
Pagi datang membawa angin sejuk. Xue Zhan, Xiang Yi Bai, Fenghuang bersama Fan Yuan dan pengawalnya telah berangkat untuk memenuhi panggilan Kaisar Li sebelum bertemu dengan Ziran Zhao di siang harinya. Di sepanjang perjalanan terlihat sebuah pekarangan di istana kaisar memiliki suasana yang megah dan penuh dengan simbolisme.
Di tengah pekarangan, terdapat kolam besar yang dikelilingi oleh taman yang indah dan dilengkapi dengan pohon-pohon besar dan bunga-bunga yang beraneka ragam. Di sekeliling kolam, terdapat jalan setapak yang terbuat dari batu-batu besar dan dihiasi dengan patung-patung bersejarah yang menggambarkan kejayaan.
Kemegahan Istana Kekaisaran Diqiu memang tidak diragukan lagi.
Di ujung pekarangan, terdapat sebuah paviliun yang megah dengan pemandangan yang indah dari taman di sekitarnya.
Seperti biasa, Xiang Yi Bai sibuk mengobrol dengan Fan Yuan, laki-laki itu memiliki pengetahuan yang luas dan kemampuan berbicara yang bagus sehingga mudah baginya untuk berbaur dengan orang lain. Xue Zhan hanya menimbrungi sesekali. Di antara mereka Fenghuang yang tidak banyak berbicara, dia terlihat kesal sepanjang perjalanan dan selalu menatap orang di sekitarnya dengan sinis.
Sampai ketika mereka melalui sebuah paviliun bercorak emas yang dihiasi dengan sebuah patung Phoenix di kedua sisi jalan masuk, ukiran burung Phoenix yang di palang pintu dan lukisan yang sama di dinding ruangannya. Fenghuang berhenti sejenak untuk melihat paviliun itu dan wajahnya terlihat sangat marah meski dia memendamnya dengan baik. Xue Zhan mengernyitkan dahi.
"Kenapa?"
"Tidak ada." Fenghuang melengos pergi dan segera menyusul rombongan. Xue Zhan menggendikan bahu, dia juga belum mengetahui siapa Fenghuang sebenarnya. Phoenix itu menyimpan baik-baik rahasianya darinya. Xue Zhan belum tahu sama sekali alasan mengapa Fenghuang sampai di segel dengan sebuah segel setingkat Segel Langit yang bisa dikatakan merupakan tingkat terakhir dari segel terkuat.
Xiang Yi Bai sempat mengatakan bahwa Fenghuang sedang mencari sesuatu di alam manusia, nampaknya Fenghuang mulai kesal karena terus berlama-lama di istana kaisar. Xue Zhan ingin mempercepat pergerakannya dan segera meninggalkan tempat ini sebelum identitasnya terungkap.
Mereka tiba di tempat di mana Kaisar Li tinggal bersama ratusan pelayannya, Aula Pedang Angin. Aula Pedang Angin adalah sebuah bangunan megah yang terletak di tengah-tengah sebuah taman yang indah. Di sisi Aula Pedang Angin, terdapat sebuah kolam yang luas dan dangkal yang dihiasi dengan batu-batu alami dan air terjun kecil di salah satu sisinya. Kolam ini dipenuhi dengan ikan-ikan kecil serta pohon-pohon besar dan rindang yang memberikan teduh di sekitar kolam tersebut.
Di tempat itu Kaisar Li menunggu sambil menikmati pemandangan di depannya. Dia baru menoleh saat Fan Yuan berbicara di belakangnya dengan membawa tamu mereka.
"Yang Mulia, aku membawa para pendekar yang menyelamatkanku saat penyerangan tempo hari lalu."
Xue Zhan merasakan sesuatu yang sangat tajam. Wanita itu menoleh ke belakang dan tanpa basa-basi pandangannya langsung terkunci kepada Xue Zhan. Xue Zhan buru-buru menutup pedang yang diselipkan di pinggangnya dengan kain jubah. Khawatir wanita itu mengenali siapa dirinya.
__ADS_1
"Hanya perasaanku saja atau kita pernah berjumpa sebelumnya? Kau seperti tidak asing bagiku."
Detik itu Xue Zhan langsung membisu. Tidak bisa disangkal, Li Jia Xing memiliki pikiran yang tajam dan dugaan yang jarang meleset. Xue Zhan memikirkan jawaban hingga akhirnya Xiang Yi Bai bersuara tenang.
"Mungkin saat Anda melewati jalan kota waktu itu, kami berdiri di sisi jalan menyambut kedatangan Anda. Apa Yang Mulia juga melihat kami bertiga?"
Li Jia Xing sempat curiga, dia juga tidak memastikan mengapa dia bisa langsung menebak demikian namun setelah mengingat baik-baik Li Jia Xing memang sempat melihat mereka bertiga saat itu. Yang paling diingatnya adalah gadis dengan pakaian merah dan wajah yang rupawan itu. Setelah melihat lebih dekat gadis itu jauh lebih cantik tetapi dia sangat-sangat judes dan tidak bersahabat.
"Sepertinya benar," timpalnya kemudian, menepis kecurigaannya dan langsung mempersilahkan mereka duduk di sebuah kursi yang mengelilingi meja batu. Terletak di sisi kolam yang memiliki pemandangan yang menawan.
Para pelayan menghidangkan makanan, minuman dan beberapa makanan ringan. Dari mereka semua hanya Fenghuang yang tidak memakan apa pun.
Tentu hal itu membuat Li Jia Xing sedikit terganggu.
Li Jia Xing bertanya. "Apakah makanannya kurang enak, Nona ..." Li Jia Xing tidak tahu siapa namanya, Fenghuang menoleh sejenak lalu memalingkan muka.
Fenghuang menatap tajam padanya sebelum akhirnya kembali membuang muka.
"Begitu, ya. Kurasa teh bunga matahari tidak terlalu buruk. Kau pasti akan menyukainya," ujar Kaisar Li sembari menyodorkan secangkir teh kepada Fenghuang. Gadis itu menatapnya cukup lama dan menambah kecanggungan di meja makan. Xue Zhan sudah menebak ini tak akan berjalan mulus. Dia menyenggol kaki Fenghuang di bawah meja sambil berbisik.
"Minum." Xue Zhan tidak sabaran.
"Minum sendiri." Balasan Fenghuang lebih ketus dari biasanya. Xue Zhan mengumpat di dalam hati, mencari jawaban agar Li Jia Xing tidak tersinggung.
"Ma-maaf Yang Mulia. Temanku juga sembelit dari semalam. Sudah lima belas kali buang air besar sampai kering badannya. Kasihan sekali."
__ADS_1
"Ah, apa Anda salah makan?" Li Jia Xing mencoba membuat Fenghuang bersuara.
"Maafkan kelancanganku Yang Mulia, teman kami Fenghuang sedang kurang enak badan. Ada baiknya dia kembali ke penginapan."
Xue Zhan melihat bagaimana Fenghuang menatap Li Jia Xing, mata merah gadis itu seolah menyimpan sesuatu yang tidak bisa terbaca olehnya. Bahkan ketika pelayan mulai datang untuk membawa kembali Fenghuang ke kediaman sementara Fan Yuan, Fenghuang masih memasang tatapan yang sama.
Xue Zhan membuang napas diam-diam. Fenghuang tidak seperti biasanya. Lalu kemudian terdengar Li Jia Xing kembali bersuara, kali ini dia memanggil seseorang.
Dalam sekejap Xue Zhan diam membatu.
Pemuda itu memiliki tinggi yang sepantaran dengannya, matanya semakin hitam pekat begitu pun dengan aura di sekitarnya. Tatap matanya yang dingin sama sekali tidak melihat ke arahnya. Dia terasa seperti orang yang jauh berbeda dengan sosok yang Xue Zhan temui 5 tahun yang lalu.
"Rong'er, carikan tanaman obat paling mujarab untuk Nona Fenghuang. Dia sakit perut dan juga sakit gigi, bawa obat itu ke tempatnya dengan segera," perintah Li Jia Xing. Wanita itu menoleh ke arah Xue Zhan untuk bertanya.
"Apa Nona Fenghuang masih mempunyai gejala penyakit lain?"
Mulut Xue Zhan tiba-tiba kaku, dia tidak mau mengeluarkan suara. Jika Li Jia Xing, mungkin wanita itu sudah melupakan suaranya apalagi suaranya berubah jauh dari saat terakhir kali bertemu Li Jia Xing. Namun Xiao Rong mungkin bisa mengenalinya dengan mudah.
Di saat-saat genting seperti ini tentu saja Xue Zhan langsung memanggil ibu tiri-alias Gurunya.
'Guru!! Selamatkan aku!' batinnya, Xiang Yi Bai terheran-heran melihat tatapan memelas dari muridnya.
"Tidak ada lagi, Yang Mulia. Itu saja sudah lebih dari cukup," jawab Xiang Yi Bai akhirnya. Xue Zhan menatap Xiao Rong yang langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Saat Xiao Rong pergi baru Xue Zhan berani berbicara.
__ADS_1
"Aku boleh bertanya? Kenapa ... Orang itu memiliki aura yang sangat pekat dan tidak mau berbicara?" Xue Zhan berpura-pura tidak mengenalnya, Li Jia Xing tiba-tiba menghela napas pasrah.
"Mungkin Anda sedikit terganggu dengan kekuatan kegelapan di tubuhnya. Dia menjadi seperti itu setelah kematian seseorang dan selalu menyalahkan dirinya atas kematian orang itu."