Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 139 - Rahasia yang Disembunyikan


__ADS_3

Lalu dalam seketika sebuah telapak tangan berukuran raksasa tercetak di dinding Jurang Penyesalan begitu jelas. Fenghuang sempat tertegun untuk beberapa saat, teknik itu adalah salah satu teknik yang paling sulit untuk didalami, dikatakan dari seratus Tetua di Perguruan Gunung Pohon Seribu hanya ada empat puluh yang dapat menguasainya.


Xiang Yi Bai tak pernah menyangka bahwa Xue Zhan menyanggupi syaratnya dan bertarung mati-matian untuk mengikuti perintahnya, menguasai 100 gerakan dasar dari Gunung Pohon Seribu. Padahal meskipun Xue Zhan tak menguasai keseratus jurus itu dia tak akan marah, ada beberapa jurus yang membutuhkan kemampuan khusus.


Xue Zhan mempelajari semua jurus itu siang malam tanpa henti, seringkali Xiang Yi Bai melihatnya pingsan saat sedang bermeditasi akibat terlalu kelelahan atau kehabisan tenaga. Yang membuatnya semakin tidak habis pikir adalah bahwa muridnya itu tidak memprotes seberat apa pun latihan yang diberikannya.


Di gerakan ke-99 Xue Zhan oleng dan hampir terjatuh ke air sungai, dia mempertahankan kesadarannya sambil mengumpulkan kekuatan terakhir yang dimilikinya. Mulut pemuda itu penuh bersimbah darah, bahkan Xue Zhan tak lagi bisa melihat dengan jelas karena darah juga keluar dari bola matanya. Dia telah melawan ambang batas kemampuannya sendiri.


Jurus terakhir, Xue Zhan baru saja mengeluarkan pedang dari sarungnya dan sedetik kemudian dia kembali memasukkannya. Matanya masih terpejam. Namun dalam sepersekian detik pemuda itu sudah melepaskan dua belas ayunan pedang ke arah dinding jurang.


Angin dari ayunan pedang terlempar ke arah dinding dan menembusnya sangat dalam. Sedikit guncangan terjadi, kedua belas tebasan tersebut begitu rapi. Xue Zhan beralih ke arah Xiang Yi Bai.


"Bagus. Kau melakukannya." Xiang Yi Bai bertepuk tangan, memberikan senyum apresiasi yang membuat muridnya bahagia. Xue Zhan mengangkat jempolnya sembari berkata, "Guru, aku berhasil!"


"Tentu saja. Sekarang-"


Xue Zhan pingsan.


"Ya ampun kutu kecil. Dia ini benar-benar merepotkan," geram Xiang Yi Bai segera mengangkut anak itu kembali ke daratan, sambil merepet-repet tentunya.


Tak disangka luka yang diterima Xue Zhan cukup fatal sehingga butuh waktu sekitar delapan jam untuk kembali pulih. Xiang Yi Bai duduk di atas batu yang berhadapan langsung dengan api unggun. Tempatnya, Xue Zhan dan Fenghuang sering menghabiskan waktu bersama. Kali ini hanya ada dirinya dan Fenghuang. Mereka biasanya hanya membahas masa lalu dan komplotan orang jahat.


Hingga akhirnya Fenghuang mulai berpikir sama seperti yang dipikirkan Xue Zhan. Dia mengutarakan maksudnya di sela obrolan.


"Tidakkah kau kasihan melihat muridmu? Kulihat dia sebatang kara, tidak ada yang mempercayainya. Orang-orang yang dia miliki pergi meninggalkannya. Tak heran dia sangat berharap kau ikut bersamanya."


"Kau sedang menceritakan apa yang pernah kau rasakan?" Xiang Yi Bai membalikkan perkataannya hingga phoenix itu tak menjawab untuk beberapa saat, mencerna omongan Xiang Yi Bai. Laki-laki itu sepertinya tahu sedikit dengan apa yang dialaminya.

__ADS_1


"Sangat menyakitkan ketika kau tinggal sendirian sementara orang-orang di sisimu pergi. Sebatang kara dan menanggung beban sendirian. Sebelum bertemu kalian aku merasakan hal yang sama. Dan tampaknya besok akan kembali menjalaninya." Fenghuang menolak makanan yang disodorkan Xiang Yi Bai. Laki-laki itu menghela napas.


"Kau bisa pergi bersama Xue Zhan. Bukankah lebih menguntungkan? Aku yakin kau akan menemukan kesulitan untuk mencapai tujuanmu. Membawa Xue Zhan adalah pilihan yang tepat."


"Kau sendiri?"


"Jangan-jangan ada serangga di telingamu sampai tidak mendengar apa yang kukatakan sejak kemarin. Aku tak akan pergi dari sini."


"Demi Batu Tanah itu lagi?" Fenghuang memotong dan sedikit sanksi. "Atau demi menghindari penyesalan yang begitu kau takuti?"


"Keduanya."


Fenghuang membalas pasrah. "Kita berdua seperti dua orang tua yang sibuk mengkhawatirkan dunia. Padahal ajal sudah di depan mata."


"Ajal saja enggan menyapamu, Fenghuang. Kalau dia ada di sini sudah pasti dia lari terbirit-birit melihat kita. Hahaha."


Lelaki itu mengeluarkan sebuah kitab legendaris, Kitab Phoenix Surgawi yang dikatakan telah lama menghilang.


"Bagaimana bisa kau memilikinya?"


Sedikit terlihat phoenix itu kaget, Xue Zhan juga pernah menunjukkan sebuah jurus dari Kitab tersebut.


"Jadi kau yang menurunkan jurus Tarian Pedang Angin kepada anak itu?"


"Bukan aku. Tapi dia telah memiliki kitab ini sejak awal. Sejak dia dilahirkan di bumi ini ..."


"Kau sepertinya tahu banyak tentangnya."

__ADS_1


"Aku mengenal anak ini lebih dari dia mengenal dirinya sendiri."


Ucapan Xiang Yi Bai menggantung. Xue Zhan yang telah pingsan lebih dari tujuh jam terbangun dan mulai menangkap obrolan tersebut. Dia mencoba mendekat dan mendengarkan penuturan Xiang Yi Bai.


Fenghuang menanggapi, "Bagaimana bisa?"


"Karena aku adalah Guru dari Ayahnya."


Darah di seluruh tubuh Xue Zhan membeku, dia tak merasakan kakinya masih berpijak tapi yang jelas tulangnya terasa lemas. Tak pernah menyangka Xiang Yi Bai menyembunyikan semua ini selama lima tahun lamanya. Selama ini Xue Zhan baru menyadari mengapa Gurunya selalu menyebut murid lamanya dan menyamakan mereka berdua.


Bahkan saat pertama kali bertemu, Xiang Yi Bai sempat menanyakan bahwa dia adalah anak dari seseorang. Xue Zhan terlalu cuek dan tak menganggapnya serius. Namun kini kejutan itu membuatnya tak dapat berkutik.


"Saat anak itu dilahirkan gejolak besar terjadi di Kerajaan Phoenix. Perang terjadi menewaskan ratusan ribu lebih nyawa manusia. Para iblis datang membantai manusia tanpa belas kasih, lalu kudengar, Ayah dan Ibunya tewas dibunuh. Anaknya dikabarkan telah meninggal terbawa arus sungai."


Xiang Yi Bai menatap jauh dengan pandangan nanar. "Saat aku keluar dari sini demi mendengar berita tersebut, rasanya tak ada lagi yang tersisa untukku di dunia ini. Aku sudah tidak memiliki bagian untuk hidup di dalamnya. Perguruanku hancur, temanku meninggal dan muridku tewas tanpa ada sesiapapun yang menolongnya."


Xue Zhan mendengarkannya. Suara yang begitu putus asa itu. Xiang Yi Bai melanjutkan.


"Saat aku bertemu dengan anak itu, aku mengira dia adalah muridku. Tapi takdir berkata lain, mereka menitipkan anak yang dikabarkan telah meninggal terbawa arus sungai itu kepadaku. Saat mendengar semua cerita darinya, aku semakin yakin bahwa dia adalah anaknya."


"Kau tidak pernah memberitahukan hal sepenting ini padanya?" tanya Fenghuang yang mewakili pertanyaan di kepala Xue Zhan saat itu, dia menunggu dengan harap-harap cemas.


"Aku tahu dia akan membenciku karena aku tidak bisa melindungi Ayah dan Ibunya. Sebagai Guru Ayahnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menjadi pengecut di Jurang Penyesalan dan menghabiskan waktu dengan arak. Sementara mereka meregang nyawa dalam perang. Semua orang mengatakan aku hebat, tapi nyatanya aku hanyalah seorang pengecut menyedihkan yang tidak sanggup bertarung dengan takdirku sendiri."


Dia melemparkan kendi arak ke sungai, berniat memeriksa Xue Zhan, tapi seketika Xiang Yi Bai kaget muridnya sudah berdiri di depan pondok dan diam membeku. Xiang Yi Bai terlalu tenggelam dalam ceritanya sampai tidak menyadari muridnya terbangun.


Kulit wajah lelaki itu semakin putih, keduanya bertatapan.

__ADS_1


"Jadi ... Selama ini guru menyembunyikannya dariku?"


__ADS_2