Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 200 - Arti Sebuah Penyesalan


__ADS_3

Di tengah medan berperang yang dilanda kekacauan, sebuah perang pecah tak terkendali. Di sana ratusan mayat terbujur kaku dan tak bernyawa, tertumpuk di atas tanah berlumpur yang telah tercemar darah.


Luka-luka yang parah dan kehancuran yang tak terbayangkan terlihat jelas di setiap tubuh yang tergeletak di sana. Serpihan senjata, seragam robek, dan tanda-tanda bekas pertarungan terlihat di mana-mana.


Sekeliling dipenuhi dengan aroma kematian yang menyengat, dan suara angin yang berdesir di antara puing-puing pertempuran. Langit yang seharusnya biru dan cerah, sekarang terhiasi awan mendung. Hanya seseorang terakhir yang berdiri di sana sebagai pemenang pertempuran tersebut.


Hanya satu sosok yang masih berdiri di tengah kehancuran. Sosok itu mengenakan jubah hitam yang berkibar oleh hembusan angin yang menusuk dingin. Di balik topeng misterius yang menutupi wajahnya, sepasang mata menatap sayu pada hal yang telah dilewatinya.


Suasana sekitarnya terasa hening dan terkoyak oleh aroma kematian yang menyelubungi area tersebut. Angin berdesir melalui medan tempat berperang, menggerakan jubah hitam sosok itu diam-diam.


Dalam sunyi yang menghantui, sosok itu mulai mengingat semua perbuatan yang dilakukannya. Ratusan nyawa yang telah hilang tak kembali lagi, yang ada kini hanya kekosongan mulai merasuk ke dalam hatinya. Meskipun sebelumnya dia yakin dengan jalan yang diambilnya, kini rasa-rasa yang mengganggu itu mulai menggerogoti pikirannya.


Seolah mempertanyakan dirinya sendiri, sosok itu melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa kekuatannya telah digunakan untuk menghancurkan, bukan untuk melindungi hal yang ingin dia lindungi. Tanah yang dipenuhi mayat adalah bukti nyata dari keputusan buruk yang telah diambilnya. Dia memandang mayat-mayat itu dengan rasa menyesal yang tumbuh semakin besar di dalam dirinya. Sosok itu menolaknya namun hatinya tidak bisa mengabaikan itu.


Dia terus bertanya pada dirinya sendiri, apa arti dari semua yang dilakukannya jika hanya untuk menimbulkan penderitaan dan kehancuran.


Di tengah kekosongan yang melingkupi sosok itu, dia mencoba mencari jawaban. Mencari kepingan yang telah menghilang dari dirinya. Meski pada akhirnya dia tetap tak menemukan jawabannya, buntu dan kehilangan arah.


Tiba-tiba, sosok itu merasakan denyutan perih yang menusuk kepalanya, membuat dia jatuh terjongkok. Dalam keadaan itu dia seolah-olah melihat kilas masa lalu yang begitu membingungkan dan sulit dimengerti.


Kilas balik tersebut menghampirinya tanpa ampun, memperlihatkan kejadian-kejadian yang tidak dapat diingatnya dengan jelas. Dia melihat gambaran puing-puing kota yang hancur, bangunan yang terbakar, dan rasa kehancuran yang melanda. Di antara pemandangan kekacauan itu, dia melihat wajah-wajah yang tidak dikenal, penuh dengan keputusasaan dan kesedihan yang mendalam.


Akhir-akhir ini dia sering mengalami mimpi buruk.


Sosok itu mencoba untuk memahami arti dari kilas masa lalu tersebut. Apakah ini kenangan masa lalu yang telah menghilang dari dirinya? Ataukah hanya imajinasinya saja? Namun, terlepas dari kebingungannya, perasaan yang mendalam dan rasa takut yang melanda dirinya tidak dapat diabaikan. Dia tidak pernah merasakan emosi sebesar itu.


Kilas masa lalu itu begitu singkat dan cepat berlalu, meninggalkan sosok itu dalam keadaan bingung dan terguncang. Dalam keheningan yang mencekam, dia berusaha memperbaiki pikirannya yang kacau dan membenarkan jubahnya.


Dengan perlahan, sosok itu bangkit dari jongkok dan mengumpulkan kesadarannya.


Samar-samar terdengar suara dari mulutnya tanpa dia sadari.


"Apakah balas dendam itu penting?"


Ucap seorang pemuda yang menatap langit kosong di atasnya, kakinya mulai menanjak naik di atas tumpukan mayat penuh darah. Dia mengangkat tangannya ke langit berusaha meraih sesuatu yang tidak pernah bisa dicapainya.


"Sampai kapan aku begini? Rasanya seperti sudah mati dan disuruh berjalan."

__ADS_1


Amarah membara di dalam dadanya telah berubah menjadi abu, hatinya hampa semakin banyak nyawa yang direnggutnya dengan pedangnya sendiri. Tetes air hujan jatuh di atas topengnya yang penuh cipratan darah.


Dia baru menyadari satu hal. Darah-darah itu tak akan mampu menghilangkan dendam di dalam hatinya.


"Kau menyesali sesuatu, anak muda?"


Seorang lelaki sepuh misterius melangkah dengan langkah perlahan, bertopang pada tongkatnya yang kokoh. Tubuhnya sedikit membungkuk, usianya telah memasuki satu abad. Rambut putihnya panjang dan lebat terurai di sekitar bahunya.


Sosok itu tampak waspada walaupun sama sekali tidak mengeluarkan reaksi. Dia melihat sesuatu yang berbeda dari lelaki tua itu, namun tak bisa menjabarkannya. Wajahnya keriput, penuh dengan garis-garis halus yang menceritakan kisah hidup yang panjang. Matanya tajam dan penuh kebijaksanaan, memancarkan kedalaman pengetahuan dan pemahaman yang mendalam. Di balik kedalaman matanya, terlihat api semangat yang tak pernah padam.


Tangan-tangannya keriput, tetapi tetap kokoh dan kuat. Dia masih memiliki kekuatan selayaknya petarung. Matanya menatap lekat pada pemuda itu. Ada bekas-bekas luka dan tanda-tanda yang terukir di kulitnya, terlihat seperti bekas pertempuran yang pernah dilaluinya di masa-masa mudanya, tetapi itu hanya menambah daya tarik dan kekuatan dalam sosoknya.


Lelaki tua itu tak hentinya melihat ke arah di mana anak muda itu, dia mengeluarkan suara serak diiringi batuk.


"Penyesalan tiba di akhir karena dia tahu jika kau tahu apa yang terjadi di akhir ... Kau akan lari darinya ..." Dia tertawa pelan, "terkadang penyesalan berarti agar kau bisa menghargai keberadaan seseorang."


Pedang di tangannya mulai bergerak, "aku tidak menyesali apapun. Aku hanya merasa semua ini sia-sia, aku tidak mendapatkan apa pun."


Lelaki sepuh itu mendelik, sedikit menggelengkan kepala. Dia telah mengalami apa yang dilalui anak muda sepertinya. Pemuda itu kehilangan arah dan tujuan dalam hidupnya. Dia telah berusaha mencapai sesuatu yang di anggap penting akan tetapi merasa semua itu tidak ada artinya dan mulai menyadari bahwa hidupnya tidak memiliki makna.


Sontak perkataannya membuka mata di balik topeng tersebut. Pikirannya sedikit kacau, dia mulai mengingat sedikit demi sedikit kilas masa lalu yang membayanginya dan apa saja yang terjadi.


"Laki-laki itu bilang bahwa semua orang di dunia ini adalah penyebab aku kehilangan orang-orang terdekatku ..." tatapan matanya penuh dengan kehilangan dan kekosongan. Dia telah kehilangan ingatannya, seolah-olah potongan-potongan memori yang berarti telah dicabut dari pikirannya.


Semuanya menghilang seperti kabut, menyisakan hanya rasa amarah yang membara di dalam dirinya.


Obsesi balas dendam telah menguasai pikirannya, menghapus empati dan belas kasih yang dulu pernah dia miliki. Namun bagaimana pun dia mencoba semua ini tidak ada ujungnya, tidak ada kata berhenti. Dia tidak memiliki siapa pun selain sosok itu. Sosok yang mengatakan bahwa seluruh dunia telah mengkhianatinya.


"Apa tidak ada satupun dari manusia di muka bumi ini yang tidak mengkhianatiku? Apa dia berbohong padaku? ... Aku rasa ada sesuatu yang tertinggal."


Bayangan itu selalu saja mengganggunya. Bayangan sosok yang tidak dikenalnya, tapi terasa begitu akrab.


Kenyataan bahwa dia merasa kehilangan sesuatu yang tidak disadarinya dan merasakan dendam hebat membuatnya percaya pada setiap bait omongan orang tersebut.


Setiap hari, pemuda itu tenggelam dalam kegelapan pikirannya yang semakin dalam.


Kehilangan ingatannya membuatnya merasa terasing dan terpisah dari dunia sekitarnya. Dia merasa terasing dari dirinya sendiri.. akhir-akhir ini ketika malam tiba, dia selalu memikirkan semua hal yang menghilang dari dirinya berubah menjadi sosok yang tidak dikenal, terpengaruh oleh ambisi jahat yang menggerogoti jiwa dan pikirannya.

__ADS_1


Semakin lama dia semakin melupakan masa lalu dan semua hal-hal yang menyakitkan. Hanya saja ketika ingatan itu pergi, namun luka itu tetap tertinggal di dalam hatinya seperti lubang hitam besar.


*


Aula Kekaisaran Feng yang megah dan penuh keindahan di istana kekaisaran terlihat ramai pagi itu. Seperti biasa, istana itu adalah salah satu istana terindah. Langit dan dindingnya dihiasi dengan ukiran-ukiran halus yang menceritakan sejarah panjang kekaisaran. Motif-motif yang rumit menghiasi setiap sudutnya, menciptakan suasana yang anggun dan mempesona.


Warna-warna yang mewah memancar dari langit-langit aula, menghadirkan kombinasi lembut dari hijau, merah muda, dan biru langit.


Cahaya lampu-lampu gantung yang anggun menciptakan pantulan indah di permukaan marmer yang halus.


Namun, dalam kedamaian dan keindahan aula yang megah, tiba-tiba terdengar suara melengking yang lantang, menggetarkan keheningan.


Suara itu memenuhi ruangan dengan kekuatan yang mengejutkan, menciptakan getaran di antara dinding-dinding istana.


Semua mata terfokus pada suara itu, menyelidiki sumber kegaduhan. Ketegangan mengisi udara, dan suasana yang sebelumnya tenang berubah tegang. Para pelayan istana berlari, mencari tahu asal suara tersebut, sementara para pejabat dan bangsawan berusaha mempertahankan ketenangan mereka. Suara melengking yang lantang itu berulang kali terdengar, terus memecah keheningan yang ada.


Ketika itu, aula Kekaisaran sudah dipenuhi oleh orang-orang yang terpancing oleh suara lengkingan yang berasal dari seorang gadis cantik dengan sepasang mata merah sinis.


"Kau bilang kau tak akan mengkhianatiku!" jerit gadis dalam jubah merah yang memasang tatapan murka ke arah sesosok wanita yang dilindungi ratusan pengawal bersenjata.


"Aku melindungimu, mempercayaimu dan mengagumimu seperti halnya yang kulakukan pada majikanku."


Namun, di balik amarah yang menyala dalam dadanya, terdapat rasa sakit dan kekecewaan yang terpendam dari kata-katanya. Dia dikhianati dan dikurung puluhan tahun dalam kekecewaan dan kesedihan, membuat amarah itu menjadi semakin kuat. Namun, meski dia begitu membenci sosok dengan tatapan angkuh di depannya, gadis itu tetap berpegang pada nilai-nilai kesetiaan dan pengabdian yang diajarkan majikannya.


Laki-laki itu pernah berpesan padanya untuk terus menjaga wanita itu. Wanita yang begitu dicintainya melebihi nyawanya sendiri.


Puluhan pasang mata mengintimidasi sosok gadis itu, dia terlihat sangat berbeda dari manusia pada umumnya dan seolah-olah memiliki sayap di atas udara, gadis itu melayang dan berteriak ke segala penjuru.


"Tapi pada akhirnya kau dengan tidak tahu malu mengubur hidup-hidup Feng Xu dan mengatakan pada semua orang bahwa dia dibunuh sekelompok penjahat. Sebegitu mudahnya? Majikanku sangat mencintaimu dengan sepenuh hatinya dan dia tidak pernah menyangka hatinya jatuh ke tangan seorang pembunuh berdarah dingin seperti kau, Li Jia Xing."


*


Bab ini agak pendek yaa


note: akhir bulan april lagi2 penyakit kambuh dan author mulai kesusahan buat menulis, tapi thor usahain buat tamatin bulan ini sesuai target. Bulan depan author udah gak bisa menulis sama sekali dan harus istirahat dari NovelToon beberapa bulan. Jadi author minta maaf klo ada kesalahan, baik itu dlam penulisan, alur, typo dan kesalahan lainnya. Bukan gak mau maksimal tapi kesehatan udah kembali memburuk. Pas masih dua bulan nulis LSI Author masih bisa fokus, sekarang agak kacau. Sedih sih tapi mau gimana lagi


Thanks udah mau memaklumi dan jangan lupa bahagia :D lopyu semwa❤️

__ADS_1


__ADS_2