis itu menoleh ke arah Xiang Yi Bai sembari mengomel.


"Hei, Tua Bangka. Muridmu membuat masalah lagi! Ke mana perginya si idiot itu?"


Saat itu juga terdengar bunyi dentuman yang lumayan keras dari arah sebuah bangunan disertai jeritan orang-orang, Fenghuang menebak bahwa memang sedang terjadi pertarungan dan sangat memungkinkan bahwa Xue Zhan terlibat di dalamnya-mengingat pemuda itu begitu bodoh dan ceroboh serta suka sekali ikut campur urusan orang lain.


Di tengah kepanikannya Fenghuang masih mencari-cari. Sekalinya memalingkan muka ke arah Xiang Yi Bai, yang didapati Fenghuang adalah laki-laki itu malah sedang mengemil gula-gula milik pedagang yang telah kabur dari kedainya. Tidak habis pikir gadis itu. Masih sempat-sempatnya Xiang Yi Bai mengemil santai di tengah kekacauan. Fenghuang mencebik dan memaki Xiang Yi Bai.


"Sialan, kalian berdua-!" Fenghuang gusar, dia mulai mencari jalan untuk menerobos keramaian. Namun sejenak langkahnya terhenti ketika mendapati seseorang di dalam kerumunan berada di dalam bahaya.


Lalu dalam seketika seisi kota gempar oleh serangan dini hari yang langsung merenggut beberapa nyawa. Ratusan pendekar dengan topeng silang keluar dari persembunyian dan menyerang tanpa ampun. Dari sisi mana pun para penduduk terkekang. Meja, kursi, panggung, kedai-kedai hancur berserakan. Jerit melolong mengoyak langit di Kota Kekaisaran Diqiu.


Ziran Zhao berdiri dari kursinya sembari menahan napas, jantungnya seperti berhenti berfungsi sehingga tidak ada darah lagi yang mengalir di tubuhnya. Kulit wajahnya pucat pasi sedemikian rupa.


"Bagaimana bisa?!" murkanya. "aku sudah memastikan pengawasan ketat untuk acara ini, kenapa bisa ada penyusup masuk?!"


Dia marah besar, orang-orang penting di belakang segera meminta untuk laki-laki itu menyelamatkan diri.


Festival Kelahiran Dewi Angin yang seharusnya berlangsung damai berakhir dengan festival pertumpahan darah. Kebakaran merambah di mana-mana, tangisan pecah di seluruh penjuru dan ratusan nyawa melayang. Di saat itu Delapan Pedang Suci sekaligus diturunkan untuk menghabisi musuh yang menggila.


Mereka sengaja turun dengan berani ke dalam kerumunan musuh bukan tanpa sebab, saat Prajurit Naga-Pedang Suci Pertama membuka topeng mayat musuh, dia tidak melihat bentuk wajah di sana. Mahkluk itu adalah mayat mati yang bagian wajahnya telah digerus hingga tidak memiliki bentuk sehingga terlihat mengerikan. Jumlah mereka saat ini 200 dan akan terus bertambah setiap jamnya.

__ADS_1


Seorang wanita dengan jubah biru indah terbang di atas udara, dia mengibaskan lengan jubah dan seketika bongkahan es raksasa yang tajam menembus tubuh-tubuh musuh di bawahnya.


"Hoamm ... Malam-malam begini bukannya tidur malah bikin acara. Orang-orang tidak berguna. Giliran kesusahan membuat susah orang juga."


Wanita itu disebut sebagai Bayangan Es. Rambutnya panjang menutupi sebagian wajahnya dan paling penting, dia terkenal karena sifat pemalas dan suka tidur.


Prajurit Naga dan Dewi Pengamuk mengamankan bagian Utara. Dewi Pengamuk menghancurkan dua toko sekaligus hanya dengan satu tinju, bumi seperti terbelah ketika amukannya mengganas. Sementara Prajurit Naga menyelamatkan orang-orang yang bisa diselamatkannya dan mencari tahu dari mana musuh berasal.


Dia bertanya pada salah seorang prajurit yang berjaga di kota.


"Hei, kau. Apa kau melihat arah masuk orang-orang bertopeng ini?"


Prajurit Naga tentu berbicara dengan jelas tapi prajurit kekaisaran itu tidak mendengarkannya, dia menepuk pundaknya sekali dan kepala prajurit itu segera menoleh ke arahnya.


"Sialan ... Mereka juga menyusup di dalam prajurit Kekaisaran? Bagaimana bisa?! Siapa yang bersekongkol dengan iblis-iblis ini?!"


Prajurit Naga melemparkan helm sembarangan, dia harus segera mencari tahu ini semua. Bukan hanya sekali dua kali Kekaisaran disusupi dengan mudah dan sampai detik ini mereka tidak menemukan dalang di baliknya.


Di antara Delapan Pedang Suci yang turun mereka tidak menemukan satu pun musuh berupa manusia asli selain para mayat hidup.


Musuh berhasil dipukul mundur. Namun mereka terlalu fokus dengan apa yang mengancam di depan mata, tapi tidak mewaspadai serangan yang akan masuk tiba-tiba.

__ADS_1


*


Mata merah Fenghuang memantulkan cahaya api yang berkobar besar di depannya, matanya terkunci pada seseorang yang berdiri di atas panggung bersama para biksu dan prajurit. Lalu kemudian, mata tajam itu terbuka lebar ketika sebuah panah meluncur deras yang berasal dari atap bangunan tinggi di sisi lain kota. Pemanah handal itu dapat menjangkau jarak hingga 200 meter jauhnya menggunakan panah tersebut, sangat tidak masuk akal.


Di sisi lain tidak ada yang menyadari nyawa wanita itu dalam ancaman. Fenghuang mendesis, pikirannya berkecamuk. Dengan tubuh manusia dia tidak akan sempat untuk menjangkau tempat tersebut. Di sisi lain Fenghuang merasa bahwa mau wanita itu mati pun, itu bukan masalahnya.


Namun pada akhirnya Fenghuang mengubah wujud dan terbang sebagai burung phoenix, tidak ada yang dapat melihat wujudnya karena terbangnya yang begitu cepat. Menembus kecepatan petir sekalipun. Sebuah panah melesat dari belakang kepala Li Jia Xing, seorang prajurit tiba-tiba menyadari dan berteriak.


"Yang Mulia! Awas!!"


Teriakannya tenggelam oleh keributan di sekitar. Hingga tiba-tiba cahaya merah melintas cepat, Li Jia Xing terkejut bukan main. Baru saja dia berbalik badan dan melihat panah itu sedang mengincar nyawanya, tiba-tiba sesuatu lewat tepat di depan matanya.


"Apa ... Itu?" gumam Li Jia Xing. Tiga pelayan mendekat ke sisi Li Jia Xing dan puluhan pengawal mengelilinginya untuk memberikan perlindungan. Mereka tidak bisa pergi ke mana-mana karena kota begitu padat dan berbahaya. Tidak disangka-sangka, malam ini akan hancur dalam hitungan detik.


Fenghuang mengubah wujudnya menjadi wujud manusia dan jatuh di bawah pohon yang gelap. Dia memegang lengan bajunya yang mengeluarkan darah deras, terdengar ringisan dari mulutnya. Panah bukanlah panah biasa, Fenghuang yakin bulunya bisa menangkis panah biasa dengan angin di sayapnya. Namun panah itu berbeda. Dia tidak bisa dibelokkan angin dan memiliki ujung besi yang luar biasa kuat dan tajam.


Fenghuang berusaha menstabilkan napas dan melihat ke arah wanita tadi, dia menggeram kesal, "Bersyukurlah aku menyelamatkanmu, wanita sialan." Pandangannya mulai kabur, Fenghuang mengatur napas dan berusaha memulihkan diri. Tiba-tiba di belakangnya sekelompok topeng silang datang dan menyerangnya secara bersamaan.


*


Xiang Yi Bai tak henti-hentinya membuang napas kesal. Dia mengorek kertas berisi biji matahari. Di sekitarnya meja beterbangan, pertarungan di mana-mana dan beberapa kali musuh mengarahkan senjata ke arahnya tapi hanya ditepisnya tanpa peduli.

__ADS_1


"Kelakuan manusia. Generasi sekarang sudah idiot semua." Tak henti-hentinya mulutnya menggerutu sambil mengunyah, sampai saat dia tiba di lokasi pertarungan yang terasingkan dan melihat muridnya di sana.


Xue Zhan jatuh bersimbah darah dan seseorang berdiri di depannya sambil mengacungkan senjata tepat di lehernya.


__ADS_2