Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 227 - Setan Kembali


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?"


Suara lembut itu terdengar di tengah dunia yang kacau di hadapannya.


"Kau kehilangan apa? Siapa yang merebutnya darimu? Kau tidak mau melawan dan hanya duduk diam saat diinjak-injak?" Ekspresi wajah khawatir itu terlihat begitu prihatin, suaranya semakin berbisik.


"Aku tahu dari lubuk hatimu kau ingin membalaskan mereka semua ... Orang-orang itu telah merenggut kebahagiaanmu, orang-orang yang mempercayaimu dan senyuman di wajahmu. Jangan pikirkan apa pun, aku yakin jika mereka pun ingin kau membalaskan dendam itu."


Tepukan pelan di pundaknya terasa kian nyata ketika pemuda itu tenggelam dalam lamunannya dan tidak berkutik selain hanya menatap kosong selama berjam-jam di tepi jurang. Wajahnya pias dan pucat, kedua bola matanya telah mengering sejak dua jam yang lalu. Emosi yang membakar hatinya perlahan-lahan terenggut darinya. Dia hampir kehilangan kewarasannya dan tidak ada siapa pun yang menyelamatkannya dari kegelapan yang mencoba menenggelamkannya.


"Aku bisa membantumu, kau melalui penderitaan ini sendirian dan aku tidak akan membiarkanmu. Aku juga pernah mengalami kemalangan yang sama sepertimu dan aku paham bagaimana rasanya," yakinnya sekali lagi hingga perlahan-lahan wajah pucat pasi itu mulai bergerak kaku menatap ke sampingnya di mana seorang pria berwajah tampan yang memegang sebuah topeng rubah menatapnya dengan pengertian.


Saat itu, tatapan hangat itu seolah-olah menyelamatkannya dari kesedihannya.


" ... Kau akan membantuku?" suaranya serak.


Lelaki topeng rubah melihat pemuda itu begitu putus asa, "Tentu saja. Kau akan tertelan dalam kegelapan jika membiarkan kebencian itu terpendam selamanya. Dia akan membuatmu gila. Kau akan kehilangan kesadaran ..." Dia mencengkram pundak itu dengan tatapan gelisah.


"Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku memiliki banyak teman yang bisa menerima keadaan mu. Kau akan diterima di sana dengan baik. Kami akan membantumu melepaskan kebencian itu untuk kebaikanmu."


Dia berpikir bahwa lelaki itu adalah seorang pendeta atau apa pun yang mencoba menyelamatkan jiwanya. Tanpa berpikir panjang dia mengangguk.


Senyuman itu merengkuhnya hanya sesaat. Lalu menghancurkannya hingga ke tulang-tulangnya.


Jejak tapak langkah kaki di gurun pasir terlihat semakin hancur, jejak kaki itu seperti terseret-seret paksa melawan badai angin dan kekacauan yang menghantam kepala pemuda berambut merah itu. Dia melemparkan topeng rubah dari wajahnya, menghancurkannya dengan membakarnya dengan api. Berteriak sejadi-jadinya saat semua ingatan mulai timbul ke permukaan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Apa-apaan ini? Sebenarnya apa yang kulakukan selama ini?!" jeritan itu menggema keras. Dia berjalan kian jauh tak sanggup menghadapi semua kenyataan yang seakan menghantam kepalanya dengan telak.


Semakin dia memejamkan mata ingatan masa lalu itu semakin jelas.


Lelaki dengan topeng rubah itu membawanya pergi ke sebuah tempat yang asing. Tempat di mana dia bisa melihat awan di bawah kakinya dan tidak menemukan kehidupan selain kelompok tersebut. Sadar tidak sadar dia hanya mengikuti perintah laki-laki itu. Entah apa yang membuatnya demikian percaya hingga terjerumus ke kegelapan yang paling dalam.


Lalu lelaki itu memaksanya menenggak satu botol penuh cairan berbau busuk dan tidak boleh memuntahkannya. Dari sana, dia tidak mengingat jelas apa yang terjadi selain kepingan ingatan yang acak.


Sekelebat bayangan mayat-mayat, pedang berdarah dan pantulan wajahnya yang tidak memiliki ekspresi terlintas. Mengganggunya dari waktu ke waktu sampai kepalanya hampir pecah. Ingatan itu tidak hentinya berputar sampai dia tidak dapat mendengarkan suara teriakannya sendiri.


"Aaarhghh! Sialaaan! Lepaskan aku!"


Pemuda itu terjatuh ke pasir, mencoba melepaskan sesuatu yang membakar lehernya. Dia mencabik-cabik kulit lehernya dengan kasar, panas membakar di lehernya ditambah sensasi sakit dari tusukan jarum tak berwujud. Serupa kutukan yang mulai menggerogoti saat dia melanggar syaratnya.


Jiazhen Yan memuntahkan darah hitam. Tubuhnya melawan kekuatan dari ramuan tersebut. Bekas ungu kehitaman dari rantai yang membelenggu lehernya mulai tercetak jelas di lehernya yang putih.


Tiba-tiba saja dia berlari cepat kembali ke arah dia datang, langkah kakinya yang tergesa menerbangkan pasir ke udara. Tanpa peduli akan rasa sakit yang mulai kembali terasa Jiazhen Yan mempercepat langkahnya untuk kembali di tempat di mana sosok itu berada.


Namun ketika langkahnya kembali ke tempat di mana dia meninggalkannya, hanya keheningan menyambutnya. Tidak ada bekas jejak yang tersisa akibat angin badai. Dia mulai mempertanyakan ke mana orang itu pergi dan mencari-cari ke segala tempat sampai langkahnya terhenti putus asa.


"Aku membunuhnya juga?"


Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, tak percaya dengan tindakan yang diambilnya.


Jiazhen Yan kehilangan dirinya sendiri. Dia bahkan tidak bisa mengingat jelas apa yang terjadi selama lima tahun ini. Hanya sekelebat bayangan dan kesedihan yang mulai menggerogoti ruang di dalam dadanya.

__ADS_1


Kebenciannya berakhir dengan penyesalan seumur hidup.


Tetes air mulai membasahi pipi putihnya, tanpa terdengar suara apa pun lain selain tubuh yang mematung dalam kekosongan. Tulang kakinya kehilangan kekuatan dan membuatnya jatuh bersimpuh di tengah padang pasir.


"Aku membunuhnya, kan ...?" Dia mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi namun otaknya sama sekali tidak memberikan jawaban apa pun selain saat dia menusuk dada Xue Zhan dan membiarkannya tewas karena kehabisan darah.


"Hei, bangsat! Jawab aku! Kau masih di sini?!" Dia berteriak sambil melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru berharap mendapatkan jawaban. "Itu benar-benar kau, kan? Aku yakin tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Aku sangat ingat dengan wajah jelek dan menyebalkan itu. Katakan padaku kau bersembunyi di mana, aku ingin meninju wajahmu sekarang."


Tak mendapatkan jawaban sama sekali pemuda itu akhirnya berteriak putus asa.


"Xue Zhan!"


Dia memperhatikan sekeliling dan mendapatkan sesuatu di dalam timbunan pasir yang dipenuhi genangan darah. Saat tangannya mengangkat tali kecil itu terlihat sebuah permata bening menyerupai kristal dengan ukiran nama di dalamnya.


'Gu Xuanhua'


Dia mengeluarkan kalung yang sama miliknya, melihat kedua permata berbeda warna itu memiliki nama yang sama. Tatapannya tidak percaya.


Itu benar-benar Xue Zhan.


Jiazhen Yan begitu teringat saat dia melihat kalung ini di leher Xue Zhan sebelum dia jatuh ke jurang Penyesalan. Hanya dia yang memiliki kalung itu selain dirinya.


Mengetahui temannya benar-benar masih hidup membuat matanya kembali berair. Emosi yang telah lama menghilang dari dirinya kembali. Dia mencengkram erat kalung itu.


"Kawan sialan, aku tidak akan memaafkan mu sudah membuatku menangis seperti perempuan. Anak baj*ngan."

__ADS_1


Namun sekarang dia bahkan tidak tahu apakah Xue Zhan masih hidup. Jiazhen Yan terhenti sesaat ketika melihat helaian sayap merah yang terbang disapu angin. Dia mengamati dengan teliti. Melihat satu jalan di mana bulu itu terbang.


"Siapkan kepalamu, Xue Zhan."


__ADS_2