Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 63 - Tiga Gulungan


__ADS_3

Mereka sudah berjalan sejauh ini, hanya Jiazhen Yan yang belum mendapatkan gulungan. Di dalam perjalanan juga sempat berpas-pasan dengan peserta lain tapi seperti yang Xue Zhan katakan, meski bertemu dengan peserta lain dan bertarung sekalipun belum tentu dia akan mendapatkan gulungan tersebut.


Empat jam dan waktu masih berjalan begitu cepat selagi mereka menyusuri jalan mewaspadai serangan dari seluruh penjuru, tidak tercium juga bau gulungan itu di mana. Xiao Rong, Xian Shen dan Xue Zhan menunggu di hutan sementara Jiazhen Yan masuk ke dalam goa di mana satu mayat mati di sana masih dengan tubuh utuh, menandakan dia baru tewas beberapa jam yang lalu.


Setelah mengecek suhu dan menggeledah barangnya, Jiazhen Yan yang menggenggam buku kitab dari mayat tersebut melemparkannya kasar ke dinding goa. Menimbulkan suara keras yang memaksa teman-temannya menoleh, sepertinya mulai tahu pemuda itu putus asa mencari gulungan tersebut. Waktu akan habis dalam setengah jam lagi, Jiazhen Yan menelan ludah berulang kali.


Di tengah kesendiriannya pemuda itu mengangkat kalung permata salju di lingkar lehernya dengan sebelah tangan, raut wajah kecewa terpampang samar, ini bukan saatnya untuk bersedih tapi Jiazhen Yan telah merasakannya sendiri selama setengah hari ini, sudah berjuang mati-matian mencari gulungan namun hasilnya mustahil.


Setiap peserta yang mereka temui tidak memiliki gulungan, paling banyak sudah mati terbunuh perangkap atau musuh lain di kota tersebut.


Sebentar lagi ujian akan berakhir, saat ini mereka berada di pinggiran kota karena terlihat tak jauh dari goa sebuah kawat besi memanjang dan pagar tinggi yang menjadi tanda perbatasan. Kembali ke jalan sebelumnya pun tidak akan bertemu apa-apa lagi selain perangkap atau marabahaya. Jiazhen Yan berlutut, pikirannya buntu, tapi keinginannya untuk lulus Ujian Pendekar Menengah amatlah besar.


Sempat terpikirkan cara kotor dengan merebut gulungan milik Xue Zhan, Xiao Rong atau Xian Shen, jika dengan begitu caranya dipastikan dia bisa merebutnya dengan mudah. Namun Jiazhen Yan tahu kedua orang itu tidak akan segan-segan mengorbankan nyawa hanya demi mempertahankan gulungan tersebut. Dan juga dirinya tidak merasa itu adalah pilihan.


Seseorang masuk ke dalam goa karena Jiazhen Yan terlalu lama di dalam sana.


"Hei kawan, kau baik-baik saja?"


Xue Zhan datang, cemas terdengar kentara dalam ucapannya. Jiazhen Yan memutar pandangan ke belakang, terlihat biasa saja.


"Kita lanjutkan perjalanan."


Kemudian seseorang di balik punggung Xue Zhan mengutarakan pendapat.


"Tidak ada lagi yang bisa kita jelajahi di sekitar sini, semuanya sudah kita datangi dan tidak ada tanda-tanda peserta lain. Kembali ke titik semula pun akan memakan waktu dua jam, sementara itu ujian sebentar lagi berakhir."


Xian Shen tanpa ragu menjelaskan semua walaupun ucapannya jujur. Xiao Rong berpikir sejenak, dipikir berapa kali pun Xian Shen benar.

__ADS_1


Untuk itu Xue Zhan mengeluarkan pendapatnya, "Kita terus mencari sampai ujian berakhir, tidak peduli dapat atau tidak. Tetap berjalan adalah satu-satunya pilihan yang kita miliki."


"Tapi-!" Xian Shen menolak ragu, bibirnya kelu mengingat perjalanan mereka sebelum sampai ke goa ini bagaimana, barangkali mereka tidak akan selamat karena sebelumnya sudah dibuat sekarat oleh sekawanan makhluk jadi-jadian berkelakuan seperti siluman dan berkekuatan pendekar tingkat atas. "Kita bisa mati, makhluk-makhluk itu mungkin masih mengejar kita!"


"Kau lupa? Kita berjalan sejauh ini karena saling melindungi. Kalau kau sendirian mungkin nasibmu akan sama seperti mayat para peserta yang kau temui! Jika Jiazhen Yan gagal, itu artinya perjuangan kita berat sebelah. Dia melindungi kita semua, kita harus membantunya bagaimana pun caranya!" bentak Xue Zhan, Jiazhen Yan yang sebelumnya sengaja memalingkan muka karena benci dikasihani kembali menatap ke mereka.


Bahkan di saat-saat seperti ini justru Xue Zhan yang memperjuangkannya sementara dia hanya diam. Jiazhen Yan menunggu respon dari Xiao Rong dan Xian Shen.


Xian Shen mengangguk setengah ragu, "Tapi aku tidak yakin apakah kita memiliki cukup waktu."


Kemudian disusul Xiao Rong. "Jika Jiazhen Yan gagal maka itu artinya kita juga gagal, walau pun tim ini bentuk secara tiba-tiba kuakui aku bisa sejauh ini bersama kalian. Jadi kalau itu artinya aku harus gagal bersama kalian, aku tidak keberatan."


Dia mengeluarkan gulungannya, menimbulkan tanya di kepala Jiazhen Yan.


Waktu hanya tersisa lima menit. Bergerak semakin cepat, dari kejauhan menara lonceng juga telah membunyikan pertanda di mana waktu hanya tersisa lima menit lagi. Jiazhen Yan tetap tak mengeluarkan sepatah kata pun, tapi setelah Xiao Rong, Xian Shen juga ikut mengeluarkan gulungannya. Matanya terpejam tapi pada akhirnya dia mengikuti cara Xiao Rong.


"Benar juga. Saat aku berlari sendirian di tengah malam hanya kalian yang bersedia menerimaku, aku harus berterima kasih padamu, Jiazhen Yan, walaupun kau memang menyebalkan."


Dia tak akan membiarkan temannya gagal di ujian kali ini.


Ketiga gulungan disusun memanjang dan diikat dengan tali serta kain hingga saling menyatu satu sama lainnya. Jiazhen Yan hanya terdiam ketika gulungan itu disodorkan kepadanya, menatap tiga pemuda itu seolah-olah bertanya hal gila apa yang sedang bersemayam di otak sekecil beras mereka.


"Sudah gila? Memberikan tiga gulungan sekaligus padaku, mana diikat begini. Kalian akan gagal. Persetan denganku, jangan menaruh belas kasih dengan begitu bodohnya. Pantas saja kalian lemah dan tidak ada kemajuan."


Dia menolak dan memalingkan muka kesal, tak berniat menerima kebaikan hati. Sekali lagi, dia benci dikasihani.


"Aku juga tidak mau menerima belas kasihmu, andai kau memang jahat kau sudah merebut gulungannya dari kami. Itu jauh lebih mudah. Tapi kau tidak melakukannya. Kau mengasihani kami duluan. Pantaskah kau berbicara begitu?" Xiao Rong memaksa menyodorkan gulungan panjang itu pada Jiazhen Yan yang menatap manik mata pekat miliknya. Tersenyum miris.

__ADS_1


"Aku hanya tak mau merebut gulungan milik orang lemah seperti kalian."


"Berhentilah memperpanjang waktu, ujiannya satu menit lagi akan berakhir," gerutu Xue Zhan mendorong gulungan itu ke dada Jiazhen Yan, menyuruhnya memegang bagian tengah gulungan itu sembari berkata.


"Aku sudah menganalisis beberapa tempat di kota ini dan mengambil kesimpulan bahwa gulungan yang diberikan mungkin kurang dari dua ratus. Ada keambiguan di dalam tes ini, mereka tidak bilang ini tes individu atau kelompok. Hanya ada satu aturan sederhana, kau dinyatakan lolos jika saat ujian berakhir kau menyentuh gulungan itu."


Di dalam ujian ketiga tidak dikatakan peserta yang lolos adalah yang sempat memiliki gulungan itu atau tidak, mereka yang tidak memilikinya sepanjang tiga hari berlangsung dan ternyata mampu menyentuhnya walau seujung kuku pun ketika ujian berakhir bisa dinyatakan lulus.


Jiazhen Yan mulai memahami titik pembicaraan yang dibahas Xue Zhan.


Ujian akan berakhir dalam sepuluh detik lagi, Jiazhen Yan menggenggam gulungan itu di tengah-tengah. Ketiga teman di hadapannya mulai mengangkat tangan.


Lima detik tersisa.


Xiao Rong tersenyum pasrah.


"Kalau kita gagal, setidaknya kita akan mengulanginya bersama-sama lagi. Hahaha."


Xian Shen menimbrungi pasrah, "Ah, aku bisa gila ikut-ikutan dengan kalian. Ujung tanduk kewarasanku bisa terbakar habis ..."


"Bicara soal kewarasan seperti kau punya otak saja," ledek Xue Zhan yang langsung pelototi oleh pemuda itu.


Xue Zhan, Xian Shen dan Xiao Rong tertawa, Jiazhen Yan menatap gulungan itu dengan pikirannya yang ikut kalut, dia tidak pernah berinteraksi seperti ini dengan orang seumurannya bahkan menerima perlakuan di mana dia dianggap seperti kawan baik. Namun kini ketiga orang itu mengorbankan cita-cita mereka untuk membantunya.


Untuk sesaat, ketika Jiazhen Yan mengangkat wajah dia melihat bayangan sosok ibunya tersenyum di depan. Senyum yang hangat penuh kasih sayang, jika sekarang wanita itu bertanya, "Apa teman-temanmu memperlakukanmu dengan baik?"


Mungkin Jiazhen Yan yang dulu akan berlari sambil mengatai siapa pun, pertanyaan itu membuatnya sakit hati. Namun kini dia bisa menjawab, semua perkataan ibunya benar. Akan ada waktunya dia memiliki teman yang begitu peduli padanya.

__ADS_1


Satu detik sebelum ujian berakhir, tangan Xiao Rong, Xian Shen, Xue Zhan dan Jiazhen Yan saling menyentuh gulungan tersebut.


Waktu habis.


__ADS_2