Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 73 - Murkanya Iblis Penggerogot


__ADS_3

Jiazhen Yan membalikkan badan segera ke belakang, menyaksikan sisa bawahan Menara Giok Hantu kabur begitu saja setelah Hantu Penyair mati.


"Sebaiknya kau berhati-hati, kau akan menjadi incaran hantu lainnya dari Menara Giok Hantu. Tidak kah kau berpikir tentang itu?! Zhan bodoh! Bagaimana kalau mereka mengincarmu?"


Jiazhen Yan mengumpat sejadi-jadinya.


"Kalau bukan dia yang dibunuh," suara Xue Zhan tertahan, "artinya kita yang dibunuh. Sudah jelas, bukan?"


"Memang, hukum rimba berlaku di sini!" seru pemuda itu meninggi, "Tapi rimba pun punya aturan lainnya! Kau membunuh satu pemimpin serigala, maka pemimpin serigala lain akan muncul bersama yang kawannya untuk membunuhmu!"


Darah Hantu Penyair mengalir dan sampai ke bawah kaki mereka yang masih berdebat.


"Kau masih punya tenaga untuk mendebatku, sebaiknya kau gunakan tenagamu untuk menyelamatkan Xiao Rong dan Xian Shen!"


"Kau—" Jiazhen Yan kehabisan kata-kata, segera menyusul Xue Zhan yang berlari ke dalam markas Menara Giok Hantu.


*


Hantu Penggerogot membaui darah yang sangat familiar dari tubuh Xue Zhan, hal itulah yang membuatnya lengah sesaat hingga tendangan dua pemuda itu berhasil lolos dari penglihatannya.


Dia berpikir tak percaya dengan dugaannya sendiri. Kulit wajahnya bergetar saat dia berbicara geram, "Apa yang sudah terjadi pada kakakku?"


Xian Shen yang sudah terlepas dari Hantu Penggerogot berlari ke tempat temannya, menggigil sekujur badan melihat musuh bangkit menyeret senjatanya disertai nafsu pembunuh yang begitu pekat.


"Aku mencium aroma darahnya ... Kalian ada di sini. Itu artinya dia kalah?"


Tidak satu pun dari keempat pemuda itu menjawabnya, Hantu Penggerogot bertambah emosi.


"KAU MEMBUNUHNYA?!"


Lengkingan suara itu mendadak naik tiga oktaf, Xue Zhan merasa ini semakin tidak terkendali. Di saat yang sama Xiao Rong diam-diam menggunakan kekuatannya untuk menculik balik gadis yang digotong bawahan Menara Giok Hantu menggunakan benang hitam miliknya.


"Segera tinggalkan tempat ini!"

__ADS_1


Jika Xue Zhan sudah berseru demikian, ketiganya tak punya alasan untuk mempertanyakan lagi. Ini adalah bahaya paling ditakuti.


Hantu Penggerogot marah besar, kemarahannya membuat langit-langit Menara Giok Hantu berderak dan debu-debu mulai jatuh akibat lubang yang mulai timbul di atas mereka. Di sepanjang jalan retakan di dinding bangunan itu menjalar mengikuti langkah mereka yang tergopoh-gopoh. Xian Shen membawa gadis itu yang sedang tak sadarkan diri di punggungnya, Xue Zhan membantu pemuda itu untuk tetap berlari cepat.


"MATILAH KALIAN SEMUA!!!"


Teriakan itu bagaikan geledek di siang hari dan menyambar langit-langit di atas mereka, Jiazhen Yan bersiap dan menghancurkan bebatuan itu dengan pedang. Tapi itu tidak cukup kuat untuk menyingkirkan kepingan besar yang hendak mengenai Xue Zhan dan Xian Shen.


Xiao Rong mengeluarkan kekuatan kegelapan untuk melindungi Xue Zhan dan Xian Shen dari timbunan batu. Mereka melanjutkan lari dan mencari pintu keluar.


Gerbang besi ditutup perlahan, Xue Zhan takut langkah mereka tak akan sempat ditengah kejar-kejaran maut ini. Hantu Penggerogot berada tepat di belakang bersama bawahan Menara Giok Hantu untuk membunuh mereka berempat.


Jiazhen Yan dan Xiao Rong merunduk, berhasil melewati gerbang besi itu. Namun Xue Zhan dan Xian Shen tertinggal.


"Tidak-" Xiao Rong memegang jeruji besi dengan panik. Xue Zhan berteriak.


"Cepat cari jalan keluar sebelum bangunan ini runtuh, jangan khawatir kan kami! Kami akan segera menyusul!"


"Jaga diri kalian!" balas Jiazhen Yan, mengepalkan tangan dan menarik tubuh Xiao Rong sebelum musuh lain mencegat mereka.


Hantu Penggerogot lewat di belakang mereka dan berteriak lantang.


"Aku akan menguliti kalian sampai kalian merasa mati lebih baik daripada hidup!"


Di tengah pelarian itu mereka melewati lorong-lorong menyerupai labirin, setiap jalan memiliki empat simpangan yang membingungkan. Sama sekali tak menunjukkan jalan keluar. Sementara itu lantai tempat mereka berpijak mungkin juga akan hancur. Masih ada ruang bawah tanah di bawah kaki mereka. Beberapa tangan mayat keluar dari lantai bahkan dinding, Xian Shen menjerit.


"Ibuuu!!"


"Ibumu tidak ada di sini, Tuan Muda Shen!" Xue Zhan menjerit balik. Membantu Xian Shen lepas dari tangan mayat itu dengan heboh. Mereka berlalu melewati sebuah pintu yang setengah terbuka dengan puluhan tangan keluar dari sana.


Dari celah-celah pintu, Xue Zhan melihat wajah mayat yang sedikit abu-abu hitam busuk, teringat dengan mayat yang dijumpainya di lokasi Ujian Pendekar Menengah.


Pikirannya mulai menebak semua kemungkinan, tentang hubungan Taring Merah dan Menara Giok Hantu juga keberadaan manusia mati ini.

__ADS_1


Manusia mati yang ditemuinya sekarang berbeda dengan yang berada di luar dan mampu bertarung, bisa dibilang labirin ini menyimpan manusia mati yang kemampuannya lebih rendah dari bawahan Menara Giok Hantu. Tapi tetap saja mereka berbahaya dan mampu mengoyak kulit serta daging mereka.


"Tidak ada jalan keluar! Kita tersesat!" Xian Shen merasa mereka hanya berputar-putar, Xue Zhan juga sudah tahu itu lebih awal. Dia menelan ludah.


"Kita ambil jalan ini!"


Xian Shen mau tidak mau mengikutinya, dengan menggendong Putri Wen di punggungnya sambil berlari, tenaga Xian Shen berkurang sangat cepat. Xue Zhan mengingat setiap jalan yang mereka lewati dan hanya itu satu-satunya jalan yang belum mereka lewati.


Mereka melewati persimpangan dan tepat di samping itu, Hantu Penggerogot muncul. Tebasan kasar berhenti di atas kepala Xian Shen, Xue Zhan menahannya dan beruntung tidak terlambat.


"Cepat pergi!"


Xue Zhan menahan Hantu Penggerogot selagi Xian Shen berlari. Tentu dia tak akan sanggup menahan kemarahan laki-laki itu bahkan meski hanya satu menit.


"Kau membunuh kakakku, kau akan mendapatkan ganjaran sepuluh-tidak, seratus kali lipat!"


Xue Zhan menelan ludah. "Aku bersumpah atas nama kakakku, Hantu Penyair, tidak akan melepaskanmu!"


"Aku baru membunuh satu kakakmu, bagaimana dengan puluhan orang yang kehilangan saudaranya karenamu?!"


"Aku tidak peduli!" Jika mata merah keruh itu adalah pedang, Xue Zhan pasti sudah mati ditikam olehnya.


"Kalau begitu aku tidak peduli atas kematian kakakmu! Dia pantas mendapatkan itu, karena kalian juga tidak peduli atas nyawa-nyawa yang terenggut atas kejahatan kalian!"


"Matilah!!!"


Serangan dari Hantu Penggerogot kali ini mungkin tidak bisa diatasinya. Xue Zhan memilih hengkang dan berlari secepat yang dia bisa. Menyusul Xian Shen segera.


Xian Shen sekali-kali melihat ke belakang di tengah pelariannya. Xue Zhan berada di belakangnya fokus ke depan dan mendapati dua bawahan Menara Giok Hantu datang mencegat. Dia menebaskan pedang, menjatuhkan salah satunya lalu menghantam satunya lagi di dinding disusul tinju yang mengenai perutnya.


Xian Shen berlari di depan, tiba-tiba saja sesuatu menariknya.


"Tidak-"

__ADS_1


Xue Zhan juga ditarik, lalu mereka dan dua orang lainnya jatuh terguling ke lubang yang mengantarkan mereka ke bagian terdalam Menara Giok Hantu. Tepat setelahnya atap Menara Giok Hantu rubuh disertai teriakan Hantu Penggerogot.


"AKU PASTI AKAN MEMBALASMU, IBLIS SIALAN!"


__ADS_2