Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 49 - Babak Penyisihan II: Kerja Sama Tim II


__ADS_3

Sebelum diantar ke markas masing-masing panitia pelaksana Ujian Pendekar Menengah memberikan sebuah segel informasi untuk setiap peserta, segel informasi berbentuk seperti kertas mantra yang dilingkarkan di pergelangan tangan mereka dan berguna untuk melihat jumlah poin tim secara langsung, mantra itu menunjukkan angka 300 sebagai poin awal setiap tim.


Di markas lain sebuah tim berunding satu sama lain akan tetapi tidak terlihat keharmonisan di antara kelima peserta tersebut, pemimpin mereka adalah Jiazhen Yan dan pemuda itu bersikap seenaknya saja bahkan sejak awal datang ke sana dia duduk di kursi dengan kedua kaki di atas meja.


Anggota kelompoknya Liu Cheng, Ma Hao, Ning Yun, Wu Fei dan Cao Cao terlihat ingin keluar dari tim itu tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain menuruti seekor cecunguk yang menyebut dirinya raja.


"Kalian sampah-sampah tidak berguna sebaiknya jangan menghalangi jalanku, langsung pulang saja kalau tidak mau menuruti perintahku!" Saat berbicara biasa pun kedua tangannya mengeluarkan api merah membuat peserta lain bergidik seram takut tangan pemuda gila itu tiba-tiba membakar mereka.


"Si-siap ..."


"Yang pertama Aku adalah Raja. Dilarang melarang! Apalagi memerintahku karena aku adalah peraturan itu sendiri! Aku yang mengambil keputusan dan kalian menuruti semua titahku, paham?!" ucapnya berapi-api, keempat anggotanya mengiyakan sembari mengangguk.


"Untuk permulaan kita semua tetap berada di markas, aku tidak bisa mempercayakan markas ini pada cecunguk lemah seperti kalian dan juga tidak bisa tinggal diam tanpa mengumpulkan poin."


"Ta-tapi bagaimana kita mengumpulkan poin dengan hanya di markas?"


Jiazhen Yan menarik senyum penuh kelicikan sembari berbicara dengan suara meremehkan.


"Saat pembagian markas tadi tim lain tidak mengetahui lokasi lawan masing-masing, jika mereka ke sini mereka tidak akan tahu bahwa aku ada di sini. Aku tinggal menyalakan api dan membuat asap untuk memancing mereka. Karena itulah cecunguk payah seperti kalian masih berguna. Kalian berjaga di luar agar mereka mengira tim ini lemah. Aku menunggu di dalam sini untuk membunuh mereka sekaligus menjaga telurnya."


Kalimatnya lebih terdengar seperti seekor setan yang tergila-gila mengeram telur, tapi temannya tak ada yang berani menyahut melihat antusiasnya Jiazhen Yan saat menjelaskan.


"Aku akan keluar di akhir nanti dan mencari teman baikku Xue Zhan, ingin sekali aku pecahkan kepala teman satu timnya ...."


Tatapan Jiazhen Yan berubah sangat kelam membuat yang lain mulai ketakutan, tak lama terdengar suara lonceng berbunyi.


"Lakukan seperti perintahku!"


*


Ini pertama kalinya untuk Xue Zhan berbicara berdua dengan Xiao Rong, meskipun Xiao Rong lebih muda darinya kenyataannya dia memiliki kekuatan yang terbilang lumayan.


"Jenis kekuatanmu memang benar-benar kekuatan kegelapan? Aku pernah melihatnya sekali, tapi kurasa itu tidak terlalu berbahaya."


"Kaisar Li menyuruhku untuk tidak terlalu gegabah menggunakannya. Dalam misi atau ujian aku hanya boleh mengeluarkan sebanyak dua puluh persennya saja." Xiao Rong membalas jutek. Tampak tak begitu senang terlibat pembicaraan dengan Xue Zhan.

__ADS_1


"Kekuatan yang membuatmu ditakuti banyak orang ya ... Sama sepertiku."


Sejenak pergerakan Xiao Rong melamban.


Dia juga mengetahui identitas Xue Zhan sebagai satu-satunya iblis yang masih hidup sampai detik ini bahkan berita tentangnya telah menyebar hingga ke belahan benua terjauh.


"Pada dasarnya kita sama. Tumbuh dalam kebencian yang membuat hati kita penuh dengan kegelapan. Kau pasti begitu membenci manusia, bukan?"


Mata Xiao Rong saat itu membuat Xue Zhan tak tahu harus menjawab seperti apa, dia merasakan kebencian yang telah lama menjalar di tubuh pemuda itu.


"Aku hanya kesal dengan mereka yang mengasingkanku. Tapi masih banyak manusia baik di antara mereka, kurasa ini yang disebut dengan keseimbangan."


"Kebaikan mereka semua palsu. Mereka hanya akan menggunakan kekuatanmu, kau mudah tertipu dengan manusia yang licik seperti mereka?"


Terdengar tawa miris dari mulut Xiao Rong. "Aku pernah begitu mempercayai mereka dan berakhir mengenaskan. Sebagai sesama orang diasingkan aku akan memperingatimu untuk terlalu dekat dengan mereka."


Saat mendengarnya Xue Zhan mulai mengerti mengapa ketika mereka bertemu pertama kali Xiao Rong sama sekali tidak mau bergabung dengan teman sebayanya. Bukan salah Xiao Rong jika berpikir demikian, dia telah merasakan banyak perlakuan menyakitkan dari orang lain yang mengikis kepercayaannya terhadap manusia.


Xue Zhan juga sempat berada di situasi yang sama, ketika dia kehilangan segalanya dan berada di ambang keputusasaan. Kakeknya meninggal, adiknya dilalap kobaran api, semua fakta tentang masa lalunya dan kenyataan bahwa dirinya iblis yang dibenci semua manusia.


Hal itu membuatnya kasihan.


Xiao Rong adalah pengguna jenis kekuatan kegelapan yang sangat-sangat langka, membuatnya dihindari banyak orang.


Xue Zhan teringat saat Jiazhen Yan menceritakan tentang bagaimana ibu dan ayah Xiao Rong menghilang setelah anak itu dilahirkan. Tidak ada yang tahu ke mana mereka berdua tapi yang jelas semenjak saat itu semua orang takut kepadanya bahkan pada kekuatan yang dimilikinya.


Mereka masih berlari di dalam hutan memperhatikan pertarungan telah dimulai dan mulai terdengar suara-suara dentingan pedang serta senjata.


Xiao Rong berhenti saat menemukan satu mangsa yang berkeliaran sendiri di tengah hutan dan tampak ketakutan, mungkin dia dipaksa mencari poin sendirian oleh timnya. Mau jebakan atau tidak Xiao Rong tidak peduli dan langsung menyambar ganas.


Tanpa sedikitpun keraguan di hatinya Xiao Rong merenggut nyawa orang lain dengan sebuah belati tajam yang merobek leher mangsa, Xue Zhan membeku di tempat dengan tatapan mata tidak percaya bahwa Xiao Rong melakukan itu tanpa berpikir dua kali.


Sementara Xiao Rong segera menoleh ke arah Xue Zhan dan mengeluarkan pertanyaan heran, "Kenapa? Kau tidak terbiasa melihat darah?"


"Tidak ... Hanya saja," ungkapnya tertahan, "Aku tidak terbiasa melihat seorang yang lebih muda dariku membunuh tanpa keraguan di saat aku sendiri harus berpikir sepuluh kali untuk melakukannya."

__ADS_1


"Kau membual apa? Kau juga membunuh banyak saat berada di Kekaisaranku."


Xiao Rong mengingatkannya pada peristiwa ketika mereka dicegat sekumpulan pendekar bernama Tujuh Pedang Putih dan Xiao Rong membunuh tiga dari mereka.


"Saat itu aku kehilangan kesadaranku." Terlihat Xiao Rong mengangkat bahu seraya menepuk pundak Xue Zhan, "Aku dan kau sama, kita sama-sama memiliki naluri membunuh besar. Kita melakukannya sadar atau tidak. Seperti saat kita sedang bernapas."


Xiao Rong menatap dengan mata hitam gelapnya yang bagaikan lorong kematian.


"Aku dan kau adalah kegelapan pekat yang menginginkan nyawa untuk tetap hidup."


"Apa maksudmu?" tanya Xue Zhan.


Xiao Rong berlalu sambil melambaikan tangannya.


Namun Xue Zhan tetap tidak setuju dengan yang dikatakan pemuda itu. "Semakin pekat sebuah kegelapan maka semakin terang cahaya di dalamnya. Aku bertarung bukan untuk tetap hidup, aku bertarung untuk menang dan menyelamatkan orang lain."


"Kau bercanda. Aku sudah lama mencari cahaya dalam diriku, sejak semua orang membenciku ... Aku rasa kau juga merasakan hal yang sama, bukan? Ditakuti, dibenci, dicampakkan. Kita tidak memiliki cahaya dan seterusnya akan berada di dalam kegelapan."


Entah mengapa tiba-tiba Xiao Rong mengatakan demikian tapi jika memang begitu caranya memandang dunia rasanya Xue Zhan ingin sekali menghantam kepala pemuda itu sampai lupa ingatan dan mengatakan bahwa masih ada cahaya yang tersisa.


Xiao Rong sudah terlalu lama berada di dalam kegelapan dan tidak tersisa sedikit pun rasa manusiawi di matanya saat membunuh sesama manusia lain.


"Kalau memang tidak ada cahaya seharusnya kau yang menjadi cahaya itu sendiri. Jangan cengeng, kau masih punya orang-orang di sekitarmu yang juga mengalami hal yang sama."


Xiao Rong berhenti sesaat, mulutnya terbuka tapi kemudian dia mengatupnya kembali sampai terdengar tawa dari mulutnya.


Xiao Rong menengadah menatap sang langit, dia benci cahaya matahari yang begitu terang.


" ... Bisakah?"


Xue Zhan merangkulnya tiba-tiba, Xiao Rong berusaha melepaskan diri karena risih tapi saat melihat senyuman hangat di wajahnya, Xiao Rong mengurungkannya.


"Tidak perlu takut dengan kegelapan, aku akan berada di sampingmu. Karena kita teman. Teman yang saling memahami penderitaan yang sama."


Pupil mata hitam itu mengecil, kata-kata itu membuat ekspresinya berubah sesaat sebelum dia kembali membuang muka. Matanya sekilas berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kau ... teman yang payah."


__ADS_2