
Untuk perjalanan kembali, Li Jia Xing mengirimkan beberapa pengawal yang akan mengantarkan kelompok Kang Jian ke Kekaisaran Diqiu dan memastikannya kembali dengan selamat.
Xue Zhan tidak begitu menaruh perhatian, tapi dia dan Jiazhen Yan tiba-tiba diam saat melihat siapa yang mengantarkan mereka.
Li Jia Xing menugaskan salah satu murid yang kebetulan tidak berada dalam misi untuk mendampingi mereka.
"Mu Rong." Anak yang dua tahun lebih muda dari mereka dalam pakaian resmi seorang pengawal, lengkap dengan seragam, pedang di sisi kiri tubuh dan kain tipis yang menutup dari hidung hingga ke bawah membuat sebagian wajahnya tidak terlihat. Dia memperkenalkan diri singkat dan ketus.
"Anak kecil ini?" Jiazhen Yan menunjuk ragu sekaligus enggan.
"Biar pun dia lebih muda dari kalian, Mu Rong telah memenuhi kualifikasi untuk menjalankan misi pengawalan."
Xue Zhan tidak bisa berkata-kata, dia begitu ingat pembicaraannya semalam dengan Li Jia Xing tentang seorang jenius dari Kekaisaran Feng dengan kekuatan langka. Nama itu mirip dengan Mu Rong yang berdiri di hadapannya sekarang tatapan tidak bersahabat.
Kang Jian berdeham. Mereka fokus untuk kembali. Perjalanan dimulai tak berapa lama kemudian.
Tidak seperti jalan saat mereka datang, kali ini mereka menempuh jarak yang lebih dekat dengan Kekaisaran Diqiu. Mu Rong jauh lebih tahu tentang seluk-beluk Kekaisarannya, karena itu perjalanan seharusnya jauh lebih singkat.
"Tapi aku tidak menjamin jalan ini akan aman. Sisi positifnya, kita tidak akan dihambat oleh Badai Dewi Angin."
Mereka memasuki sebuah hutan pinus yang begitu tinggi, cahaya matahari menyusup dari celah-celah pepohonan. Mu Rong tiba-tiba berhenti dan meluruskan sebelah tangan, pertanda bahwa ada sesuatu yang berbahaya.
"Benar saja."
Enam orang keluar dari semak-semak. Mu Rong memasang sikap waspada. "Bisa-bisanya di saat seperti ini mereka datang? Bukan seperti sebuah kebetulan."
Mu Rong melihat mereka dan dugaannya benar. Ketujuh orang itu, Tujuh Pedang Putih adalah salah satu pemberontak kelas kakap yang masuk dalam daftar incaran Kaisar Li. Sudah bukan hitungan satu atau sepuluh lagi kejahatan yang mereka lakukan.
Kebanyakan mereka menculik, entah anak kecil atau gadis muda untuk dijual. Kelompok mereka bisa dikatakan cukup besar dan sulit dihancurkan, memiliki banyak anggota yang tersebar di seluruh penjuru Kekaisaran Feng. Di samping itu kekuatan orang-orang dari kelompok Tujuh Pedang Suci tidak bisa diremehkan juga.
__ADS_1
Mereka memiliki penampilan yang nyaris sama. Pedang bergagang putih, sebuah caping dari anyaman bambu dengan sebuah kain putih yang menutup wajah mereka berenam.
Mu Rong menoleh ke belakang, mencari tahu alasan Tujuh Pedang Putih mengincar mereka.
Xue Zhan menatap keenam orang itu, tampaknya akan terjadi pertarungan di hutan tersebut.
"Jadi dia anak iblis itu? Tidak terlihat begitu berbahaya, hanya bocah lemah tak berguna."
Suara dari salah satu orang itu perlahan membuat kuping Xue Zhan panas. Dia mencoba mengacuhkan, tapi sahutan lain keluar dari mulut teman lelaki itu.
"Hahaha, dari yang lain hanya dia yang terlihat lemah. Padahal katanya memiliki kekuatan iblis. Ah, aku terlalu berekspektasi lebih terhadap seorang yang mewarisi darah iblis, mengingat ras mereka adalah pembunuh berdarah dingin yang tidak punya hati. Sekarang bertemu iblis jadi-jadian. Leluhurnya pasti malu sekali."
Yang lain menimbrungi diselingi tawa mengolok. "Tapi tetap saja leluhurnya juga sampah. Tidak ada tempat untuk mereka di dunia ini."
"Jaga mulutmu--"
"Wahh langsung terbakar. Hahaha."
"Siapa kalian?" tanya Kang Jian yang akhirnya bersuara. Salah satu musuh maju, menancapkan pedang putih di tengah-tengah kedua kubu. Dia mencapit ujung topi, sedikit bagian wajahnya terlihat. Dia tersenyum sinis.
"Tujuh Pedang Putih."
Mu Rong setengah membisik, "Mereka bukanlah orang-orang biasa. Jangan meremehkan orang ini. Yang berdiri di depan kita pernah membunuh dua puluh lima orang sekaligus dengan tangan kosong."
Jiazhen Yan juga tidak bisa tidak serius. Orang dengan gaya congkak seperti mereka bukan hanya sedang menggertak, mereka memiliki sesuatu yang tidak bisa diabaikan.
Lelaki di depan mereka menarik pedang dari gagangnya yang masih menancap di tanah. Sebuah kilat bercahaya terlihat, pedang itu berlumuran darah.
"Kalian begitu bodoh. Informasi tentang kedatangan kalian telah menyebar ke mana-mana dan bukan hanya kami saja yang sedang mengincar iblis ini. Ke mana pun kalian pergi, pasti akan ada musuh yang menunggu. Harga anak iblis itu jauh lebih tinggi dibandingkan harga kepala Kaisar kalian. Asal kalian tahu."
__ADS_1
Dan darah itu adalah bukti bahwa pertempuran sudah terjadi sebelumnya. Dan para musuh saling bertarung untuk bertemu dengan mereka.
Xue Zhan menelan Ludah. Identitasnya telah terbongkar. Satu dari Tujuh Pedang Putih langsung melompat tinggi menyambarnya.
Keenam orang itu berebutan mengincar Xue Zhan. Kang Jian berdiri di sisinya, begitu juga Jiazhen Yan. Musuh mengintai dari berbagai sisi, siap menyerang dari mana saja.
"Bentuk formasi dan lindungi Xue Zhan di tengah!"
Mu Rong mengikuti perintah Kang Jian dengan segera. Keenam orang berkeliling membentuk lingkaran. Kang Jian menautkan kedua alisnya sembari berpikir keras. Keadaan ini begitu tiba-tiba, dia juga tidak menyangka akan didatangi penjahat sekelas mereka.
Berada di luar Kekaisaran Diqiu artinya mereka harus siap berhadapan dengan petarung di tempat tersebut. Kang Jian menangkis senjata rahasia yang dilemparkan ke arah Xue Zhan.
Mu Rong masih dalam posisi bertahan, "Aku tidak ditugaskan untuk pertarungan ini."
"Kau ingin meninggalkan kami?! Yang benar saja!"
"Anak ini adalah sumber dari penyerangan ini." Mu Rong menunjuk Xue Zhan yang masih diam mencerna apa yang terjadi di sekitarnya.
Jiazhen Yan membentak kesal. "Jadi menurutmu kita hanya perlu menyerahkan anak ini dan pergi dari sini dengan tenang?" Matanya menyala, "Kau saja yang kulempar ke jurang!"
"... Aku juga tidak mau dilindungi seperti pengecut begini," ucap Xue Zhan yang seketika membuat keduanya menoleh. Xue Zhan menarik pedang yang disimpan dalam kotak panjang pemberian Kaisar Li.
"Aku berlatih agar bisa melindungi diriku sendiri saat musuh datang, sekarang aku meminta pertolongan kalian agar melindungiku? Aku tidak selemah yang sampah itu katakan."
Mata semerah darah itu memandang penuh benci pada keenam orang tersebut.
"Lebih baik menjadi lemah, masih bisa berlatih menjadi kuat. Daripada menjadi manusia bermulut sampah seperti kalian, dengan kata-kata berbau busuk yang hanya membuat kalian semakin terlihat dungu."
Ucapan Xue Zhan seperti api yang membakar sumbu emosi keenam pria itu. Mu Rong mendengkus sambil berbisik. "Kalian tidak mengerti maksudku."
__ADS_1