
Mau tak mau harus menerobos derasnya hujan, Xue Zhan basah kuyup bersama burung phoenix. Guntur masih terdengar menyahut di atas mereka, tapi sekarang seharusnya para kalajengking itu sudah tidak mengejar lagi. Xue Zhan menarik napas, bergelantungan cukup lama membuat otot tangannya kebas. Belum lagi menerima komplain dari burung itu.
Beberapa saat matahari naik ke atas kepala, perlahan-lahan mendung menghilang dan terik cahaya matahari siang menyerbu. Xue Zhan mendarat ke sebuah batu besar setelah memastikan tempat tersebut aman. Dia melepaskan ikatan tali di tubuh phoenix. Sekarang burung itu bisa bergerak, pemulihan tubuhnya terbilang cepat.
Namun Xue Zhan menyadari sesuatu. Dia mendekat dan diam-diam menyentuh sayap phoenix membuat empunya marah tak kira-kira.
"Jangan sentuh!"
"Tulangmu ... Patah?"
Dia berjalan menjauh dari Xue Zhan, tak menjawab dan malah meminum air sungai untuk melepas dahaga. Pemuda itu masih belum menyerah bertanya.
"Kalau separah itu kau tak akan bisa terbang dalam waktu dekat."
Xue Zhan berniat meninggalkan Phoenix di sini karena tempat ini terbilang aman, dia juga tak bisa bermain-main dan harus mencari Air Terjun Panas segera. Xue Zhan memikirkannya sekali lagi. Tiba-tiba saja lawan bicaranya buka suara.
"Kau bayangkan saja seberapa kuat serangan Segel Langit menghantam tubuhmu." Dia merentangkan sayap dan di sana Xue Zhan bisa melihat lebih jelas. Matanya melihat lebih tajam. Beberapa bagian tulang burung itu retak, aliran darahnya tidak normal dan kekuatan di tubuhnya tak berfungsi. Tapi dia tidak terlihat seperti sedang sekarat.
"... Jadi keadaanmu sekarang terbilang parah?" tanya Xue Zhan.
Siluman itu tak menjawabnya.
"Sebenarnya aku sedang buru-buru. Guru menyuruhku mencari Air Terjun Panas untuk latihan. Aku sebenarnya ingin menolongmu tapi," katanya tertahan.
Phoenix itu menoleh sesaat. "Apa hubungannya denganku. Pergi sana. Kau mengganggu pemandangan."
"Heh." Xue Zhan membalas sengit. "Sekarang kau masih utuh. Kutinggal langsung jadi tulang."
"Kau-" Phoenix itu mau menyela tapi omongan pemuda itu benar. Titik kekuatannya tak berfungsi, hal itu membuat tubuhnya tak mampu mengalirkan kekuatan untuk sementara waktu. Tulangnya retak, setiap kali dia bergerak burung itu akan kesakitan.
"Nah, kan."
Xue Zhan menyambung.
"Omong-omong boleh bertanya? Kenapa kau mencoba menghancurkan segel langit itu? Aku lihat kau tidak bisa keluar dari Jurang Penyesalan ini."
"Oh, kau sudah tahu?" Dia berbalik badan. "Daripada menjawabmu, aku juga ingin bertanya. Siapa gurumu dan kenapa kau menguasai jurus Cakar Phoenix Petir?"
Xue Zhan mengernyit.
"Guruku ada dua. Kang Jian dan Xiang Yi Bai. Jurus Cakar Phoenix Petir sendiri aku dapatkan dari Kitab Phoenix Surgawi."
__ADS_1
Sesaat keduanya sama sekali tak bersuara, Xue Zhan menunggu tanggapan si phoenix beberapa lama sampai akhirnya jenuh dan kembali mengulangi.
"Sekarang giliran kau jawab pertanyaan ku."
Phoenix itu setengah hati ketika menjawab.
"Aku dikutuk untuk tinggal di sini selamanya. Mati pun aku tetap akan bereinkarnasi di tempat busuk ini."
Xue Zhan membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, tahu apa yang ingin dilakukannya Phoenix tersebut lebih dulu memotong.
"Kau mau pergi ke Air Terjun Panas? Kuburkan impianmu, kau akan lebih dulu mati sebelum sampai ke sana."
"Kenapa?"
Dia menjelaskan ada sebuah sarang buaya yang dihuni oleh siluman yang telah hidup ribuan tahun. Bahkan yang paling lama sepuluh ribu tahun. Jelas perbedaan kekuatan itu sangat terasa jika Xue Zhan berhadapan langsung dengan mereka dibandingkan siluman-siluman sebelumnya. Peringatan Phoenix itu tak dihiraukannya. Xue Zhan justru menyela.
"Aku sudah setengah jalan dan guruku akan memarahiku jika kembali tanpa hasil."
"Laki-laki itu, ya. Dia memang Monster. Menyuruh bocah sepertimu bepergian di dalam rimba para makhluk buas. Memang agak lain."
"Kau kenal Guruku?" Xue Zhan tiba-tiba mendekatkan diri, phoenix itu menggeser tubuhnya dengan mata kesal.
"Ouh tak sadar diri. Kau sendiri seperti patung bangau kolam. Kau belum tahu, aslinya guruku itu baik." Xue Zhan berusaha membela Xiang Yi Bai, tapi kalau laki-laki itu ada di depannya mana mau dia memuji monster edan itu.
"Marah gurumu kuhina?"
"Kau sendiri. Kemarin mulutmu kau kunci rapat-rapat seperti pintu digembok. Sekarang mulutmu seperti ember bocor. Tumpah-tumpah."
Xue Zhan tertawa kecil melihat ekspresi burung itu, dia benar-benar seperti manusia yang memiliki emosi. Berbeda dengan naga putih Xiang Yi Bai, Bai Ye yang tak bisa berbicara. Gurunya bilang hanya siluman yang telah memasuki tahapan tertentu dapat berbicara seperti manusia. Kelihatannya burung ini adalah salah satunya.
"Namaku Xue Zhan. Kau punya nama?"
Untuk sesaat burung itu terdiam lagi. Dia menggumam sangat kecil.
"Aku lupa namaku sendiri."
"Pfftt hahaha ..." tawa pemuda itu berderai, burung itu menatapnya seperti akan mematuknya. "Hei, hei, aku bukan mengejekmu. Tapi serius kau lupa namamu sendiri?"
"Alam rimba di sini tidak membutuhkan nama."
"Bagaimana kalau Fenghuang?"
__ADS_1
Burung itu memaki. "Seenaknya memberiku nama. Lagipula nama itu tidak cocok."
"Ya sudah, Fenghuang saja. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Fenghuang."
Xue Zhan menyelanya seenak jidat. Phoenix itu hendak mendebat tapi kelihatannya dia sudah kehilangan tenaga untuk menghadapi manusia berisik itu.
"Guru bilang saat dia sekarat dan kehilangan kekuatan, dia pergi ke Air Terjun Panas untuk menyembuhkan semua luka termasuk kekuatannya yang melemah. Kurasa Air Terjun Panas bisa membantumu menyembuhkan lukamu."
"Aku memang berencana ke sana."
Mata merah Xue Zhan berubah antusias.
"Kita pergi bersama! Kau tahu tempatnya, bukan? Nah ... Aku akan membawamu bersamaku dan kau yang tunjukkan jalan. Dengan begitu kita saling menguntungkan."
Fenghuang tak menjawab melainkan menatap Xue Zhan agak kesal. Mereka berdua sama-sama api, sekali bertemu bisa kebakaran satu Jurang ini. Namun Fenghuang tak punya pilihan lain. Dia membuang muka sembari menjawab.
"Terserah."
"Mau melanjutkan perjalanan?"
Fenghuang mendelik, tatapannya berubah horor mengingat bagaimana tadi Xue Zhan bergelantungan di ketinggian hanya dengan seutas tali. Dia mundur.
"Nanti saja, idiot."
"Baiklah, sekarang kita berangkat!"
Sepertinya manusia itu benar-benar tuli. Jawabannya juga membuat Fenghuang ingin sekali mencakar mukanya.
"Ayo! Tidak boleh malas-malasan, ayam warna-warni harus semangat."
"Berhenti memanggilku ayam warna-warni, manusia rendahan."
"Hahahha!" Xue Zhan tergelak. Setelah mengenal sedikit tentang Fenghuang kelihatannya teman barunya itu sangat menyenangkan untuk dibuat marah. Xue Zhan mengangkat Fenghuang dan mengikatnya bersama buntalan kain seperti tadi tanpa rasa bersalah.
"Tunggu sayapku sembuh. Kau akan merasakan kepakan sayapku."
"Mau mengipas mukaku? Silakan saja."
"Ku kipas sekalian nyawamu melayang." Fenghuang membalas sengit dan justru semakin menambah gelak tawa manusia itu. Bukannya takut, Xue Zhan malah semakin senang mengerjainya.
"Pendek umurku bertemu bocah nakal seperti dia," batin Fenghuang mengutuk dalam hati.
__ADS_1