
Di puncak bukit yang berkabut, dua puluh ribu pendekar berkumpul dengan pakaian serba hitam dan topeng rubah merah darah. Di depan mereka seorang ketua berdiri di ujung jurang yang curam, menatap ke arah lembah yang terbentang di bawahnya.
Situasi di sekitar sangat hening. Namun udara seakan bergetar oleh aura kekuatan yang kuat yang dipancarkan oleh ketua para pendekar tersebut. Lelaki itu memandang ke depan dengan tatapan tajam, siap untuk bertarung kapan saja jika dia ingin.
Tak jauh dari sosok ketua kelompok itu, terdapat seorang pemuda yang berbeda dari yang lainnya. Dia mengenakan jubah putih dan topeng rubah merah seperti para pendekar lainnya, tetapi aura yang dipancarkannya terasa kuat dan berbeda dari yang lainnya.
Sang Ketua melangkah mendekati pemuda tersebut dan berkata dengan suara pelan, "Akan tiba saatnya pembalasan. Bersabarlah, tak akan lama lagi, aku yakin kau sudah tidak sabar menantikannya."
Pemuda tersebut tersenyum tipis di balik topengnya dan berkata dengan suara yang tenang namun penuh kebencian, "Aku siap untuk apa pun yang akan terjadi."
Dalam keheningan yang tegang, para pendekar itu kembali menatap ke arah lembah yang terbentang di bawah mereka, menunggu waktu yang tepat untuk turun dari sana. Dan di depan mereka, pemuda bertopeng rubah merah itu tetap berdiri tegak, menatap ke depan seolah dia sedang melihat musuh mengacungkan pedang ke wajahnya.
"Setelah aku mendapatkan setidaknya dua batu itu ..." Ketua kelompok tersebut menatap tangannya yang perlahan mengepal di depan matanya dengan tatap mata bengis. "Maka seisi dunia ini akan berada di tanganku. Aku akan menghancurkan mereka semua seperti debu."
Lelaki itu membuka telapak tangannya dan serpihan debu terbang terbawa oleh angin yang naik dari bawah bukit, berkumpul dengan kabut yang membentuk awan kecil yang menari-nari di atas kepala mereka.
Di belakang keduanya, dua puluh ribu pendekar berkumpul dengan tegak dan tegang. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan topeng rubah merah. Terdengar sentakan kompak, dua puluh ribu pendekar menghentakkan ujung pedang mereka ke tanah sekaligus, menciptakan getaran hebat yang menggema di seluruh bukit.
Si pemuda berjubah putih bersuara dalam. "Mereka pantas mendapatkannya." Tangan kirinya mencengkram gagang pedang yang diselipkan di pinggangnya. Tersirat kemarahan dalam suaranya.
"Taring Hitam sudah bergerak ke empat penjuru mata angin, tidak perlu khawatir, mereka pasti akan mendapatkannya untukku. Aku hanya perlu setidaknya dua dari batu itu untuk membangkitkan itu ..." Kelopak matanya melebar bengis di balik topeng. "Sampai hari itu tiba, tidak ada satu pun manusia yang tidak bersujud di bawah kakiku."
*
Xue Zhan dan Jiazhen Wu duduk berhadapan di ruangan bawah tanah. Dalam suasana yang sunyi, mereka membahas jejak-jejak ganjil yang terjadi setelah kematian Kang Jian dan mengaitkannya dengan banyaknya insiden yang terjadi selama beberapa tahun ke belakang.
Xue Zhan melihat beberapa kertas yang tercecer di meja dan membacanya dengan seksama. Jejak pertama yang muncul adalah jimat milik Kaisar Ziran yang ditemukan di tempat Kang Jian bunuh diri.
Jiazhen Wu menjelaskan sambil membacakan semua laporan yang dimilikinya.
__ADS_1
Xue Zhan mengangguk mengerti dan meminta Jiazhen Wu untuk melanjutkan. Jiazhen Wu kemudian menceritakan tentang pendekar misterius yang muncul di kediaman Kang Jian. Dia menerangkan bahwa meskipun tidak ada yang melihat wajah pendekar tersebut, ada yang menduga bahwa itu adalah seorang ahli bela diri yang sangat terkenal. Karena aura dari tubuhnya yang sangat berbeda dan berbahaya.
Xue Zhan menyela, "Tetapi mengapa pendekar itu muncul di sana? Apa hubungannya dengan kematian Guru Kang?"
Jiazhen Wu menggeleng tidak tahu. "Itulah yang belum kita ketahui. Tetapi memang tidak bisa diabaikan fakta bahwa pendekar itu muncul di sana pada malam yang sama dengan kematian Kang Jian."
Xue Zhan terdiam sejenak, mencoba menyusun runtutan peristiwa yang muncul. Dia kemudian menemukan jejak ganjil lainnya yang dia temukan dari laporan di dalam kertas, yaitu tidak ditemukannya mayat Kang Jian di mana pun. "Apakah mungkin Guru Kang masih hidup?" tanya Xue Zhan dengan penuh harap.
Jiazhen Wu menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Saya sudah memerintahkan pengawasan ketat di sekitar kota. Jika dia masih hidup, pasti sudah ditemukan."
"Atau orang itu menculiknya? Atau menyembunyikan mayatnya?"
"Ada banyak kemungkinan, karena itulah aku mengatakan misteri ini penuh liku. Siapa pun dalang di balik ini semua, dia pasti sudah memikirkannya baik-baik sehingga tak meninggalkan sedikit pun petunjuk yang benar. Sungguh licik."
Xue Zhan mengangguk mengerti dan kembali memandang kertas-kertas di hadapannya. Dia merasa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi di balik kematian Kang Jian. "Kita harus terus mencari tahu kebenarannya," ujarnya kemudian.
Xue Zhan mengangguk, kini dia paham mengapa Jiazhen Wu berakhir menunjuk Ziran Zhao sebagai pelaku utama.
Karena hanya dia satu-satunya yang memiliki kekuatan besar untuk melakukan ini semua. Namun Xue Zhan tidak bisa memastikannya, dia harus mencari tahu lebih banyak.
Jiazhen Wu menarik napas dalam-dalam dan memandang Xue Zhan dengan lelah. "Kau tahu apa yang terjadi selama lima tahun kau menghilang?" tanyanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Banyak hal yang terjadi di Kekaisaran Diqiu, hal-hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak masuk akal."
Dia mulai menceritakan tentang syair-syair misterius yang muncul dan dinyanyikan oleh anak-anak di seluruh kekaisaran, yang menggambarkan kejadian-kejadian ganjil dan teror yang datang. Kemudian juga tentang pembantaian besar-besaran di berbagai perguruan, di mana banyak murid dan guru terbunuh tanpa alasan yang jelas.
"Kematian pendiri Menara Giok Hantu juga menjadi hal yang mengejutkan," ujarnya lagi. "Tidak ada yang tahu siapa pelakunya, tapi ada beberapa yang mengaitkannya dengan kematianmu, hilangnya Kang Jian dan kemunculan pendekar misterius di kediamannya."
Selain itu Jiazhen Wu mulai menceritakan tentang serangan ke Kekaisaran Guang dan Kekaisaran Bing yang terjadi pada tahun lalu, di mana ratusan orang tewas. Ketakutan menjalar di mana-mana bagaikan api dan nyawa menjadi bayarannya.
__ADS_1
Dan terakhir, serangan di malam Festival Perayaan Kelahiran Dewi Angin yang hampir membunuh Kaisar Li Jia Xing.
Xue Zhan menatap Jiazhen Wu dengan heran dan kebingungan. "Apa artinya semua ini?" tanyanya.
"Tidak ada yang tahu," jawab Jiazhen Wu. "Tapi aku yakin semuanya terkait satu sama lain. Dan ini akan mengantarkan kita pada dalang di balik ini semua. Dia menimbulkan kekacauan yang tidak kira-kira."
Xue Zhan terdiam sejenak, mendengarkan dengan serius. Dia merasa terkejut dengan begitu banyaknya hal yang terjadi selama dia tidak berada di kekaisaran.
Jiazhen Wu bertanya, "Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Xue Zhan?"
"Satu-satunya petunjuk yang paling jelas adalah Taring Merah menjadi salah satu pemerannya."
"Tidak mungkin. Kau ..." Jiazhen Wu menahan kalimatnya demi mendengarkan penjelasan Xue Zhan yang semakin membuatnya terdiam.
"Aku akan pergi ke markas mereka dan mencari tahu."
Jiazhen Wu memijit hidungnya, kepalanya sakit tiba-tiba. "Jangan bertindak gegabah, mereka adalah musuh yang kuat. Kau tak akan sanggup melawan mereka sendirian."
"Tuan Jiazhen," sela Xue Zhan. "Apakah Anda akan mencari bukti pembunuhan di luar rumah sedangkan kejadiannya terjadi di dalam rumah?"
"Kau tidak mengerti," bantah Jiazhen Wu.
Xue Zhan bangkit. "Aku rasa semua informasi yang kudapat sudah cukup. Terima kasih. Mohon jaga diri Anda baik-baik, aku yakin temanku masih hidup. Dia akan sangat terpukul jika mendengar kabar buruk tentangmu."
Jiazhen Wu mengangguk namun masih nampak keraguan di wajahnya. Xue Zhan pergi diantarkan pengawalnya. Sedetik sebelum Xue Zhan melangkah pergi, laki-laki itu berbicara, "Aku takut kau terjebak di dalam pusaran mematikan, seperti putraku. Aku sudah menganggapmu seperti anak kandungku sendiri. Jadi kembalilah secepatnya ... dan jika kau menemukan Jiazhen Yan, aku akan sangat berterima kasih padamu, Xue Zhan. Tolong bawa anak itu kembali bersamamu."
Tersirat keinginan yang begitu mendalam dalam penuturannya, dia sudah berada di titik terendah dan tak mampu lagi melanjutkan pencariannya. Keputusasaan itu membekuk tubuhnya. Satu-satunya harapannya kini hanyalah Xue Zhan.
Xue Zhan tersenyum sebelum melangkah pergi. "Aku berjanji akan membawanya kembali."
__ADS_1