Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 194 - Teman Satu Perjalanan


__ADS_3

Xiao Rong merasa ada yang tidak beres, dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran aneh yang muncul. Dia sedikit kebingungan, bagaimana bisa sosok yang baru saja melewatinya hilang begitu saja?


Namun, kemudian Xiao Rong sadar bahwa ada hal yang lebih penting daripada itu. Dia berdiri dan mengangkat piring makanannya yang tak tersentuh sepanjang malam tadi. Dia mengangkat sebelah tangan, pertanda waktu makan siang mereka telah usai. Chen Ming yang masih sibuk menenggak arak mengangguk paham. "Kau benar. Aku harus istirahat agar bisa kembali bekerja besok."


Chen Ming sejenak tersenyum, "Omong-omong, jangan terlalu memikirkan pendekar topeng putih itu. Hari ini adalah hari yang hebat bagi kita, jangan sampai hal ini membuatmu cemas berlebihan."


Xiao Rong berpaling muka tanpa mengucapkan sepatah kata dan menghilang dari pandangannya.


*


Xue Zhan membuang napas panjang saat tiba di jalan kota yang cukup jauh dari tempat makan itu. Hampir saja Xiao Rong menyadari bahwa itu dirinya. Ditambah dia dipermalukan tadi di hadapan orang banyak hanya karena lupa uangnya dia titipkan pada Xiang Yi Bai.


Xue Zhan sedikit merutuk, dia terlalu gegabah sampai berita tentangnya menyebar begitu cepat di seluruh tempat. Hari ini sudah puluhan kalinya dia mendengar cerita tentangnya.


Bukan hal baik untuknya, dia yakin kalau dia bertemu Xiang Yi Bai sekarang lehernya langsung dipatahkan.


Sejenak Xue Zhan merasa lega melihat Xiao Rong yang kini terlihat tenang dan fokus pada kehidupannya saat ini, tanpa lagi terjebak dalam masalah masa lalu yang telah mengubah sikapnya menjadi begitu dingin. Dia terdiam sejenak, mengingat saat-saat ketika dia dan Xiao Rong terlibat dalam pertarungan besar di tepi jurang dulu dan hal itu membuat pemuda tersebut mengubah pandangannya terhadap kehidupan.


Terlebih terhadap manusia yang kejam tak berhati yang begitu membenci orang-orang dengan kekuatan seperti dirinya dan Xue Zhan.


Xue Zhan merasa bersyukur karena Xiao Rong masih memiliki Li Jia Xing yang begitu peduli dan menyayangi Xiao Rong seperti anak kandungnya sendiri. Hatinya lega, meskipun masih merasakan beban yang berat atas apa yang terjadi di masa lalu. Dia menyadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan harus ada tanggung jawab atas tindakannya. Xue Zhan tidak ingin Xiao Rong mengetahui bahwa dia masih hidup.


Setidaknya sampai perang telah selesai.


"Maafkan aku, Xiao Rong ..." Dia tersenyum lemah. Mengingat sosok anak kecil bermata hitam yang berjongkok sendirian di tepi taman tanpa ada yang mau bermain bersamanya.

__ADS_1


Waktu berlalu dengan cepat. Xue Zhan telah merenggut senyum di wajah anak kecil itu dengan memperlihatkan padanya sifat asli manusia yang telah memburu nyawanya.


"Aku harap kau bisa tertawa lagi seperti dulu, temanku."


Xue Zhan membenarkan caping bambu di kepalanya, berjalan tegap menuju kerumunan di depannya. Lalu menghilang di telan keramaian.


Xue Zhan mencari rute lain untuk menempuh Teluk Ying. Setelah membeli peta dari toko antik, dia memutuskan untuk berjalan sendiran menyusuri desa, kota, pegunungan dan bahkan lembah. Meskipun harus menempuh lebih jauh itu lebih baik daripada harus berinteraksi dengan manusia yang bisa kapan saja mengenali siapa dirinya.


Lalu dia melintasi area medan perang yang gersang, sedikit heran saat mendapati puluhan mayat prajurit terkapar tak bernyawa.


Tampaknya telah terjadi perang antara kedua kubu di sana. Xue Zhan berjalan melintasi dataran medan perang yang kering dan terasa sepi. Tidak ada suara kecuali bunyi langkah kakinya yang terus berjalan.


Setiap langkahnya terasa berat oleh genangan darah kental, terlihat puluhan mayat prajurit terkapar tak bernyawa di sekitarnya. Wajah-wajah mereka yang membusuk membentuk rupa yang mengerikan dengan mata yang terbelalak dan tubuh yang mengeluarkan bau busuk yang menjijikkan.


Bendera-bendera lusuh dan robek tergeletak di tanah. Angin pengap berhembus membawa hawa amis dan aroma darah yang membuat Xue Zhan merasa seperti sedang berada di dunia yang telah mati.


Kuda itu terlihat lemah dan berusaha bangkit dengan sia-sia. Tidak ada orang di sekitarnya, hanya Xue Zhan dan kuda itu satu-satunya makhluk hidup di tempat itu.


Xue Zhan terdiam sejenak, mengamati keadaan kuda tersebut yang bersuara kesakitan. Dia menghampiri hewan itu dengan hati-hati, takut-takut ada orang yang memburunya. Namun tak ada tanda-tanda orang di sekitar. Xue Zhan menaruh iba melihat kuda tak berdaya itu.


Tanpa pikir panjang, Xue Zhan mencabut semua anak panah yang menancap di tubuh kuda itu. Dalam sekejap darah memancar dari luka-luka bekas panah yang merobek daging binatang itu.


Xue Zhan mencoba menerapkan keterampilan penyembuhan dasar yang telah diajarkan oleh Xiang Yi Bai untuk menolong kuda yang sekarat secepat mungkin.


Dengan hati-hati, dia meletakkan telapak tangannya di atas dada hewan itu, beberapa saat cahaya putih muncul dari tangannya. Dia memusatkan energi dalam tubuhnya dan menyalurkan kekuatan untuk penyembuhan luka kuda tersebut. Proses penyembuhan memakan beberapa menit. dia sabar menunggu hingga luka di tubuh kuda tersebut sembuh dan menghilang.

__ADS_1


Setelah menyembuhkannya, Xue Zhan mengelus kepala kuda malang itu seraya berkata, "Kau selamat. Kembalilah ke tempatmu pulang. Di sini bukan tempatmu."


Xue Zhan kembali berdiri melanjutkan perjalanan di tanah gersang berpasir yang penuh darah itu. Dia terus berjalan hingga mulai menyadari bahwa terdengar bunyi tapal kuda pelan di belakangnya.


Xue Zhan berhenti dan menoleh, melihat kuda itu mengikutinya dari belakang.


"Kenapa? Kau tidak punya rumah?"


Dia menghela napas, jika ada orang yang bertanya hal itu padanya mungkin responnya hampir sama seperti kuda itu. Dia menunduk menatap tanah, terlihat putus asa dan kehilangan semangat hidup.


"Baiklah, baiklah. Satu teman dari Tanah yang Gersang. Aku tak akan melarangmu mengikutiku," ucapnya sembari melanjutkan perjalanan.


Mungkin kuda itu tidak mengerti apa yang dikatakannya namun suara dan respon Xue Zhan membuatnya semakin mempercepat langkah dan berjalan di sisi Xue Zhan.


"Oh, kita jadi teman?" Xue Zhan tertawa sembari mengelus leher kuda itu. "Teman Satu Perjalanan. Bukannya terdengar menyenangkan?"


Keduanya menyusuri jalan tersebut bersebelahan.


Xue Zhan tidak menyangka kali kembali mendapatkan teman yang akan menemaninya. Dia mulai mencarikan nama untuk kuda itu,


"Sepertinya soal memilih nama aku memiliki selera yang buruk, Fenghuang bilang begitu," gumamnya sembari berpikir keras. Dia menatap kuda tersebut, melihat mata hitam dan bulu gelap mengkilap yang terlihat gagah.


"Zhongyi, artinya kesetiaan dan kebajikan. Kurasa nama ini cocok untukmu."


Hanya sekali pilih saja, kuda itu terlihat senang, dia berjalan mendahului Xue Zhan lalu berhenti untuk melihat Xue Zhan kembali.

__ADS_1


Xue Zhan tertawa kecil sembari berujar. "Baiklah, Zhongyi. Tujuanku sekarang pergi ke Teluk Ying." Dia menatap kabut tebal di tanah gersang sembari bertekad di dalam hati.


"Dan menyelesaikan kehancuran yang dibuat oleh si 'Pengendali Boneka'."


__ADS_2