
Setelah mengunjungi makam Wu Guang, Xiang Yi Bai langsung menghancurkan Segel Langit. Dentuman bertalu-talu di atas langit disertai awan mendung yang menggantung rendah ingin menyentuh bumi, angin sedingin es membekuk mahkluk-mahkluk di tempat tersebut. Lalu muncul sebuah segel yang menutupi satu langit, Xiang Yi Bai berdiri di bawahnya sembari menengadah. Dia menyuruh Xue Zhan dan Fenghuang untuk menunggu di tempat yang sedikit jauh karena proses penghancuran Segel Langit sangat berbahaya.
Meskipun sudah melihat sebelumnya Xue Zhan tetap saja merinding melihat kekuatan yang begitu kuat itu, dia memerhatikan punggung Xiang Yi Bai dan berharap gurunya itu tidak kenapa-kenapa.
Cahaya mantra di atas langit bersinar semakin terang, perlahan mereka berkumpul tepat di atas Xiang Yi Bai. Lelaki itu padahal belum melakukan apa-apa namun Segel Langit mulai beraksi.
Xue Zhan baru ingin menapakkan kakinya, sampai tiba-tiba sebuah batu panas jatuh menembus batu. Dia kaget sampai berlari kembali ke dalam goa. Xiang Yi Bai menoleh ke arahnya sebentar sambil memeringati. "Tetap di sana! Ini berbahaya!"
Mata Xiang Yi Bai teralihkan ke arah batu besar yang meluncur ke arahnya, Segel Langit menjatuhkan batu berapi yang bisa menghancurkan seisi tempat.
Satu tebasan lurus dari pedang Bai Ye memotong lima batu berapi sekaligus, Xiang Yi Bai terbang ke udara untuk menangkis beberapa. Banyak batu yang terjun ke dalam sungai beku, perlahan-lahan es mencair akan tetapi ikan di dalamnya mati dalam seketika. Fenghuang yang menyadari bahaya tersebut tak mengizinkan Xue Zhan mengintip di mulut goa.
"Segel Langit itu bisa melihat, dia akan mengenaimu. Masuk sini, kalau si Monster Tua itu tau kau berbuat ceroboh lagi pasti aku yang dia salahkan." Gerutuan keluar dari mulutnya, Fenghuang memaksa Xue Zhan berkali-kali hingga akhirnya pemuda itu menurut. Di dalam goa yang gelap hanya terdengar suara dentuman besar disertai naiknya air sungai yang meruah ke mana-mana. Sesekali longsor turun dan bunyi aneh terdengar.
Mungkin satu jam berlalu, barulah akhirnya semuanya berhenti. Fenghuang menahannya untuk tidak keluar, Xue Zhan memaksa mengintip susah payah hingga mata merahnya membesar.
Xiang Yi Bai sedang mencekik seekor makhluk menyerupai manusia yang tubuhnya hanya dibalut kulit, memiliki jari panjang hingga kaki, warna kulit cokelat kusam dan bola mata putih. Mahluk itu kejang-kejang dengan kaki menggantung di udara. Matanya sempat menangkap kehadiran Xue Zhan hingga akhirnya mahluk itu mati menyisakan debu cahaya yang menghilang dibawa terbang angin.
"Apa-apaan itu? Kenapa dia sangat mengerikan?"
"Nah, itu adalah karma bagi manusia yang suka mencabut bulu burung seenaknya."
"Aish, kau menakutiku, Fenghuang."
"Lagipula belum kena karma pun kau sudah mirip dengannya," balas Fenghuang, Xue Zhan yang sudah kesal tanpa berpikir dua kali segera mencabut bulu kecil di sayap Fenghuang.
__ADS_1
"Lagi-lagi!!" Fenghuang mengamuk, Xue Zhan kabur dari sana.
"Aaaa Guru ada yang lebih ganas daripada Segel Langit! Selamatkan aku!!"
Xiang Yi Bai terlalu berkonsentrasi sampai menganggap hal itu serius, dia berpindah cepat ke arah Xue Zhan sambil mengacungkan pedang ke arah Fenghuang yang mengejar anak nakal itu.
"Anak itu mencabut buluku lagi!"
Xiang Yi Bai menggeplak kepala Xue Zhan sampai terjungkir balik.
"Aduh! Kenapa malah dipukul!"
"Bertengkar saja kerjamu. Kukira kau sedang dimakan monster."
Lelaki itu memasukkan kembali pedang ke dalam sarung putih, napasnya sedikit tak beraturan akibat pertarungan yang memakan cukup banyak kekuatannya. Xue Zhan mengusap kepalanya yang sakit sambil berdiri, dia menengok ke atas menyadari bahwa sebagian mantra raksasa perlahan memudar. Segel Langit mulai menghilang di atas langit.
Puluhan tahun mengurung diri di Jurang Penyesalan, Xiang Yi Bai tak sedikit pun membiarkan kekuatannya melemah. Karena dia tahu tugasnya untuk menjaga Batu Tanah masih panjang dan masih tetap harus meningkatkan kemampuan ilmu bela dirinya. Bisa dibilang dirinya yang sekarang jauh lebih kuat dari dirinya saat menjadi Ketua Agung Dunia Persilatan dulu.
Xiang Yi Bai menatap Fenghuang sambil berkata, "Aku sudah melunasinya."
Phoenix itu terlalu tenggelam saat menatap ke langit dan rasanya dia ingin segera terbang tinggi menembus awan, Xue Zhan kembali melihat semangat itu di diri Fenghuang. Lantas dia berucap, "Terbanglah. Kapan lagi bisa melihat langit lebih dekat."
Fenghuang merentangkan sayap lebarnya terlihat tidak sabaran, dia diam beberapa saat sampai Xiang Yi Bai maupun Xue Zhan kebingungan dan saling bertukar pandang.
"Tunggu apalagi?"
__ADS_1
"Hei, aku yang tanya pada kalian. Tunggu apalagi? Aku menawarkan tumpangan. Kalian mau susah payah mendaki dinding jurang?"
Tubuh Fenghuang memang lebih besar dari ukuran manusia dewasa, sayapnya bahkan lebih lebar daripada tubuhnya sendiri, jadi seharusnya menampung dua orang sekaligus tak akan membebaninya.
"Tumben baik hati."
"Aku akan naik sendiri. Kau bawa bocah nakal itu pergi," perintah Xiang Yi Bai.
"Guru-"
"Menangislah di bawah ketiak gurumu. Aku akan membalaskan dendam atas bulu-bulu ku yang kau cabut." Suara Fenghuang sangat kecil tapi Xue Zhan dapat mendengar, terlambat sudah phoenix itu akan membawanya terbang.
Xiang Yi Bai berdiri menyaksikan Fenghuang menggunakan kecepatan tertingginya, sebuah cahaya merah dari dasar Jurang menembus hingga ke awan. Dalam sepersekian detik saja Fenghuang berhasil sampai ke langit. Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama Fenghuang kembali bisa merasakan kebebasan. Sayapnya dia rentangkan dan terbang lurus mengikuti arus angin.
"Ini benar-benar dunia yang kuinginkan."
Dia berbicara tapi orang dibawanya tak menjawab sama sekali.
Mungkin jantung Xue Zhan sudah pindah ke kaki, dia tak bisa merasakan lagi darah mengalir di tubuhnya karena begitu panik. Terpaan angin kencang menampar wajah dan hampir membuat dirinya jatuh.
"Hei bocah rendahan, kau masih hidup?"
"Kira-kira sendiri." Xue Zhan oleng. Fenghuang mulai usil, saatnya pembalasan dendam.
Tiba-tiba saja Fenghuang melaju cepat membuat Xue Zhan tertinggal. Dia jatuh ke bawah begitu saja sementara Fenghuang terbang jauh tanpa berdosa.
__ADS_1
"Fenghuang, kau benar-benar!" paniknya sambil mengintip ke bawah, tubuhnya jatuh bebas di udara. Di bawah sana bebatuan runcing siap sedia mengoyak tubuhnya. Pemuda itu mengumpat-umpati Fenghuang tanpa henti, dia jatuh tak terkendali hingga menyadari bahwa di bawah sana daratan semakin dekat.