
Xue Zhan melangkah pelan di tengah keramaian kota Kekaisaran Feng, berusaha untuk tidak menarik perhatian siapa pun. Mereka sedang dalam misi penting untuk mencari tahu kebenaran di balik kematian Kang Jian, pembantaian puluhan perguruan, dan masalah lainnya yang muncul di Kekaisaran Diqiu. Akan fatal masalahnya jika harus terlibat masalah dengan orang Kekaisaran lain.
Xue Zhan berjalan di tengah kota Kekaisaran Feng, sibuk memperhatikan arah jalan yang harus diambil untuk mencapai tujuannya. Kota tersebut ramai dengan pedagang dan wisatawan membuatnya merasa sedikit kesulitan bergerak. Dan tiba-tiba seorang pendekar berbadan besar dan kekar dengan pedang panjang menabraknya cukup kuat.
Pendekar itu memiliki wajah yang kasar dan penuh dengan bekas luka, dia menautkan alis kencang dan menambah kesan garang pada dirinya. Xue Zhan segera menyadari bahwa pendekar itu memiliki kemampuan ilmu bela diri yang lumayan dan memiliki kekuatan yang besar. Dia langsung bisa membaca itu tanpa melewati pertarungan. Meski begitu, Xue Zhan sama sekali tidak takut dengan gertakannya dan langsung mengeluarkan suara tegas.
"Siapa kau?" tanya Xue Zhan, mencoba menenangkan dirinya.
"Hua Lian, apa maumu menabrakku? Cari mati?" jawab pendekar itu dengan suara melengking.
Xue Zhan menyadari bahwa berurusan dengan orang itu di tengah kota membuat dia dan Xiang Yi Bai menjadi pusat perhatian, dia membalas dengan hati-hati, "Aku tidak mencari masalah di sini, aku pergi dulu."
Hua Lian menatap Xue Zhan dengan tatapan tajam dan menarik bahunya, "Aku dengar kau mencari Yue Linghe, pendiri Kelabang Ungu. Apa urusanmu dengan dia?" Meski dia terlihat serampangan, saat berbicara hal itu Hua Lian sedikit berbisik hati-hati.
Xue Zhan terkejut mendengar nama itu. Dia tidak pernah mengira bahwa pergerakan mereka sudah terlihat oleh orang Kekaisaran Feng.
Hua Lian tampaknya sudah mengetahui tujuan mereka. Xue Zhan dan Xiang Yi Bai terkejut dengan hal itu karena mereka belum pernah bertemu dengan Hua Lian sebelumnya dan tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui tujuan mereka.
"Kau bercanda. Kami tidak tahu maksudmu dan tidak mengenal siapa Yue Linghe yang kau maksud. Aku tidak punya urusan denganmu, jadi tolong berhenti menghalangi jalan."
Lelaki itu menarik senyum penuh arti. "Aku mendengar obrolan kalian saat di penginapan kalau kau mau tahu," terangnya yang seketika membuat Xue Zhan menoleh was-was. Alisnya bertaut, berusaha memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab lelaki itu. Dia tidak mau informasi mereka terbongkar, tapi lelaki ini tampaknya sudah tahu banyak soal mereka.
__ADS_1
"Jika kau mencarinya ke Xinghua, kau akan kesulitan. Orang itu mengurung dirinya ke dalam perut bumi, bahkan jika tanah bisa bicara sekali pun, mereka tidak bisa menjawab di mana wanita itu berada."
"Apa yang ingin kau katakan?"Xiang Yi Bai akhirnya mengeluarkan suara, dia tidak dapat memastikan bagaimana watak lelaki itu. Terlihat garang dan kadang juga mencurigakan seperti pencuri, mata sipitnya terus mengintimidasi Hua Lian hingga lelaki itu terlihat sering kali menghindar dari tatapannya.
"Aku tahu di mana orang yang kalian cari berada."
Xue Zhan sangsi, "Kau tahu dimana dia berada?"
Hua Lian tertawa kecil, "Tentu saja aku tahu di mana dia berada. Kakekku pernah bertarung dengannya sepuluh tahun lalu."
Untuk sesaat Xue Zhan melirik ke arah Xiang Yi Bai, lelaki itu masih berpikir dua kali. Muridnya berbisik kecil.
"Bagaimana Guru? Apa menurutmu dia bisa dipercayai?"
"Kalau dia berkhianat kita akan membunuhnya," bisik Xue Zhan pasti sembari menatap dingin pada Hua Lian.
Lelaki itu menghentakkan pedangnya ke tanah, masih dengan tatapan terus mengawasi keduanya.
Xue Zhan tersenyum paksa, "Baiklah. Karena aku butuh bantuanmu, sebenarnya kami sedang mencari tahu kebenaran di balik kematian Kang Jian dan pembantaian perguruan lainnya. Kami butuh informasi tentang Kelabang Ungu, dan Yue Linghe adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan kami informasi itu."
Terlihat wajahnya langsung cerah. "Keputusan yang tepat, kau mempercayai orang yang benar."
__ADS_1
Hua Lian mengangguk dua kali lalu mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan, "aku akan memberimu petunjuk tentang di mana Yue Linghe berada dan sebagai bayarannya kau memberikanku 5000 keping emas. Bagaimana? Sepakat?"
Sejenak Xue Zhan berpikir-pikir, uang itu terbilang sangatlah banyak dan bisa digunakan untuk dua tahun hidup di pedesaan. Namun karena sudah terlanjur Xue Zhan tidak ingin membatalkannya. Dia masih menyimpan sejumlah uang pemberian Kaisar Ziran untuk menebus harga itu, Xue Zhan langsung menjabat balik Hua Lian sembari berkata, "Sepakat."
"Tapi hati-hati, Kelabang Ungu adalah kelompok yang sangat berbahaya, dan mereka tidak akan berhenti untuk melindungi rahasia mereka."
Dua jam berlalu, Hua Lian membawa Xiang Yi Bai dan Xue Zhan melewati bukit yang tinggi dan curam. Mereka melewati padang rumput yang luas dan hutan lebat yang hijau. Angin berhembus sepoi-sepoi dan matahari bersinar terang. Di sekitar mereka terdengar suara serangga dan hewan liar yang sedang berkeliaran.
Pemandangan alam yang indah dan tenang ini sesaat membuat mereka melupakan semua kesulitan dan bahaya untuk sesaat. Xue Zhan tidak tahu ke mana Hua Lian akan membawa mereka, dia hanya selalu bersiaga untuk segala kemungkinan. Setelah kejadian 5 tahun yang lalu Xue Zhan belajar banyak hal, bahwa tidak semua manusia dapat dipercayai.
Saat mereka tiba di gerbang perguruan, Xue Zhan melihat dua penjaga yang berdiri tegap di depan. Mereka memberi hormat pada Hua Lian dan memanggilnya Kakak Seperguruan. Xue Zhan sebelumnya tak pernah membayangkan bahwa Hua Lian seorang murid dari perguruan ini dan memiliki kekuatan sebesar itu.
Pintu gerbang terbuka lebar dan mereka memasuki sebuah halaman yang luas penuh bebatuan putih.
Di halaman itu, terdapat beberapa orang murid yang sedang berlatih bela diri. Beberapa dari mereka memakai pakaian putih sederhana, sementara yang lain memakai pakaian hitam yang pekat. Mereka menghentikan latihan dan berdiri tegak, melihat ke arah Xiang Yi Bai, Xue Zhan, dan Hua Lian dan memberi hormat sebelum melanjutkan latihan.
Mereka kemudian diantar masuk ke aula utama yang megah. Di dalam aula itu, terdapat beberapa orang tua dan muda yang sedang berkumpul, dengan tatapan mata yang tajam dan pandangan yang penuh perhatian. Semuanya tampak fokus saat menatap ketiganya melewati ruangan tersebut dan masuk ke ruangan yang lebih tertutup di bangunan seberang.
Hua Lian membawa Xue Zhan dan Xiang Yi Bai ke sebuah bangunan tua di tengah kompleks perguruan. Bangunan itu tampak kuno, tetapi masih terjaga dengan baik.
Hua Lian berniat memperkenalkan Xiang Yi Bai dan Xue Zhan kepada seorang laki-laki tua bernama Hua Du-kakeknya yang adalah seorang tetua di perguruan Bukit Emas, dan menjelaskan tujuan kedatangan mereka.
__ADS_1
Hua Lian mengetuk pintu dan seorang kakek berusia lanjut membukanya. "Kakek, aku membawa tamu untukmu, ini sangatlah penting. Mereka ingin menemuimu," kata Hua Lian sambil dengan nada hormat. Seseorang di dalam sana menjawab tenang, "Biarkan mereka masuk."