Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 224 - Antara Hidup dan Mati II


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu selama lima tahun ini?"


Tanya Xue Zhan, kepalanya merunduk cekatan menghindari marabahaya yang bisa sewaktu-waktu membuatnya terpenggal. Pemuda di depannya mengerahkan segenap tenaganya untuk melepaskan serangan bertubi-tubi dari segala sisi.


Langkah demi langkah Jiazhen Yan membuat Xue Zhan mundur terpaksa. Dia belum ingin menarik pedangnya dan ingin memastikan apakah kepala temannya itu benar-benar menghantam sebuah batu besar sampai lupa ingatan.


"Oi, bajing*n jangan berpura-pura bersikap bodoh! Jawab pertanyaan ku!"


Xue Zhan dengan gamblang memukul kepalanya keras, mata merah di balik topeng rubah melotot ganas kepadanya dan dalam sedetik kemudian pedang merah di tangan Jiazhen Yan menyala hebat. Api murni tersalurkan pada setiap sisi bilah pedang dan membuatnya sepuluh kali tajam karena panas yang dimiliknya.


"Kau manusia paling bodoh, aku belum mati kau sudah merengek seperti anak itik kehilangan induk! Sekarang malah menggunakan kekuatan sebiji kedelaimu untuk menciptakan perang! Kukira di dunia ini hanya bintang laut yang tidak punya otak. Rupanya kau juga, Jiazhen Yan sialan."


Jiazhen Yan yang tadinya bergerak luar biasa cepat tiba-tiba berhenti memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Xue Zhan menggunakan tempurung kakinya untuk menyikut kepala pemuda itu. Siapa tahu otak Jiazhen Yan bergeser sedikit.


Lagi-lagi Xue Zhan mengenainya sebelum Jiazhen Yan bisa menyentuh. Jelas-jelas Jiazhen Yan murka, perangainya yang tadinya diam dan dingin mulai berubah.


"B*ngsat, kau meremehkan ku?!" marahnya meledak. Baru kali ini seseorang menendang pelipis kepalanya dengan kaki.


"Nah, begitu lah setan. Marah-marah, mengumpat, mencaci maki. Ingatan saja hilang, kelakuan masih seperti setan."


"Cari mati!"


Jiazhen Yan mengangkat pedang lurus ke atas langit yang memancarkan energi api murni. Seluruh energi alam berkumpul dan bergabung dalam tubuh pedang, mata Xue Zhan dapat melihat aliran kekuatan merah yang besar menari-nari di atas kepala Jiazhen Yan dan itu semua akan diarahkan kepadanya sebentar lagi.


Matanya sesaat menangkap energi kekuatan yang hampir sama dengan yang dimiliki Ming Dao-kekuatan cahaya. Dia nyaris tidak percaya saat merasakan sendiri dan berusaha memastikan berkali-kali. Namun semua itu benar. Jiazhen Yan memiliki kekuatan cahaya milik Taring Merah.


Tanpa berpikir dua kali Jiazhen Yan menembakkan kekuatan dalam jumlah besar ke arah Xue Zhan.


Jiazhen Yan tidak pernah bertarung gegabah seperti ini namun entah mengapa lawannya memiliki bakat memancing emosinya. Dia menarik napas berat, jurus itu menggunakan kekuatan yang cukup besar. Efek yang dihasilkannya pun bisa menghancurkan puluhan meter Gurun Cahaya. Api berkobar di tengah Padang pasir meskipun tidak ada yang dilahapnya. Lalu Jiazhen Yan mencari keberadaan musuh dengan cermat sebelum dia mendengar suara di belakangnya menyahut.


"Kau berkembang sangat pesat. Sejujurnya aku iri padamu. Tapi kau lupa? Dulu, waktu kita sering berlatih dan berduel, kau pernah mengatakan kelemahanmu. Teknikmu dan jurus klanmu."


Jiazhen Yan tidak ingat sama sekali serta tidak mengerti apa yang dibicarakan musuhnya. Namun di satu sisi dia menyadari pemuda itu tidak asal omong.


Xue Zhan berada di titik di mana dia tidak bisa melihat dengan jelas. Titik buta itu berada di belakangnya. Dan beberapa menit sebelumnya saat dirinya melepaskan serangan bertubi-tubi Xue Zhan dapat menghindari dengan mudah.


Jiazhen Yan menoleh ke belakang, di mana Xue Zhan sama sekali tidak menyerangnya meskipun detik itu dia memiliki kesempatan.


"Aku akan membenturkan kepalamu seribu kali sampai kau ingatanmu kembali lalu setelah itu membawamu pulang ke ayahmu. Setan Norak merepotkan."


**


Benteng pertahanan yang besar berdiri tegak di perbatasan kekaisaran, menjulang tinggi di tengah pemandangan yang luas.


Ratusan pendekar dan prajurit berdiri dengan tegak di dalam benteng pertahanan Kekaisaran. Mereka membentuk barisan yang rapat, siap menghadapi setiap serangan musuh. Suara hentakan kaki mereka terdengar berirama.

__ADS_1


Prajurit-prajurit itu memakai seragam Kekaisaran Diqiu berjaga dengan kewaspadaan, menjaga setiap sudut benteng dengan hati-hati.


Bendera Kekaisaran berkibar di angin sore, melambai-lambai dengan gagahnya di atas dinding benteng. Bendera-bendera itu memperlihatkan lambang kebesaran dan kebanggaan Kekaisaran, memberikan semangat kepada para pendekar dan prajurit yang berdiri tegak di sekitarnya. Ini adalah saatnya bagi mereka untuk menunjukkan kesetiaan kepada Kekaisaran.


Suasana sore menyelimuti daerah itu, dengan langit terbakar oleh warna jingga dan merah, menciptakan pemandangan indah di tengah situasi menegangkan saat mendengar suara ribuan derap kaki.


Hawa panas menyapu daratan, mengirimkan hembusan angin panas yang membuat keringat mengalir di wajah para pendekar. Mereka tetap berdiri di tempat, mempertahankan posisi mereka dengan berani.


Di sekitar benteng bukit-bukit hijau menjulang di kejauhan, terlihat keindahan alam yang melingkupi benteng pertahanan. Matahari terbenam memberikan cahaya kunang-kunang yang memancar di langit, menciptakan suasana yang tenang namun juga menegangkan.


Bunyi derap kaki semakin mendekat dari kejauhan, memecah keheningan di sekitar benteng pertahanan. Seorang prajurit yang berjaga dengan seksama melihat kepala prajurit yang berada di dekatnya dan segera menghampirinya.


"Dugaan kita benar. Mereka datang dari arah timur untuk menghancurkan benteng pertahanan kita. Apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil?" tanya prajurit dengan nada khawatir.


Kepala prajurit menatap dengan tegas, menunjukkan kepercayaan dirinya yang tak goyah. "Kita harus bertahan. Hanya itu satu-satunya pilihan yang kita miliki," jawabnya dengan suara yakin.


Para prajurit di sekitar mereka mendengarkan dengan serius.


Dia memberikan isyarat kepada para prajurit untuk mempersiapkan diri, mengingatkan mereka untuk tetap tenang dan menjaga kekompakan.


Benteng pertahanan terlihat tegap, dengan prajurit-prajurit yang berdiri kokoh dan berwaspada. Mereka menatap ke arah timur, menunggu dengan ketegangan saat musuh semakin mendekat.


Lao Baoli berada di barisan depan bersama para pendekar muda Kekaisaran Diqiu lainnya yang ditugaskan hari itu, mata tajamnya memperhatikan setiap gerakan musuh yang semakin mendekat.


Dalam pertempuran yang berkecamuk dengan cepat, kepala prajurit memainkan peran penting dalam mengatur dan mengarahkan serangan. Dengan kepala tegak dan suara yang lantang, dia berdiri di tengah medan pertempuran yang kacau.


" Buat barisan pertahanan!" seru kepala prajurit dengan penuh wibawa, suaranya melawan hiruk-pikuk pertempuran. Teriakan itu terdengar jelas di antara bunyi ledakan tong minyak panah dan suara pedang yang bertabrakan.


Prajurit yang mendengar perintah segera mematuhi, melawan arus serangan musuh dan mundur ke posisi pertahanan yang telah ditentukan. Mereka membentuk barisan rapat, menghadapi musuh dengan kesiapan yang tinggi. Kepala prajurit memimpin dengan ketegasan, mengatur taktik dan membagi tugas kepada para prajurit di sekitarnya.


"Siapkan panah! Luncurkan serangan!" teriaknya, suaranya terdengar di atas kegaduhan pertempuran. Para pemanah segera menyiapkan panah di busur mereka, siap meluncurkannya ke arah musuh. Kepala prajurit memberikan aba-aba dengan jelas, menentukan saat yang tepat untuk melepaskan serangan mematikan.


Bunyi busur yang ditarik dan lepasannya memecah keheningan udara. Ribuan panah berkelebat melintasi langit, menghujani musuh dengan hujan besi yang mematikan. Suara panah yang menyambar dan menembus sasaran mencampur adukkan dengan teriakan dan jeritan perang.


"Sangkutkan, serang dengan kekuatan penuh!" seru kepala prajurit, suaranya bergema di antara dentingan pedang dan ledakan tong minyak panah. Kepala prajurit tidak hanya memberikan perintah dan instruksi, tetapi juga turun tangan langsung dalam pertempuran.


Lao Baoli dan puluhan pendekar Kekaisaran Diqiu melawan dengan, menerapkan teknik bela diri yang mereka kuasai.


Pedang bersinar dan panah meluncur dengan cepat, menghunus ke arah musuh yang berbondong-bondong. Suara tabrakan logam memenuhi keheningan sore, menciptakan dentingan yang menegangkan. Lao Baoli meluncur maju, bergerak dengan lincah dan tepat, menghindari serangan musuh sambil mengirimkan serangan balasan yang mematikan.


Namun, tekanan musuh terus meningkat. Serangan mereka begitu intens dan terkoordinasi, menguji ketahanan dan ketangguhan para pendekar Kekaisaran Diqiu. Lao Baoli dan rekan-rekannya saling menjaga, membentuk barisan rapat yang kokoh, berusaha melindungi benteng pertahanan dari serbuan musuh yang tak kenal ampun.


Saat matahari semakin merosot di cakrawala, sinar senja menyelimuti medan perang. Angin dingin berhembus tipis menerbangkan jubah dan zirah mereka. Musuh membanjiri tiada hentinya.


Dalam pertarungan yang intens, kepala prajurit Kekaisaran Diqiu menemui tantangan yang berat. Dia berhadapan dengan empat pendekar sekaligus.

__ADS_1


Dengan gerakan yang lincah kepala prajurit melancarkan serangan pertamanya. Ayunan pedangnya mengarah dengan tajam mencoba menembus pertahanan lawan-lawannya. Namun pendekar-pendekar itu sigap dalam bertahan dan memainkan alur pertarungan


Pendekar pertama menghindari serangan kepala prajurit dengan gerakan yang gesit. Dia memutar tubuhnya, mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang tinggi. Kepala prajurit menghindar dengan segera, dengan tangkas menahan serangan itu dengan perisai besinya.


Sementara itu, dua pendekar lainnya menyerang dari sisi kanan dan kiri. Mereka melancarkan serangan yang serempak, mencoba mengecoh dan menggoyahkan pertahanan kepala prajurit.


Kepala prajurit mencoba tenang dan fokus, dia menggunakan teknik bertahan yang kuat yang dimiliki seorang prajurit, menggagalkan serangan-serangan musuh dengan kekuatannya yang besar.


Laki-laki itu mampu memprediksi gerakan musuh dan menyesuaikan strateginya secara cepat. Dia mulai terdesak kemudian menghindar dengan langkah yang telah diperhitungkan, memanfaatkan setiap celah yang ada untuk melancarkan serangan balik.


Pergerakan dan pertarungan terjadi dengan cepat, tanpa memberikan ruang untuk bernapas.


Pertahanan kepala prajurit sangat kokoh. Dia menghadapi serangan-serangan musuh dengan sabar, menjaga keseimbangan dan mempertahankan posisi.


Meskipun terdesak, dia tetap tenang dan tidak panik, menggunakan keterampilannya untuk menahan serangan-serangan itu dengan efektif.


Saat itu, terjadi satu kejadian tak terduga. Seorang musuh dengan tudung hitam tiba-tiba berlari cepat menuju kepala prajurit, melompat dengan pedangnya diarahkan ke arah kepala prajurit.


Saat serangan mematikan hampir mencapai kepala prajurit, Lao Baoli, dengan refleks yang tajam, melompat maju untuk menghadang serangan tersebut. Tubuhnya terhuyung saat ia dengan cekatan menahan serangan yang ditujukan kepadanya. Namun sebilah pedang musuh berhasil menembus tangan kanannya, menyebabkan luka yang dalam.


Lao Baoli merasakan rasa sakit menusuk di seluruh tubuhnya saat luka tusukan merambat ke dalam dagingnya. Dia menggenggam erat tangan yang terluka sambil menahan rasa sakit. Lao Baoli menarik diri ke belakang dan bergabung dengan prajurit yang lain, mengamati pertarungan yang masih berlanjut.


Kepala prajurit yang melihat banyak prajuritnya yang mulai terluka dan kelelahan tidak berputus asa. Dengan suara lantang yang menggema di medan pertempuran, dia mengangkat pedangnya di atas kepala sebagai tanda perintah.


"Demi kehormatan dan keberanian kita! Jangan menyerah! Pertahankan kedaulatan Kekaisaran Diqiu dengan setiap tetesan darah yang kita miliki! Kita adalah prajurit yang tak kenal lelah, yang akan bertarung sampai titik terakhir! Bersama-sama kita hadapi musuh kita, lindungi tanah air kita, dan jadikan ini pertempuran yang tak terlupakan!"


Teriakan kepala prajurit menggetarkan hati para prajurit yang kelelahan, memberikan semangat baru untuk terus melawan. Mereka mengangkat pedangnya, mengikuti kepala prajurit dalam semangat yang sama, menyulut api semangat dalam diri mereka.


"Demi Kekaisaran Diqiu!!"


**


Author note:


Minggu ini UAS, banyak acara pengabdian, kegiatan, tugas, mana udah mau dekat KKN dan itu semua hrus diprioritaskan. (Kayaknya nulis sambil kuliah makin terasa susahnya wkwk)


Jadi dengan itu kayaknya LSI bakal tamat lebih telat dari perkiraan. Author meminta maaf sebesar-besarnya.


Author juga udah mulai kacau liat kuliah dan novel LSI yang harus jalan bersamaan. Tapi gimana pun author usahakan tamat. Apa pun hasilnya yang penting kelar aja dlu


Udah segitu aja, makasi udah mau mengerti. Yang ga mau mengerti gak terima kasih


bercanda bercanda wkakwk


Salam hangat, Vi💓

__ADS_1


__ADS_2