Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 79 - Perpisahan Guru dan Murid


__ADS_3

Kang Jian bergeming di tempat.


"Aku tidak akan keberatan dengan hukuman ini. Jika aku mati, aku akan mengatakan bahwa bukan aku yang membunuh Tetua ke-45. Aku telah difitnah, Menara Giok Hantu mungkin sedang membalas kematian petinggi mereka, Hantu Penyair. Hantu Penggerogot mengatakan sendiri bahwa dia akan membalasku. Berhati-hatilah dengan musuh yang mungkin akan muncul setelah kematianku."


Peringatan itu membuat puluhan tetua merasa terancam. Tubuh Xue Zhan ambruk, tak terlihat memiliki daya lagi untuk berbicara banyak. Itu hanya membuat robekan pada organ dalamnya semakin melebar. Kematian mungkin akan menjemputnya. Xue Zhan tidak peduli lagi dengan hidup atau mati.


Pesan terakhir Tetua ke-45, melindungi apa yang ingin Xue Zhan lindungi. Xue Zhan berpikir jika ada yang harus dilindungi maka itu adalah reputasi Gurunya. Di hadapan pendekar Lembah Abadi, Kaisar Ziran dan Kaisar Li serta semua orang yang dikenal lelaki itu.


Kang Jian telah memberikan hidup yang baik pada Xue Zhan. Begitu tidak tahu dirinya pergi dengan menorehkan noda pada namanya, Xue Zhan pasti akan menyesalinya di akhirat. Karena itu dia bersikeras memohon pada laki-laki itu, dengan sisa tenaga yang dia miliki.


"Guru ... Bunuh aku, ini akan menjadi kehormatan untukku mati di tangan Guru."


"Apakah itu yang benar-benar kau inginkan, Zhan'er?" tegas Kang Jian memanggilnya dengan cara yang sama. Xue Zhan yang telah terbaring di atas lantai penuh darah tersenyum. Sebelah matanya meneteskan air mata, napasnya semakin berat.


"Benar. Hanya itu, Guru. Kau telah memberikan kehidupan yang baik dan juga kematian yang terhormat untukku, maaf aku tidak bisa membalas kebaikanmu."


Kang Jian maju disaksikan ratusan murid, tetua dan bahkan Ketua Perguruan Lembah Abadi. Penghakiman itu akan dilakukan oleh orang yang telah membawa iblis itu ke dalam Lembah Abadi.


Siapa sangka, nasib iblis itu akan berakhir tragis. Dia mencoreng namanya yang akan selamanya kotor, reputasi Kang Jian mungkin masih bisa diselamatkan dengan menjalankan hukuman ini pada muridnya.


Kang Jian mengeluarkan pedang dari sarungnya. Menatap dalam mata Xue Zhan, "Hanya ini permintaan terakhirmu?"


"Ka-katakan-" Xue Zhan menelan darah di tenggorokannya agar bisa berbicara jelas, "Pada teman-teman yang masih mempercayaiku. Katakan ucapan selamat tinggalku pada mereka." Tubuhnya merangkak ke bawah kaki Kang Jian, menempelkan kedua tangan ke lantai.


Xue Zhan bersujud di kaki Kang Jian tiga kali, sama seperti pertama kali dia meminta laki-laki itu untuk menjadi gurunya. Ini mungkin akan menjadi perpisahan menyakitkan. Xue Zhan tidak bisa membohongi bahwa dia ingin bersama dengan Gurunya lebih lama dan membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi murid yang hebat.


Tapi takdir selalu mengejeknya. Xue Zhan menangis meminta ampunan.


"Ampuni aku, Guru. Aku belum bisa membalas kebaikanmu dan berutang nyawa padamu ... Malah membalasmu dengan beribu masalah."


Xue Zhan tak berani mengangkat wajahnya.


"Kau adalah murid yang baik," ucap Kang Jian dengan menyesal.


"Maaf aku belum cukup kuat untuk melindungimu, Zhan'er."

__ADS_1


Detik itu Xue Zhan mengangkat wajahnya, air mata mengalir di pipinya. Kang Jian mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mengangkatnya di atas kepala Xue Zhan.


Sorakan semakin keras. Mereka tak ubahnya anjing yang menggonggong ketika melihat makanan. Orang-orang itu mendukung kematian Xue Zhan sebagai balasan kematian Tetua mereka. Kang Jian menahan tangannya hingga hanya menggantung di udara, hatinya tak pernah sanggup mengakhiri nyawa muridnya sendiri. Xue Zhan adalah anak yang baik, periang dan juga disiplin. Tidak pernah terbersit kejahatan dari hati yang begitu putih itu.


Meski kadang Xue Zhan membunuh, dia tahu mana yang benar dan salah. Kang Jian mengenal anak itu seperti anaknya sendiri. Tidak ada orang tua yang sanggup mengakhiri nyawa anaknya.


Orang-orang menunggu kapan Kang Jian mengakhiri semua itu.


"Ruh Tetua ke-45 tak akan pernah tenang sebelum kau mengambil nyawa muridmu itu!" teriak salah satu di antara kerumunan. Kang Jian menggantung pedangnya di atas udara, tangannya begitu berat.


"Jika ... Jika diberi kehidupan kedua sekalipun, aku tetap akan memilihmu sebagai Guruku. Guru hebat untuk seorang murid yang payah."


Xue Zhan tahu Kang Jian kembali menggerakkan pedangnya, dia siap akan kematian.


Gemaan suara di sekitar, bunyi pedang dan aroma kehancuran yang memukul telak hidupnya. Xue Zhan merasakannya di detik-detik terakhir hidupnya. Namun sebuah suara membuatnya kembali membuka mata.


"Kau ditakdirkan untuk hidup lebih lama, Zhan'er. Tidak sepertiku, hidupku hanya sebentar lagi. Untuk apa memikirkan reputasi dan kehormatan semu ini? Apa yang kubanggakan dengan memamerkannya ke sekumpulan pemakan bangkai?"


Saat Xue Zhan mengangkat wajah yang dapat dilihatnya adalah senyuman hangat Kang Jian. Lelaki itu memotong kedua rantai yang mengikat Xue Zhan yang masih tercengang mendengar kalimat itu, seolah-olah bukan gurunya yang biasanya. Kang Jian membuat pergolakan terjadi di seluruh penjuru.


"Gu-guru Kang menyelamatkan iblis itu? Apakah otaknya sudah dicuci? Dia tahu semua konsekuensi yang akan ditanggungnya nanti?" tanya murid-murid Lembah Abadi.


Kang Jian menoleh ke arah Xue Zhan sembari mengembangkan senyum tipis.


"Kau masih bisa berlari, Zhan'er?"


Kang Jian lalu membelakanginya sambil menenteng pedang dan menunjukkan sikap siap bertarung melawan seluruh pendekar Lembah Abadi.


"Ke-kenapa, Guru? Kenapa kau menyelamatkan nyawaku lagi?"


Kang Jian menjawab sambil tertawa pahit, "Karena sudah peraturannya begitu."


Jawaban itu sama seperti lelaki itu menyelamatkan nyawanya dari hukuman mati yang diberikan Ziran Zhao.


Air mata menggenang di matanya.

__ADS_1


"Guru—!"


Xue Zhan mengepalkan tangannya, "Aku tidak bisa menerima kebaikanmu lagi."


"Kau ingin aku memaafkanmu, bukan?"


Di tengah ratusan pendekar yang mulai berlari ke arah mereka, Kang Jian masih mampu berucap dengan tenang.


"Maka larilah dan selamatkan nyawamu, jangan buat pengorbananku sia-sia. Dengan begitu aku akan memaafkan semua kesalahanmu."


"Tapi-"


"Ikatan Guru dan Murid di antara kita tidak akan pernah terputus," ujarnya lembut. "Bahkan di kehidupan kedua sekalipun aku tetap akan memilihmu menjadi muridku." Senyum itu kembali terkembang, entah dari mana sesuatu yang begitu tajam menusuk hati Xue Zhan. Kedua tangannya gemetar hebat.


"Pergilah, Zhan'er. Berlatihlah dengan baik, kau memiliki tujuan yang besar, kejarlah itu impianmu dan jadilah seorang pendekar hebat yang menghancurkan kebusukan di muka bumi ini."


Xue Zhan mundur. Melihat puluhan orang naik ke panggung dan mulai menebaskan pedang ke arah Kang Jian. Mengingat peristiwa beberapa tahun lalu di saat kakeknya menyuruhnya pergi dan dia terus membangkang.


Xue Zhan memberi hormatnya, menyatukan kedua tangan sambil menunduk dan mengatakan dengan berat hati, "Aku mengerti, Guru. Aku pasti akan kembali. Hingga saat itu, aku ingin guru tetap ada. Aku akan menemukan obat untuk penyakit lamamu."


Kang Jian tiba-tiba membuka mata lebar.


Sejak kapan Xue Zhan mengetahui tentang penyakit di tubuhnya? Dia tidak pernah mengatakan apa pun soal itu.


Kang Jian berteriak melihat situasi semakin menggila di sekitarnya.


"Pergilah!"


Xue Zhan berlari menerobos kerumunan, tidak peduli dengan sayatan demi sayatan yang mengoyak tubuhnya. Bahkan sampai memasuki hutan pun puluhan pendekar masih mengejarnya. Guru dan murid itu sama-sama bertarung hingga titik penghabisan.


Garis takdir memisahkan keduanya. Memaksa Xue Zhan berlari ke arah yang berbeda, untuk menyelamatkan dirinya dan melaksanakan perintah terakhir gurunya.


"Aku pasti akan menemukan siapa dalang dibalik ini semua dan membuktikan pada mereka semua ..." bicaranya berubah menjadi geraman penuh emosi.


"Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang melakukan ini!"

__ADS_1


__ADS_2