
Xue Zhan dan yang lain segera mengecek segel informasi yang diikat di pergelangan tangan masing-masing, melihat tulisan 'lulus' di sana dengan mata berkaca-kaca.
Keempatnya saling menatap satu sama lain sambil bersorak.
"KITA BERHASIL!!"
Lantas dengan gembiranya ketiganya melompat, Xian Shen sampai memeluk Xue Zhan yang tertawa terbahak-bahak terbawa suasana, hanya Jiazhen Yan yang berdiri diam di sana.
Dia selalu berpikir bahwa mengandalkan dirinya sendiri saja sudah cukup, tapi sekarang tampaknya dia akan membutuhkan lebih banyak teman bodoh untuk membuatnya tetap bertahan.
"Hah, rakyat-rakyat yang payah ini. Jangan bergembira terlalu banyak. Kita kembali ke titik semula untuk bertemu dengan panitia."
Dia membalikkan badan dan berlalu begitu saja, tapi sekilas terlihat dia tersenyum tipis.
Xian Shen nyaris tak percaya dan mencibir.
"Wah wah, benar-benar Tuan Raja yang tidak tahu terima kasih. Kami sudah menolongmu, setidaknya katakan sesuatu. Haish."
Jiazhen Yan mengangkat sebelah tangan tanpa menoleh, "Aku terima kritik dan saranmu, rakyat jelata. Lain kali aku akan berbuat baik. Tunggu sampai matahari terbit dari barat."
Xue Zhan dan Xiao Rong tergelak, berjalan berdampingan menyusul Xian Shen yang berlari sambil menggerutu pada Jiazhen Yan di depannya. Pada akhirnya mereka berhasil melewati ujian itu walau saling tergopoh-gopoh dan bertengkar tiada henti.
*
Semua peserta berkumpul di titik lokasi di mana sebuah petasan besar diluncurkan, suaranya saja bisa terdengar sampai ratusan meter jauhnya. Setelah ujian berakhir ratusan panitia berpencar ke seluruh penjuru kota terbuang mengumpulkan mayat peserta yang gagal melewati ujian tersebut. Satu per satu dari mereka menggotong tubuh peserta dengan menyematkan angka di tubuh mereka sebagai tanda pengenal. Angka diambil dari nomor urut peserta itu sendiri.
Xue Zhan memperhatikan sekelilingnya, masih dalam ketidakpercayaan bahwa dirinya mampu melewati Ujian Pendekar Menengah ini. Begitu bahagia dapat membuktikan pada gurunya, pada orang-orang yang meremehkannya dan bahkan pada mereka yang mengolok-olok Kang Jian bahwa dirinya mampu menjadi seorang pahlawan dan selangkah semakin dekat dengan tujuannya.
Langkah kakinya mulai terasa ringan, satu kewajibannya telah terlaksana. Namun di depannya akan ada lebih banyak hal yang menantinya, Xue Zhan selalu bersiap untuk itu semua. Apalagi setelah melihat sendiri bagaimana kekuatan satu dari Enam Cahaya Taring Merah. Pendekar Pedang Suci saja belum tentu bisa bertarung imbang dengan Lan Shuiyang, lelaki itu bisa bangkit seribu kali sementara lawannya pasti akan tewas ribuan kali menghadapinya. Itu adalah perbedaan yang sangat mengerikan.
__ADS_1
Matanya terbuka jelas melihat musuh yang kelak akan dihadapinya, Xue Zhan tidak bisa berdiam diri lagi setelah ini. Dia harus berlatih semakin keras.
Setelah pertarungan melawan Lan Shuiyang, Xue Zhan menyadari satu hal yang membuatnya semakin kuat.
Yaitu orang-orang yang ingin dilindunginya.
Selama ini Xue Zhan hanya berpikir bertarung untuk menang, tapi pemikiran itu begitu semu. Setelah menang, lalu apa? Hampa.
Namun ketika dia mengangkat pedangnya untuk melindungi orang lain, jiwanya seperti sedang terbakar, dirinya setajam pedang, hatinya teguh untuk senantiasa berjalan di jalan petarung sejati, bertarung demi melindungi orang lain.
Saat di Ujian Pendekar Menengah Xue Zhan tidak menyadarinya bahwa dia bersikeras lolos untuk melindungi satu hal; harapan Gurunya. Dan itulah yang mengantarkannya di tempat ini, di mana semua peserta yang lulus menerima lencana kenaikan pangkat dan melangsungkan upacara sumpah setia sebagai Pendekar Menengah.
Malam turun diterangi api obor yang mengelilingi 174 peserta yang lulus, wajah bahagia mewarnai bersama haru biru. Di sana semua panitia yang sempat menjadi pengarah mereka berkumpul di depan.
Cahaya kekuningan dari obor memperlihatkan sebagian muka mereka, api obor terus bergerak mengikuti arus angin, suasana sore itu akan begitu diingat Xue Zhan. Bukti perjuangannya selama ini dan semua latihan berat yang ditekuninya hingga berdarah-darah.
"Kalian berdiri di sini dengan kehormatan sebagai Pendekar Tingkat Menengah, bukanlah hal mudah untuk sampai di titik ini dan kalian pantas berbangga dengan pencapaian ini! Jadilah pahlawan yang melindungi negeri kelahiran masing-masing, berjuang melindungi orang-orang yang kau sayangi dan mengabdi pada Kaisar. Jangan lupakan pembelajaran dan pengalaman yang kalian dapatkan dari sini karena semua itu berharga."
"Kita akan merayakan kemenangan kalian dengan seheboh-hebohnya! Jangan sungkan lewati malam ini dengan kegilaan, sebelum kalian bertemu dengan hal yang lebih mengerikan dari ujian ini!"
Lelaki dengan topeng masker di babak penyisihan ketiga mengangkat sebelah tangan yang terkepal.
"Kemenangan untuk kita semua!!"
Sorakan dan teriakan dari para pendekar tingkat menengah baru menggema keras di kota tersebut, dua puluh panitia berpencar di seluruh barisan menyerahkan lencana besi dengan ukiran nama yang disangkutkan di baju mereka. Menjadi kehormatan untuk mereka, sebagai seorang petarung yang diakui secara resmi oleh seluruh Kekaisaran.
Setiap nama dipanggil ke depan satu per satu untuk melakukan sumpah setia, salah satunya tidak melanggar kode etik, dan melakukan perintah di bawah naungan Kaisar dengan suka rela dan bertarung hingga titik darah penghabisan. Malam bersejarah itu berlangsung dengan begitu berarti.
Upacara sumpah setia berakhir. Xue Zhan menundukkan wajah, menatap lencana di tangannya sembari mendekapnya.
__ADS_1
"Aku berhasil, Guru."
Dia begitu ingin menunjukkan kemenangan ini pada Kang Jian, sosok itu berjasa besar baginya. Jika tanpa Kang Jian, Xue Zhan tak akan sampai ke sini. Mungkin dia akan berakhir menjadi gelandangan, pencuri atau penjahat yang menyumpah serapah dunia dengan segala ketidakadilannya.
Secara mendadak angin berdesir, api obor bergerak-gerak kacau oleh angin dari celah pepohonan. Lalu seseorang berjalan di tengah para pelaksana Ujian. Aura kharisma darinya terasa begitu kuat, Xue Zhan familiar dengan aura tersebut. Namun melihat semua peserta berjongkok dan memberikan hormat dia melakukan hal yang sama.
Seluruh panitia ikut berjongkok sembari menunduk dengan mata pedang ditancapkan ke tanah.
"Hormat pada Ketua!" seru salah satu panitia itu. Terdengar tawa lepas dari lelaki itu, Xue Zhan masih belum berani mengangkat wajah sampai terdengar suara itu berbicara.
"Bagaimana dengan Ujiannya? Apakah kalian menghadapi kesulitan? Tentu saja, ini bukanlah hal mudah untuk sampai ke sini. Aku bangga pada kalian, berkat perjuangan dan kerja keras kalian telah membuktikan bahwa kalian layak menjadi seorang pendekar."
Xue Zhan mengangkat wajah dan melotot, tapi Xian Shen tiba-tiba memaksanya kembali menunduk.
"Tundukkan kepalamu bodoh."
Bisiknya memaksa.
"Di-dia—" Xue Zhan tergagap.
Xian Shen menerangkannya dengan singkat, jelas, padat.
"Benar. Dia adalah Petir Merah dari Lembah Abadi. Ketua pelaksana Ujian Pendekar Menengah tahun ini."
"Bukankah dia bilang dia hanya panitia inti?" Napas Xue Zhan tercekat.
"Memangnya kau tidak tahu Gurumu adalah ketuanya? Jiazhen Yan saja tahu."
Xiao Rong menimpali tanpa rasa bersalah di tengah hormatnya. Xue Zhan mencoba menoleh ke arah Jiazhen Yan dan pemuda itu mengoceh.
__ADS_1
"Makanya kusebut kau bodoh."